Senin, 06 Mei 2019

BISMILLAH, KAMI DATANG MEMENUHI UNDANGANMU

Usai thawaf pertama

Berkunjung ke Baitullah pada bulan November tahun 2018, bukan menjadi resolusi atau target tahun 2018. Lah memang membuat resolusi di tahun 2018? Buat sih, tapi gak niat hahaha. Semenjak duo F lahir, ambisi saya sudah banyak menurun. Saya memilih hidup lebih mengalir. Bukan berarti tidak punya harapan atau tujuan. Ada, tapi tidak dituliskan atau ditargetkan.


Daftar haji menjadi resolusi saya di akhir tahun 2018. Harapan saat membuka tabungan haji di pertengahan tahun 2016, awal tahun 2018 sudah mampu daftar haji. Sayangnya harapan belum terpenuhi. Jadilah saya mundurkan ke akhir tahun 2018.

Ternyata undangan ke Baitullah datang tak diduga. Giliran untuk berangkat umroh dari Universitas Muria Kudus tempat saya bekerja dimajukan. Berita terakhir, kemungkinan giliran saya jatuh tahun 2019. Saya sudah bicarakan juga dengan suami, mau berangkat sendiri atau suami juga ikut umroh. Termasuk pertimbangan meninggalkan duo F, terutama Fattah yang masih belum mandiri.

Qodarulloh, penawaran itu datang di pertengahan tahun 2018. Waktu untuk menjawab hanya diberikan 1 hari, karena formulir kesediaan mau diserahkan ke Yayasan. Saya pun kalang kabut dibuatnya. Banyak hal yang menjadi pertimbangan sebelum memutuskan bersedia.

Belum Daftar Haji Kok Sudah Umroh?

Belum daftar haji menjadi pertimbangan saya yang utama. Pikir saya, haji kan menjadi keutamaan. Jika sudah mampu, maka hukum wajib dikenakan. Inginnya saya, dana umroh bisa dialihkan buat daftar haji. Sayangnya Yayasan tidak memperkenankan.

Beberapa teman saya pun belum menyatakan kesediaan untuk berangkat umroh, salah satu alasan karena belum berangkat atau daftar haji. Mbak ipar juga memberikan saran agar uang buat umroh suami dipakai daftar haji. Saat mencari biro umroh pun, ada salah satu biro yang menanyakan terkait daftar haji.

Namun keraguan saya dijawab oleh seorang teman, yang menurut saya lebih paham soal ilmu agama, “Rosulullah dulu umroh sebanyak 4 kali, kemudian haji 1x yang disebut haji wadha’ atau pertama dan terakhir kali”.

Keluarga saya pun semua mendukung, “rejekinya mungkin baru umroh, siapa tahu besok ada rejeki berangkat haji yang tidak disangka”, ujar Rahmi adik saya.

Ambil Miqot

Menitipkan Duo F

Sejak duo F bayi, mereka selalu dititipkan kepada orang tua saya. Ya, karena kami berdua bekerja, terlebih suami saya dulu malah bekerja di luar kota. Meski kami berdua bekerja, tidak menghalangi kedekatan hubungan kami, antara orang tua dan anak. Kalau suami pergi ke luar kota, ada saya yang menemani tidur mereka. Begitu pula kalau saya harus ke luar kota, ada suami yang menemani mereka tidur.

Nah, umroh ini kami berangkat berdua, otomatis mereka harus dititipkan seharian penuh dan tidak tidur bersama kami. Alhamdulillah, orang tua sudah menyatakan kesediaan dan Rahmi juga bersedia kalau kami jadi berangkat di akhir tahun 2018. Pertimbangan kami, mau berangkat saat libur sekolah.


Ijin Duo F

Sejak dulu, saya membiasakan komunikasi dan memberikan kesempatan duo F untuk andil dalam setiap keputusan yang menyangkut mereka berdua. Mulai dari urusan mainan, baju, sekolah dan jalan-jalan.


Begitu pun dengan rencana umroh. Setelah saya menyatakan bersedia berangkat, saya komunikasikan dengan duo F. Awalnya Fatih berkeberatan, apalagi Fattah. Mereka inginnya juga ikut kami umroh. Tapi pertimbangannya, kami di sana ibadah, anak-anak masih kecil dan belum pernah naik pesawat. Apalagi berjam-jam. Kalau Fatih sih mungkin mampu, karena passion dia memang jalan-jalan. Tapi Fattah masih sering tantrum dan belum betah duduk berjam-jam.

Saya pun menyampaikan bahwa kegiatan kami di sana ibadah serta seharian penuh perjalanan dengan pesawat dan bis. Tidak ada tempat wisata untuk anak-anak dan tidak ada film anak-anak di hotel. Penutup saya berikan kompensasi jika mereka mengijinkan kami berangkat umroh. Ya seperti biasa, mainan. Alhamdulillah Fatih mengijinkan dan diikuti Fattah setelah beberapa waktu untuk membujuknya.

Sekolah Fatih

Fatih pada dasarnya sudah cukup mandiri mulai menyiapkan buku-buku pelajaran, mandi, mengenakan pakaian hingga makan sudah dilakukan sendiri. Tapi urusan PR dan belajar masih butuh bimbingan. Rencana awal kami berangkat saat libur sekolah, namun kami putuskan untuk dimajukan. Biro umroh yang mengagendakan keberangkatan di bulan Desember belum memberikan tanggal pasti dan banyak informasi yang minim.

Teman kantor malah mengajak kami untuk umroh bersama mereka di bulan November. Padahal saat saya cek agenda akademik Fatih, bulan November saat kami umroh, Fatih ada ujian pra semester. Mau gak mau, saya harus berkonsultasi dengan guru kelas Fatih. Ustadzahnya Fatih meyakinkan, bahwa Fatih sudah cukup mandiri dan mampu belajar sendiri untuk ujian pra semester.
Rasanya juga lebih nyaman jika bersama teman-teman. Selain, jika lebih lama berangkat malah lebih lama tertunda. Semacam orang ingin liburan, tapi tidak segera dieksekusi, malah akhirnya tidak terealisasi.

Alhamdulillah setelah beberapa pertimbangan, kami yakin dan memantapkan untuk umroh di bulan November 2018. Saya pun berpikiran, jangan-jangan ini undangan ke Baitullah. Bagaimana jika undangan dan kesempatan ini tidak datang kedua kalinya?. Bisa jadi program umroh di kantor dihentikan karena berbagai hal atau umur dan kondisi saya dan suami tidak memungkinkan untuk berangkat.

Maka dengan mengucap Bismillahirrohmanirrohim, kami memenuhi undangan-MU ya ALLAH.

PS : Cerita selama di sana akan saya posting lain kali, berikut link liputan suami yang diposting di Net TV. Namanya wartawan, ada saja peluang.



Blog Design by Handdriati