Tampilkan postingan dengan label Traveling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Traveling. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Mei 2019

BISMILLAH, KAMI DATANG MEMENUHI UNDANGANMU

Usai thawaf pertama

Berkunjung ke Baitullah pada bulan November tahun 2018, bukan menjadi resolusi atau target tahun 2018. Lah memang membuat resolusi di tahun 2018? Buat sih, tapi gak niat hahaha. Semenjak duo F lahir, ambisi saya sudah banyak menurun. Saya memilih hidup lebih mengalir. Bukan berarti tidak punya harapan atau tujuan. Ada, tapi tidak dituliskan atau ditargetkan.


Daftar haji menjadi resolusi saya di akhir tahun 2018. Harapan saat membuka tabungan haji di pertengahan tahun 2016, awal tahun 2018 sudah mampu daftar haji. Sayangnya harapan belum terpenuhi. Jadilah saya mundurkan ke akhir tahun 2018.

Ternyata undangan ke Baitullah datang tak diduga. Giliran untuk berangkat umroh dari Universitas Muria Kudus tempat saya bekerja dimajukan. Berita terakhir, kemungkinan giliran saya jatuh tahun 2019. Saya sudah bicarakan juga dengan suami, mau berangkat sendiri atau suami juga ikut umroh. Termasuk pertimbangan meninggalkan duo F, terutama Fattah yang masih belum mandiri.

Qodarulloh, penawaran itu datang di pertengahan tahun 2018. Waktu untuk menjawab hanya diberikan 1 hari, karena formulir kesediaan mau diserahkan ke Yayasan. Saya pun kalang kabut dibuatnya. Banyak hal yang menjadi pertimbangan sebelum memutuskan bersedia.

Belum Daftar Haji Kok Sudah Umroh?

Belum daftar haji menjadi pertimbangan saya yang utama. Pikir saya, haji kan menjadi keutamaan. Jika sudah mampu, maka hukum wajib dikenakan. Inginnya saya, dana umroh bisa dialihkan buat daftar haji. Sayangnya Yayasan tidak memperkenankan.

Beberapa teman saya pun belum menyatakan kesediaan untuk berangkat umroh, salah satu alasan karena belum berangkat atau daftar haji. Mbak ipar juga memberikan saran agar uang buat umroh suami dipakai daftar haji. Saat mencari biro umroh pun, ada salah satu biro yang menanyakan terkait daftar haji.

Namun keraguan saya dijawab oleh seorang teman, yang menurut saya lebih paham soal ilmu agama, “Rosulullah dulu umroh sebanyak 4 kali, kemudian haji 1x yang disebut haji wadha’ atau pertama dan terakhir kali”.

Keluarga saya pun semua mendukung, “rejekinya mungkin baru umroh, siapa tahu besok ada rejeki berangkat haji yang tidak disangka”, ujar Rahmi adik saya.

Ambil Miqot

Menitipkan Duo F

Sejak duo F bayi, mereka selalu dititipkan kepada orang tua saya. Ya, karena kami berdua bekerja, terlebih suami saya dulu malah bekerja di luar kota. Meski kami berdua bekerja, tidak menghalangi kedekatan hubungan kami, antara orang tua dan anak. Kalau suami pergi ke luar kota, ada saya yang menemani tidur mereka. Begitu pula kalau saya harus ke luar kota, ada suami yang menemani mereka tidur.

Nah, umroh ini kami berangkat berdua, otomatis mereka harus dititipkan seharian penuh dan tidak tidur bersama kami. Alhamdulillah, orang tua sudah menyatakan kesediaan dan Rahmi juga bersedia kalau kami jadi berangkat di akhir tahun 2018. Pertimbangan kami, mau berangkat saat libur sekolah.


Ijin Duo F

Sejak dulu, saya membiasakan komunikasi dan memberikan kesempatan duo F untuk andil dalam setiap keputusan yang menyangkut mereka berdua. Mulai dari urusan mainan, baju, sekolah dan jalan-jalan.


Begitu pun dengan rencana umroh. Setelah saya menyatakan bersedia berangkat, saya komunikasikan dengan duo F. Awalnya Fatih berkeberatan, apalagi Fattah. Mereka inginnya juga ikut kami umroh. Tapi pertimbangannya, kami di sana ibadah, anak-anak masih kecil dan belum pernah naik pesawat. Apalagi berjam-jam. Kalau Fatih sih mungkin mampu, karena passion dia memang jalan-jalan. Tapi Fattah masih sering tantrum dan belum betah duduk berjam-jam.

Saya pun menyampaikan bahwa kegiatan kami di sana ibadah serta seharian penuh perjalanan dengan pesawat dan bis. Tidak ada tempat wisata untuk anak-anak dan tidak ada film anak-anak di hotel. Penutup saya berikan kompensasi jika mereka mengijinkan kami berangkat umroh. Ya seperti biasa, mainan. Alhamdulillah Fatih mengijinkan dan diikuti Fattah setelah beberapa waktu untuk membujuknya.

Sekolah Fatih

Fatih pada dasarnya sudah cukup mandiri mulai menyiapkan buku-buku pelajaran, mandi, mengenakan pakaian hingga makan sudah dilakukan sendiri. Tapi urusan PR dan belajar masih butuh bimbingan. Rencana awal kami berangkat saat libur sekolah, namun kami putuskan untuk dimajukan. Biro umroh yang mengagendakan keberangkatan di bulan Desember belum memberikan tanggal pasti dan banyak informasi yang minim.

Teman kantor malah mengajak kami untuk umroh bersama mereka di bulan November. Padahal saat saya cek agenda akademik Fatih, bulan November saat kami umroh, Fatih ada ujian pra semester. Mau gak mau, saya harus berkonsultasi dengan guru kelas Fatih. Ustadzahnya Fatih meyakinkan, bahwa Fatih sudah cukup mandiri dan mampu belajar sendiri untuk ujian pra semester.
Rasanya juga lebih nyaman jika bersama teman-teman. Selain, jika lebih lama berangkat malah lebih lama tertunda. Semacam orang ingin liburan, tapi tidak segera dieksekusi, malah akhirnya tidak terealisasi.

Alhamdulillah setelah beberapa pertimbangan, kami yakin dan memantapkan untuk umroh di bulan November 2018. Saya pun berpikiran, jangan-jangan ini undangan ke Baitullah. Bagaimana jika undangan dan kesempatan ini tidak datang kedua kalinya?. Bisa jadi program umroh di kantor dihentikan karena berbagai hal atau umur dan kondisi saya dan suami tidak memungkinkan untuk berangkat.

Maka dengan mengucap Bismillahirrohmanirrohim, kami memenuhi undangan-MU ya ALLAH.

PS : Cerita selama di sana akan saya posting lain kali, berikut link liputan suami yang diposting di Net TV. Namanya wartawan, ada saja peluang.



Sabtu, 23 Maret 2019

EDUWISATA UNTUK ANAK-ANAK, MENYENANGKAN DAN SARAT PENDIDIKAN


Belakangan ini, bagi sebagian orang wisata sudah merupakan kebutuhan primer. Bekerja selama 5 bahkan 6 hari dengan rutinitas atau tekanan pekerjaan, tentu membutuhkan kegiatan untuk menyegarkan pikiran.

Berbagai tempat wisata baru terus bermunculan. Bukan hanya mengeksplorasi keindahan alam yang sudah tersedia, bahkan dicipta dan dibangun wahana-wahana baru dengan pengalaman yang berbeda.

Tak hanya obyek wisata, kuliner pun kini semakin berjamuran. Kafe dan rumah makan berinovasi menyajikan cita rasa makanan yang unik dan baru. Bagunan dan interior di dalamnya pun ditata menarik sehingga pelanggan mendapat pengalaman yang menyenangkan saat bersantap.

Perjalanan dan pengalaman ini kemudian terekam di media sosial, terutama Instagram yang fokus pada konten gambar dan video singkat. Tentunya ini membuat kita lebih mudah menemukan tempat-tempat wisata baru. Penyedia tempat wisata serta tempat makan pun memanfaatkan media sosial sebagai wadah promosi.

Begitu pun saya dan keluarga kecil memandang bahwa wisata merupakan kebutuhan primer. Tidak harus setiap minggu harus berwisata sih. Tapi pada saat-saat tertentu ketika kepenatan sudah pada titik puncak, wisata harus segera dilaksanakan.



 
Eduwisata Untuk Anak

Selain untuk mengusir kepenatan dan  menyegarkan pikiran, wisata bagi keluarga kecil kami adalah edukasi buat anak. Dalam tulisan yang pernah saya buat tentang tertampar di seminar, Ibu Septi pernah menyampaikan, bahwa anak-anak memiliki kebutuhan untuk mengeksplorasi dan bersentuhan dengan alam.

Momen berwisata tentu bisa dimanfaatkan untuk belajar menjelajah dan mengenal sudut kota. Tak hanya mengenai obyek wisata yang dituju, tetapi kisah di sekitar atau bahkan perjalanan yang ditempuh ke tempat tujuan.



Obyek Wisata Sarat Edukasi

Saat berwisata, obyek wisata yang akan kami kunjungi selalu dipilih yang sesuai dengan anak. Ramah dan sesuai dengan usia mereka. Tak lupa juga kami sisipkan kunjungan yang sarat dengan edukasi. Saat di Yogya kami mengunjungi kebun binatang. Anak-anak belajar dan mengamati bentuk dan tingkah laku binatang. Momen ini kami manfaatkan untuk bercerita segala hal tentang binatang.

Selain itu kami pernah mengunjungi museum dirgantara. Mereka menikmati berbagai macam pesawat bahkan kapal selam yang pernah digunakan oleh tentara. Mereka juga bertemu dan menyapa bapak petugas yang berpakaian seperti tentara.

Saat di perbatasan Klaten-Yogya, kami mengajak mereka ke candi Prambanan. Pertama kalinya mereka mengunjungi bangunan bersejarah yang berkaitan dengan Hindu. Kami ajak mereka memasuki bangunan candi sambil bercerita sedikit bangunan yang mereka kunjungi. Di area candi rupanya disediakan juga wahana memanah. Fatih yang saat itu berusia 5,5 tahun pun merasakan pengalaman memanah pertama kali.




Edukasi Transportasi Publik

Bagi kami yang tidak memiliki kendaraan pribadi yang cukup dan nyaman untuk seluruh anggota keluarga, tidak ada alasan untuk tidak berwisata. Fasilitas transportasi publik menjadi alternatif kami untuk tiba di tempat wisata.

Kami pun memanfaatkan transportasi publik bukan sekedar sebagai sarana transportasi. Kami memanfaatkan transportasi publik sebagai sarana edukasi yang sarat pengalaman. Saat usia Fatih 1,5 tahun hingga 4 tahun, wisata kereta api selalu menjadi agenda berwisata. Bahkan pengalaman ini saya tuangkan dalam lomba blog serta artikel di Republika.

Anak-anak belajar tata cara menaiki transportasi publik. Mulai dari memesan tiket, regristasi ulang tiket, suasana di dalam transportasi publik hingga sikap saat perjalanan.



Saat berada di sebuah kota, kami pun berupaya agar anak-anak merasakan pengalaman menggunakan transportasi publik yang ada di kota tersebut. Saat di Yogya kami menaiki andong dan becak. Berada di Solo, kami mengajak anak-anak untuk merasakan pengalaman menaiki kereta api, bis antar kota, bis transsolo, taksi, becak bahkan angkutan umum. Sayang, saat berada di Semarang keinginan menaiki bis tingkat belum terlaksana.

Liburan sekolah di tahun ini kami berencana untuk mengunjungi kota Jakarta sekalian berkunjung ke rumah adik di Depok. Beberapa destinasi sudah kami rencakan. Anak-anak tertarik dengan Kidzania. Kami pun menawarkan untuk melihat dunia laut dengan mengunjungi Seaworld.

Taman mini sepertinya juga menarik untuk dikunjungi. Kami ingin mengenalkan kepada anak-anak bentuk-bentuk rumah adat di berbagai daerah.

Terakhir, wisata transportasi publik sepertinya layak dicoba. Ya, MRTrans yang sedang bersliweran di timeline media sosial saya. Mumpung di Jakarta, sepertinya anak-anak perlu mencoba pengalaman berkendara dengan MRTTrans. Tiketnya sendiri dapat dipesan di Travel MRTrans Traveloka.

Rasanya tak sabar segera eduwisata ke Jakarta. Anak-anak perlu tahu letak pusat pemerintahan dan merasakan pengalaman berbagai obyek wisata di sana.

Minggu, 03 Desember 2017

Berkat Traveloka #JadiBisa Traveling Bersama Duo F

Bermain di Pantai

Tahun 2008 saya ditugasi seorang teman kerja untuk membelikan buku The Naked Traveler 1. Buku itu buat kado ulang tahun pacar rahasia saya. Ya, saya dulu memang merahasiakan pacar saya, hingga teman 1 kantor tidak tahu kalau kami berpacaran..hahaha.

Terpengaruh oleh rekomendasi teman, saya membeli 2 buku, 1 untuk saya pribadi. Setelah tuntas membaca bukunya dalam semalam, saya menyesal. Iya, saya menyesal waktu kuliah tidak jalan-jalan. Menyesal, hingga sekarang saya baru pernah mengunjungi Medan, Rantau Prapat, Jakarta, Bandung, Kudus, Semarang, Solo, Yogya, Makassar dan Bali. Lebih menyesal lagi, sebagian besar tempat itu saya kunjungi, karena saya sempat berdomisili di sana. 

Buku yang membuat menyesal

Trinity, si Embak kantoran yang sekarang jadi penulis buku dan penulis blog telah mengunjungi hampir semua bagian Indonesia dan berpuluh-puluh tempat manca negara. Passionnya memang jalan-jalan. Dia kerja agar bisa jalan-jalan. Kenapa bisa passionnya jalan-jalan? Karena buah tak jatuh jauh dari pohonnya *tepat gak sih peribahasa ini.

Sejak kecil, orang tua Trinity selalu memberikan hadiah jalan-jalan. Saya rasa, kebiasaan jalan-jalan itulah yang menumbuhkan passion Trinity. Bangkit dari penyesalan, saya bertekad untuk lebih sering membawa buah hati jalan-jalan. Duo F jangan sampai seperti Mama, kurang banyak dan kurang jauh pikniknya..hahaha.

Bukan Semata Balas Dendam

“Pada usia 0-7 tahun, fitrah belajarnya adalah bermain bersama alam. Anak-anak sering dibawa bercengkrama dengan alam” jelas ibu Peni Septi Wulandani founder Ibu Profesional pada Seminar Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus, Kamis 20 Agustus 2015.

Baca : Tertampar Di Seminar 2

Penjelasan itu semakin menguatkan tekad saya untuk sering mengajak duo F jalan-jalan mengenal alam sejak bayi. Kemudian pada 05 Nopember 2017, tekad saya lebih kuat lagi usai mengikuti Worskhop Grafis Anak di Yogyakarta.

“Dasar dari perkembangan kognitif adalah kekayaan wawasan. Anak yang aktifitasnya hanya di dalam rumah, tentu wawasannya juga seputar rumah. Hal ini berbeda dengan anak yang sering diajak keluar. Semakin sering bercengkrama dengan dunia luar, semakin kaya wawasan dan perkembangan kognitif semakin baik” kurang lebih seperti itulah rangkuman materi Ibu Fadila, praktisi Grafis Anak yang saya tangkap. 

Belajar mengenal rasa air sungai
Jadi bukan semata balas dendam, yang membuat saya bertekad untuk sering mengajak duo F traveling. Manfaat traveling untuk mereka berdualah yang menjadi prioritas agar tumbuh kembang mereka optimal.

Traveling Sesuai Passion

Saat usia 1,5 tahun, Fatih sangat tertarik dengan kereta api. Hampir seluruh barang miliknya berbau kereta api. Mulai mainan, baju, buku, tas hingga saat mencari sekolah, dia minta yang ada kereta apinya *jadi teringat Totochan.

Baca : Terpukau Orang Di Balik Toto Chan

Di balik jendela kereta Kalijaga

Kereta apilah yang sebagian besar menjadi tema traveling kami kala itu. Mulai dari yang terdekat mendatangi Lori, kereta tebu di Pabrik Gula Rendeng Kudus. Dolan ke Lawang Sewu Semarang yang memiliki gerbong kereta api tak terpakai. Mengejar kereta di stasiun-stasiun Grobogan usai menghadiri resepsi pernikahan seorang teman. Bertandang ke Museum Kereta Api Ambarawa dan alhamdulillah terwujud juga menaiki kereta Kalijaga Semarang-Solo.

Baca : Mengejar Kereta
Baca : Mengejar Kereta Di Museum Kereta Api Ambarawa
Baca : Berburu Kereta Kalijaga Semarang - Solo

Berbeda dengan Fattah. Pada usia 2,5 tahun, dia baru menunjukkan ketertarikan. Fattah lebih tertarik dengan binatang terutama yang berbadan besar. Koleksi mainannya berbagai macam binatang yang ada saat ini, hingga dinosaurus yang sudah punah. Obsesinya adalah naik Gajah. Untunglah dia tidak ingin naik Macan atau Singa.

Jadilah kami mencari informasi, kebun binatang yang menyediakan wahana naik Gajah. Yogyakarta tujuan kami. Hanya saja, kami masih mencari waktu libur untuk ke sana. Sebagai permulaan, kami kerap mengajak Fattah melihat berbagai hewan peliharaan dan hewan ternak di lingkungan sekitar. Mulai kucing, anjing, ular, ayam, kambing, kerbau dan sapi.

Saat mengantarkan Adik ke stasiun Tawang Semarang, kami pun memanfaatkan untuk berkunjung ke Cimory. Fattah sangat suka bereksplorasi di dunia peternakan. Ada kambing, sapi, kelinci, rusa, ikan, burung dan kura-kura di sana. 

Replika Gajah Purba

Selain itu, kami pun mengenalkan museum purbakala di Patiayam Kudus. Ada replika Gajah Purba dan beberapa tulang yang ditemukan di Pati Ayam. Kebetulan saat itu ada Pameran Arkeologi. Jadilah ada beberapa booth untuk bermain dan pepotoan.

Barulah pada Sabtu 04 Nopember 2017, keinginan Fattah terlaksana. Sembari saya harus ke Yogyakarta untuk mengikuti Workshop Grafis Anak pada hari Minggu, hari Sabtu kami agendakan mengajak Fattah ke Kebun Binatang Gembiraloka dan mewujudkan keinginannya menaiki Gajah.

Tercapai juga cita-citanya

#JadiBisa dengan Produk Aktivitas dan Rekreasi dari Traveloka

Traveling yang kami lakukan, target utamanya adalah duo F. Destinasi kami pastilah wisata yang ramah anak. Bagi saya dan suami, senyum dan binar mata mereka saat traveling merefresh pikiran kami dari rutinitas yang dijalani.

Kami mengambil waktu weekend untuk traveling. Dulu saya pernah traveling di hari kerja, gara-gara itu reward dari instansi saya bekerja tidak keluar hiks. Makanya sekarang saya kapok, yah sampai saat ini kebijakan instansi hanya boleh cuti 2 hari dalam 1 bulan. 

Kehabisan tiket, naik gerbong yang ada saja
Traveling saat weekend kendalanya adalah ramai. Wajar lah, sebagian orang tentu mengambil waktu weekend buat jalan-jalan. Antrian mengular di suatu obyek wisata adalah pemandangan yang biasa. Sayangnya duo F masih dalam taraf belajar antri.

“Mah, kok lama banget sih?. Masuknya kapan?” biasanya itulah keluhan dan pertanyaan yang keluar dari bibir mereka ketika harus antri di pintu masuk.

Pengalaman mengantri memang menjadi sarana pembelajaran yang baik untuk duo F. Tapi kalau antrinya luar biasa lama, tentunya waktu kami habis untuk mengantri. Masuk wahana, mood duo F pun sudah berganti bete. 

Tampilan halaman Traveloka

Setelah download aplikasi Traveloka, saya baru tahu ada produk Aktivitas dan Rekreasi. Selama ini saya menggunakan produk pemesanan hotel di Traveloka.

Produk Aktivitas dan Rekreasi menawarkan berbagai pilihan eksklusif untuk sejumlah tempat wisata dan aktivitas di Indonesia dan mancanegara. Kita dapat memesan tiket masuk, voucher makan atau tur wisata di suatu daerah.

Caranya mudah, tinggal klik produk Aktivitas dan Rekreasi di Traveloka, kita akan disuguhi informasi tempat wisata terpopuler serta tempat wisata pilihan Traveloka di Indonesia dan Mancanegara. Kita juga bisa memilih nama destinasi atau wisata yang dituju.

Pilihan Aktivitas Populer dan Tempat Wisata

Jika belum memiliki tujuan tempat wisata tertentu, kita bisa klik wilayah yang ingin dituju, misal destinasi tujuan saya berikutnya Bandung. Usai klik Bandung, Traveloka memberikan informasi berbagai aktivitas, petualangan seru dan hiburan di Bandung. Tak hanya itu, ada berbagai santapan lezat pilihan Traveloka serta tawaran tur menjelajahi sudut-sudut menarik di kota Bandung.

Setiap tawarannya selain harga tiket, voucher atau harga paket wisata juga dilengkapi ringkasan dan keterangan tempat wisata. Detail aktivitas seperti jam pengunjung, transportasi menuju obyek wisata hingga target wisata juga diberikan. Hal terpenting lainnya buat saya adalah ulasan tamu dan foto tempat wisata sehingga membantu saya memutuskan untuk memesan tiket wisata.
Lengkapnya informasi yang disuguhkan

Dengan informasi lengkap semacam itu, saya tidak akan salah memilih tempat wisata yang cocok dengan duo F. Segi waktu jelas sangat efektif, tidak perlu  menghabiskan waktu untuk antri saat membeli tiket.

Duh, kalau sudah seperti ini, tidak ada alasan lagi untuk tidak traveling hihihi.. Saya #JadiBisa dengan Traveloka mewujudkan rencana traveling berikutnya bersama suami dan duo F. Rencana traveling saya berikutnya sih Bandung. Saya ingin mengenalkan dan menceritakan tempat masa kecil saya kepada duo F.

“Dulu Mama tinggal di Bandung. Tapi belum pernah sih ke sini. Hahahaha..” sambil tertawa getir.

Keterangan : Mari sejenak menikmati traveling ke Museum Purbakala Patiayam bersama Duo F


Rabu, 09 Agustus 2017

SERUNYA TRAVELING KELUARGA

Main di Pantai Jepara
Sudah arisan ke 8, tapi saya baru buat tulisan arisan ke 6...hadeh. Manajamen waktu saya parah. Ditambah ada faktor prokrastinasi yang lain, yaitu perfeksionis.

Ini sudah keempat kali ngedraft. Tulisan sudah setengah jalan, eh mandeg lagi. Tiba-tiba alurnya menghilang. Kok gak nyambung, ngalor ngidul dan perasaan-perasaan lain.

Padahal tema periode ini masih cocok dengan niche blog saya. Masih tentang traveling. Mbak Winda Oetomo dan Mbak Dwi Septia melontarkan tema orang yang paling ingin diajak traveling.

Temanya mudah. Karena mudahnya, saya jadi berpikir yang lain. Masak saya gak punya seseorang yang ingin diajak traveling. Yang berbeda gitu. Biar anti mainstraim. Artis, politikus atau publik figur lain?.

Setelah lari ke hutan lalu melipir pantai, ternyata jawabannya di depan mata. Ya, orang yang paling ingin saya ajak traveling adalah keluarga saya. Suami dan anak-anak.

Traveling Sebuah Kebutuhan

Setelah berkeluarga. Menikah lalu punya anak. Hasrat traveling saya meningkat. Saya merasakan bahwa traveling adalah sebuah kebutuhan. Apalagi si Sulung Fatih, sejak kecil hobi traveling.

Sejak usia belum setahun, Fatih paling suka diajak bepergian. Pernah usia 8 bulan, dia pilek batuk dan rewel di rumah. Saya tidak tega melihatnya. Diantar Papa, saya bawa Fatih ke dokter.

Lalu, fiola, sesampai di dokter, kerewelan Fatih hilang, senyum mengembang, “Adeknya riang gitu bu. Gak kelihatan rewel” ujar dokternya.

“Ya begitulah anak saya dok. Sakitnya langsung hilang kalau di ajak jalan-jalan.” jelas saya.

Bahkan usai imunisasi badan Fatih panas, keesokan harinya dia masih bersikeras untuk tetap melanjutkan rencana traveling, meskipun sejam lalu dia masih mengeluh tangannya sakit.

Traveling Untuk Tumbuh Kembang Duo F

Bagi saya, anak adalah prioritas. Traveling selalu direncanakan untuk memperkenalkan bumi belahan lain kepada duo F. Tempat yang ramah anak. Wahana yang mengasah tumbuh kembang mereka.

Saat Fatih berusia 1,5-4 tahun, traveling kami temanya kereta api. Setiap destinasi, selalu ada unsur kereta api. Setelah Fattah berusia 2 tahun, mulai kelihatan kalau Fattah menyukai binatang. Makanya destinasi selanjutnya adalah kebun binantang. Kalau sudah lebih besar, saya ingin mengajak ke taman nasional.

Traveling Paket Komplit

Sebagai istri jurnalis, waktu liburan tidak pasti. Eh, minggu ini si Ayah full liputan. Alhasil, weekends kadang-kadang tidak bisa keluar.

Beberapa kali saya pernah membawa duo F sendiri, traveling ke tempat terdekat dengan angkutan publik. Saat itu masih numpang di rumah ortu yang mau naik dan turun angkutan langsung depan rumah. Itupun, seringkali si Ayah tampak berkeberatan.

“Besok saja lah. Ayah besok bisa ikut kok” komentar Ayah saat menyampaikan keinginan anak-anak.

“Duh yang pergi jalan-jalan gak ajak Ayah” sindir Ayah kalau anak-anak bercerita habis jalan-jalan.

Saya sendiri lebih suka, kalau Ayah ikut jalan-jalan, apalagi kalau di luar kota. Repotlah membawa duo bocil, apalagi yang aktif seperti mereka. Kalau Fatih, sudah bisa diatur, tapi Fattah ini yang masih suka nekat.

Ada Ayah, artinya ada yang setir mobil dan bawa barang yang berat. Ada Ayah juga, ada yang gendong Fatih dan Fattah kalau capek. Ada Ayah juga ada yang mijetin saya kalau capek..hihihi. Pokoknya Ayah paket komplit lah. Paling utama sih, ada teman berbagi senyum dan senang. Iya senang banget kalau lihat senyum anak-anak saat traveling.


Jalan-jalan di Yogya

Rabu, 26 Juli 2017

TANAH KELAHIRAN : LIBURAN YANG TAK TERLUPAKAN


Saat di kapal menyebrangi Selat Sunda
Salah satu pertanyaan yang paling menyenangkan yang dilontarkan oleh teman atau kenalan baru, “kamu orang mana?”.

“Rantau Prapat” jawab saya. Selanjutnya mereka akan bertanya letak Rantau Prapat. Kenapa itu menyenangkan? Ya, karena terdengar keren saja, berasal dari sebuah tempat yang terkesan antah berantah bagi orang di luar Sumatera.

Sebenarnya, setelah pindah dari sana, saya baru mengunjungi tanah kelahiran 1 kali. Maklum, ongkos ke tanah kelahiran tidaklah murah. Biasanya Papa dan Ibu mengajak kami ke Rantau Prapat bergantian. Saya dan kedua adik saya diajak bergantian, sedang adik bungsu selalu diajak *sedihnya.

Liburan mengunjungi tanah kelahiran, merupakan liburan yang tak terlupakan. Sangat pas dengan tema arisan yang dilemparkan mbak Muna Sungkar dan mbak Wuri Nugraeni. Kala itu, liburan kenaikan kelas 2 SMP. Saya memutuskan untuk pindah sekolah di Jawa. Tentunya, setelah disugesti oleh kedua orang tua bahwa sekolah di Jawa lebih bagus dibanding daerah lain *Tak perlu dibahas.

LIBURAN DADAKAN

Sesampainya di Kudus, beberapa hari kemudian, sepupu yang sekarang sudah almarhum menawarkan mudik ke Rantau Prapat. Padahal, kami baru saja melakukan perjalanan dari Makassar dengan kapal sehari semalam dan dilanjut bis setengah hari dari Surabaya menuju Kudus. Setelah itu, kami semua muntah-muntah, diare dan demam kecuali Ibu.

Ibu dan Papa terlihat antusias, yang kemudian menawari saya untuk ikut dan mengajak adik bungsu yang berusia 3 tahun. Saya setengah hati menerima ajakan. Ya, karena liburannya dadakan. Sepupu sepertinya belum pesan tiket bis, padahal ini perjalanan jauh 3 hari 3 malam.

MENGEJAR BIS KE RANTAU

Firasat saya ternyata tepat. Saat kami menuju pool bis di Kudus, bis menuju Rantau Prapat hari itu tidak ada. Sepertinya, baru keesokan hari. Tapi rupanya, sepupu gigih. Akhirnya kami mencari bis lintas Sumatera ke Pati.

Kala itu seingat saya, kami naik mobil colt semacam angkutan menuju Pati. Sesampainya, kami memang mendapatkan bis lintas Sumatera, namun sayangnya bis ekonomi. Tahulah bis ekonomi, tempat duduk sempit disertai AC, angin cepoi-cepoi atau angin cendela.

Karena kursi penumpang yang sempit, Papa memesan 6 kursi. Saat itu yang berangkat, papa, ibu, sepupu, bulek, saya dan adik bungsu. Masing-masing dari kami mendapat kursi. Dan, berangkatlah kami lewat jalur darat menuju Rantau Prapat.

3 HARI 3 MALAM YANG SESAK

Firasat saya terus berlanjut. Selama perjalanan 3 hari 3 malam, hal yang paling saya ingat adalah sesak. Bis penuh sesak dan saya pun sesak nafas. Ternyata sesampainya di tanah Sumatera, awak bis mengambil penumpang di tengah jalan. Bangku-bangku kayu diletakkan di tengah jalan kursi penumpang, Beberapa dari mereka bahkan merokok.

Memang ini simbiosis mutualisme, bagi awak bis dan penumpang gelap. Mungkin memang sangat jarang ada bis jalur Sumatera. Atau para penumpang lebih suka mencegat bis di jalan. Mungkin lebih murah. Tapi bagi saya dan penumpang resmi, tentu tidak menyenangkan. Bis sesak melebihi kapasitas. Penumpang sudah protes, sayangnya awak bis tak menggubris.

PESTA DURIAN & UANG SAKU

Alhamdulillah, kami sampai dengan selamat. Hanya badan yang pegal setelah perjalanan 3 hari 3 malam. Senangnya saat di sana, hampir setiap hari kami pesta durian. Saudara di sana tahu, durian menjadi salah satu yang dicari di Sumatera. Yang lain, teri medan dan rebusan daun singkong buat ibu saya.

Bagi saya, hal yang paling menyenangkan lagi adalah saat bude, simbah dan om yang memberikan salam tempel. Saya belum pernah dapat uang saku sebanyak itu.

Untunglah saat pulang saya naik bis Damri dengan tempat duduk yang lebih luas dan AC yang sejati. Hanya saja, awak bis masih mengambil penumpang di tengah jalan. Memang hanya 4 orang yang duduk di belakang kursi paling belakang.  Sepertinya sudah budaya awak bis lintas Sumatera di kala itu.

Apakah saya akan ke sana lagi? Jelas, saya akan berkunjung lagi. Tapi tidak dengan kondisi yang sama. Ya, iyalah, dulu saya masih muda. Kalau sekarang, saya angkat kaki. Apalagi bawa duo F. Saya pasti angkat kaki keluar dari bis. Mending nabung beberapa tahun buat naik pesawat..hihihi..

Kumpul keluarga di Medan

Senin, 27 Maret 2017

NGETREK DENGAN DUO F KE KEDUNG GENDER COLO


Fatih beraksi, sementara Mama membakar kalori

Ada 2 hal yang paling disukai duo F. Mainan dan jalan-jalan. Apalagi kalau 2 hal tadi digabung, jalan-jalan terus beli mainan *elus-elus dompet.

Saat usia mereka di bawah 1 tahun, saya pilih mainan bayi yang aman meski harganya agak mahal. Daya tahan tubuhnya kan masih lemah. Lagi jarang juga sih belikan mereka mainan. Mereka belum paham, jadi jarang minta dibelikan mainan. Setelah agak besar, terutama Fatih, frekuensi permintaan beli mainannya meningkat. Jadi mulai saya batasi baik dari jumlah dan harga. Menyesuaikan isi kantong lah. Sekalian Fatih belajar mengendalikan keinginan.

Jalan-jalan = Passion

Sejak usia di bawah 1 tahun sampai sekarang, mendengar kata jalan-jalan mereka akan bersorak,”horay”.  Fatih aja, di rumah rewel karena pilek, eh diajak ke dokter naik motor langsung ceria. Sedang Fattah, begitu lihat ada keluarga yang mau keluar rumah pasti minta ikut. Fattah gak perduli meski Mama dan Ayahnya gak ikut.

Mengenal rasa air gunung
Jalan-jalan bagi saya seperti passion. Kemudian menjadi kegiatan wajib di hari libur atau saat ada waktu luang. Gak harus mahal. Dana terbatas pun bisa kok jalan-jalan. Misalnya ke taman dan jangan lupa bawa bekal..hihihi.

Jalan-jalan Irit = Ke Gunung

Seperti hari Minggu 22 Januari 2017, Ayah duo F mengajak jalan-jalan ke Kedung Gender Colo sekalian liputan kegiatan di sana. Hari Minggu memang bukan jatah libur Ayah. Makanya kalau keadaan memungkinkan, biasanya Ayah meliput sekalian mengajak jalan-jalan keluarga.

Saya sih oke-oke saja. Beberapa kali destinasi kami daerah pegunungan. Biar Fatih dan Fattah mengenal daerah pegunungan. Gak kuper seperti Mamahnya, umur 26 baru naik gunung, eh bukit ding.

Gaya anak masa kini
Apalagi, jalan-jalan ke gunung, irit di ongkos. Lah gunung Muria dari rumah saya sekitar 30 menit. Perjalanan ke sana pun ditempuh dengan motor. Untuk menghemat lagi, saya bawa bekal nasi dan telur ceplok dari rumah. Benar saja, berhenti sebentar di tambal ban, duo F langsung minta makan.

Kedung Gender sebenarnya bukan air terjun baru bagi warga di Colo. Tapi baru terkenal setengah tahunan ini. Gara-garanya apa coba? Gara-gara ada yang upload foto di sosmed. Biasalah jadi viral.

Lokasinya berada di Dukuh Waringin Kecamatan Dawe. Sebagian besar orang lewat dukuh Waringin menuju Kedung Gender. Tapi Ayah duo F karena baru pertama kali dan belum mengenal medan mengajak kami lewat dukuh Ceglik desa Japan. Infonya sih dari temannya yang kegiatannya akan diliput. Katanya lebih cepat sampai.
Jalan-jalan atau Ngetrek?

Wow, begitu melihat medannya, “Ini sih bukan jalan-jalan, tapi ngetrek". Jalannya luar biasa. Terjal dan curam dengan kemiringan hampir 45 derajat. Saya dan Ayah sih jaman masih temanan sering lewat jalan seperti itu. Tapi ini bawa anak usia 2 tahunan yang nekatnya gak ketulungan.

Capeknya kayak gini, sampai rumah gak kurus juga
Selama perjalanan ke Kedung Gender Fattah gak mau digendong Ayah. Bahkan sama saya pun kadang gak mau digendong. Malah mau pegang bambu sendiri. Alhasil saya ngos-ngosan gendong, gandeng dan menjaga Fattah agar tidak tergelincir.

Sementara Fatih masih diyakinkan untuk lebih berani saat menuruni jalan terjal. Sesekali digendong atau cuma di gandeng.

Alhamdulillah sih, sampai juga ke Kedung Gender. Fatih dan Ayah langsung beraksi di lokasi. Fatih beraksi main air, sementara Ayah ambil gambar.

Saya menemani Fattah yang masih takut dengan air. Katanya sih minta pipis, tapi tidak ada toilet di sekitarnya. Maklum obyek wisata baru. Fasilitasnya masih minimalis.

Tujuan saya ke Kedung Gender selain memperkenalkan daerah pegunungan, juga membiasakan duo F kena air dingin. Fatih sudah agak lumayan mau mencerburkan diri di air. Fattah yang masih kayak kucing takut dimandikan.

Setelah dia bermain lempar batu di  sungai, akhirnya Fattah mau juga menceburkan kaki di air dan bermain ciprat-cipratan. Apalagi setelah didatangi Fatih.

Akhirnya mau 'nyempung' juga
Saran saya sih, buat teman-teman yang mau ke sana dan bawa anak kecil, sebaiknya lewat Dukuh Waringin. Kalau bersama teman-teman yang seusia, lewat Desa Japan lebih cepat. Jaraknya cuma 700 meter.

Untuk mencapai ke sana, ada petunjuknya. Kalau membawa motor atau mobil bisa dititipkan ke rumah warga dengan membayar parkir yang tidak seberapa.

Kalau ditanya mau ke sana lagi atau tidak, saya pilih menjelajah tempat yang baru. Apalagi kalau cuma pergi berdua sama Ayah *mengkhayal. Jarak tempuhnya itu loh, masih kurang jauh dan kurang berasa hutannya *huahaha nggaya..berasa penjelajah hutan beneran.

Kamis, 19 Mei 2016

Mengeksplorasi Yogya Bersama Duo F


“Anak usia 0-7 tahun seharusnya lebih sering bercengkrama dan bermain bersama alam”

Septi Peni Wulandani

Taman Pintar 3 tahun lalu
Kurang lebih itulah kesimpulan dari materi seminar nasional “EducationalWellbeing” yang paling membekas dalam ingatan. Kalimat itu mendorong saya untuk sering mengajak duo F keluar rumah, mengeksplorasi alam dan lingkungan. Setiap weekend, hari libur, atau hari kerja di saat badan cukup sehat, “jalan-jalan” menjadi kegiatan yang menyenangkan bagi duo F.

Jalan-jalan sih memang tidak harus pergi jauh dari rumah. Sekedar pergi ke pasar hewan melihat kelinci, burung atau kucing sudah cukup menyenangkan bagi mereka.  Atau di saat waktu minim, sekedar jalan-jalan di sekitar perkampungan, mengejar ayam, kucing, burung dan melihat kambing. Tapi sesekali saat ada uang lebih, saya dan suami ingin mengajak duo F jalan-jalan ke luar kota. Biar kayak orang-orang *halah.

Salah satu kota tujuan kami adalah Yogyakarta. Kenapa pilih Yogya? Iya karena hampir semua ada di Yogya. Ada gunung dan ada pantai. Obyek wisatanya pun beraneka ragam. Berbagai macam moda transportasi pun ada. Satu lagi, paling dekat dan biayanya gak terlalu besar *lagi-lagi urusan duit.

Fatih menikmati pemandangan dari balik jendela
Fatih sih sudah pernah diajak jalan-jalan ke Yogya. Saat usianya 1 tahun, menghadiri wisuda tantenya. Sayangnya kami hanya sempat jalan-jalan ke Malioboro dan Kebun Binatang. Rencananya nanti kami akan naik kereta Kalijaga Semarang-Solo kemudian dilanjutkan dengan kereta Pramex Solo-Yogya. Ya, demi memuaskan obsesi Fatih akan kereta api.

Obyek wisata yang ingin dituju yang diantaranya Malioboro. Meski sudah kerap mengunjungi Malioboro tapi untuk Fattah, ini adalah kunjungan perdana. Banyak hal yang dieksplor di Malioboro. Pasar Beringharjo, Museum Benteng Vredebug, Taman Pintar dan Shopping Center.

Pantai Pok Tunggal sumber di sini
Tujuan lainnya adalah pantai di kecamatan Tepus Kabupaten Gunung Kidul. Kabarnya pantai di sana indah, bersih dan berpasir putih. Duo F pasti senang bermain air dan pasir di pantai. Selain pantai, kami ingin mendekatkan duo F dengan alam pegunungan. Pilihan jatuh ke Kebun Buah Mangunan. Duo F paling suka dengan buah. Hampir semua buah disukai, terutama durian. Satu lagi destinasi mainstraim yang ingin diperkenalkan kepada duo F adalah Candi. Duo F belum pernah melihat atau mendengar cerita tentang Candi.

Kebun Buah Mangunan sumber di sini
Meski hanya beberapa obyek wisata, tapi tak cukup waktu sehari untuk mengunjuginya. Jelas, kami butuh tempat menginap yang representative dan gak pakai mahal *ibu-ibu banget. Kalau saya sih biasanya booking hotel lewat travel online. Gak perlu lah cari nomor telepon ke hotel yang diinginkan, Saya pernah booking hotel di Solo lewat Traveloka. Informasi tentang kondisi dan fasilitas hotel cukup lengkap, termasuk review dari pelanggan.  Pembayarannya pun banyak pilihan. Waktu itu sih pilih lewat ATM.

Ah, semoga rencana liburan terealisasi di tahun ini. Semoga ada rejeki untuk mengajak anak-anak bercengkerama dengan alam dan mengenal daerah lain.

Senin, 25 Mei 2015

Berburu Kereta Kalijaga Semarang-Solo


Bukan Kalijaga
 Hore…akhirnya impian saya dan suami mengajak Fatih naik kereta terwujud, plusnya sekalian mengajak Fattah, minusnya saat itu duit kami lagi cekak, habis buat pesan kanopi dan membangun pagar rumah..hiks. Tapi kami memang nekat, terlebih saya hihihi.

Di awal bulan Mei, bulan yang sepanjang tahun selalu merupakan bulan terboros bagi saya. Tiba-tiba suami bilang,”Ma, besok pas tanggal 14 Mei 2014 kita naik kereta ke Semarang-Solo yuk. Murah ini, cuma 10ribu/kursi. Ntar kita pinjam mobil eyang ke Semarang. Sore balik ke Semarang lagi”.

Saya langsung setuju saja dan sepakat dengan suami pesan 3 kursi, biar Fatih bisa duduk sendiri. Pulang kerja, saya mampir Indomaret buat tanya jadwal dan pesan tiket kereta. Jadwal kereta Kalijaga dari Semarang- Solo, berangkat pukul 08.55 WIB sampai di Purwosari pukul 11.45 WIB. Nah, yang jadi masalah, jadwal kereta kalijaga Solo- Semarang, berangkat dari Purwosari pukul 05.15 WIB sampai Tawang pukul 08.05 WIB. Lah?Ga cucok dengan rencana kami.

Ada sih sore hari pukul 16.57 WIB, kereta Brantas, tapi naiknya dari Jebres, harganya tiketnya 9x lipat alias 90 ribu. Sampai Tawang malam pukul 19.12 WIB. Padahal informasi terbaru, mobil mau dipinjam Tante Lia dan Tante Lia hanya bisa mengantar keberangkatan sekalian dia mau jalan-jalan ke Semarang. Masak mau mengajak anak-anak naik bis di malam hari? Kasian, mereka pasti capek.

Saya kemudian nekat menawarkan menginap sekalian di Solo, biar Fattah bisa ‘gegeloran’ di tempat tidur. Eh, suami malah mencari informasi kereta Semarang-Pekalongan. Kereta termurah, ya Kamandaka, 45 ribu/kursi. Jadwal kereta yang memungkinkan berangkat dari Semarang pukul 11.00 WIB sampai  12.56 WIB. Sesampai di sana kereta terakhir pukul 20.41 WIB sampai 22.52 WIB, lah balik ke Kudusnya malam banget kan? Kalau mau agak sorean sampai stasiun Pekalongan ya langsung balik Semarang. Galau tingkat dewa hihihi.

Akhirnya suami menyetujui usulan saya menginap di Solo. Demi mewujudkan keinginan istrinya, nginap di hotel *ya ALLAH, ndesonya saya. Setelah sepakat, saya kemudian balik lagi ke Indomaret pesan tiket. Ini pertama kalinya saya memesan tiket kereta. Eh, ternyata harus pakai NIK semua anggota keluarga yang akan berangkat.

Ke-bete-an pun dimulai. Bete pertama, saya memang gak tahu kalau bukan hanya NIK saya saja yang dibutuhkan. Telepon suami berulang kali buat minta nomor NIKnya tidak diangkat-diangkat. Di sms gak dibalas, di inbox di fesbuk juga. Akhirnya telepon 108 minta no kantor suami. Ealah, rupanya suami baru rapat di bawah dan HPnya masih di ruangan atas. NIK saya, suami dan Fatih saya dapat dari kartu BPJS ternyata belum cukup buat pesan tiket, masih harus ditambah NIK Fattah. Lah, bayi gitu, masak pakai NIK segala? Yow is, gagal lah saya pesan tiket. Dengan bête, balik rumah lagi buat ambil KK.

Sore, sepulang dari kantor, suami berbekal sms NIK dari saya, menggantikan saya berburu tiket kereta. Hasilnya nihil, berulang kali mencoba pesan tiket kereta, kok gagal mulu. Menurut mbak dan masnya mungkin sistemnya lagi error.

Malam hari, suami melanjutkan lagi perburuannya sekalian membayar hotel pesanan saya. Hasilnya kembali NIHIL. Pulang ke rumah, mencoba pisen via online gak bisa juga. Akhirnya keesokan harinya, karena sudah emosi dan lelah, suami pesan 2 tiket saja, Fatih gak jadi dipesankan tiket. Viola, BERHASIL. Setelah dilogika, memang sistemnya gak bisa pesan tiket buat anak usia 3 tahun ke bawah. Oalah…

Meski kucel, foto dulu
Hari ‘H’ keberangkatan, usai sholat Subuh, saya sudah ‘umprek’ di dapur menyiapkan makanan Fattah dan menggoreng pisang buat bekal. Setelah acara mandi dan menyuapi anak-anak selesai. Saya dan suami langsung memasukkan tas berisi pakaian dan teman-temannya yang sudah kami persiapkan semalam. Saya sendiri belum sempat sarapan.

Sesampai di stasiun, kami masih punya waktu 1 jam sebelum keberangkatan. Suami kemudian mencetak tiket kereta. Indomaret kan hanya memberi cetakan nota pembayaran. Saya menggendong Fattah dan menunggui Fatih beserta barang-barang.

Saya, suami dan Fatih sempat mampir ke kamar mandi stasiun Tawang, lumayan bersih lah. Sayang, Fatih gak jadi pipis. Suami pun sempat mampir membeli roti dan minum, sementara Fatih minta donut. Bekal pisang goreng sudah ludes disantap di mobil J.

Fatih sudah tak sabar ingin naik kereta, berulang kali saya dan suami menjelaskan kalau kereta yang akan dinaiki belum datang. Untunglah kereta tiba tepat waktu. Kami dapat bangku untuk 2 orang, yang kami duduki untuk 3 orang. Alhamdulillah Fatih tidak protes, tempat duduknya nyempil di dekat jendela.
Wow, ini yang namanya stasiun
Syukur lagi Fatih dan Fattah tenang menikmati perjalanan. Fattah bahkan sempat tertidur di kereta, hanya Fatih yang ribut minta nasi. Sayangnya di kereta Kalijaga tidak menawarkan nasi, mungkin karena perjalanan singkat ya. Saya tawarkan Fatih donut atau roti. Beberapa kali dia mau makan donut, tapi ujung matanya menatap mbak dan mas di bangku sebelah membuka chitato. Eh, dasar rejekinya Fatih, kereta menawarkan camilan yang salah satunya chitato.

Sampai di Purwosari, Fatih langsung saya ajak ke kamar mandi. Tadi pas di kereta dia sudah bilang mau pipis. Sayang, beribu sayang, saya dan Fatih sempat menyaksikan pemandangan salah satu kamar mandi yang gak banget. Pindah ke kamar mandi sebelah agak mending lah. Saya lihat sih, pas keluar kamar mandi, petugas kereta api sempat berkunjung ke kamar mandi, sepertinya memang bukan salah petugas semata, tapi pengguna kereta yang kurang menjaga kebersihan. Semoga PT Kereta Api bisa mengambil kebijakan soal kebersihan kamar mandi yang memang menjadi PR besarnya Indonesia.

Fattah 'gegoleran'
Secara keseluruhan perjalanan berburu kereta Kalijaga cukup berjalan lancar. Bagi saya sih, perjalanan itu bukan soal lancar atau menyenangkan semata. Perjalanan bagi saya selain bisa menyenangkan anak-anak terlebih memberi pengalaman dan pelajaran bagi mereka dan seluruh anggota keluarga.

Keterangan tambahan :
Tiga minggu yang lalu, di akhir bulan April. Seorang teman dekat BBM, "ping, mbok kalau foto dandan dulu lah. Wong dilihat se-indonesia raya" pesannya sambil disertai upload artikel ini.

Huaahaha,,kontan saya tertawa dan tersipu. Antara malu dengan foto yang kucel dan senang, ternyata ada teman yang baca blog saya, "weh, baca blog punyaku juga" balas saya.

"Gak sengaja sih, cari jadwal kereta kalijaga, eh yang nongol artikelmu. Tapi kok aku

Rabu, 25 Maret 2015

MENGEJAR KERETA DI MUSEUM KERETA API AMBARAWA

Tulisan ambarawa

Lagi-lagi acara week end saya beserta keluarga mengejar kereta api. Ya, demi Fatih yang suka dengan kereta api.  Jadilah Sabtu, 21 Maret 2015 saya dan suami memutuskan untuk jalan-jalan ke Museum Kereta Api Ambarawa.

Suami mendapatkan info, untuk naik kereta api di Ambarawa, tidak harus membayar 1 paket perjalanan yang konon harganya jutaan rupiah. Cukup dengan membayar  Rp. 50.000/orang, kita akan menikmati perjalanan kurang lebih 1 jam hingga ke Tuntang.

Berbekal informasi jadwal keberangkatan kereta api pukul  9.00, 11.00 dan 13.00 WIB, kami putuskan berangkat pukul 7 pagi setelah asisten rumah tangga datang. Seperti biasa, kami tak jalan-jalan berempat. Yangti dan yangkung turut serta dan minta sekalian menjenguk suami dari sepupu saya yang sakit.

Setelah menyiapkan ini itu, keberangkatan molor 30 menit hihihi. Sebelum berangkat, kami mendapatkan kabar, cucu dari sepupu saya meninggal dunia. Jadi acara mengejar kereta api kali ini sekaligus melayat, menjemput adik dan anak-anaknya dan menjenguk orang sakit baru mengejar kereta. Hasilnya kami tiba di Ambarawa pukul 12.30 WIB.

Tiba di parkiran saya masih berharap bisa mendapatkan tiket untuk jadwal pukul 13.00. Sayang sampai di loket masuk, tiket kereta sudah habis sejak sejam yang lalu, hiks. “Dua tiket kereta saja lah Mbak, masih ada gak?” tanya saya berharap sekali. Ternyata jadwal kereta pukul 11.00 dan pukul 14.00 WIB.

Akhirnya Fatih harus puas dengan melihat dan menaiki kereta yang dipajang di museum kereta api Ambarawa. Lumayan lah ada sekitar 5 kepala kereta dan lebih dari 5 gerbong kereta yang bisa kami naiki dan berpose di sana. Sayang, Fatih rupanya tengah enggan diambil gambarnya. Dia sibuk turun naik kereta.

Museum ini cukup luas. Setelah membayar tiket masuk Rp. 10.000/orang kami disuguhkan pemandangan kepala kereta api yang mengeluarkan asap. Relnya pun sangat panjang ke belakang. Kira-kira 300-400 meter kami berjalan menuju stasiun di belakang. Melewati rel dan beberapa kepala kereta serta gerbongnya yang terpisah. Ada juga tempat memperbaiki kereta.

Fatih menikmati gambar
Di depan stasiun ada tulisan besar ‘ambarawa’ berwarna putih dan kuning. Kursi tunggu dan beberapa gerbong kereta ada di sana. Ada juga ruang pameran miniatur kereta dan stasiun serta mesin kereta api. Fatih asik ditemani Yangkung melihat gambar kereta api dan menaiki gerbong. Sementara saya bak ibu kangguru menggendong Fattah yang terus bersandar di dada dan bahu saya, mungkin kepanasan dan kehausan.

Sekitar 1 jam kami mengitari museum. Mendengar Fatih yang sudah minta makan, saya memanggil suami untuk segera pulang dan mampir makan. Sebelum pulang, adik menyempatkan mewawancarai salah seorang petugas. Ternyata kereta dengan tiket Rp. 50.000/orang hanya ada saat week end atau tanggal merah. Hari lainnya, kalau mau naik kareta harus menyewa kereta sebesar Rp. 7.500.000 untuk bahan bakar diesel dan Rp. 10.000.000 untuk bahan bakar kayu jati..wow..

Foto-foto duyu..

Rabu, 31 Desember 2014

LIBURAN SERU BERSAMA ANAK

Siapa sih yang ga suka liburan? Apalagi liburan yang diisi dengan kegiatan jalan-jalan yang seru. Setiap hari berkutat dengan aktifitas kerja di kantor dan urusan rumah tangga kadang membuat jenuh. Biasanya di akhir pekan, saya meminta ayah untuk jalan-jalan keluar rumah sekedar melepaskan kejenuhan . Tentunya tak lupa juga sambil mengajak anak-anak.

Kehadiran anak membuat saya merencanakan liburan yang juga menyenangkan buat mereka. Gak mungkin kan saya ingin merasakan serunya berarung jeram sementara anak saya masih berusia 2,5 tahun dan 2 bulan. Ada beberapa tempat yang merupakan impian liburan seru bersama anak-anak. Cukup di Indonesia saja. Banyak tempat di Indonesia yang belum saya dan anak saya kunjungi.

Pertama, saya ingin mengajak anak-anak ke Santosa Stable di desa Lendoh Gunung Pati Semarang. Santosa Stable adalah arena berkuda bagi keluarga. Saya ingin anak-anak mengenal kuda dan berlatih menaiki kuda yang bagus untuk tumbuh kembangnya.  Anak-anak juga bisa mengenal lingkungan pegunungan yang memiliki udara yang bersih.


Kedua, setelah dari pegunungan, saya ingin merealisasikan keinginan Fatih, anak pertama saya, naik kereta api di Ambarawa Kabupaten Semarang. Fatih memang memiliki ketertarikan yang sangat besar dengan kereta api. Mulai mainan, buku, tontonan dan baju semua berkaitan dengan kereta api. Di sana, selain bisa naik kereta api, dia juga diajak untuk mengenal museum sejarah kereta api.

MUSEUM KERETA API AMBARAWA

Terakhir, liburan dilanjutkan ke Yogyakarta. Saya ingin mengajak anak-anak mengenal pantai. Pantai yang ingin saya kunjungi adalah pantai di Gunung Kidul. Ada sederetan pantai di sana. Selain pantai masih banyak lagi sederet lokasi obyek wisata di Yogyakarta. Semoga saya bisa merealisasikan impian liburan seru bersama anak-anak, paling tidak tahun depan, menunggu Fattah, si kecil sudah agak besar. Amin.

Sabtu, 13 September 2014

MENGEJAR KERETA

Dulu, pas umur Fatih setahunan, dia paling suka dengan mobil. Bukan mobil mainan, tapi mobil beneran, mobilnya yangkung hehehe..Tiap ayahnya pegang setir, pasti pengen ikut duduk dipangku ayahnya sambil nyetir. Kalau mobil mainan, saya cuma membelikan 1 mobil. Pas usia 2 tahun, dapat kado dari sepupunya mobil dengan remote control, itupun dia masih takut. Tiap mobil dimainkan Fatih atau orang lain, dia langsung naik ke kursi untuk menyelamatkan diri, takut tertabrak.

Menjelang 1,5 tahun, Fatih mengenal kereta api melalui acara televisi. Semenjak itu, Fatih menyenangi kereta api. Sering sekali Fatih menyebutkan tutut *panggilan kereta. Akhirnya saya dan ayahnya berinisiatif mencarikan video kereta api.

Tak lama kemudian, ayahnya membelikan mainan kereta api yang berjalan di atas rel. Awalnya Fatih takut, dia memang tidak begitu menyukai mainan yang bisa berjalan sendiri. Lama kelamaan dia mulai terbiasa bahkan bisa memainkan sendiri.

Kesukaan Fatih akan kereta api, sudah setengah tahun lebih masih tetap bertahan. Setiap membeli mainan, pasti dia minta kereta api, eh tapi dia juga ga sering membeli mainan kok. Dia cuma punya kereta api 4 buah. Satu dibelikan ayahnya, satu lagi dikasih sepupunya, 1 beli dari duitnya sendiri dan yang 1 rencana buat hiasan kue ulang tahunnya malah ketauan duluan, ga jadi deh.

Fatih juga tertarik dengan buku yang ada gambar kereta apinya. Saat ini sih dia baru punya 1, tapi sudah minta buku Thomas si kereta api yang masih dalam pemesanan. Saya memang ingin memperkenalkan buku melalui kesukaan Fatih akan kereta.

Saat bepergian, Fatih juga selalu menyebutkan soal kereta. “Naik kereta Ma” katanya. Padahal kalau sudah ketemu kereta, seringkali dia takut dan ga mau naik kereta. Seringkali saat bepergian berakhir dengan cerita mengejar kereta.

Saat di Semarang, sudah ke stasiun Tawang, eh sayangnya ga boleh masuk ke jalur kereta kalau ga bawa tiket. Alhasil untuk mengobati keinginan Fatih lihat kereta di ajak ke Lawang Sewu, habis Fatih dah ribut aja minta lihat kereta.

Pernah juga ngajak Fatih lihat kereta di Pabrik Gula. Sayangnya Fatih punya sifat pengen tapi takut, jadi ga mau naik keretanya.

Terakhir mengejar kereta di Purwodadi setelah menghadiri kondangan Tante Lani. Kondangan ga ada setengah jam, ngejar keretanya berjam-jam. Awalnya, kami mengejar kereta ke Ngrombo daerah Toroh, eh ternyata lagi ada perbaikan jalan, jadi kesulitan untuk masuk stasiun. Perjalanan di lanjut ke stasiun Gundi. Sampai di Gundi, sepi banget dan keretanya baru saja lewat menuju Solo. Hadeh, Fatih semakin ribut mau lihat kereta. Akhirnya balik lagi ke Ngrombo, beruntung setelah memarkir mobil, ada pemberitahuan kereta akan lewat. Langsung saja, saya suruh Ayah menggendong Fatih untuk segera menuju stasiun. Alhamdulillah setelah perjalanan hampir 2 jam mengejar kereta, Fatih diberi kesempatan melihat kereta barang..hihihi..

Mengunjungi Rumah Kereta di PG Rendeng

Blog Design by Handdriati