Kamis, 04 Desember 2014

CINCIN PUTIH MENJAWAB DALAM DIAM

pasang cincin

“Mbak, ancer-ancer gedung resepsinya di mana?” tanya seorang teman kuliah Magister Profesi melalui telepon.

“Dari terminal lurus terus sampai ketemu Matahari Mall belok kiri. Nanti melewati kuburan, masih terus sampai notok baru belok kanan. Ketemu perempatan besar, lurus terus kira0kira 300 m sebelah kanan di situ gedungnya” jelas saya.

“Oh, oke-oke. By the way, dirimu wes ijab kan?”tanya teman saya lagi

“Iyo uwis, baru aja acara selesai jam 11an tadi pagi. Emang kenapa?” tanya saya balik

“Kok ga ada bedanya. Suaramu ajeg, ga kayak wong wes nikah..hahaha” jelas teman saya disambung derai tawa.

Welah, emang suara orang yang sudah nikah itu seperti apa?

Ya, 4 tahun yang lalu tepatnya di hari Sabtu, 4 Desember 2014 sekitar pukul 09.00 WIB *kalau tidak salah ingat jamnya * adalah ijab kabul kami. Besok minggunya tanggal 5 Desember 2014 pukul 10-12.00 dilanjut acara resepsi.

Sama seperti acara ijab kabul yang lain, cincin merupakan barang yang selalu ada. Cincin yang dipasangkan Ayah merupakan mahar pernikahan. Papa saya tidak mau kalau mahar pernikahan seperangkat alat sholat. Mahar ya barang berharga, eits bukan berarti alat sholat  tidak berharga, hanya saja kok jadi semacam tren.

Saya sendiri mendapatkan dua cincin dari Ayah. Cincin pertama berwarna putih, diserahkan bulan Juli 2010 di acara perkenalan keluarga. Acara tersebut menanyakan apakah saya memang masih sendiri dan meminta kesediaan orang tua saya untuk menyerahkan anak gadisnya. Penutupnya pemberian cincin putih sebagai pengikat.

“Kalau nanti, adik ketemu orang yang lebih baik ya ga papa kalau mau sama dia. Tapi cincinnya harus dipakai, wong sudah dikasih” ujar si Ayah setelah acara keluarga.

Hm, kalimat yang sangat kontradiktif, maksudnya apa?Tapi akhirnya ya saya pakai si cincin putih. Cerita selanjutnya bisa ditebak setelah saya memakai cincin.

“Eh, mbak Rizka sudah lamaran ya?” tanya teman A kepada teman dekat saya.

“Ga tau ya Mbak. Kok mbak bisa bilang gitu?” tanya teman saya menutup-nutupi.

“Soalnya Mbak Rizka pakai cincin” jelas teman A.

“O, saya juga pakai cincin Mbak” jelas teman saya lagi.

“O, beda. Mbak Rizka itu ga pernah pakai perhiasan. Kalau pakai pondoasti ada apa-apanya” kesimpulan teman A dengan tepat.

Ya, saya memang bukan penyuka perhiasan, paling perhiasan yang dipakai jam tangan. Jujur, yang saya suka seperangkat kunci. Kunci rumah, kunci mobil dan kunci brankas tempat menyimpan barang berharga hihihi.

Cerita hampir serupa juga terjadi saat acara buka puasa bersama teman SMA. Sebelumnya beberapa orang teman ada yang bertanya, apakah saya sudah memiliki calon suami. Berhubung calon suami saya satu almamater jaman SMA dan adik kelas, saya masih menutup-nutupi. Entahlah dulu saya malu kalau ketahuan sama adik kelas.

Usai acara buka puasa bersama, seorang teman, saya dengar menyeletuk, “terjawab sudah, tanyamu dengan cincin dijarinya” ujarnya kepada seorang teman saya. Sepertinya sih, ada seorang teman yang jomblo mau mendekati saya. Sepertinya lho, soalnya teman saya itu ga ngomong terus terang sih. Ke-GR-an saya saja yang menyimpulkan hihihi.

Cincin putih itu menceritakan dan menjawab semua dalam diam. Lantas kemana si cincin putih? Ya, dia juga menjawab kebutuhan saya. Kebutuhan saya di saat ini adalah menyelesaikan pembangunan rumah tinggal. Dengan sangat terpaksa bersama rekan-rekan perhiasan lain, cincin putih ikut saya jual hihihi.


7 komentar:

  1. Barokallah, selamat merayakan pernikahan. Semoga sakinah, mawaddah, warrahmah ya mbak. Gak ketauan lagi dong klo uda merid? Cincinnya udah gak ada :D Insya Allah nanti beli lagi Mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekarang ketauan dari buntutnya yang udah 2 Mak hihihi..Aaamiin. Semoga ada gantinya Mak

      Hapus
  2. semoga besok si cicin putiih tergantikan dengan yang lebih baik,btw penyuka merah ya mak...hihi, maaf oot.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaamiin. Iya Mak, merah lebih berani, biar berani nulis..hihihi..

      Hapus
  3. Lho akhirnya cincin putih menjadi korban jg ya? :D

    BalasHapus
  4. Gapapa,bntar lagi ga cm cincin putih,Ada yg emas jg hehehe

    BalasHapus

Terima kasih sudah mengunjungi blog ini. Saya senang menerima komentar yang baik dan membangun. Harap tidak meninggalkan link hidup.

Blog Design by Handdriati