Rabu, 06 September 2017

PENULIS FAVORIT : MISTERI, PETUALANGAN DAN SEJARAH

“Sudah baca novelnya Andrea Hirata?” tanya suami.

“Belum. Gak tahu nih. Kok ya belum minat baca” jawab saya sambil melirik novel.

Sering juga, saya melihat status media sosial yang bersliweran kutipan Tere Liye. Saya sendiri baru saja awal tahun ini membaca salah satu kumpulan cerita yang berjudul ‘Berjuta Rasanya’ yang pinjam dari adek. Setelah itu, baru lah saya membeli novel “Angpau Merah”.

Atau saat beberapa teman asik membicarakan John Grisham. Saya tidak atau belum tertarik kembali untuk membaca karyanya.

Bukan saya menilai karya mereka tidak menarik. Saya juga tipe orang yang suka membaca kok, daripada menonton film. Hanya saja, saya moody dan sulit untuk menutup buku kalau sudah tertarik.

Makanya, saat orang berbondong-bondong membaca karya penulis yang kondang, saya malah belum tertarik. Memilih waktu juga penting, karena rasa penasaran yang harus dituntaskan.

Hampir semua jenis komik atau novel saya baca. Fiksi, non fiksi, humor, romantis, misteri, petualangan, sejarah serta khusus horor untuk kisah dari luar negeri.

Pilihan membaca pun bergantung mood. Kalau ingin hiburan, tidak mikir saat membaca, biasanya pilihan ke novel remaja. Kalau butuh penyegaran, baca novel humor. Kalau kangen suami, baca genre romantis. Tapi kalau lagi banyak energi, saya pilih novel favorit jenis misteri, petualangan atau sejarah.

Bagi saya penulis dengan genre tersebut, cerdasnya luar biasa. Bagaimana tidak? Wawasannya luas, diksinya menarik dan idenya luar biasa. Logikanya runtut dan biasanya jalan ceritanya tak mudah ditebak. Berikut penulis favorit saya :

Agatha Christie

Saya mengenal Agatha Christie sejak SMA. Kisah detektif Hercule Poirot sangat menancap. Membaca bukunya tidak bisa sebentar. Sembari membaca, pikiran saya terus berputar. Mengingat cerita sebelumnya, berusaha menebak pelaku sebenarnya.

Ada keasikan tersendiri, saat saya mengumpulkan profil dan kepingan informasi dari cerita sebelumnya.  Kepuasan juga bertambah, saat berhasil menemukan pelaku sesuai dengan alur penulis.

Sungguh, membaca serial detektif menguras isi kepala. Saya angkat topi buat Agatha Christie dengan kecerdasannya, mampu membuat alur cerita dan diksi yang cukup baik.

Sidney Sheldon

Saat di bangku kuliah, saya mulai suka membaca Sidney Sheldon. Genre misteri dengan sebagian besar tokoh utama wanita.

Meski novelnya bukan kisah detektif, namun karyanya punya latar atau sisi yang beragam. Latar atau sisi psikologis, politik, dendam dan keluarga. Artinya wawasannya cukup luas untuk menyajikan sisi tersebut. Jalan ceritanya juga tak mudah ditebak.

Dan Brown

Kasih 2 jempol buat Dan Brown. Karangannya tidak sembarangan. Setting tempatnya seakan nyata. Biasanya Dan Brown melakukan riset terlebih dahulu. Pantas lah kalau penggambaranya kuat.

Tokoh utamanya, Robert Langdon seorang pakar simbol lulusan Universitas Harvard. Langdon kemudian berpetualang untuk memecahkan simbol dari kasus yang tengah ditangani. Ceritanya yang paling saya suka dan menancap di ingatan bukan The Davinci Code, tetapi Angel and Demond. Gara-gara baca ini, saya jadi penasaran dengan Illumination dan Manson.

JK Rowling

Siapa yang tak kenal Harry Potter? Meski bukan serial detektif, namun saya cukup tertarik dengan petualang Harry Potter. Saya mengagumi alur cerita yang menarik dan tidak membosankan. Lah, bukunya memang tebal dan saya tetap melahap ketujuh serinya tanpa terlewat.

Langit Kresna Hariadi

LKH saya kenal melalui novelnya ‘Gajah Mada’. Saya tipe orang yang berlalu biarlah berlalu. Maksudnya tidak terlalu suka pelajaran sejarah. Lah banyak tokoh, tanggal kejadian dan tempat kejadian. Biasanya buku sejarah cenderung membosankan.

Namun setelah membaca Gajah Mada, saya tidak merasa sedang membaca buku sejarah. Seru saja dengan caranya bercerita. Meski kalau sudah bercerita lagi secara detail, saya sudah lupa..hihihi. Risetnya LKH juga luar biasa. Dalam novelnya disertakan denah kerajaan Majapahit.

Makanya, saya ingin sekali punya bukunya LKH. Kagum dengan usahanya yang total. Apalagi kemarin baca Candi Murca belum selesai.

Nah, itu tadi penulis favorit saya. Sekaligus menuntaskan hutang arisan dari Mbak Irfa Hudaya dan Mbak Dani Ristyawati. Kalau penulis favorit kamu siapa?

Rabu, 30 Agustus 2017

JATUH BANGUN BISNIS RUMAHAN

“Mulailah bisnis dari hobi”, kesimpulan dari sebuah talkshow.

Pernyataan di atas adalah hal yang paling saya ingat. Banyak orang yang berminat menjadi wiraswasta, memiliki usaha sendiri, namun bingung untuk memulainya.

Saya juga tertarik untuk mulai berbisnis. Yah, inginlah jadi pemilik usaha yang tidak bergantung dengan orang lain. Fokusnya bukan dari segi finansial semata, tapi ingin belajar untuk punya jiwa entrepreuner.

Terutama setelah kunjungan KKL ke Universitas Ciputra Surabaya. Semua program studi mendidik mahasiswa untuk memiliki jiwa entrepreunership. Targetnya bukan seluruh mahasiswa menjadi pengusaha. Tetapi agar jiwa entrepreunership tertanam dalam kehidupan.

Beberapa kali saya mencoba untuk memulai bisnis rumahan yang berangkat dari hobi atau aktifitas yang saya jalani. Kenapa saya sebut bisnis rumahan? Ya karena saya tak punya toko atau kantor sehingga rumahlah tempat saya memulai berbisnis.

ORIFLAME COSMETICS

Bisnis pertama saya adalah Oriflame. Saya tahu produk ini dari adek yang diprospek oleh teman kosnya. Berlanjut, saya yang diprospek temannya, yang sejak orok memang punya jiwa entrepreuner.

Awalnya, saya menggunakan produk kosmetik kesukaan saya yaitu parfume. Daftar jadi member, kemudian berupaya menawarkan katalog ke teman dan kenalan. Saya tidak tertarik untuk menarik member baru. Kalau ada yang ingin jadi member, saya daftarkan. Kalau tidak ya tawarkan produk saja.

Makanya, saya belum pernaik naik level. Keuntungan saya diperoleh dari selisih harga katalog dengan harga member. Sempat juga tupo alias tutup point dengan rewards, produk kosmetik, pouch kosmetik, jam tangan dan pisau.

Sekarang agak malas, karena ada teman kantor yang juga member. Saya juga sudah jarang menggunakan parfumnya. Ya beli parfum nunggu diskonan hihihi.

TAS IMPORT KW

Bisnis selanjutnya adalah tas import KW. Sebenarnya memulai bisnis ini karena saya mencari tas di media online. Saya kemudian keterusan sering windows shopping di media sosial hingga lupa waktu.

Saya tipe, kalau nyempung, tidak setengah-setengah. Selalu kepo dan mencari hingga terpuaskan. Akhirnya saya malah jadi terpikat dengan bisnis tas.

Awalnya agak bimbang juga. Jiwa nasionalisme saya muncul. Duh, ini kan tas KW made in China. Harusnya saya cinta produk-produk Indonesia kan? Tapi susah je, cari tas produk Indonesia yang mumer. Saat itu lagi booming tas KW.

Setelah bertapa beberapa malam, akhirnya saya nekat mulai bisnis tas. Saat itu, niat saya hanya ingin mulai berbisnis.

Saya ambil tas di jualan online lewat fesbuk. Ambil minimal 3 kemudian tawarin ke teman-teman. Lumayan laku, meski ada yang dengan cara mencicil. Hingga berlanjut mengambil tas di pasar Johar.


Setelah beberapa bulan, semangat mulai turun. Saya malas, bolak-balik Johar, apalagi harus retur tas yang reject. Padahal beberapa teman masih menanyakan stok tas.

BAJU ANAK

Bisnis terakhir, saya join dengan teman berjualan baju anak. Ini juga gara-gara lihat media sosial, ada yang jualan baju anak hingga tertarik.

Saya dan teman sempat beberapa kali berjualan di car free day. Bahkan membuat banner untuk promosi yang dipasang di perumahan.

Kami juga membuat blog dan jurnal keuangan. Setelah lebaran usai, bisnis mandeg. Hasrat berbisnis sudah mulai mengendur. Beberapa barang bahkan belum terjual. Hadeh.

Saya memang tipe moody. Kalau mood sudah kendor, pasti saya malas utak utik dan berakhir ditinggalkan.

Bolak-balik berbisnis dan berubah haluan, membuat saya harus mengkaji ulang soal bisnis rumahan. Saya tipe moody dengan semangat entrepreuner yang masih labil. Pengalaman soal bisnis pun masih seumur jagung. Karena itu, saya harus memilih untuk berbisnis yang minim modal.

BLOGGER DAN MENULIS

Untuk saat ini, menulis adalah lahan bisnis rumahan saya. Menjadi blogger memang bukan cita-cita sejak kecil. Menulis juga bukan kegiatan favorit saya. Maklum tulisan saya tergolong jelek. Malah saya pernah bermimpi, ada gak sih alat yang bisa baca pikiran, atau minimal gak harus menulis.

Saya hanya hobi membaca, terutama genre misteri. Menulis saya niatkan untuk belajar mengembangkan diri agar pola pikir tertata. Saya juga tertarik dengan membuat pola dalam menulis. Suka gemes dengan penulis yang punya diksi menarik. Ih, kok bisa bercerita dengan sudut seperti itu.

Sebagai blogger, niat utama bukan finansial. Tapi saya tak menampik kalau dapat rejeki sak uprit dari ngeblog atau menulis. Kenapa kok sak uprit? Bukan karena saya tidak bersyukur, lebih karena banyak blogger kece dengan income yang cukup besar dari ngeblog.

Dan terakhir, saya harus banyak lagi belajar untuk menjaga api semangat dan konsisten dalam setiap bisnis rumahan yang ditekuni. Yah, terutama soal semangat yang sudah setengah tertidur buat ngeblog. Makanya saya baru setor arisan blog ke 9. Maafkan saya ya Mbak Wahyu Widya dan Bunsal *sambil mengatupkan tangan dan membungkukan badan dalam-dalam.

Senin, 28 Agustus 2017

FRIDAY Th 13EN DINANTI DAN DITAKUTI

Saya tipe orang yang lebih suka membaca buku daripada menonton film. Seumur hidup ke bioskop bisa dihitung dengan jari. Waktu SD 1x, nonton film perjuangan sebagi salah satu acar sekolah. SMP 2x, bersama teman sekelas nonton film Jackie Chan dan si Hantu Casper. Jaman SMA cuma dapat jatah pesan tiket bioskop buat teman se geng. Waktu itu saya sudah pakai jilbab dan kala itu terlarang buat cewek jilbaban nonton bioskop.

Kuliah pun masih bisa dihitung dengan jari, hanya 6x. Nonton sama mantan 2x, nonton bareng-bareng 3x, dan nonton berdua sama teman 1x. Saat masih pacaran sama suami, cuma nonton ke bioskop 1x. Itu pun kapok. Mending nonton di laptop terus beli snack buat camilan. Lebih murce, maklum dulu kami berdua kere..hihihi.

Bagi saya membaca buku lebih imajinatif dan lebih dalam. Misalnya saat buku Harry Potter dibuat film, kadang bayangan saya saat membaca buku tak sama dengan menonton film. Makanya saat Mbak Sri Untari dan Ira Sulistiana memilih tema Film Favorit Sepanjang Masa sebagai tema Arisan Blogger ke 8, saya pusing.

Apalagi setelah menjadi ibu, saya jarang nonton tivi. Nonton bioskop cuma 2x. Seringnya sih saya nonton drama korea di netbook, saat anak-anak sudah terlelap. Menonton film bukan merupakan kegiatan favorit, hanya sekedar melepas rutinitas. Saya pun tipe orang yang berlalu biarlah berlalu. Semakin banyak belajar semakin lupa..hihihi. Jadilah, setelah menonton film, bekasnya cepat hilang.

Film yang masih membekas dalam ingatan saya, sebagian besar film di masa kecil. Film dengan tema misteri baik horor maupun detektif. Saya masih ingat, dulu beberapa kali menunggu film sherlock holmes. Atau film horor komedi, vampire Cina. Jadi ketawa lihat vampirenya.

Ada film seri yang masih membekas. Filmnya diputar setiap malam Jum’at setelah Isya. Mendengar soundtrack film saja, sukses membuat bulu kuduk merinding. Semakin bertambah umur, saya tidak berani nonton film itu sendirian. Mendengar musiknya saat sepi, langsung ganti channel tivi.

Friday Th 13en, bercerita tentang kekuatan mistis dari berbagai barang. Bukan mahluk gaib yang bermuka seram. Barang-barang ini, biasanya barang kuno dan antik seperti cangkir atau boneka.

Tokoh utamanya ada 3 orang. Si Tua Jack, si Cantik Micky dan di Ganteng Ryan. Psst, omong-omong, karena seringnya saya dan adik-adik menonton film ini, saat bermain peran pun kita mengambil 3 tokoh ini. Saya pasti milih jadi Micky..hihihi..*diprotes adik-adik.

Jack, memiliki toko barang antik dibantu Micky dan Ryan. Mereka bertiga juga sering berburu barang antik yang memiliki kekuatan mistis. Yang paling saya ingat tentang boneka dan cangkir antik.

Biasanya barang antik yang diburu memberikan majikannya kesenangan atau keuntungan, namun meminta imbalan nyawa lain.

Begitu mendengar kejadian janggal seperti kematian tak wajar, Jack Micky dan Ryan segera menyelidiki tempat perkara.

Tak mudah untuk menemukan barang antik tersebut. Pemilik biasanya menyembunyikan. Beberapa kali Jack, Micky atau Ryan hampir kehilangan nyawa. Seingat saya, Jack hilang atau malah meninggal.

Ketika barang antik sudah didapatkan, mereka menyimpannya di gudang bawah dengan pintu yang selalu dikunci.

Tak ada wajah menyeramkan sih di film ini, namun efek sound berhasil membuat jantung deg-deg ser. Kisah misteriusnya juga cukup menarik, apalagi saya memang lebih suka film misterius yang menegangkan, asal bukan film hantu Indonesia. Wujudnya seram dan masih 1 negara, hiiiii.

Sabtu, 19 Agustus 2017

TERPUKAU ORANG DI BALIK TOTO CHAN

Sejak SD, sejak lancar membaca, saya sering meminjam komik di taman bacaan dekat almamater. Atau main ke rumah teman yang langganan majalah Bobo dan punya komik.

Maklum, kami dulu jarang-jarang beli buku. Tak pernah juga langganan majalah Bobo. Paling banter beli Bobo bekas di pasar baru. Seingat saya dulu pernah langganan majalah Aku Anak Sholeh, itupun kayaknya sempat berhenti langganan.

Padahal saya suka sekali membaca. Kalau tidak ada bacaan anak-anak, saya membaca koran, tabloid langganan ibu atau Tempo langganan Papa. Bayangin, waktu kecil rubrik favorit saya malah kriminalitas hiiii.

Saya tak punya genre khusus soal bacaan. Roman, komedi, sastra, misteri bahkan sejarah yang dikemas sebagai novel. Bergambar ataupun hanya tulisan asal memiliki alur yang bagus tak jadi soal. Yang jadi soal, baca buku pelajaran. Entah kenapa bisa berhari-hari bahkan bulanan..hihihi..

Makanya, saya tak berani membuka buku fiksi kalau belum ‘selo’. Begitu tertarik, saya tak bisa lepas. Rasanya ingin diselesaikan saat itu juga.

Setiap membaca buku yang bagus terutama misteri, saya selalu berdecak, “Hebat banget penulisnya. Bisa membuat alur pemikiran dan bahasa yang bagus”. Atau kalau cerita berkaitan sejarah, penggalian datanya yang saya acungi jempol, KEREN. Saya tidak terlalu favorit sih baca cerita roman. Sesekali saja untuk melepaskan kejenuhan.

Ada satu buku yang tidak pernah saya lupakan. Buku yang membekas hingga sekarang. Buku yang pada akhirnya saya beli saking sukanya.

Buku yang pastinya menginspirasi sebagian besar orang. Makanya saat Mbak Vita Pusvitasari dan Mbak Anita Lusiya Dewi melontarkan tema arisan blogger “ Buku Favorit” saya langsung teringat Totto Chan Gadis Cilik di Jendela.

Saya membaca buku ini saat tahun terakhir di S1. Saat itu, saya menginap di rumah sahabat. Dia menawarkan buku itu. Mumpung lagi selo, saya mengiyakan. Tak sampai satu hari, buku itu pun selesai saya baca.

Lah kok cepat banget? Iya begitulah. Kalau sudah baca, aktivitas seharian selain membaca ya sholat. Kalau sudah lapar banget baru makan.

Pertama kali membaca langsung tertarik. Semakin dalam, saya langsung angkat topi buat 2 orang pendidik dalam buku itu. Ibu Totto Chan dan Kepala Sekolah Kereta Api, Pak Kobayashi.

Buku ini mangangkat kisah nyata dari penulisnya, Tetsuko Kuroyanaki yang kemudian dipanggil Totto Chan. Latarnya adalah selama Perang Dunia ke II di Jepang.

Dikisahkan Totto Chan, seorang anak kecil yang dikeluarkan dari sekolah. Kebiasaannya yang unik, diantaranya memandang keluar jendela lama-lama, menunggu rombongan pemusik jalanan dan membuka tutup meja secara berulang-ulang dipandang aneh oleh gurunya.

Ibu Dengan Hati Seluas Samudera

Ibu Totto Chan adalah orang pertama yang menginspirasi. Sikap Ibu Totto Chan yang berbesar hati menerima semua perilaku anaknya membuat saya tertegun. Tak ada sedikit pun, sikap marah atau mengecilkan perasaan Totto Chan. Dengan semangat, Ibu Totto Chan mencari sekolah yang sesuai dengan anaknya.

Penerimaan ibu Totto Chan menginspirasi saya yang kelak menjadi seorang Ibu kala itu. Makanya saat hamil anak pertama, saya sampaikan kepada suami, bahwa kondisi apapun dari anak yang akan dilahirkan harus diterima. Anak adalah titipan dan setiap anak pun unik.

Pak Kobayashi, Kepala Sekolah Terbaik

Saya sulit menggambarkan sesuatu yang spesifik untuk Pak Kobayashi. Sebagai kepala sekolah yang membuat dan menetapkan kurikulum, jalan pemikirannya sungguh luar biasa. Pak Kobayashi mampu menciptakan suasana kelas yang menarik. Aturan dan sistem yang dibuatnya membebaskan, memudahkan dan membentuk tanggung jawab.

Dalam satu kelas, anak dibebaskan untuk belajar menurut keinginan mereka. Mereka belajar untuk fokus dengan yang dipelajari tanpa menganggu teman lain.

Bekal yang dibawa sangat mudah, sesuatu dari gunung dan sesuatu dari laut. Hal ini membuat anak belajar untuk menemukan sesuatu dari gunung dan laut. Tidak juga membatasi makanan tertentu.

Suatu kali, Totto Chan yang penuh keingintahuan, mencari dompetnya yang terjatuh di dalam jamban. Ia mengeluarkan semua isi jamban keluar untuk menemukan dompetnya. Tanggapan kepala Sekolah sungguh luar biasa, ia hanya meminta Totto Chan untuk mengembalikan semua seperti sedia kala saat aktifitas Totto Chan selesai.

Sungguh, orang tua dan gurulah pendidik anak. Sikap ortu dan gurulah yang menentukan masa depan anak. Sering kan seorang anak membenci pelajaran tertentu karena pengajarnya tidak menyenangkan? Bukan karena pelajaran itu sendiri. Atau anak bermasalah, biasanya karena lingkungan rumahnya pun bermasalah.

Kisah ini sebagai pengingat saya yang berperan sebagai Mama bagi duo F dan lingkungan pekerjaan saya di pendidikan. Sudahkah kita bisa seperti mereka?

Minggu, 13 Agustus 2017

CERDAS WUJUDKAN IMPIAN DENGAN BNI FINANCIAL PLANNER




Setiap orang punya impian. Tak hanya satu, dalam satu waktu kita bisa memiliki beberapa impian. Bisa juga setelah satu impian terwujud, impian lain pun muncul.

Seperti saya, sejak menikah, impian saya adalah memiliki rumah. Meski menurut saya agak telat, karena saya baru menabung untuk memiliki rumah setelah menikah. Alhamdulillah, dengan perjuangan selama 5 tahun, akhirnya keluarga kecil kami bisa menempati rumah sendiri.

Usai menempati rumah sendiri, saya kerap menerima pertanyaan dari teman dan adik-adik.

“Riz, habis dana berapa membangun rumah seperti itu?” tanya seorang teman yang sedang mencari rumah tinggal.

“Mbak, caramu mengumpulkan uang untuk membangun rumah seperti itu gimana sih?” tanya teman kerja yang ingin memiliki rumah yang lebih luas dari rumah sebelumnya.

“Mbak, uang membangun rumah itu pakai uangmu semua? Papa bantu berapa? Sisanya uangmu?” tanya adik-adik saya yang heran dengan jumlah uang yang saya habiskan untuk membangun rumah.

Saya tak perlu menyebutkan total biaya untuk membangun rumah. Bagi saya sih, bukan dana yang sedikit. Makanya saya selalu menjawab bahwa itu adalah matematika ALLAH. Sungguh, saya sendiri heran, kok bisa saya memiliki rumah yang sekarang saya tempati?.

Meski bagi saya itu adalah matematika atau rejeki dari ALLAH, tapi tidak “mak bedundug” rejeki itu datang. Dibalik itu, kunci saya adalah pengelolaan keuangan.

Rumah yang telah ditempati

Saya pada dasarnya bukan orang yang hemat. Jaman kuliah, saya tidak punya tabungan. Uang bulanan selalu habis, bahkan beberapa kali minta tambahan..hihihi. Saat sudah bekerja dan melanjutkan kuliah lagi, saldo tabungan pun selalu tipis. Rasanya sulit sekali menabung.

Setelah menikah, mau tidak mau saya harus belajar mengelola uang. Saya baru tahu bahwa persepsi saya selama ini salah.

Menabung seharusnya dilakukan saat pertama menerima gaji, bukan diakhir bulan, sisa dari pengeluaran. Besarnya gaji juga tidak menjadi jaminan bahwa kita akan kaya. Gaya hidup seharusnya menyesuaikan dengan pendapatan. Mampu memilah antara kebutuhan dan keinginan.

Uh, ternyata banyak yang harus dirubah. Bagian yang tersulit buat saya adalah gaya hidup dan keinginan. Lihat uang di tabungan masih banyak, rasanya pengen belanja saja. Makanya, salah satu cara saya untuk pengelolaan keuangan memisahkan uang di beberapa rekening.

Jumlah rekening yang saya miliki, sesuai kebutuhan dan impian saya. Ada rekening untuk biaya hidup bulanan. Rekening untuk dana darurat. Rekening milik anak-anak yang uangnya diperoleh dari salam tempel saat lebaran. Rekening untuk pendidikan anak serta rekening untuk dana pensiun.

Beberapa rekening itu, autodebet dari rekening utama dan punya jatuh tempo. Jadi tak bisa diambil sesuka hati. Hingga saat ini, saya pegang 9 buku tabungan. Ditambah sukuk dan tabungan di koperasi kantor. Teman saya sampai geleng-geleng kepala, saat saya titip cetak buku tabungan..hihihi. Buku tabungan itu, memang selalu saya bawa dalam tas kantor. Maklum, saya pelupa, jadi kalau butuh cetak kan sudah terbawa.

Sebenarnya ribet juga bawa dan simpan buku sebanyak itu. Belum lagi, aturan sekarang kalau mau cetak buku harus pemilik buku yang datang ke bank. Paling malas lagi, saat antri di customer service kalau mau ganti buku.

Saya terpikir betapa praktisnya kalau tidak perlu bawa buku, cetak dan antri di CS. Eh, pucuk di cinta ulam tiba, seminggu yang lalu saya mendapat email dari BNI mengenai layanan fitur PENGELOLAAN FINANSIAL PRIBADI. Sebagai nasabah setia yang memiliki beberapa rekening di BNI saya jadi penasaran, apa sih fitur Pengelolaan Finansial Pribadi?

Fitur Pengelolaan Finansial Pribadi merupakan salah satu layanan dari BNI Internet Banking. Melalui fitur ini, kita bisa merencanakan tujuan keuangan sehingga rencana dan impian kita dapat terwujud.

Dengan fitur pengelolaan finansial pribadi, saya dapat menyisihkan sebagian pendapatan yang didebet dari rekening utama. Saya juga dapat menetapkan target tahun dan mendapatkan nominal yang harus dicicil setiap bulannya.

Bagaimana caranya menggunakan fitur pengelolaan finansial pribadi untuk merencakan tujuan keuangan?

Caranya sangat mudah. Langkah awal tentu harus punya rekening BNI. Setelah itu, daftarkan BNI Internet Banking. Jangan lupa kita membutuhkan e secure atau m secure yang dapat didownload dalam gawai yang kita punya.



Setelah proses selesai, kita bisa mulai mencoba BNI Internet Banking. Login ke BNI Internet Banking dengan mengisi user ID, password dan memasukkan karakter yang tertera. Pilih menu Pengelolaan Finansial Pribadi yang berada di sudut kanan atas.


Selanjutnya pilih menu Pengaturan Tujuan. Klik Tambahkan Tujuan. Pilih diantara 4 menu yang sesuai. Tetapkan Tujuan Anda untuk tujuan selain Beli Mobil, Beli Rumah atau Rencana Masa Pensiun.



Isilah Deskripsi Tujuan Keuangan, Nominal Tujuan Keuangan, Tanggal Awal Target, Tanggal Akhir Target dan Saldo Rekening Tujuan Keuangan Saat Ini. Usai mengisi, kita bisa klik untuk mengetahui Total Sisa Nominal dan Nominal Untuk Disimpan Perbulan. Setelah itu, pilih Diproses.


Langkah berikutnya, adalah Pembukaan Rekening Tabungan. Pilihlah Rekening Debit, yaitu rekening utama. Pilih jenis tabungan, taplus atau tapenas. Isi Setoran Awal, Tujuan Pembukaan Rekening dan Sumber Dana. Kemudian klik Proses.


Untuk pilihan pembukaan rekening tapenas kita diminta mengisi Rekening Debit, Jangka Waktu Tapenas, Setoran Awal, Setoran Bulanan, Premi Tambahan, Alasan Pembukaan Rekening dan Sumber Dana. Setelah itu klik proses. Untuk rekening tapenas, pendanaan dilakukan secara otomatis setiap tanggal 5.

Untuk pilihan pembukaan rekening taplus, kita bisa memilih trasfer berulang untuk pendanaan secara rutin. Jangan lupa, kita membutuhkan e secure atau m secure untuk keperluan otorisasi.

Mudah bukan?. Saya jadi ingin membuka rekening untuk Daftar Haji. Supaya tertib menyisihkan sebagian dana dan tidak mengganggu kebutuhan keuangan lain.

Untuk lebih jelas, bisa disimak tutorial penjelasan Pengelolaan Finansial Pribadi di bawah ini. Yuk wujudkan impianmu dengan Pengolaan Finansial Pribadi.


Rabu, 09 Agustus 2017

SERUNYA TRAVELING KELUARGA

Main di Pantai Jepara
Sudah arisan ke 8, tapi saya baru buat tulisan arisan ke 6...hadeh. Manajamen waktu saya parah. Ditambah ada faktor prokrastinasi yang lain, yaitu perfeksionis.

Ini sudah keempat kali ngedraft. Tulisan sudah setengah jalan, eh mandeg lagi. Tiba-tiba alurnya menghilang. Kok gak nyambung, ngalor ngidul dan perasaan-perasaan lain.

Padahal tema periode ini masih cocok dengan niche blog saya. Masih tentang traveling. Mbak Winda Oetomo dan Mbak Dwi Septia melontarkan tema orang yang paling ingin diajak traveling.

Temanya mudah. Karena mudahnya, saya jadi berpikir yang lain. Masak saya gak punya seseorang yang ingin diajak traveling. Yang berbeda gitu. Biar anti mainstraim. Artis, politikus atau publik figur lain?.

Setelah lari ke hutan lalu melipir pantai, ternyata jawabannya di depan mata. Ya, orang yang paling ingin saya ajak traveling adalah keluarga saya. Suami dan anak-anak.

Traveling Sebuah Kebutuhan

Setelah berkeluarga. Menikah lalu punya anak. Hasrat traveling saya meningkat. Saya merasakan bahwa traveling adalah sebuah kebutuhan. Apalagi si Sulung Fatih, sejak kecil hobi traveling.

Sejak usia belum setahun, Fatih paling suka diajak bepergian. Pernah usia 8 bulan, dia pilek batuk dan rewel di rumah. Saya tidak tega melihatnya. Diantar Papa, saya bawa Fatih ke dokter.

Lalu, fiola, sesampai di dokter, kerewelan Fatih hilang, senyum mengembang, “Adeknya riang gitu bu. Gak kelihatan rewel” ujar dokternya.

“Ya begitulah anak saya dok. Sakitnya langsung hilang kalau di ajak jalan-jalan.” jelas saya.

Bahkan usai imunisasi badan Fatih panas, keesokan harinya dia masih bersikeras untuk tetap melanjutkan rencana traveling, meskipun sejam lalu dia masih mengeluh tangannya sakit.

Traveling Untuk Tumbuh Kembang Duo F

Bagi saya, anak adalah prioritas. Traveling selalu direncanakan untuk memperkenalkan bumi belahan lain kepada duo F. Tempat yang ramah anak. Wahana yang mengasah tumbuh kembang mereka.

Saat Fatih berusia 1,5-4 tahun, traveling kami temanya kereta api. Setiap destinasi, selalu ada unsur kereta api. Setelah Fattah berusia 2 tahun, mulai kelihatan kalau Fattah menyukai binatang. Makanya destinasi selanjutnya adalah kebun binantang. Kalau sudah lebih besar, saya ingin mengajak ke taman nasional.

Traveling Paket Komplit

Sebagai istri jurnalis, waktu liburan tidak pasti. Eh, minggu ini si Ayah full liputan. Alhasil, weekends kadang-kadang tidak bisa keluar.

Beberapa kali saya pernah membawa duo F sendiri, traveling ke tempat terdekat dengan angkutan publik. Saat itu masih numpang di rumah ortu yang mau naik dan turun angkutan langsung depan rumah. Itupun, seringkali si Ayah tampak berkeberatan.

“Besok saja lah. Ayah besok bisa ikut kok” komentar Ayah saat menyampaikan keinginan anak-anak.

“Duh yang pergi jalan-jalan gak ajak Ayah” sindir Ayah kalau anak-anak bercerita habis jalan-jalan.

Saya sendiri lebih suka, kalau Ayah ikut jalan-jalan, apalagi kalau di luar kota. Repotlah membawa duo bocil, apalagi yang aktif seperti mereka. Kalau Fatih, sudah bisa diatur, tapi Fattah ini yang masih suka nekat.

Ada Ayah, artinya ada yang setir mobil dan bawa barang yang berat. Ada Ayah juga, ada yang gendong Fatih dan Fattah kalau capek. Ada Ayah juga ada yang mijetin saya kalau capek..hihihi. Pokoknya Ayah paket komplit lah. Paling utama sih, ada teman berbagi senyum dan senang. Iya senang banget kalau lihat senyum anak-anak saat traveling.


Jalan-jalan di Yogya

Blog Design by Handdriati