Selasa, 18 Juli 2017

3 SIKAP HIDUP PENGELOLAAN KEUANGAN ALA PAPA



“Mbak, bagi kiatnya donk. Gimana bisa mengelola keuangan, biar bisa bangun rumah kayak dirimu?” tanya seorang rekan kerja yang punya rencana ingin membangun rumah yang lebih luas.

“Ah, Mbak Rizka bukan gak punya uang. Cuma uangnya disimpan, gak buat beli-beli baju, tas atau sepatu” ujar seorang rekan lain pada satu kesempatan.

“Eh Mbak, gimana sih biar bisa kayak Papamu? Pensiunan tapi hidupnya santai. Gak mikirin biaya hidup” tanya seorang rekan setelah mendengar kisah keseharian Papa setelah pensiun.

Papa sudah pensiun sejak tahun 2008. Saat pensiun, semua anaknya belum menikah. Adik bungsu pun baru kelas 3 SMA. Pertengahan tahun adik no 3 menikah dan saya malah kuliah lagi.

Semua pengeluaran itu cukup mampu Papa selesaikan tanpa kesulitan. Artinya Papa memang sudah punya dana untuk menyekolahkan dan menikahkan anak. Bahkan kami kalau punya kesulitan atau butuh bantuan keuangan Papa siap support *duh, malunya.

Wah, pasti Papanya direktur ya Mbak? Atau punya usaha setelah pensiun?. Tidak, Papa saya seperti Papa kebanyakan orang tua. Hanya seorang pegawai BUMN dengan pendapatan yang sewajarnya. Hanya saja Papa punya sikap hidup pengelolaan keuangan.

Sikap inilah yang sedikitnya tertanam dalam hidup saya, yang dianggap hemat oleh rekan-rekan lain. Dalam pandangan mereka, saya jarang belanja, suka gratisan dan hemat dalam pengeluaran keluarga.

Padahal sih gak segitunya. Saya malah kadang sering diingatkan suami kalau kayaknya masih boros dalam pembelanjaan. Yang membuat boros sebenarnya sih duo F. Biasalah, minta jajan, jalan-jalan dan beli mainan.

Tapi, tetap bagi yang lain itu dianggap wajar. Wajar, karena ternyata anak-anak mereka sama saja..hahaha.

Jadi sikap hidup apa sih yang dipunyai Papa dan tertanam dalam hidup saya?

Tidak Berutang

Inilah sikap hidup pertama dan utama bagi Papa saya. Wah, berarti Papanya gak punya utang? Pernah, waktu beli rumah pertama di Bandung. Saat itu, Papa terpaksa berutang karena tidak ada orang yang dapat dimintai pinjaman.

Maklum Papa sudah tidak punya orang tua. Kakak-kakaknya pun bukan orang kaya yang punya kelebihan anggaran. Solusi satu-satunya ya pinjam di salah satu bank konvensional, dulu belum ada bank syariah.

Itu, satu-satunya catatan utang. Setelah itu, saat beli rumah di Makassar tunai. Saat beli mobil atau kebutuhan lain pun tunai. Bagi Papa saya, beli dan miliki barang sesuai kemampuan. Kalau belum mampu beli mobil, ya tidak perlu berutang.

Sikap ini membuat saya enggan untuk berutang. Saya sempat punya kartu kredit, setiap habis belanja, langsung saya bayarkan tagihan. Takut lupa. Saat membayar baju seragam TPQnya Fatih pun, langsung saya bayar tunai. Padahal ada kemudahan untuk membayar 3x. Cuma saya kurang sreg saja. Rasanya seperti beban.

Hemat Bukan Kikir

Orang tua saya itu, pasangan hemat. Tidak cuma Papa, Ibu juga hemat. Beberapa contoh hemat dalam pemakaian listrik dan air. Membiarkan lampu menyala saat hari sudah siang atau tanpa sengaja mengisi air bak mandi hingga tumpah, rasanya seperti dosa besar.

Akhirnya anak-anaknya pun terbawa suasana hemat. Tagihan listrik saya setiap bulan tidak lebih dari 200 ribu. Padahal saya menggunakan mesin air, mesin cuci dan AC. Adik saya pun berusaha agar tagihan sekitar 200 ribu.

Dalam membeli pakaian, sepatu ataupun tas tidaklah berlebih. Punya tas atau sepatu 2 saja sudah cukup banyak.

Tapi Papa tidaklah kikir. Kalau lihat pakaian sudah tak layak pakai pasti ditegur. Disuruh keluarkan dari lemari pakaian. Bahkan kalau masih dipakai, pakaian digunting dan langsung dijadikan lap..hahaha.

Membeli dan Menggunakan Barang Berdasarkan Kualitas

Meskipun hemat, bukan berarti kedua orang tua saya menggunakan barang yang tidak berkualitas. Saya ingat, saat Papa membelikan jangka untuk peralatan sekolah. Jangka yang dipilih yang kualitasnya baik. Tentu, harganya bukan yang paling murah.

Makanya saat membeli barang, saya selalu pilih berdasarkan kualitas dan kenyamanan bukan berdasarkan harga. Ada barang yang harganya cukup murah dibanding yang lain tapi kualitas cukup baik. Tapi banyak juga yang harga sesuai kualitas.

Contohnya, saat membeli sandal untuk keseharian, saya cukup puas dengan kualitas sandal seharga 70 ribu. Saya tidak memandang merk, yang penting nyaman digunakan.

Untuk masalah bra, saya pasti memilih kualitas yang cukup baik. Harganya memang tak terbilang murah. Alasannya, karena saya sudah pengalaman membeli yang murah, baru sebulan dua bulan karet sudah melar dan tidak nyaman digunakan. *ini kenapa membahas masalah underwear.

Masalah jam tangan pun, saya termasuk pemilih. Kadang juga tertarik untuk membeli jam tangan yang mumer dengan model yang unyu-unyu. Tapi setelah diperhatikan, bahan agak kasar. Kulit saya yang sensitif alias gampang gatal tidak bisa menggunakan kalep kulit atau logam yang kurang baik. Biasanya kalau saya nekat beli, berakhir “mangkrak”.

Salah satu merk jam dengan kualitas yang cukup baik menurut saya sih Alexandre Christie. Saya tertarik dengan model dan wadah kayunya. Saya dulu membelikan jam model sporty buat mantan pacar yang berubah status menjadi suami. Eh, malah dapat hadiah pernikahan adik jam logam Alexandre Christie.

Beberapa kali, saya sempat nengok koleksi jam tangan Alexandra Christie di Zalora. Kadang saya masukkan ke wishlist, siapa tahu lagi diskon. Biasanya kan ada notifikasi di email..hihihi.

Itulah 3 sikap pengelolaan keuangan ala Papa yang tertanam dan saya praktekan di rumah tangga saya. Kalau kamu, punya sikap atau kiat pengelolaan keuangan keluarga seperti apa?

Jam inceran *kode keras buat suami

Sabtu, 24 Juni 2017

ADAKAH PERSAHABATAN PRIA DAN WANITA?

Sebagai orang yang hidup nomaden, saya memiliki teman yang bertebaran di pulau Jawa dan Makassar. Saya punya teman di Bandung, Kudus, Solo dan Makassar.

Memiliki banyak teman, sebenarnya menyenangkan. Hanya saya terkadang iri dengan beberapa teman yang punya teman sejak TK atau SD yang bertumbuh bersama hingga dewasa. Saya boro-boro, teman TK saja saya sudah lupa semua. Maklum, selepas TK saya pindah rumah 2x dan dilanjut pindah ke Makassar.

Beberapa teman SD di Bandung masih ingat dan masih berhubungan lewat medsos. Demikian juga dengan teman di Makassar.

Memang saya beberapa kali masih berkunjung ke Bandung, kebetulan Papa masih punya rumah di sana. Meski saya gak bermalam di rumah, lah rumahnya disewa orang. Saat di Makassar pun, saya sempat berkunjung sekali. Usai ujian skripsi, saya pulang ke Makassar. Waktu itu Papa kembali ditugaskan ke Makassar.

Mungkin karena kebiasaan keluarga kami mencari jejak masa lalu, maka saat saya berkunjung kembali saya pun mencari teman-teman masa kecil. Ajaibnya saya masih mengingat jalan menuju sekolah dan rumah teman-teman.

Dalam bersahabat atau berteman, saya tidak pernah pilih-pilih. Status sosial, agama maupun jenis kelamin. Yang terpenting bagi saya adalah kenyamanan dan ketulusan.

Makanya ketika Mbak Agustina dan Mbak Nunung menantang peserta arisan dengan tema sahabat, banyak hal berkelebat di kepala saya. Bagi saya yang nomaden dan sudah berpisah dengan orang tua sejak SMP, sahabat sangat berarti. Ya, merekalah tempat saya berbagi dan saling mendukung. Sisi mana yang akan saya ceritakan?

Sahabat Pria

“Tidak ada yang namanya persahabatan antara pria dan wanita” ujar suami saya di suatu obrolan.

Sebelumnya, saya tidak pernah terpikir dengan pernyataan itu. Pada kenyataannya, saya tipe orang yang bisa berteman dengan pria. Bahkan sebagai murid pindahan, saya termasuk cepat bergaul dengan teman pria.

Sejak SD saya punya teman pria. Ada yang tetangga di depan rumah, di samping rumah dan di ujung jalan. Dengan teman di samping rumah, beberapa kali kami bermain bersama dan bertengkar juga. Teman di depan rumah, kami bermain dan menonton film. Tetangga di ujung jalan, kami main badminton dan memasak bersama. Ada juga beberapa teman sekolah yang main ke rumah.

Saat kelas 1 SMP, saya juga punya beberapa teman pria yang sering berkumpul dan beraktifitas bersama. Nah, saat kelas 2 SMP sampai lulus SMA saya masih berteman dengan pria, hanya sedikit membatasi. Saya agak takut kalau ada teman pria yang main ke rumah. Soalnya, saya tinggal sama si Mbah..hihihi.

Ketika kuliah di Solo, barulah saya merasa bebas berteman dengan pria. Eits, bukan bebas yang pacaran ya. Bebas yang saya maksudkan, bebas saling berbagi, mendukung dan membantu. Saya punya sahabat pria yang 1 kelas. Kuliah bareng, main, makan bahkan saya kerap dijemput untuk menemaninya kuliah saat ia mengulang mata kuliah. Teman 1 organisasi juga banyak. Bahkan beberapa diantaranya, keluarganya saya kenal.

Keuntungan Bersahabat Dengan Pria

Memiliki sahabat atau teman pria menurut saya cukup menguntungkan. Ada saat sahabat wanita saya tidak bisa menemani. Entah itu ada acara atau beresiko mengajak teman wanita untuk menemani saya.

Saat skripsi, saya cukup beruntung memiliki sahabat pria yang belum lulus. Ada yang mengantarkan konsultasi ke rumah dosen. Malam-malam, mana hujan lagi. Atau saat harus keluar malam, saya minta tolong antar sahabat pria.

Terus, apa memang sahabatan pria dan wanita pasti murni atau diwarnai dengan rasa ketertarikan? Saya tak menampik kalau pernah ada rasa dengan sahabat atau teman pria. Demikian pun teman pria pernah ada yang punya rasa terhadap saya. Tapi hingga hari ini kami masih tetap berteman.

Memang untuk sekarang, persahabatan kami tak lagi seperti dulu. Luntang luntung bareng. Berbagi cerita dan kesulitan. Ada perasaan seseorang yang perlu kami jaga. Kami tetap bisa berkirim kabar. Mendukung jika memang dibutuhkan.

Ah, jadi kangen dengan mereka. Bagaimana dengan sahabat pria atau wanita kalian? Masih tetap sahabatan atau sahabat jadi istri atau suami?

Rabu, 14 Juni 2017

4 LANGKAH HEMAT LISTRIK


Rumah 'mewah'
Sejak awal tahun, time line fesbuk bersliweran status kenaikan tarif listrik. Sebenarnya sih, pencabutan subsidi daya listrik 900 watt. Sebagian besar bernada prihatin, mengeluh dan sebagian ada juga yang berstatus tetap bersyukur disertai doa untuk kelancaran rejeki. Tidak ada yang benar-benar bergembira. Ya iyalah, subsidi listrik dicabut, biaya listrik naik hingga 2x lipat.

Saya sendiri pemakai listrik bersubsidi 900 watt prabayar, jadi ya merasakan juga dampak pencabutan subsidi yang dilakukan bertahap. Sebelum kenaikan tarif listrik, setiap membeli pulsa 100 ribu, saya mendapatkan 155 kWh. Dua bulan kemudian tarif listrik naik, setiap membeli pulsa 100 ribu, saya hanya mendapat 115 kWh. Dua bulan berikutnya, hanya dapat 88 kWh. Terakhir, saya inisiatif beli pulsa 200 ribu, sebelum subsidinya dicabut lebih banyak lagi..hihihi.

Kalau bagi saya pribadi, ada hikmah dibalik pencabutan subsidi listrik. Saya yang biasanya kurang perhatian dengan pemakaian listrik bulanan, mulai cermat menggunakan listrik. Setiap berangkat kerja saya melirik meteran listrik. Saat pulang kerja saya juga sering melirik meteran. Kalau angka di meteran berkurang banyak saya jadi curiga. Jangan-jangan ada colokan yang lupa dicabut atau kran air yang lupa ditutup.

Hasil dari melirik itu, saya jadi tahu pemakaian listrik setiap bulannya, yaitu sekitar 100 kWh. Artinya tagihan listrik saya kalau subsidi dicabut masih dibawah 200 ribu. Sebenarnya ini cukup hemat dibanding beberapa teman yang peralatan elektroniknya hampir sama dengan yang ada di rumah saya, jumlah pemakaian listriknya hampir 400 ribu.

Peralatan elektronik apa saja sih yang ada di rumah saya? Sebenarnya standar dengan rumah lainnya. Lampu, televisi, kipas angin, setrika, kulkas, mesin cuci, sanyo, penghisap asap di dapur dan AC.

Hanya saja saya punya 4 langkah hemat listrik ala saya. Saya konsep dari awal membangun rumah hingga sekarang.



Pohon Talok di depan halaman rumah

LOKASI DAN DESAIN RUMAH

Langkah pertama mulai dari lokasi dan desain rumah. Lokasi dan desain rumah untuk hemat listrik? Iya lah, dengan lokasi dan desain yang tepat, kita bisa menghemat pemakaian listrik.

Dari awal membangun rumah, saya minta desain rumah yang banyak bukaan untuk ventilasi dan pencahayaan yang masuk. Teman kantor saya sampai berdecak lihat rumah saya. Bukan berdecak kagum sih, berdecak lihat jendela dan kaca di bagian belakang rumah, “kamu gak takut banyak jendela dan kaca begitu? Gak dikasih gorden? Ntar bisa melihat keluar. Kalau ada hantu di luar jendela gimana?” berondongnya.

Lokasi rumah saya juga masih banyak lahan yang kosong dan pepohonan di lingkungan sekitar. Sekitar 50 meter ada taman kota dengan pohon-pohon yang cukup besar. Jadilah rumah masih terasa adem.

Dengan lokasi dan desain seperti itu, saya bisa mengurangi pemakaian lampu dan AC. Lampu dinyalakan saat malam atau mendung yang pekat. AC saya pakai hanya saat tidur.

Abaikan barang-barang di belakang rumah

MEMILIH PERALATAN ELEKTRONIK

Pilihlah peralatan elektronik sesuai kebutuhan dan dengan daya yang kecil. Lampu saya pilih dengan watt yang kecil namun cukup terang. Untuk AC dan mesin cuci saya pilih yang wattnya kecil sehingga lebih hemat dan pas dengan daya listrik rumah. Sedangkan kulkas, saya pilih yang satu pintu dan berukuran kecil. Yah, dengan jumlah anggota yang cuma 4 orang, saya belum butuh kulkas yang besar. Apalagi saya jarang masak..hihihi.

Saya juga tidak menggunakan dispenser, karena jarang membutuhkan air panas. Air panas, biasanya digunakan pagi hari untuk campuran air mandi duo F, masak mau diambil dari dispenser. Memasak nasi juga tidak menggunakan rice cooker. Suami saya tidak suka nasi yang dipanaskan terus menerus. Jadilah saya ngetim nasi, yang akan saya panaskan setelah lewat 12 jam.

Kulkas 1 pintu lebih irit listrik

CABUT COLOKAN DAN MATIKAN PERALATAN ELEKTRONIK SAAT TIDAK DIGUNAKAN

Membiarkan lampu di teras rumah menyala padahal hari mulai terang. Tidak mematikan kran air saat tidak digunakan atau bak penampungan sudah penuh. Atau membiarkan tivi menyala padahal tidak ditonton adalah beberapa hal yang sering saya jumpai. Bagi saya itu pemborosan.

Rutinitas di rumah saya, antara jam 07.30 hingga jam 08.30 satu persatu mulai meninggalkan rumah. Pukul 16.00 satu persatu mulai memasuki rumah. Itulah salah satu hal yang menghemat penggunaan listrik. Untuk lebih menghemat pemakaian listrik, saya selalu memastikan bahwa semua lampu sudah dimatikan, colokan listrik sudah dicabut dan tak ada krain air yang masih terbuka.

Konon katanya, aliran listrik tetap akan mengalir, jika colokan peralatan elektronik tidak dicabut. Alat penghisap asap dan AC di rumah saya buat dengan colokan. Jadi sebelum menyalakan alat penghisap asap dan AC, saya terlebih dahulu harus memasukkan colokan. Usai penggunaan, colokan saya cabut. 

O, ya ada tips lagi dalam menyalakan AC. Saat menyalakan AC, jangan langsung ke temperatur rendah. Nyalakan dengan temperatur 30 atau 28. Setelah 15 menit hingga 30 menit baru turunkan suhu dengan bertahap. Pernah baca, kalau langsung dengan temperatur rendah akan menyedot listrik banyak.

Colokan AC di kamar


BATASI PENGGUNAAN LISTRIK

Mau menghemat listrik tanpa membatasi penggunaan listrik, non sense lah. Kecuali kalau menggunakan alat untuk memperlambat laju meteran listrik. Eh, sebenarnya itu alat sah apa gak sih? Diperbolehkan oleh PLN atau aturan? *serius nanya.

Saya sendiri menerapkan aturan, AC boleh dipakai saat tidur, terutama malam hari. Kalau siang hari di dalam kamar, ya cukup menyalakan kipas angin. Mesin cuci juga saya gunakan 2 hari sekali. Dengan jumlah anggota keluarga 4 orang, saya rasa tidak harus mencuci baju setiap hari.

Menyetrika baju juga hanya seminggu sekali. Sesuai dengan jadwal kedatangan ART di hari minggu hihihi. Saya juga menghindari menyetrika baju saat mau dipakai. Jadi baju yang saya gunakan, hanya yang sudah disetrika. Menyetrika baju hanya satu, membuat boros listrik.

Sebenarnya yang terpenting dari itu semua adalah mindset untuk menghemat penggunaan listrik. Kalau dari dalam sudah tertanam, maka kalau melihat listrik dihamburkan rasanya gemes. Perilaku pun otomotis akan terbiasa untuk menghemat listrik di setiap tempat. Contoh, saat di kantor atau pusat perbelanjaan melihat kran air mengalir saya langsung tergerak untuk menutup kran.

Bagi saya menghemat listrik, artinya membuka kesempatan untuk bersenang-senang dan menyenangkan orang lain. Lumayan kan, kalau setiap bulan hemat 200 ribu, dikalikan setahun sudah dapat 2,4 juta. 

Uang segitu, bisa buat belanja baju lebaran di Zalora. Ya, saya memang lagi suka belanja online. Gak perlu capek dan kepanasan. Tentunya saya cari yang pas dengan style dan ukuran tubuh. Tidak lupa yang diskonan hihihi. Sisanya kan bisa buat menyenangkan ibu saya.  Jadi hemat listrik bisa menyenangkan semua orang kan?

 

Senin, 29 Mei 2017

Buah, Menu Favorit Agar Tetap Sehat Selama Puasa

Bulan Ramadhan, seperti kaum muslim dan muslimah yang lain, saya sukacita menyambutnya. Alasanya hampir sama dengan yang lain. Bulan yang penuh berkah dan ampunan. Nilai pahala pun berkali lipat.

Bulan Ramadhan bagi saya wadah untuk membersihkan diri luar dan dalam, jiwa dan raga. Selama 11 bulan jiwa saya sudah lepas kontrol. Ibadah seadanya. Sekedar yang wajib. Sunnah pun tak seberapa.

Sholat tidak didirikan sehingga tak mampu menjaga tingkah laku sebagai isteri dan ibu yang mendidik duo bocah. Kadang saya bersikap lebih dominan terhadap suami. Dominan maksudnya sering memerintah suami untuk mengerjakan urusan rumah tangga.  Atau terlalu kritis, maksudnya ngeyel..hihihi.

Saat menghadapi tingkah laku duo F yang tidak sesuai keinginan, terkadang saya emosi. Hanya karena tidak menanggapi panggilan untuk mandi, suara meninggi, omelan pun keluar tak terkontrol. Melerai duo F yang sedang bertikai pun, tak lagi dengan suara lembut. Lebih sering mengancam pergi keluar rumah, karena kehabisan akal untuk berkompromi dengan mereka.

Banyak juga kegiatan menyia-nyiakan waktu *buka-buka medsos. Padahal waktulah yang paling berharga, tak dapat dikembalikan.

Raga juga sering tak dijaga. Olah raga sudah jelas jadi barang langka. Makanan pun sering tidak terkontrol. Semua yang diinginkan, langsung dilahap. Akibatnya, baju secara perlahan bertambah kecil, iya karena badanya bertambah lebar *sedih.

Makanya ketika ditantang Mbak Wati dan Mbak Diyanika, makanan favorit waktu puasa jelas makanan yang rendah lemak. Alami, tanpa diolah serta kaya vitamin. Apakah itu?

Buah Sebagai Makanan Favorit dan Pilihan

Pilihan dan favorit saya selama puasa adalah buah. Sebenarnya sejak lama saya ingin menjalani metode Food Combaining. Sayangnya tekad saya kurang kuat. Godaan di luar terlalu kuat buat saya. Gorengan yang tersedia di kantin belakang kantor. Jajanan kaya tepung, minyak, lemak dan serpihan debu di depan kantor. Atau menu jajanan dan makan siang teman kantor.

Makanya momen Ramadhan, saya manfaatkan untuk menangkal godaan itu. Pas bayar hutang puasa kemarin, saya rutin sahur dengan buah. Misal pisang, papaya atau salak. Berbuka pun diawali dengan air putih, buah dan dilanjut makan petis kangkung setelah maghrib. Lumayan lah ukuran perut agak mengecil.

Ramadhan ini pun, saya mencoba konsisten untuk sahur dengan buah.” Beneran Ma? Kamu sahur cuma buah saja. Gak makan nasi?” tanya suami saat melihat saya hanya makan buah.

Iyalah, saya menghindari makan nasi di waktu sahur. Ya, meskipun kadang saya masih nyomot gorengan 1 buah yang tersisa di piring. Atau nyemil sedikit keripik kentang *hihihi mulai tergoda.

Alasan Memilih Buah

Buah juga saya pilih karena kandungan yang baik untuk tubuh. Bahkan saat berbuka, kita disarankan untuk berbuka dengan yang manis. Maksudnya buah manis bukan teh manis. Biasanya saya berbuka dengan buah kurma terlebih dahulu. Kalaupun tergoda dengan teh untuk suami, biasanya saya minum selepas maghrib.

Setelah menjadi ibu, keselamatan dan kesehatan adalah yang utama bagi saya. Saya harus ada dan sehat untuk duo F. Di umur yang cantik, saya sudah harus mengontrol asupan dalam tubuh saya. Kolak, gorengan, rendang dan makanan lain sudah harus dikurangi.

Selain itu, alasan lain karena ribet mengolahnya hahaha. Kalau dulu tinggal pesan sama Ibu, sekarang ya saya yang membuatnya. Apalagi saya harus pintar mengatur waktu, bekerja dan mengurus rumah. Yang sudah-sudah karena gak punya waktu dan tenaga buat masak, akhirnya bahan makanan terbuang. Duh bulan Ramadhan buang-buang makanan.

Mudah-mudahan, Ramadhan tahun ini, jiwa dan raga saya bisa bersih. Bonus berat badan bisa berkurang dan baju kembali longgar hahaha. Jadi, menu favorit teman-teman selama bulan Ramadhan apa?

Minggu, 21 Mei 2017

MICROWAVE OVEN UNTUK PERSIAPAN SAHUR

Sahur pun lebih praktis
Sekitar awal tahun, saya dikeplak dengan status fesbuk adik saya, Rahmi.  Utang puasanya sudah lunas, sementara 1 pun utang puasa saya belum terbayar. Beberapa bulan kemudian, ada status lagi di wa yang mengingatkan 100 hari menjelang puasa. Hingga saya membuat artikel ini, utang puasa saya masih 1 hari dan saya mulai batuk *uhuk.  
Tak terasa bulan Ramadhan memang sudah ada di depan mata. Tidak sampai sebulan. Suasana Ramadhan pun sudah mulai terasa. Iklan sirup di televisi, buah kurma yang mulai tampak di mini market, lapak di sosmed yang mulai marak hingga dandangan di Kudus sudah digelar.
Bagi saya Ramadhan kali ini sangat berbeda. Perlu persiapan lebih dibanding bulan Ramadhan tahun-tahun sebelumnya. Tahun sebelumnya saya tinggal di PORIN alias Pondok Ortu Indah..hehehe. Tahulah situasi di rumah ortu, bebas tanpa pencitraan.
Makanan sahur  sudah tersedia. Saya tinggal bangunkan suami untuk sahur. Paling banter membuatkan teh atau mie rebus kalau suami minta. Setelah lebaran tahun kemarin, saya pindah ke rumah sendiri. Artinya, saya dibantu suami harus menyiapkan menu sahur dan berbuka.
Urusan menyiapkan sahur, saya lebih suka yang praktis. Sudah beberapa hari ini, saya sahur dengan buah. Cuma, suami saya gak nendang sahur dengan buah, maklum orang lapangan.
Biasanya untuk sarapan saja, saya membuat yang praktis. Telur ceplok atau dadar, tempe atau tahu goreng, goreng ikan yang sudah dibumbui dan disimpan di kulkas. Terkadang kalau masih ada sisa makanan semalam, saya simpan di kulkas, keesokan harinya di goreng lagi. Jadi double minyak, dan kadang makanannya jadi agak alot.
Baca-baca berbagai sumber. ternyata ada alat masak yang praktis dan menyehatkan. Apa itu? Microwave Oven.  Microwave hampir mirip dengan oven, namun cara kerjanya berbeda.  Oven menggunakan filament khusus untuk memijarkan api, sedangkan microwave menggunakan getaran gelombang mikro untuk menimbulkan panas.
Dapur Minimalis
Tipe Microwave
Microwave ternyata tidak hanya dapat menghangatkan makanan. Ada tiga tipe microwave. Microwave tipe straight atau solo model. Tipe ini berfungsi untuk menghangatkan makanan. Biasanya makanan kita simpan di dalam kulkas. Pas mau sahur, makanan dapat dihangatkan dengan lebih cepat dengan microwave tanpa banyak cita rasa yang berubah dan sedikit kandungan gizi yang terbuang.
Tipe yang selanjutnya, tipe grill yang berfungsi menghangatkan dan memanggang makanan, seperti ayam, ikan atau daging. Tipe ini cocok buat saya yang takut dengan percikan minyak. Tiap kali menggoreng ikan, selalu heboh sambil membawa tutup panci buat melindungi diri. Selain itu, memasak menggunakan microwave lebih sehat tanpa menggunakan minyak serta dapur pun lebih bersih.
Tipe yang ketiga, tipe convection yang cocok untuk membuat kue.  Wah, bisa buat memanggang pizza nih. Fattah lagi suka dengan pizza.
Sepertinya microwave juga cocok nangkring di meja dapur saya yang kecil, selain fungsinya yang praktis menambah cantik tampilan dapur.
Teknik Khusus Demi Kemanan
Eh, tapi memasak dengan microwave ternyata sangat berbeda dengan piranti memasak lain. Jadi butuh teknik khusus demi keamanan.
Yang pertama, logam atau unsur logam tidak dapat digunakan sebagai wadah untuk memasak dalam microwave. Gunakan bahan atau wadah yang aman dan khusus piranti untuk microwave. Biasanya ada keterangan yang tertera pada wadah atau piranti yang kita gunakan.
Pada bahan makanan yang tertutup berilah lubang. Tusuk-tusuklah kentang, tomat, ikan atau telur yang akan dimasak dalam microwave. Hal ini dilakukan agar udara panas bisa keluar. Wadah pun pilihlah yang ada lubangnya, atau buka tutupnya sedikit.
Potong-potonglah bahan makanan dalam ukuran seragam dan kecil, agar matang dengan merata. Selain itu, gunakanlah lap kertas untuk membungkus keripik kentang, saat menghangatkan di dalam microwave. Lap akan menyerap kelembapan dan keripik kembali renyah.
Menarik juga ya punya microwave oven. Adakah teman-teman yang tertarik menggunakan microwave oven untuk persiapan sahur di bulan Ramadhan? Kalau tidak ada waktu atau kesempatan berbelanja langsung, bisa melihat microwave oven murah di sini.

Kalau saya,  punya satu catatan yang penting kalau ingin memiliki microwave oven. Saya harus menaikkan daya listrik di rumah. Daya watt untuk menggunakan microwave oven memang tinggi, karena diperlukan untuk memanaskan makanan dalam waktu yang singkat. Padahal daya listrik saya di rumah cuma 900 watt hehehe.


Ruang buat meletakkan microwave

Sabtu, 20 Mei 2017

KENANGAN MASA KECIL : “SEMOGA KAU BAIK-BAIK SAJA KAWAN”


Semester ini, saya sedang berkutat dengan bertumpuk-tumpuk laporan pratikum.  Salah satu alat tes yang dipratikkan dan dibuat laporan adalah Sack’s Sentence Completion Test atau SSCT. Alat tes ini termasuk tes kepribadian yang berbentuk proyeksi. SSCT berisi pernyataan yang belum selesai dan harus diselesaikan oleh testee atau subyek pratikan.

Beberapa pernyataan berisi tentang pertanyaan yang berkaitan di masa lalu, saat masih kanak-kanak.  Sebagai seorang psikolog, pertanyaan mengenai masa lalu sangat penting. Terutama jika bertemu dengan klien yang bermasalah.

Biasanya kejadian buruk di masa kecil seringnya dipendam dan menjadi masalah di kemudian hari. Mending kalau kemudian dituliskan sehingga menjadi semacam terapi dan memberi manfaat buat orang lain. Seperti yang dilakukan mbak Anjar Sundari dengan membagikan pengalaman unik dan berkesanya.

Biasanya saya, ketika bertemu dengan pribadi yang bermasalah, antara jengkel dan merasa kasihan. Jengkel karena ia tak kunjung berubah. Kasihan karena dia menjadi korban di lingkungannya dan kemungkinan orang tua tidak tahu atau tak mampu mengatasinya.

Alhamdulillah kenangan masa kecil saya banyak yang manis, lucu dan sedikit memalukan. Semua kenangan itu tentang Bandung. Masa kecil saya habiskan di Bandung, sejak umur 4 tahun hingga lulus SD. Ada 3 tempat tinggal selama di Bandung. Kompleks Saptamarga saat umur 4 tahun hingga hampir lulus TK. Kebon Kopi Cibeureum hingga hampir kenaikan kelas 2 SD dan terakhir di Antapani Bandung hingga lulus SD.

Di depan rumah Sapta Marga Bandung
Diantara kenangan manis, lucu dan sedikit memalukan , ada juga beberapa kenangan yang kurang mengenakkan atau menyedihkan. Berantem sama teman sih biasa. Gak sampai berkelahi, biasanya adu mulut. Tapi habis itu, baikan lagi. Namanya juga anak-anak. Tapi ada juga sih satu teman yang musuhan terus sampai hampir lulus.

Teman sebangku juga tak selamanya menyenangkan. Ya maklum, kadang teman sebangku ditentukan sama guru, jadi apes juga pas dapat teman sebangku yang kurang nyaman. Waktu sekolah di SD Muhammadiyah 7 Bandung, saya malah gak ingat sama sekali siapa saja teman sebangku saya. Sementara di SD Yayasan Wanita Kereta Api saya malah masih ingat, ada 2 teman sebangku cowok dan 1 teman cewek yang  baik banget tapi saya agak lupa, sebangku atau tidak.

Punya teman sebangku cowok menurut saya saat itu kurang menyenangkan. Mungkin gurunya memang memasangkan cowok dan cewek supaya gak ngobrol saat pelajaran. Saya memang gak ngobrol, tapi seringnya berantem..hahaha. Cuma adu mulut sih, tapi rasanya tetap gak enak. 

Saya sudah lupa dengan nama-nama mereka. Hanya sekilas profilnya yang masih ingat. Teman sebangku yang pertama cowok dengan rambut keriting. Kadang-kadang kami berantem, tapi saya sempat naksir sama dia..hahaha.

Kebon Kopi Cibeureum

Yang kedua lah yang paling kurang menyenangkan buat saya.  Seingat saya anaknya kecil dengan rambut lurus potongan tentara. Sikapnya yang cenderung kasar dan ‘rusuh’ membuat perasaan tidak nyaman.

Setiap bercakap, ucapannya kasar. Menurut saya, pergaulan dia mungkin dengan orang dewasa yang tidak bertanggungjawab. Seringkali, dia menunjuk kolong bawah meja sebagai layar televisi.

“Lihat di bawah kolong meja itu. Ada perempuan hanya memakai BH, ada perempuan dan laki-laki lagi ciuman dan bla..bla..”ceritanya sambil wajahnya tersenyum senang.

Kalau saya mau mengadu ke guru, dia pasti marah dan memukul saya. Kalau saya pura-pura mengikuti kemauannya, dia sangat senang dan tidak bermain fisik.

Untunglah saya tidak sampai setahun duduk sebangku dengannya. Menjelang cawu III saya pindahan ke rumah baru.

Tapi kenangan itu masih melekat. Saya jadi bertanya, bagaimana dengan dia ya? Kenapa di usia yang begitu muda, dia sudah berbicara hal seperti itu? Apakah orang tuanya tahu dengan pengalamannya? Dan masih banyak lagi pertanyaan dalam benak saya, yang tidak sempat saya tanyakan. Ya, iyalah, pertanyaan itu baru muncul setelah saya dewasa. Waktu itu, hanya risih dan takut yang saya rasakan.

Pengalaman itu membuat saya merasa harus lebih peka dengan tumbuh kembangnya duo F. Membangun kelekatan dengan mereka berdua, sehingga mereka merasa nyaman bercerita dan mengadu kepada orang tuanya.

Saya dulu, tidak pernah bercerita kepada orang tua atau pun guru soal teman sebangku itu. Saya hanya merasa risih dan takut dengan respon orang dewasa ketika saya bercerita. Makanya seringkali saya bertanya ke Fatih tentang kesehariannya di sekolah. Hal menyenangkan atau pun yang tidak ia sukai. Saya pun mendorong ia agar mau berterus terang kepada gurunya hal yang tidak disukai, meskipun itu makanan yang tidak ia suka.

Ah, mudah-mudahan keadaan teman sebangku saya baik-baik saja. Semoga pengalaman yang ia dapatkan tidak merusak masa depannya.  Jadi kepikiran cerita teman saya, bisa buat bahan menulis cerpen. Siapa tahu nanti bisa bermimpi buat novel seperti mbak Nia Nurdiansyah hihihi.

Ruang tamu rumah Antapani



Blog Design by Handdriati