Senin, 27 Maret 2017

NGETREK DENGAN DUO F KE KEDUNG GENDER COLO


Fatih beraksi, sementara Mama membakar kalori

Ada 2 hal yang paling disukai duo F. Mainan dan jalan-jalan. Apalagi kalau 2 hal tadi digabung, jalan-jalan terus beli mainan *elus-elus dompet.

Saat usia mereka di bawah 1 tahun, saya pilih mainan bayi yang aman meski harganya agak mahal. Daya tahan tubuhnya kan masih lemah. Lagi jarang juga sih belikan mereka mainan. Mereka belum paham, jadi jarang minta dibelikan mainan. Setelah agak besar, terutama Fatih, frekuensi permintaan beli mainannya meningkat. Jadi mulai saya batasi baik dari jumlah dan harga. Menyesuaikan isi kantong lah. Sekalian Fatih belajar mengendalikan keinginan.

Jalan-jalan = Passion

Sejak usia di bawah 1 tahun sampai sekarang, mendengar kata jalan-jalan mereka akan bersorak,”horay”.  Fatih aja, di rumah rewel karena pilek, eh diajak ke dokter naik motor langsung ceria. Sedang Fattah, begitu lihat ada keluarga yang mau keluar rumah pasti minta ikut. Fattah gak perduli meski Mama dan Ayahnya gak ikut.

Mengenal rasa air gunung
Jalan-jalan bagi saya seperti passion. Kemudian menjadi kegiatan wajib di hari libur atau saat ada waktu luang. Gak harus mahal. Dana terbatas pun bisa kok jalan-jalan. Misalnya ke taman dan jangan lupa bawa bekal..hihihi.

Jalan-jalan Irit = Ke Gunung

Seperti hari Minggu 22 Januari 2017, Ayah duo F mengajak jalan-jalan ke Kedung Gender Colo sekalian liputan kegiatan di sana. Hari Minggu memang bukan jatah libur Ayah. Makanya kalau keadaan memungkinkan, biasanya Ayah meliput sekalian mengajak jalan-jalan keluarga.

Saya sih oke-oke saja. Beberapa kali destinasi kami daerah pegunungan. Biar Fatih dan Fattah mengenal daerah pegunungan. Gak kuper seperti Mamahnya, umur 26 baru naik gunung, eh bukit ding.

Gaya anak masa kini
Apalagi, jalan-jalan ke gunung, irit di ongkos. Lah gunung Muria dari rumah saya sekitar 30 menit. Perjalanan ke sana pun ditempuh dengan motor. Untuk menghemat lagi, saya bawa bekal nasi dan telur ceplok dari rumah. Benar saja, berhenti sebentar di tambal ban, duo F langsung minta makan.

Kedung Gender sebenarnya bukan air terjun baru bagi warga di Colo. Tapi baru terkenal setengah tahunan ini. Gara-garanya apa coba? Gara-gara ada yang upload foto di sosmed. Biasalah jadi viral.

Lokasinya berada di Dukuh Waringin Kecamatan Dawe. Sebagian besar orang lewat dukuh Waringin menuju Kedung Gender. Tapi Ayah duo F karena baru pertama kali dan belum mengenal medan mengajak kami lewat dukuh Ceglik desa Japan. Infonya sih dari temannya yang kegiatannya akan diliput. Katanya lebih cepat sampai.
Jalan-jalan atau Ngetrek?

Wow, begitu melihat medannya, “Ini sih bukan jalan-jalan, tapi ngetrek". Jalannya luar biasa. Terjal dan curam dengan kemiringan hampir 45 derajat. Saya dan Ayah sih jaman masih temanan sering lewat jalan seperti itu. Tapi ini bawa anak usia 2 tahunan yang nekatnya gak ketulungan.

Capeknya kayak gini, sampai rumah gak kurus juga
Selama perjalanan ke Kedung Gender Fattah gak mau digendong Ayah. Bahkan sama saya pun kadang gak mau digendong. Malah mau pegang bambu sendiri. Alhasil saya ngos-ngosan gendong, gandeng dan menjaga Fattah agar tidak tergelincir.

Sementara Fatih masih diyakinkan untuk lebih berani saat menuruni jalan terjal. Sesekali digendong atau cuma di gandeng.

Alhamdulillah sih, sampai juga ke Kedung Gender. Fatih dan Ayah langsung beraksi di lokasi. Fatih beraksi main air, sementara Ayah ambil gambar.

Saya menemani Fattah yang masih takut dengan air. Katanya sih minta pipis, tapi tidak ada toilet di sekitarnya. Maklum obyek wisata baru. Fasilitasnya masih minimalis.

Tujuan saya ke Kedung Gender selain memperkenalkan daerah pegunungan, juga membiasakan duo F kena air dingin. Fatih sudah agak lumayan mau mencerburkan diri di air. Fattah yang masih kayak kucing takut dimandikan.

Setelah dia bermain lempar batu di  sungai, akhirnya Fattah mau juga menceburkan kaki di air dan bermain ciprat-cipratan. Apalagi setelah didatangi Fatih.

Akhirnya mau 'nyempung' juga
Saran saya sih, buat teman-teman yang mau ke sana dan bawa anak kecil, sebaiknya lewat Dukuh Waringin. Kalau bersama teman-teman yang seusia, lewat Desa Japan lebih cepat. Jaraknya cuma 700 meter.

Untuk mencapai ke sana, ada petunjuknya. Kalau membawa motor atau mobil bisa dititipkan ke rumah warga dengan membayar parkir yang tidak seberapa.

Kalau ditanya mau ke sana lagi atau tidak, saya pilih menjelajah tempat yang baru. Apalagi kalau cuma pergi berdua sama Ayah *mengkhayal. Jarak tempuhnya itu loh, masih kurang jauh dan kurang berasa hutannya *huahaha nggaya..berasa penjelajah hutan beneran.

10 komentar:

  1. Masih alami banget ya Mbak. Rumput dan tanaman masih asri banget :) SUeger gitu air terjunnya :)

    BalasHapus
  2. wah, mbak Rizka ngetreknya sambil nggendong bocah? hebaaat... :D

    BalasHapus
  3. Asik Memang kalau Ke Muria mbak. Air Terjun Montel, Makam Kanjeng Sunan Muria, Rahtawu....Dulu waktu tinggal di Kudus ( Tenggeles Mejobo) saya sebulan sekali pasti naik. Apalagi Adik Ipar saya rumahnya di Dawe (Samping Portal Karcis yang bawah (Pertama).

    BalasHapus
  4. anakku suka banget kalau diajak ke air terjun mbak...mbak rizka mirip banget ma mb rahmi

    BalasHapus
  5. wow salut...mengajak anak-anak melewati medan yang seperti itu...
    anak-anakku juga suka bermain di alam, mungkin karena dikenalkan sejak kecil ya...

    BalasHapus
  6. Mbak..keren banget bisa sambil gendong anak gitu. Aku lihatnya aja ngeri ._. hehee

    BalasHapus
  7. Itu kalimat di paragraf terakhir gaka gimana ya mba bacaya ...."apalagi kalau cuma pergi berdua sama ayah......" so sweettt....ini pasangan mba harus baca ini

    BalasHapus
  8. Mba Riz, seterong banget ngurusin duo F :-D
    Ya ampun pas turunnya sambil gendong, bikin deg-degan.

    BalasHapus
  9. 4 tahun di Kudus dan aku belum pernah sekalipun ngetren di Dawe, Mbak. Padahal temanku juga banyak yang rumahnya situ.

    BalasHapus

Terima kasih sudah mengunjungi blog ini. Saya senang menerima komentar yang baik dan membangun. Harap tidak meninggalkan link hidup.

Blog Design by Handdriati