Minggu, 21 Mei 2017

MICROWAVE OVEN UNTUK PERSIAPAN SAHUR

Sahur pun lebih praktis
Sekitar awal tahun, saya dikeplak dengan status fesbuk adik saya, Rahmi.  Utang puasanya sudah lunas, sementara 1 pun utang puasa saya belum terbayar. Beberapa bulan kemudian, ada status lagi di wa yang mengingatkan 100 hari menjelang puasa. Hingga saya membuat artikel ini, utang puasa saya masih 1 hari dan saya mulai batuk *uhuk.  
Tak terasa bulan Ramadhan memang sudah ada di depan mata. Tidak sampai sebulan. Suasana Ramadhan pun sudah mulai terasa. Iklan sirup di televisi, buah kurma yang mulai tampak di mini market, lapak di sosmed yang mulai marak hingga dandangan di Kudus sudah digelar.
Bagi saya Ramadhan kali ini sangat berbeda. Perlu persiapan lebih dibanding bulan Ramadhan tahun-tahun sebelumnya. Tahun sebelumnya saya tinggal di PORIN alias Pondok Ortu Indah..hehehe. Tahulah situasi di rumah ortu, bebas tanpa pencitraan.
Makanan sahur  sudah tersedia. Saya tinggal bangunkan suami untuk sahur. Paling banter membuatkan teh atau mie rebus kalau suami minta. Setelah lebaran tahun kemarin, saya pindah ke rumah sendiri. Artinya, saya dibantu suami harus menyiapkan menu sahur dan berbuka.
Urusan menyiapkan sahur, saya lebih suka yang praktis. Sudah beberapa hari ini, saya sahur dengan buah. Cuma, suami saya gak nendang sahur dengan buah, maklum orang lapangan.
Biasanya untuk sarapan saja, saya membuat yang praktis. Telur ceplok atau dadar, tempe atau tahu goreng, goreng ikan yang sudah dibumbui dan disimpan di kulkas. Terkadang kalau masih ada sisa makanan semalam, saya simpan di kulkas, keesokan harinya di goreng lagi. Jadi double minyak, dan kadang makanannya jadi agak alot.
Baca-baca berbagai sumber. ternyata ada alat masak yang praktis dan menyehatkan. Apa itu? Microwave Oven.  Microwave hampir mirip dengan oven, namun cara kerjanya berbeda.  Oven menggunakan filament khusus untuk memijarkan api, sedangkan microwave menggunakan getaran gelombang mikro untuk menimbulkan panas.
Dapur Minimalis
Tipe Microwave
Microwave ternyata tidak hanya dapat menghangatkan makanan. Ada tiga tipe microwave. Microwave tipe straight atau solo model. Tipe ini berfungsi untuk menghangatkan makanan. Biasanya makanan kita simpan di dalam kulkas. Pas mau sahur, makanan dapat dihangatkan dengan lebih cepat dengan microwave tanpa banyak cita rasa yang berubah dan sedikit kandungan gizi yang terbuang.
Tipe yang selanjutnya, tipe grill yang berfungsi menghangatkan dan memanggang makanan, seperti ayam, ikan atau daging. Tipe ini cocok buat saya yang takut dengan percikan minyak. Tiap kali menggoreng ikan, selalu heboh sambil membawa tutup panci buat melindungi diri. Selain itu, memasak menggunakan microwave lebih sehat tanpa menggunakan minyak serta dapur pun lebih bersih.
Tipe yang ketiga, tipe convection yang cocok untuk membuat kue.  Wah, bisa buat memanggang pizza nih. Fattah lagi suka dengan pizza.
Sepertinya microwave juga cocok nangkring di meja dapur saya yang kecil, selain fungsinya yang praktis menambah cantik tampilan dapur.
Teknik Khusus Demi Kemanan
Eh, tapi memasak dengan microwave ternyata sangat berbeda dengan piranti memasak lain. Jadi butuh teknik khusus demi keamanan.
Yang pertama, logam atau unsur logam tidak dapat digunakan sebagai wadah untuk memasak dalam microwave. Gunakan bahan atau wadah yang aman dan khusus piranti untuk microwave. Biasanya ada keterangan yang tertera pada wadah atau piranti yang kita gunakan.
Pada bahan makanan yang tertutup berilah lubang. Tusuk-tusuklah kentang, tomat, ikan atau telur yang akan dimasak dalam microwave. Hal ini dilakukan agar udara panas bisa keluar. Wadah pun pilihlah yang ada lubangnya, atau buka tutupnya sedikit.
Potong-potonglah bahan makanan dalam ukuran seragam dan kecil, agar matang dengan merata. Selain itu, gunakanlah lap kertas untuk membungkus keripik kentang, saat menghangatkan di dalam microwave. Lap akan menyerap kelembapan dan keripik kembali renyah.
Menarik juga ya punya microwave oven. Adakah teman-teman yang tertarik menggunakan microwave oven untuk persiapan sahur di bulan Ramadhan? Kalau tidak ada waktu atau kesempatan berbelanja langsung, bisa melihat microwave oven murah di sini.

Kalau saya,  punya satu catatan yang penting kalau ingin memiliki microwave oven. Saya harus menaikkan daya listrik di rumah. Daya watt untuk menggunakan microwave oven memang tinggi, karena diperlukan untuk memanaskan makanan dalam waktu yang singkat. Padahal daya listrik saya di rumah cuma 900 watt hehehe.


Ruang buat meletakkan microwave

Sabtu, 20 Mei 2017

KENANGAN MASA KECIL : “SEMOGA KAU BAIK-BAIK SAJA KAWAN”


Semester ini, saya sedang berkutat dengan bertumpuk-tumpuk laporan pratikum.  Salah satu alat tes yang dipratikkan dan dibuat laporan adalah Sack’s Sentence Completion Test atau SSCT. Alat tes ini termasuk tes kepribadian yang berbentuk proyeksi. SSCT berisi pernyataan yang belum selesai dan harus diselesaikan oleh testee atau subyek pratikan.

Beberapa pernyataan berisi tentang pertanyaan yang berkaitan di masa lalu, saat masih kanak-kanak.  Sebagai seorang psikolog, pertanyaan mengenai masa lalu sangat penting. Terutama jika bertemu dengan klien yang bermasalah.

Biasanya kejadian buruk di masa kecil seringnya dipendam dan menjadi masalah di kemudian hari. Mending kalau kemudian dituliskan sehingga menjadi semacam terapi dan memberi manfaat buat orang lain. Seperti yang dilakukan mbak Anjar Sundari dengan membagikan pengalaman unik dan berkesanya.

Biasanya saya, ketika bertemu dengan pribadi yang bermasalah, antara jengkel dan merasa kasihan. Jengkel karena ia tak kunjung berubah. Kasihan karena dia menjadi korban di lingkungannya dan kemungkinan orang tua tidak tahu atau tak mampu mengatasinya.

Alhamdulillah kenangan masa kecil saya banyak yang manis, lucu dan sedikit memalukan. Semua kenangan itu tentang Bandung. Masa kecil saya habiskan di Bandung, sejak umur 4 tahun hingga lulus SD. Ada 3 tempat tinggal selama di Bandung. Kompleks Saptamarga saat umur 4 tahun hingga hampir lulus TK. Kebon Kopi Cibeureum hingga hampir kenaikan kelas 2 SD dan terakhir di Antapani Bandung hingga lulus SD.

Di depan rumah Sapta Marga Bandung
Diantara kenangan manis, lucu dan sedikit memalukan , ada juga beberapa kenangan yang kurang mengenakkan atau menyedihkan. Berantem sama teman sih biasa. Gak sampai berkelahi, biasanya adu mulut. Tapi habis itu, baikan lagi. Namanya juga anak-anak. Tapi ada juga sih satu teman yang musuhan terus sampai hampir lulus.

Teman sebangku juga tak selamanya menyenangkan. Ya maklum, kadang teman sebangku ditentukan sama guru, jadi apes juga pas dapat teman sebangku yang kurang nyaman. Waktu sekolah di SD Muhammadiyah 7 Bandung, saya malah gak ingat sama sekali siapa saja teman sebangku saya. Sementara di SD Yayasan Wanita Kereta Api saya malah masih ingat, ada 2 teman sebangku cowok dan 1 teman cewek yang  baik banget tapi saya agak lupa, sebangku atau tidak.

Punya teman sebangku cowok menurut saya saat itu kurang menyenangkan. Mungkin gurunya memang memasangkan cowok dan cewek supaya gak ngobrol saat pelajaran. Saya memang gak ngobrol, tapi seringnya berantem..hahaha. Cuma adu mulut sih, tapi rasanya tetap gak enak. 

Saya sudah lupa dengan nama-nama mereka. Hanya sekilas profilnya yang masih ingat. Teman sebangku yang pertama cowok dengan rambut keriting. Kadang-kadang kami berantem, tapi saya sempat naksir sama dia..hahaha.

Kebon Kopi Cibeureum

Yang kedua lah yang paling kurang menyenangkan buat saya.  Seingat saya anaknya kecil dengan rambut lurus potongan tentara. Sikapnya yang cenderung kasar dan ‘rusuh’ membuat perasaan tidak nyaman.

Setiap bercakap, ucapannya kasar. Menurut saya, pergaulan dia mungkin dengan orang dewasa yang tidak bertanggungjawab. Seringkali, dia menunjuk kolong bawah meja sebagai layar televisi.

“Lihat di bawah kolong meja itu. Ada perempuan hanya memakai BH, ada perempuan dan laki-laki lagi ciuman dan bla..bla..”ceritanya sambil wajahnya tersenyum senang.

Kalau saya mau mengadu ke guru, dia pasti marah dan memukul saya. Kalau saya pura-pura mengikuti kemauannya, dia sangat senang dan tidak bermain fisik.

Untunglah saya tidak sampai setahun duduk sebangku dengannya. Menjelang cawu III saya pindahan ke rumah baru.

Tapi kenangan itu masih melekat. Saya jadi bertanya, bagaimana dengan dia ya? Kenapa di usia yang begitu muda, dia sudah berbicara hal seperti itu? Apakah orang tuanya tahu dengan pengalamannya? Dan masih banyak lagi pertanyaan dalam benak saya, yang tidak sempat saya tanyakan. Ya, iyalah, pertanyaan itu baru muncul setelah saya dewasa. Waktu itu, hanya risih dan takut yang saya rasakan.

Pengalaman itu membuat saya merasa harus lebih peka dengan tumbuh kembangnya duo F. Membangun kelekatan dengan mereka berdua, sehingga mereka merasa nyaman bercerita dan mengadu kepada orang tuanya.

Saya dulu, tidak pernah bercerita kepada orang tua atau pun guru soal teman sebangku itu. Saya hanya merasa risih dan takut dengan respon orang dewasa ketika saya bercerita. Makanya seringkali saya bertanya ke Fatih tentang kesehariannya di sekolah. Hal menyenangkan atau pun yang tidak ia sukai. Saya pun mendorong ia agar mau berterus terang kepada gurunya hal yang tidak disukai, meskipun itu makanan yang tidak ia suka.

Ah, mudah-mudahan keadaan teman sebangku saya baik-baik saja. Semoga pengalaman yang ia dapatkan tidak merusak masa depannya.  Jadi kepikiran cerita teman saya, bisa buat bahan menulis cerpen. Siapa tahu nanti bisa bermimpi buat novel seperti mbak Nia Nurdiansyah hihihi.

Ruang tamu rumah Antapani



Senin, 27 Maret 2017

NGETREK DENGAN DUO F KE KEDUNG GENDER COLO


Fatih beraksi, sementara Mama membakar kalori

Ada 2 hal yang paling disukai duo F. Mainan dan jalan-jalan. Apalagi kalau 2 hal tadi digabung, jalan-jalan terus beli mainan *elus-elus dompet.

Saat usia mereka di bawah 1 tahun, saya pilih mainan bayi yang aman meski harganya agak mahal. Daya tahan tubuhnya kan masih lemah. Lagi jarang juga sih belikan mereka mainan. Mereka belum paham, jadi jarang minta dibelikan mainan. Setelah agak besar, terutama Fatih, frekuensi permintaan beli mainannya meningkat. Jadi mulai saya batasi baik dari jumlah dan harga. Menyesuaikan isi kantong lah. Sekalian Fatih belajar mengendalikan keinginan.

Jalan-jalan = Passion

Sejak usia di bawah 1 tahun sampai sekarang, mendengar kata jalan-jalan mereka akan bersorak,”horay”.  Fatih aja, di rumah rewel karena pilek, eh diajak ke dokter naik motor langsung ceria. Sedang Fattah, begitu lihat ada keluarga yang mau keluar rumah pasti minta ikut. Fattah gak perduli meski Mama dan Ayahnya gak ikut.

Mengenal rasa air gunung
Jalan-jalan bagi saya seperti passion. Kemudian menjadi kegiatan wajib di hari libur atau saat ada waktu luang. Gak harus mahal. Dana terbatas pun bisa kok jalan-jalan. Misalnya ke taman dan jangan lupa bawa bekal..hihihi.

Jalan-jalan Irit = Ke Gunung

Seperti hari Minggu 22 Januari 2017, Ayah duo F mengajak jalan-jalan ke Kedung Gender Colo sekalian liputan kegiatan di sana. Hari Minggu memang bukan jatah libur Ayah. Makanya kalau keadaan memungkinkan, biasanya Ayah meliput sekalian mengajak jalan-jalan keluarga.

Saya sih oke-oke saja. Beberapa kali destinasi kami daerah pegunungan. Biar Fatih dan Fattah mengenal daerah pegunungan. Gak kuper seperti Mamahnya, umur 26 baru naik gunung, eh bukit ding.

Gaya anak masa kini
Apalagi, jalan-jalan ke gunung, irit di ongkos. Lah gunung Muria dari rumah saya sekitar 30 menit. Perjalanan ke sana pun ditempuh dengan motor. Untuk menghemat lagi, saya bawa bekal nasi dan telur ceplok dari rumah. Benar saja, berhenti sebentar di tambal ban, duo F langsung minta makan.

Kedung Gender sebenarnya bukan air terjun baru bagi warga di Colo. Tapi baru terkenal setengah tahunan ini. Gara-garanya apa coba? Gara-gara ada yang upload foto di sosmed. Biasalah jadi viral.

Lokasinya berada di Dukuh Waringin Kecamatan Dawe. Sebagian besar orang lewat dukuh Waringin menuju Kedung Gender. Tapi Ayah duo F karena baru pertama kali dan belum mengenal medan mengajak kami lewat dukuh Ceglik desa Japan. Infonya sih dari temannya yang kegiatannya akan diliput. Katanya lebih cepat sampai.
Jalan-jalan atau Ngetrek?

Wow, begitu melihat medannya, “Ini sih bukan jalan-jalan, tapi ngetrek". Jalannya luar biasa. Terjal dan curam dengan kemiringan hampir 45 derajat. Saya dan Ayah sih jaman masih temanan sering lewat jalan seperti itu. Tapi ini bawa anak usia 2 tahunan yang nekatnya gak ketulungan.

Capeknya kayak gini, sampai rumah gak kurus juga
Selama perjalanan ke Kedung Gender Fattah gak mau digendong Ayah. Bahkan sama saya pun kadang gak mau digendong. Malah mau pegang bambu sendiri. Alhasil saya ngos-ngosan gendong, gandeng dan menjaga Fattah agar tidak tergelincir.

Sementara Fatih masih diyakinkan untuk lebih berani saat menuruni jalan terjal. Sesekali digendong atau cuma di gandeng.

Alhamdulillah sih, sampai juga ke Kedung Gender. Fatih dan Ayah langsung beraksi di lokasi. Fatih beraksi main air, sementara Ayah ambil gambar.

Saya menemani Fattah yang masih takut dengan air. Katanya sih minta pipis, tapi tidak ada toilet di sekitarnya. Maklum obyek wisata baru. Fasilitasnya masih minimalis.

Tujuan saya ke Kedung Gender selain memperkenalkan daerah pegunungan, juga membiasakan duo F kena air dingin. Fatih sudah agak lumayan mau mencerburkan diri di air. Fattah yang masih kayak kucing takut dimandikan.

Setelah dia bermain lempar batu di  sungai, akhirnya Fattah mau juga menceburkan kaki di air dan bermain ciprat-cipratan. Apalagi setelah didatangi Fatih.

Akhirnya mau 'nyempung' juga
Saran saya sih, buat teman-teman yang mau ke sana dan bawa anak kecil, sebaiknya lewat Dukuh Waringin. Kalau bersama teman-teman yang seusia, lewat Desa Japan lebih cepat. Jaraknya cuma 700 meter.

Untuk mencapai ke sana, ada petunjuknya. Kalau membawa motor atau mobil bisa dititipkan ke rumah warga dengan membayar parkir yang tidak seberapa.

Kalau ditanya mau ke sana lagi atau tidak, saya pilih menjelajah tempat yang baru. Apalagi kalau cuma pergi berdua sama Ayah *mengkhayal. Jarak tempuhnya itu loh, masih kurang jauh dan kurang berasa hutannya *huahaha nggaya..berasa penjelajah hutan beneran.

Selasa, 28 Februari 2017

Selain Berbelanja di Mal, Inilah Hal-Hal yang Bisa Anda Lakukan di Surabaya

Surabaya memang identik dengan wisata belanja. Mal-malnya tersebar di setiap ruas jalan. Bagi sebagian wisatawan, berbelanja sudah menjadi aktivitas yang membosankan. Wisatawan menginginkan aktivitas liburan yang lebih menyegarkan di kota yang terkenal dengan terik panasnya itu.

Selain berbelanja di mal, Anda bisa melakukan hal-hal ini di kota pahlawan. 

1. Mengunjungi Monumen Kapal Selam


Persis di sebelah Plasa Surabaya, Anda akan menemukan kapal selam KRI Pasopati 410. Kapal tersebut milik Angkatan Laut Republik Indonesia, dibuat oleh Uni Soviet tahun 1952. Kapal Selam itu juga menjadi saksi sejarah, pernah digunakan dalam Pertempuran Laut Aru.

Kini, kapal selam menjadi monumen sekaligus sebagai tempat wisata. Pihak pengelola akan memutarkan film tentang sejarah kapal selam di Indonesia. Selain itu, pengunjung juga bisa menyaksikan pertunjukan musik di panggung terbuka pada hari Sabtu atau Minggu.

2. Bermain Air di Ciputra Waterpark

Rasa gerah akibat panas yang menyengat langsung terhapus ketika berenang di Ciputra Waterpark. Selain menyegarkan, wahana permainannya benar-benar seru. Salah satunya adalah Syracuse Beach. Kolam tersebut memunculkan ombak buatan seolah-olah Anda berada di tengah laut.

Rasakan juga meluncur dari Roc Tower, wahana setinggi 15 meter dengan jalur berkelok-kelok. Seluncuran lainnya adalah Racer Slide. Tingginya hanya 10 meter, tapi sensasinya juga tidak kalah seru.

3. Memacu Adrenalin di Suroboyo Carnival Park

Menghabiskan malam dengan memacu adrenalin? Siapa takut? Datanglah ke Suroboyo Carnival Park yang terletak di Jalan Ahmad Yani No. 333. Tersedia 52 jenis permainan, mulai dari yang terkesan santai sampai yang membuat Anda menjerit ketakutan.

Salah satunya adalah Blueshake. Anda akan duduk di atas kursi yang berjejer horizontal, kemudian diputar-putar hingga 360 derajat. Anda mau yang lebih menantang lagi? Cobalah menaiki pendulum jika memiliki nyali.

4. Mampir ke Kampung Arab

Sempatkan untuk mampir ke Kampung Arab yang berada di kawasan wisata religi Sunan Ampel. Seperti namanya, mayoritas penduduk di wilayah tersebut merupakan keturunan Arab. Ketika Anda menyusuri lorong pasarnya pun, Anda serasa berada di pasar seng Mekkah. Nikmati pula makanan khas Arab di sana, yakni Nasi Kebuli.

Jangan lewatkan juga untuk berziarah di makan Sunan Ampel serta menunaikan salat di Masjid Agung Sunan Ampel. 

5. Menyantap Bebek Mercon

Bagi penikmat makanan pedas, mampirlah ke Bebek Mercon di Jalan Kayun. Daging bebek berkuah dengan butiran cabai akan meledakkan lidah Anda laksana mercon. Daging bebeknya juga empuk dengan bumbu yang amat meresap. Dijamin ketagihan!

6. Menikmati Es Krim Zangrandi

Inilah salah satu kuliner legendaris di Surabaya. Kedai Es Krim Zangrandi sudah berdiri sejak tahun 1930. Konsep kedai masih mempertahankan interior tempo doeloe. Adapun rasa es krimnya tidak kalah dengan es krim modern. Sebut saja Noodle Ice Cream dan Banana Split yang menjadi favorit pengunjung.

7. Menikmati Sunset di Pantai Kenjeran

Siapa bilang Surabaya tidak memiliki wisata alam? Salah satunya adalah Pantai Kenjeran yang terletak di Kecamatan Kenjeran. Terbagi menjadi Pantai Kenjeran lama dan Pantai Kenjeran Baru.
Keduanya sama-sama menyajikan panorama memikat dan suasana yang tenteram, terutama menjelang matahari terbenam. Nikmatilah momen sunset di pantai tersebut, menyaksikan keindahan matahari tergelincir di barat langit Surabaya.

Sebelum melakukan semua aktivitas di atas, hal pertama yang harus Anda lakukan adalah menyiapkan akomodasi, termasuk memesan kamar hotel. Untuk rekomendasi hotel murah di Surabaya yang nyaman, sudah pasti Airy Rooms. Sebagai jaringan hotel dan guest house terbesar di Indonesia, Airy Rooms selalu menyediakan fasilitas memadai di setiap kamarnya. Anda bisa pesan melalui link berikut ini :


atau pun pesan melalui aplikasinya (tersedia di Android dan iOS). Untuk pembayaran bisa dengan transfer maupun kartu kredit. Praktis kan?


Jangan kuatir, ada 7 jaminan fasilitas akan selalu menemani Anda di dalam kamar. Salah satunya adalah AC, kasur bersih dan empuk, wifi gratis, TV layar datar, dan lain-lain. Tidur pun akan semakin nyenyak dan nyaman.

Senin, 27 Februari 2017

Penginapan Berkelas Ala Hotel H Sovereign Bali

Bali terkenal dengan keindahan alamnya. Itulah yang membuatnya mendapat julukan Pulau Dewata. Suasana santai yang tersaji secara alami di Bali membuatnya selalu menjadi rujukan. Dan kini wisatawan semakin dimanja dengan hadirnya Hotel H Sovereign Bali. 

Terletak di Jl. Raya Tuban No. 2 , Badung, hotel ini merupakan sebuah hotel bintang 4 dengan konsep elegan. Menggabungkan gaya tradisional dan modern yang mewah dan berkelas. Keunggulan H Sovereign Bali terletak pada posisinya yang berdiri di lokasi strategis dan mudah dijangkau. Selain itu, pelayanan superior dan fasilitas lengkap juga menjadi sajian utama hotel mewah ini.

1. Kamar Hotel


Tersedia kamar reguler dengan fasilitas tambahan yang bisa Anda pilih, antara makan malam atau spa. Dari total 148 kamar, terdapat 2 jenis kamar eksekutif suite dan club. Jika Anda berminat merasakan sensasi mewah dan elegan yang ditawarkan Hotel H Sovereign, agaknya kamar tersebut sesuai untuk Anda.

Semua kamar dilengkapi dengan fasilitas kamar mandi en suite dengan shower, sandal, dan pengering rambut. Pendingin ruangan, televisi layar datar, brankas, serta area tempat duduk, menjadi fasilitas lain yang ada di setiap kamar. 

Jangan khawatir akan kehilangan konektivitas, Anda bisa leluasa mengakses jaringan internet dengan WiFi yang mampu menjangkau setiap sudut hotel. 



2. Fasilitas Unggulan


Selain merasakan sensasi menginap yang elegan dengan pelayanan superior, Anda juga masih akan dipuaskan dengan hadirnya berbagai macam fasilitas unggulan di Hotel H Sovereign.

Terdapat banyak pilihan spot untuk bersantap makan di sini. Di antaranya Kitchen Meliwis Restaurant, Owl Stone Café & Bakery, 28 Lounge Bar, dan 7th Clover Sky Bar yang menjadi favorit para tamu. 

Tidak berhenti di situ, tentunya H Sovereign juga menyediakan fasilitas standar, seperti kolam renang, spa, dan gym. Bahkan di sini juga terdapat Mini Amphitheatre, sebuah fasilitas yang cocok sebagai tempat untuk menggelar pertunjukan kecil, pertemuan, bahkan upacara pernikahan. 

Bagi para pebisnis yang menginginkan privasi untuk berdiskusi bersama staf dan kolega, H Sovereign telah menyiapkan ruang meeting dengan fasilitas audio visual. Ada 6 ruang meeting, masing-masing bisa ditata ulang sesuai keperluan, baik untuk rapat, seminar, maupun presentasi. 

Resepsionis selalu siap sedia, menerima tamu dalam 24 jam setiap hari. Setelah lelah jalan-jalan dan menikmati objek wisata bali, jangan khawatirkan pakaian kotor. H Sovereign juga menyediakan jasa mencuci baju-baju Anda agar siap dipakai kembali. 

3. 7th Clover Sky bar


7th Clover Sky Bar merupakan tempat favorit para tamu. Di sini Anda bisa bersantai sambil menyantap hidangan, sembari melihat pemandangan angkasa dari atap hotel. Clover Sky Bar menyajikan makan siang dan makan malam, serta cocktail dan granitas spesial untuk para pengunjung. 

Beroperasi mulai pukul 11 siang hingga 1 dini hari, siang harinya, 7th Clover Sky Bar menjadi tempat favorit para tamu untuk berjemur. Bar ini dilengkapi dengan kolam renang, sebagai penawar panas setelah terpapar teriknya sinar matahari. 

Sedikit saran, sepertinya senja adalah waktu yang tepat untuk duduk- duduk di 7th Clover Sky Bar ini. Selain tentunya panas sudah tidak begitu terik, tidak butuh waktu lama sebelum Anda bisa menikmati pemandangan indah di langit Bali.Tunggulah sebentar, maka Anda akan menyaksikan suasana matahari terbenam yang menawan.

4. Lokasi yang Strategis


Lokasi Hotel H Sovereign Bali berjarak kurang dari 2 km dari Bandara Internasional Ngurah Rai. Tentu saja jarak tersebut cukup ditempuh dalam waktu beberapa menit saja. Selain itu, akses menuju hotel juga mudah karena berdekatan dengan jalur bypass, serta jalan Tol Bali Mandara yang baru.

Objek wisata terdekat dari hotel adalah Kompleks Krisna Bali, di mana terdapat bermacam wahana menyenangkan, serta pusat oleh-oleh khas Bali.


5. Booking Hotel H Sovereign Bali


Mungkin pada masa liburan musim panas yang akan datang, Anda berencana untuk berlibur ke Bali. Jika Anda berminat memilih H SovereignBali sebagai sarana akomodasi, silakan pesan kamar Anda sekarang juga di Traveloka. Tidak perlu repot, karena booking hotel bisa langsung dilakukan dari layar smartphone Anda.

Rasakan sensasi mewahnya Hotel H Sovereign saat berkunjung ke bali. Dapat dipastikan Anda tidak akan menyesal.


Minggu, 26 Februari 2017

Menyapih Dengan Cinta dan Keras Kepala


Menyusui dengan cinta dan keras kepala, menyapih pun dengan cinta dan keras kepala.

Rasanya kontras ya, cinta tapi keras kepala. Tapi memang itulah 2 kunci saya dalam proses menyusui hingga menyapih.

Niat Menyusui = Cinta

Niat saya menyusui duo F karena saya mencintai mereka berdua. Cinta yang langsung tumbuh, saat pertama melihat Fatih. Cinta pula yang mendorong saya untuk menyusui Fatih hingga 2 tahun.

Begitu pula ketika Fattah mewarnai kehidupan saya lagi. Saya pikir, bisakah saya membagi 2 cinta? Namun nyatanya, cinta itu hadir lagi. Tanpa mengurangi cinta saya terhadap Fatih. Cinta itulah yang mendorong saya juga untuk menyusui Fattah hingga 2 tahun

Keras Kepala Selama Menyusui

Perjalanan cinta itulah yang tidak selalu mulus. Perjalanan menyusui sering membutuhkan keras kepala. Dua kali melahirkan, dua kali pula sesar. Saya tidak tahu proses melahirkan normal. Ketika selesai melahirkan sesar, butuh proses untuk pemulihan.

Usai melahirkan Fattah, saya baru boleh makan dan minum setelah mengeluarkan angin lewat belakang alias kentut. Itupun, saya baru boleh minum susu. Padahal sebelum melahirkan saya belum sempat sarapan dengan kenyang. Hanya beberapa kunyahan roti yang akhirnya saya hentikan karena persiapan sesar.

Segelas susu di jam makan, tentu tidak cukup bagi ibu menyusui seperti saya. Saat menyusui, porsi makan saya berlipat ganda. Di hari pertama, saya belum boleh duduk. Di hari kedua, belum boleh turun dari tempat tidur. Di tambah jahitan di perut, rasanya luar biasa. Terlebih sesar yang kedua, saya jalan terbungkuk-bungkuk hingga seminggu.

Dalam kondisi yang seperti itu, saya memilih untuk rawat gabung agar bisa ASI Ekslusif. Itulah, salah satu hal yang saya sebut keras kepala. Kondisi usai melahirkan seperti itu membutuhkan keras kepala.  Apapun kondisinya, saya tetap harus menyusui. Meski harus meringis menahan bekas jahitan. Atau menahan batuk yang menyerang pasca melahirkan.

Keras kepala juga dibutuhkan saat mendengar ucapan simpati dari perawat, “Sakit ya Bu?”.

“Ya lumayan Mbak, emang kenapa?” tanya saya.

“Gak apa-apa bu. Maksud saya kalau sakit, adiknya di ruangan perawat saja. Biar ibu bisa istirahat” jelas perawatnya.

Keras kepala juga dibutuhkan usai cuti melahirkan habis. Perjuangan memerah ASI di kantor tidak lah mudah. Konsisten dengan jadwal, kunci dalam menjaga produksi ASI. Padahal mungkin pekerjaan kantor banyak. Selain itu juga harus menguatkan diri saat menjadi orang pertama yang memutuskan untuk memerah di kantor.

Menyapih dengan Cinta dan Keras Kepala

Memulai dengan cinta dan mengakhiri dengan cinta. Itulah, alasan saya memilih menyapih dengan cinta. Menyapih dengan cinta adalah proses penyapihan dengan memberikan pengertian kepada anak bahwa dia sudah besar dan tidak membutuhkan mimik lagi (istilah saya). 

Menyapih dengan cinta tidak menggunakan media untuk mengolesi payudara dengan zat pahit, obat merah atau bawang seperti yang pernah dilakukan ibu saya. Tentunya menyapih dengan cinta butuh kesiapan dari keluarga, terutama ibu dan anak.

Tidak seperti Fatih yang sudah saya sosialiasikan di usia 1,5 tahun bahwa Fatih saat 2 tahun sudah tidak mimik lagi, sudah besar, sudah minum dari air di gelas. Fattah memulai proses komunikasi di usia menjelang 2 tahun.

Di usia 8 bulan Fattah sempat mengalami bingung putting, karenanya saya segera membuang dotnya dan mulai bonding lagi. Hingga di usia 1,5 tahun saya masih belum siap untuk mulai menyapih Fattah.

Selain itu, cara menyusui Fattah berbeda dengan Fatih. Saya selalu menyusui Fattah dengan duduk. Dia tidak mau disusui sambil tidur. Puas menyusui, Fattah langsung melepas payudara dan mengambil posisi tidur sendiri. Berbeda dengan Fatih yang setiap mau tidur harus mimik hingga dia tertidur.

Situasinya juga berbeda. Saat usia Fatih 20 bulan saya positif hamil, makanya saya lebih intens dalam menyapih Fatih. Sedang Fattah tidak dikejar apapun, hingga saya ingin lebih lama berdekatan dengannya.

Keras kepalanya di mana? Keras kepalanya ya tetap menyapih dengan cinta meskipun ada orang yang menyarankan harus segera disapih karena usianya sudah 2 tahun.

Saya bukan tidak berniat menyapih Fattah. Hanya saja, saya memilih cara yang perlahan, menunggu kesiapan Fattah.

Di jelang usia 2 tahun saja, Fattah masih mimik di mana saja. Tidak hanya di ruang keluarga, di dalam mobil pun dia masih minta mimik. Berbeda dengan Fatih yang jelang usia 2 tahun hanya mimik di kamar.

Cara perlahan saya sama dengan saat menyapih Fatih. Menetapkan hanya kamar sebagai tempat mimik. Membatasi durasi mimik dan berusaha mengalihkan perhatian dari mimik

Akhirnya di usia 2 tahun 3 bulan 12 hari, Fattah tidak mau lagi mimik. Pengalaman menyapih Fatih, membuat saya lebih santai menyapih Fattah. Saya yakin, saatnya dia siap, Fattah akan melepas aktifitas mimiknya.

O, ya kadang-kadang dia masih minta mimik. Biasanya saya alihkan dulu, kalau tidak berhasil saya tantang. Setelah ditunjukkan akhirnya dia hanya meringis saja. Tidak mau mencoba mimik lagi. Mungkin itu proses Fattah untuk berpisah dengan mimik.

Ah, akhirnya tunai sudah tugas saya sebagai ibu untuk menyusui duo F. Semoga jadi ladang amal dan anak-anak tumbuh dengan sehat. Aamiin.

Blog Design by Handdriati