Sabtu, 19 Agustus 2017

TERPUKAU ORANG DI BALIK TOTO CHAN

Sejak SD, sejak lancar membaca, saya sering meminjam komik di taman bacaan dekat almamater. Atau main ke rumah teman yang langganan majalah Bobo dan punya komik.

Maklum, kami dulu jarang-jarang beli buku. Tak pernah juga langganan majalah Bobo. Paling banter beli Bobo bekas di pasar baru. Seingat saya dulu pernah langganan majalah Aku Anak Sholeh, itupun kayaknya sempat berhenti langganan.

Padahal saya suka sekali membaca. Kalau tidak ada bacaan anak-anak, saya membaca koran, tabloid langganan ibu atau Tempo langganan Papa. Bayangin, waktu kecil rubrik favorit saya malah kriminalitas hiiii.

Saya tak punya genre khusus soal bacaan. Roman, komedi, sastra, misteri bahkan sejarah yang dikemas sebagai novel. Bergambar ataupun hanya tulisan asal memiliki alur yang bagus tak jadi soal. Yang jadi soal, baca buku pelajaran. Entah kenapa bisa berhari-hari bahkan bulanan..hihihi..

Makanya, saya tak berani membuka buku fiksi kalau belum ‘selo’. Begitu tertarik, saya tak bisa lepas. Rasanya ingin diselesaikan saat itu juga.

Setiap membaca buku yang bagus terutama misteri, saya selalu berdecak, “Hebat banget penulisnya. Bisa membuat alur pemikiran dan bahasa yang bagus”. Atau kalau cerita berkaitan sejarah, penggalian datanya yang saya acungi jempol, KEREN. Saya tidak terlalu favorit sih baca cerita roman. Sesekali saja untuk melepaskan kejenuhan.

Ada satu buku yang tidak pernah saya lupakan. Buku yang membekas hingga sekarang. Buku yang pada akhirnya saya beli saking sukanya.

Buku yang pastinya menginspirasi sebagian besar orang. Makanya saat Mbak Vita Pusvitasari dan Mbak Anita Lusiya Dewi melontarkan tema arisan blogger “ Buku Favorit” saya langsung teringat Totto Chan Gadis Cilik di Jendela.

Saya membaca buku ini saat tahun terakhir di S1. Saat itu, saya menginap di rumah sahabat. Dia menawarkan buku itu. Mumpung lagi selo, saya mengiyakan. Tak sampai satu hari, buku itu pun selesai saya baca.

Lah kok cepat banget? Iya begitulah. Kalau sudah baca, aktivitas seharian selain membaca ya sholat. Kalau sudah lapar banget baru makan.

Pertama kali membaca langsung tertarik. Semakin dalam, saya langsung angkat topi buat 2 orang pendidik dalam buku itu. Ibu Totto Chan dan Kepala Sekolah Kereta Api, Pak Kobayashi.

Buku ini mangangkat kisah nyata dari penulisnya, Tetsuko Kuroyanaki yang kemudian dipanggil Totto Chan. Latarnya adalah selama Perang Dunia ke II di Jepang.

Dikisahkan Totto Chan, seorang anak kecil yang dikeluarkan dari sekolah. Kebiasaannya yang unik, diantaranya memandang keluar jendela lama-lama, menunggu rombongan pemusik jalanan dan membuka tutup meja secara berulang-ulang dipandang aneh oleh gurunya.

Ibu Dengan Hati Seluas Samudera

Ibu Totto Chan adalah orang pertama yang menginspirasi. Sikap Ibu Totto Chan yang berbesar hati menerima semua perilaku anaknya membuat saya tertegun. Tak ada sedikit pun, sikap marah atau mengecilkan perasaan Totto Chan. Dengan semangat, Ibu Totto Chan mencari sekolah yang sesuai dengan anaknya.

Penerimaan ibu Totto Chan menginspirasi saya yang kelak menjadi seorang Ibu kala itu. Makanya saat hamil anak pertama, saya sampaikan kepada suami, bahwa kondisi apapun dari anak yang akan dilahirkan harus diterima. Anak adalah titipan dan setiap anak pun unik.

Pak Kobayashi, Kepala Sekolah Terbaik

Saya sulit menggambarkan sesuatu yang spesifik untuk Pak Kobayashi. Sebagai kepala sekolah yang membuat dan menetapkan kurikulum, jalan pemikirannya sungguh luar biasa. Pak Kobayashi mampu menciptakan suasana kelas yang menarik. Aturan dan sistem yang dibuatnya membebaskan, memudahkan dan membentuk tanggung jawab.

Dalam satu kelas, anak dibebaskan untuk belajar menurut keinginan mereka. Mereka belajar untuk fokus dengan yang dipelajari tanpa menganggu teman lain.

Bekal yang dibawa sangat mudah, sesuatu dari gunung dan sesuatu dari laut. Hal ini membuat anak belajar untuk menemukan sesuatu dari gunung dan laut. Tidak juga membatasi makanan tertentu.

Suatu kali, Totto Chan yang penuh keingintahuan, mencari dompetnya yang terjatuh di dalam jamban. Ia mengeluarkan semua isi jamban keluar untuk menemukan dompetnya. Tanggapan kepala Sekolah sungguh luar biasa, ia hanya meminta Totto Chan untuk mengembalikan semua seperti sedia kala saat aktifitas Totto Chan selesai.

Sungguh, orang tua dan gurulah pendidik anak. Sikap ortu dan gurulah yang menentukan masa depan anak. Sering kan seorang anak membenci pelajaran tertentu karena pengajarnya tidak menyenangkan? Bukan karena pelajaran itu sendiri. Atau anak bermasalah, biasanya karena lingkungan rumahnya pun bermasalah.

Kisah ini sebagai pengingat saya yang berperan sebagai Mama bagi duo F dan lingkungan pekerjaan saya di pendidikan. Sudahkah kita bisa seperti mereka?

Minggu, 13 Agustus 2017

CERDAS WUJUDKAN IMPIAN DENGAN BNI FINANCIAL PLANNER




Setiap orang punya impian. Tak hanya satu, dalam satu waktu kita bisa memiliki beberapa impian. Bisa juga setelah satu impian terwujud, impian lain pun muncul.

Seperti saya, sejak menikah, impian saya adalah memiliki rumah. Meski menurut saya agak telat, karena saya baru menabung untuk memiliki rumah setelah menikah. Alhamdulillah, dengan perjuangan selama 5 tahun, akhirnya keluarga kecil kami bisa menempati rumah sendiri.

Usai menempati rumah sendiri, saya kerap menerima pertanyaan dari teman dan adik-adik.

“Riz, habis dana berapa membangun rumah seperti itu?” tanya seorang teman yang sedang mencari rumah tinggal.

“Mbak, caramu mengumpulkan uang untuk membangun rumah seperti itu gimana sih?” tanya teman kerja yang ingin memiliki rumah yang lebih luas dari rumah sebelumnya.

“Mbak, uang membangun rumah itu pakai uangmu semua? Papa bantu berapa? Sisanya uangmu?” tanya adik-adik saya yang heran dengan jumlah uang yang saya habiskan untuk membangun rumah.

Saya tak perlu menyebutkan total biaya untuk membangun rumah. Bagi saya sih, bukan dana yang sedikit. Makanya saya selalu menjawab bahwa itu adalah matematika ALLAH. Sungguh, saya sendiri heran, kok bisa saya memiliki rumah yang sekarang saya tempati?.

Meski bagi saya itu adalah matematika atau rejeki dari ALLAH, tapi tidak “mak bedundug” rejeki itu datang. Dibalik itu, kunci saya adalah pengelolaan keuangan.

Rumah yang telah ditempati

Saya pada dasarnya bukan orang yang hemat. Jaman kuliah, saya tidak punya tabungan. Uang bulanan selalu habis, bahkan beberapa kali minta tambahan..hihihi. Saat sudah bekerja dan melanjutkan kuliah lagi, saldo tabungan pun selalu tipis. Rasanya sulit sekali menabung.

Setelah menikah, mau tidak mau saya harus belajar mengelola uang. Saya baru tahu bahwa persepsi saya selama ini salah.

Menabung seharusnya dilakukan saat pertama menerima gaji, bukan diakhir bulan, sisa dari pengeluaran. Besarnya gaji juga tidak menjadi jaminan bahwa kita akan kaya. Gaya hidup seharusnya menyesuaikan dengan pendapatan. Mampu memilah antara kebutuhan dan keinginan.

Uh, ternyata banyak yang harus dirubah. Bagian yang tersulit buat saya adalah gaya hidup dan keinginan. Lihat uang di tabungan masih banyak, rasanya pengen belanja saja. Makanya, salah satu cara saya untuk pengelolaan keuangan memisahkan uang di beberapa rekening.

Jumlah rekening yang saya miliki, sesuai kebutuhan dan impian saya. Ada rekening untuk biaya hidup bulanan. Rekening untuk dana darurat. Rekening milik anak-anak yang uangnya diperoleh dari salam tempel saat lebaran. Rekening untuk pendidikan anak serta rekening untuk dana pensiun.

Beberapa rekening itu, autodebet dari rekening utama dan punya jatuh tempo. Jadi tak bisa diambil sesuka hati. Hingga saat ini, saya pegang 9 buku tabungan. Ditambah sukuk dan tabungan di koperasi kantor. Teman saya sampai geleng-geleng kepala, saat saya titip cetak buku tabungan..hihihi. Buku tabungan itu, memang selalu saya bawa dalam tas kantor. Maklum, saya pelupa, jadi kalau butuh cetak kan sudah terbawa.

Sebenarnya ribet juga bawa dan simpan buku sebanyak itu. Belum lagi, aturan sekarang kalau mau cetak buku harus pemilik buku yang datang ke bank. Paling malas lagi, saat antri di customer service kalau mau ganti buku.

Saya terpikir betapa praktisnya kalau tidak perlu bawa buku, cetak dan antri di CS. Eh, pucuk di cinta ulam tiba, seminggu yang lalu saya mendapat email dari BNI mengenai layanan fitur PENGELOLAAN FINANSIAL PRIBADI. Sebagai nasabah setia yang memiliki beberapa rekening di BNI saya jadi penasaran, apa sih fitur Pengelolaan Finansial Pribadi?

Fitur Pengelolaan Finansial Pribadi merupakan salah satu layanan dari BNI Internet Banking. Melalui fitur ini, kita bisa merencanakan tujuan keuangan sehingga rencana dan impian kita dapat terwujud.

Dengan fitur pengelolaan finansial pribadi, saya dapat menyisihkan sebagian pendapatan yang didebet dari rekening utama. Saya juga dapat menetapkan target tahun dan mendapatkan nominal yang harus dicicil setiap bulannya.

Bagaimana caranya menggunakan fitur pengelolaan finansial pribadi untuk merencakan tujuan keuangan?

Caranya sangat mudah. Langkah awal tentu harus punya rekening BNI. Setelah itu, daftarkan BNI Internet Banking. Jangan lupa kita membutuhkan e secure atau m secure yang dapat didownload dalam gawai yang kita punya.



Setelah proses selesai, kita bisa mulai mencoba BNI Internet Banking. Login ke BNI Internet Banking dengan mengisi user ID, password dan memasukkan karakter yang tertera. Pilih menu Pengelolaan Finansial Pribadi yang berada di sudut kanan atas.


Selanjutnya pilih menu Pengaturan Tujuan. Klik Tambahkan Tujuan. Pilih diantara 4 menu yang sesuai. Tetapkan Tujuan Anda untuk tujuan selain Beli Mobil, Beli Rumah atau Rencana Masa Pensiun.



Isilah Deskripsi Tujuan Keuangan, Nominal Tujuan Keuangan, Tanggal Awal Target, Tanggal Akhir Target dan Saldo Rekening Tujuan Keuangan Saat Ini. Usai mengisi, kita bisa klik untuk mengetahui Total Sisa Nominal dan Nominal Untuk Disimpan Perbulan. Setelah itu, pilih Diproses.


Langkah berikutnya, adalah Pembukaan Rekening Tabungan. Pilihlah Rekening Debit, yaitu rekening utama. Pilih jenis tabungan, taplus atau tapenas. Isi Setoran Awal, Tujuan Pembukaan Rekening dan Sumber Dana. Kemudian klik Proses.


Untuk pilihan pembukaan rekening tapenas kita diminta mengisi Rekening Debit, Jangka Waktu Tapenas, Setoran Awal, Setoran Bulanan, Premi Tambahan, Alasan Pembukaan Rekening dan Sumber Dana. Setelah itu klik proses. Untuk rekening tapenas, pendanaan dilakukan secara otomatis setiap tanggal 5.

Untuk pilihan pembukaan rekening taplus, kita bisa memilih trasfer berulang untuk pendanaan secara rutin. Jangan lupa, kita membutuhkan e secure atau m secure untuk keperluan otorisasi.

Mudah bukan?. Saya jadi ingin membuka rekening untuk Daftar Haji. Supaya tertib menyisihkan sebagian dana dan tidak mengganggu kebutuhan keuangan lain.

Untuk lebih jelas, bisa disimak tutorial penjelasan Pengelolaan Finansial Pribadi di bawah ini. Yuk wujudkan impianmu dengan Pengolaan Finansial Pribadi.


Rabu, 09 Agustus 2017

SERUNYA TRAVELING KELUARGA

Main di Pantai Jepara
Sudah arisan ke 8, tapi saya baru buat tulisan arisan ke 6...hadeh. Manajamen waktu saya parah. Ditambah ada faktor prokrastinasi yang lain, yaitu perfeksionis.

Ini sudah keempat kali ngedraft. Tulisan sudah setengah jalan, eh mandeg lagi. Tiba-tiba alurnya menghilang. Kok gak nyambung, ngalor ngidul dan perasaan-perasaan lain.

Padahal tema periode ini masih cocok dengan niche blog saya. Masih tentang traveling. Mbak Winda Oetomo dan Mbak Dwi Septia melontarkan tema orang yang paling ingin diajak traveling.

Temanya mudah. Karena mudahnya, saya jadi berpikir yang lain. Masak saya gak punya seseorang yang ingin diajak traveling. Yang berbeda gitu. Biar anti mainstraim. Artis, politikus atau publik figur lain?.

Setelah lari ke hutan lalu melipir pantai, ternyata jawabannya di depan mata. Ya, orang yang paling ingin saya ajak traveling adalah keluarga saya. Suami dan anak-anak.

Traveling Sebuah Kebutuhan

Setelah berkeluarga. Menikah lalu punya anak. Hasrat traveling saya meningkat. Saya merasakan bahwa traveling adalah sebuah kebutuhan. Apalagi si Sulung Fatih, sejak kecil hobi traveling.

Sejak usia belum setahun, Fatih paling suka diajak bepergian. Pernah usia 8 bulan, dia pilek batuk dan rewel di rumah. Saya tidak tega melihatnya. Diantar Papa, saya bawa Fatih ke dokter.

Lalu, fiola, sesampai di dokter, kerewelan Fatih hilang, senyum mengembang, “Adeknya riang gitu bu. Gak kelihatan rewel” ujar dokternya.

“Ya begitulah anak saya dok. Sakitnya langsung hilang kalau di ajak jalan-jalan.” jelas saya.

Bahkan usai imunisasi badan Fatih panas, keesokan harinya dia masih bersikeras untuk tetap melanjutkan rencana traveling, meskipun sejam lalu dia masih mengeluh tangannya sakit.

Traveling Untuk Tumbuh Kembang Duo F

Bagi saya, anak adalah prioritas. Traveling selalu direncanakan untuk memperkenalkan bumi belahan lain kepada duo F. Tempat yang ramah anak. Wahana yang mengasah tumbuh kembang mereka.

Saat Fatih berusia 1,5-4 tahun, traveling kami temanya kereta api. Setiap destinasi, selalu ada unsur kereta api. Setelah Fattah berusia 2 tahun, mulai kelihatan kalau Fattah menyukai binatang. Makanya destinasi selanjutnya adalah kebun binantang. Kalau sudah lebih besar, saya ingin mengajak ke taman nasional.

Traveling Paket Komplit

Sebagai istri jurnalis, waktu liburan tidak pasti. Eh, minggu ini si Ayah full liputan. Alhasil, weekends kadang-kadang tidak bisa keluar.

Beberapa kali saya pernah membawa duo F sendiri, traveling ke tempat terdekat dengan angkutan publik. Saat itu masih numpang di rumah ortu yang mau naik dan turun angkutan langsung depan rumah. Itupun, seringkali si Ayah tampak berkeberatan.

“Besok saja lah. Ayah besok bisa ikut kok” komentar Ayah saat menyampaikan keinginan anak-anak.

“Duh yang pergi jalan-jalan gak ajak Ayah” sindir Ayah kalau anak-anak bercerita habis jalan-jalan.

Saya sendiri lebih suka, kalau Ayah ikut jalan-jalan, apalagi kalau di luar kota. Repotlah membawa duo bocil, apalagi yang aktif seperti mereka. Kalau Fatih, sudah bisa diatur, tapi Fattah ini yang masih suka nekat.

Ada Ayah, artinya ada yang setir mobil dan bawa barang yang berat. Ada Ayah juga, ada yang gendong Fatih dan Fattah kalau capek. Ada Ayah juga ada yang mijetin saya kalau capek..hihihi. Pokoknya Ayah paket komplit lah. Paling utama sih, ada teman berbagi senyum dan senang. Iya senang banget kalau lihat senyum anak-anak saat traveling.


Jalan-jalan di Yogya

Senin, 07 Agustus 2017

Iya Boleh Untuk Bereksplorasi di Dancow Eksplore Your World


Dedek gemes pakai jas hujan
“Ma, hari ini tanggal berapa?” tanya si Sulung, Fatih.

“Tanggal 2.Kenapa sih kok tanya tanggal terus?” tanya saya balik.

“Besok berarti tanggal 3, terus 4 dan 5. Hore tanggal 5 kita ke ADA Semarang kan Ma?” serunya riang.

Ya, begitulah Fatih kalau sedang menanti suatu momen. Jauh hari sebelumnya, saya memang sempat bercerita dan menawarkan untuk mengajaknya ke event Dancow Eksplore Your World yang digelar di ADA Setiabudi Banyumanik Semarang.

Event Dancow Explore Your World pada tanggal 5 dan 6 Agustus 2017 merupakan wahana edukasi persembahan dari Nestle. Tujuannya untuk mendorong kepercayaan diri dari orang tua untuk berkata “IYA BOLEH” saat si kecil bereksplorasi. Dukungan dari orang tua tentunya membuat si kecil tampil berani dan mandiri sehingga terbuka kesempatan untuk belajar hal baru. 

Yah, sebagai orang tua, terkadang kita terlalu kuatir dengan aktifitas yang dilakukan anak-anak. Misal, saat anak memanjat atau meloncat, kita kuatir dengan keselamatannya. Atau saat anak-anak bermain dengan air, kita kuatir kalau baju dan badannya basah, sehingga mungkin mereka bisa sakit. Kekuatiran kita dengan melarang mereka beraktifitas tentu bisa menghambat tumbuh kembangnya. Motoriknya jadi kurang optimal dan mereka jadi takut untuk mencoba hal baru.

Event Dancow ini adalah event yang tidak biasa karena tidak setiap tahun di gelar. Dua tahun sebelumnya, event ini mengusung tema Ranch Adventure. Keseruan event kemarin membekas dalam ingatan Fatih, makanya dia semangat sekali untuk berpetualang di Dancow Explore Your World.

Sesampai di tempat, duo F sudah tak sabar memasuki wahana. Padahal tiket belum ditangan. O,ya untuk mendapatkan tiket masuk, cukup dengan membeli produk Dancow di beberapa supermarket atau langsung beli di tempat acara.

Asik mewarnai di Art Center
Begitu tiket sudah ditangan, Fatih langsung mengajak ke booth Art Center, “Ma, aku boleh mewarnai?”

“Iya boleh” jawab saya sambil membantu mengambil peralatan mewarnai. Di booth Art Center ada aktifitas hand painting yaitu mewarnai dan cap tangan. Fatih langsung memilih untuk mewarnai. Dia memang lagi suka dengan aktifitas mewarnai. 

Di sebelah booth Art Painting, ada booth untuk konsultasi orang tua dengan para pakar dari Dancow Parenting Center. Orang tua bisa berkonsultasi masalah tumbuh kembang anak dengan psikolog atau ahli gizi.

Sayangnya, Fattah mulai resah mengajak ke booth yang lain. Untunglah saya berangkat bareng adik dan anak-anaknya. Jadi Fatih bisa saya tinggalkan bersama mereka..hihihi.

Foto dulu sebelum masuk booth

Fattah kemudian saya ajak ke booth bagian belakang. Sesampainya di sana, kami dipersilahkan foto terlebih dahulu. Dasar Fattah memang hobi foto, dia hepi-hepi aja.


Selesai foto, Fattah langsung minta ke booth Play Park.  Pesona perosotan, wall climbing dan mandi bola tak kan dilewatkan Fattah. Saya langsung mendorong Fattah untuk menaiki wall climbing. Setelah di atas dia masih celingak celinguk cari mamahnya. Setelah saya kasih aba-aba untuk perosotan, dia langsung mengikuti.

Aktivitas selanjutnya, dia langsung berani dan percaya diri. Apalagi saat berpindah di kolam bola. Berkali-kali dipanggil dia cuek aja, masih asik mandi bola.

Perosotan
Booth terakhir yang dicoba Fattah, adalah Central Park. Saat antri, Fattah senang menemukan sapi. Sapi replika sih, tapi dia senang sekali terutama saat mencoba memerah susu sapi. Hal baru buat Fattah. Sebelum masuk ke area ini, anak-anak dipakaikan jas hujan. Di dalam area memang ada sesi hujan buatan. Meski jas hujan kebesaran dan sering terinjak, Fattah tetap antusias berfoto dan menyentuh beberapa replika hewan seperti kelinci, burung dan kupu-kupu.

Diantara duo booth, ada panggung tempat anak-anak mengasah bakatnya. Ada yang diminta bermain puzzle dan ada yang bernyanyi. Sedang di lantai 3 juga ada booth lomba mewarnai.

Sesudah Fattah mencoba semua booth, Fatih baru selesai mewarnai. Dia masuk ke Play Park, menaiki wall climbing, perosotan dan mandi bola.
Memerah susu sapi
 Usai mencoba berbagai permainan edukasi, di dekat pintu duo F ditawari susu Dancow yang dibagikan secara gratis. Di sebelahnya ada lagi booth foto untuk kenang-kenangan yang langsung dicetak dan bisa dibawa pulang.

Duh, serunya berpetualang di Dancow Explore Your World, sampai harus membujuk duo F untuk pulang. Kasihan yangkung dan yangti yang sudah menunggu cucunya selesai bereksplorasi.

Selain Semarang, Nestle Dancow Explore Your World juga akan diselenggarakan di kota lainnya yaitu Solo pada 9-10 September 2017 dan Makassar pada 7-8 Oktober 2017. Buat Ayah dan Bunda di kota lain, jangan sampai ketinggalan untuk mengatakan Iya Boleh saat si Kecil bereksplorasi di Dancow Explore Your World.

Serunya Dancow Explore Your World

Rabu, 26 Juli 2017

TANAH KELAHIRAN : LIBURAN YANG TAK TERLUPAKAN


Saat di kapal menyebrangi Selat Sunda
Salah satu pertanyaan yang paling menyenangkan yang dilontarkan oleh teman atau kenalan baru, “kamu orang mana?”.

“Rantau Prapat” jawab saya. Selanjutnya mereka akan bertanya letak Rantau Prapat. Kenapa itu menyenangkan? Ya, karena terdengar keren saja, berasal dari sebuah tempat yang terkesan antah berantah bagi orang di luar Sumatera.

Sebenarnya, setelah pindah dari sana, saya baru mengunjungi tanah kelahiran 1 kali. Maklum, ongkos ke tanah kelahiran tidaklah murah. Biasanya Papa dan Ibu mengajak kami ke Rantau Prapat bergantian. Saya dan kedua adik saya diajak bergantian, sedang adik bungsu selalu diajak *sedihnya.

Liburan mengunjungi tanah kelahiran, merupakan liburan yang tak terlupakan. Sangat pas dengan tema arisan yang dilemparkan mbak Muna Sungkar dan mbak Wuri Nugraeni. Kala itu, liburan kenaikan kelas 2 SMP. Saya memutuskan untuk pindah sekolah di Jawa. Tentunya, setelah disugesti oleh kedua orang tua bahwa sekolah di Jawa lebih bagus dibanding daerah lain *Tak perlu dibahas.

LIBURAN DADAKAN

Sesampainya di Kudus, beberapa hari kemudian, sepupu yang sekarang sudah almarhum menawarkan mudik ke Rantau Prapat. Padahal, kami baru saja melakukan perjalanan dari Makassar dengan kapal sehari semalam dan dilanjut bis setengah hari dari Surabaya menuju Kudus. Setelah itu, kami semua muntah-muntah, diare dan demam kecuali Ibu.

Ibu dan Papa terlihat antusias, yang kemudian menawari saya untuk ikut dan mengajak adik bungsu yang berusia 3 tahun. Saya setengah hati menerima ajakan. Ya, karena liburannya dadakan. Sepupu sepertinya belum pesan tiket bis, padahal ini perjalanan jauh 3 hari 3 malam.

MENGEJAR BIS KE RANTAU

Firasat saya ternyata tepat. Saat kami menuju pool bis di Kudus, bis menuju Rantau Prapat hari itu tidak ada. Sepertinya, baru keesokan hari. Tapi rupanya, sepupu gigih. Akhirnya kami mencari bis lintas Sumatera ke Pati.

Kala itu seingat saya, kami naik mobil colt semacam angkutan menuju Pati. Sesampainya, kami memang mendapatkan bis lintas Sumatera, namun sayangnya bis ekonomi. Tahulah bis ekonomi, tempat duduk sempit disertai AC, angin cepoi-cepoi atau angin cendela.

Karena kursi penumpang yang sempit, Papa memesan 6 kursi. Saat itu yang berangkat, papa, ibu, sepupu, bulek, saya dan adik bungsu. Masing-masing dari kami mendapat kursi. Dan, berangkatlah kami lewat jalur darat menuju Rantau Prapat.

3 HARI 3 MALAM YANG SESAK

Firasat saya terus berlanjut. Selama perjalanan 3 hari 3 malam, hal yang paling saya ingat adalah sesak. Bis penuh sesak dan saya pun sesak nafas. Ternyata sesampainya di tanah Sumatera, awak bis mengambil penumpang di tengah jalan. Bangku-bangku kayu diletakkan di tengah jalan kursi penumpang, Beberapa dari mereka bahkan merokok.

Memang ini simbiosis mutualisme, bagi awak bis dan penumpang gelap. Mungkin memang sangat jarang ada bis jalur Sumatera. Atau para penumpang lebih suka mencegat bis di jalan. Mungkin lebih murah. Tapi bagi saya dan penumpang resmi, tentu tidak menyenangkan. Bis sesak melebihi kapasitas. Penumpang sudah protes, sayangnya awak bis tak menggubris.

PESTA DURIAN & UANG SAKU

Alhamdulillah, kami sampai dengan selamat. Hanya badan yang pegal setelah perjalanan 3 hari 3 malam. Senangnya saat di sana, hampir setiap hari kami pesta durian. Saudara di sana tahu, durian menjadi salah satu yang dicari di Sumatera. Yang lain, teri medan dan rebusan daun singkong buat ibu saya.

Bagi saya, hal yang paling menyenangkan lagi adalah saat bude, simbah dan om yang memberikan salam tempel. Saya belum pernah dapat uang saku sebanyak itu.

Untunglah saat pulang saya naik bis Damri dengan tempat duduk yang lebih luas dan AC yang sejati. Hanya saja, awak bis masih mengambil penumpang di tengah jalan. Memang hanya 4 orang yang duduk di belakang kursi paling belakang.  Sepertinya sudah budaya awak bis lintas Sumatera di kala itu.

Apakah saya akan ke sana lagi? Jelas, saya akan berkunjung lagi. Tapi tidak dengan kondisi yang sama. Ya, iyalah, dulu saya masih muda. Kalau sekarang, saya angkat kaki. Apalagi bawa duo F. Saya pasti angkat kaki keluar dari bis. Mending nabung beberapa tahun buat naik pesawat..hihihi..

Kumpul keluarga di Medan

Selasa, 18 Juli 2017

3 SIKAP HIDUP PENGELOLAAN KEUANGAN ALA PAPA



“Mbak, bagi kiatnya donk. Gimana bisa mengelola keuangan, biar bisa bangun rumah kayak dirimu?” tanya seorang rekan kerja yang punya rencana ingin membangun rumah yang lebih luas.

“Ah, Mbak Rizka bukan gak punya uang. Cuma uangnya disimpan, gak buat beli-beli baju, tas atau sepatu” ujar seorang rekan lain pada satu kesempatan.

“Eh Mbak, gimana sih biar bisa kayak Papamu? Pensiunan tapi hidupnya santai. Gak mikirin biaya hidup” tanya seorang rekan setelah mendengar kisah keseharian Papa setelah pensiun.

Papa sudah pensiun sejak tahun 2008. Saat pensiun, semua anaknya belum menikah. Adik bungsu pun baru kelas 3 SMA. Pertengahan tahun adik no 3 menikah dan saya malah kuliah lagi.

Semua pengeluaran itu cukup mampu Papa selesaikan tanpa kesulitan. Artinya Papa memang sudah punya dana untuk menyekolahkan dan menikahkan anak. Bahkan kami kalau punya kesulitan atau butuh bantuan keuangan Papa siap support *duh, malunya.

Wah, pasti Papanya direktur ya Mbak? Atau punya usaha setelah pensiun?. Tidak, Papa saya seperti Papa kebanyakan orang tua. Hanya seorang pegawai BUMN dengan pendapatan yang sewajarnya. Hanya saja Papa punya sikap hidup pengelolaan keuangan.

Sikap inilah yang sedikitnya tertanam dalam hidup saya, yang dianggap hemat oleh rekan-rekan lain. Dalam pandangan mereka, saya jarang belanja, suka gratisan dan hemat dalam pengeluaran keluarga.

Padahal sih gak segitunya. Saya malah kadang sering diingatkan suami kalau kayaknya masih boros dalam pembelanjaan. Yang membuat boros sebenarnya sih duo F. Biasalah, minta jajan, jalan-jalan dan beli mainan.

Tapi, tetap bagi yang lain itu dianggap wajar. Wajar, karena ternyata anak-anak mereka sama saja..hahaha.

Jadi sikap hidup apa sih yang dipunyai Papa dan tertanam dalam hidup saya?

Tidak Berutang

Inilah sikap hidup pertama dan utama bagi Papa saya. Wah, berarti Papanya gak punya utang? Pernah, waktu beli rumah pertama di Bandung. Saat itu, Papa terpaksa berutang karena tidak ada orang yang dapat dimintai pinjaman.

Maklum Papa sudah tidak punya orang tua. Kakak-kakaknya pun bukan orang kaya yang punya kelebihan anggaran. Solusi satu-satunya ya pinjam di salah satu bank konvensional, dulu belum ada bank syariah.

Itu, satu-satunya catatan utang. Setelah itu, saat beli rumah di Makassar tunai. Saat beli mobil atau kebutuhan lain pun tunai. Bagi Papa saya, beli dan miliki barang sesuai kemampuan. Kalau belum mampu beli mobil, ya tidak perlu berutang.

Sikap ini membuat saya enggan untuk berutang. Saya sempat punya kartu kredit, setiap habis belanja, langsung saya bayarkan tagihan. Takut lupa. Saat membayar baju seragam TPQnya Fatih pun, langsung saya bayar tunai. Padahal ada kemudahan untuk membayar 3x. Cuma saya kurang sreg saja. Rasanya seperti beban.

Hemat Bukan Kikir

Orang tua saya itu, pasangan hemat. Tidak cuma Papa, Ibu juga hemat. Beberapa contoh hemat dalam pemakaian listrik dan air. Membiarkan lampu menyala saat hari sudah siang atau tanpa sengaja mengisi air bak mandi hingga tumpah, rasanya seperti dosa besar.

Akhirnya anak-anaknya pun terbawa suasana hemat. Tagihan listrik saya setiap bulan tidak lebih dari 200 ribu. Padahal saya menggunakan mesin air, mesin cuci dan AC. Adik saya pun berusaha agar tagihan sekitar 200 ribu.

Dalam membeli pakaian, sepatu ataupun tas tidaklah berlebih. Punya tas atau sepatu 2 saja sudah cukup banyak.

Tapi Papa tidaklah kikir. Kalau lihat pakaian sudah tak layak pakai pasti ditegur. Disuruh keluarkan dari lemari pakaian. Bahkan kalau masih dipakai, pakaian digunting dan langsung dijadikan lap..hahaha.

Membeli dan Menggunakan Barang Berdasarkan Kualitas

Meskipun hemat, bukan berarti kedua orang tua saya menggunakan barang yang tidak berkualitas. Saya ingat, saat Papa membelikan jangka untuk peralatan sekolah. Jangka yang dipilih yang kualitasnya baik. Tentu, harganya bukan yang paling murah.

Makanya saat membeli barang, saya selalu pilih berdasarkan kualitas dan kenyamanan bukan berdasarkan harga. Ada barang yang harganya cukup murah dibanding yang lain tapi kualitas cukup baik. Tapi banyak juga yang harga sesuai kualitas.

Contohnya, saat membeli sandal untuk keseharian, saya cukup puas dengan kualitas sandal seharga 70 ribu. Saya tidak memandang merk, yang penting nyaman digunakan.

Untuk masalah bra, saya pasti memilih kualitas yang cukup baik. Harganya memang tak terbilang murah. Alasannya, karena saya sudah pengalaman membeli yang murah, baru sebulan dua bulan karet sudah melar dan tidak nyaman digunakan. *ini kenapa membahas masalah underwear.

Masalah jam tangan pun, saya termasuk pemilih. Kadang juga tertarik untuk membeli jam tangan yang mumer dengan model yang unyu-unyu. Tapi setelah diperhatikan, bahan agak kasar. Kulit saya yang sensitif alias gampang gatal tidak bisa menggunakan kalep kulit atau logam yang kurang baik. Biasanya kalau saya nekat beli, berakhir “mangkrak”.

Salah satu merk jam dengan kualitas yang cukup baik menurut saya sih Alexandre Christie. Saya tertarik dengan model dan wadah kayunya. Saya dulu membelikan jam model sporty buat mantan pacar yang berubah status menjadi suami. Eh, malah dapat hadiah pernikahan adik jam logam Alexandre Christie.

Beberapa kali, saya sempat nengok koleksi jam tangan Alexandra Christie di Zalora. Kadang saya masukkan ke wishlist, siapa tahu lagi diskon. Biasanya kan ada notifikasi di email..hihihi.

Itulah 3 sikap pengelolaan keuangan ala Papa yang tertanam dan saya praktekan di rumah tangga saya. Kalau kamu, punya sikap atau kiat pengelolaan keuangan keluarga seperti apa?

Jam inceran *kode keras buat suami

Sabtu, 24 Juni 2017

ADAKAH PERSAHABATAN PRIA DAN WANITA?

Sebagai orang yang hidup nomaden, saya memiliki teman yang bertebaran di pulau Jawa dan Makassar. Saya punya teman di Bandung, Kudus, Solo dan Makassar.

Memiliki banyak teman, sebenarnya menyenangkan. Hanya saya terkadang iri dengan beberapa teman yang punya teman sejak TK atau SD yang bertumbuh bersama hingga dewasa. Saya boro-boro, teman TK saja saya sudah lupa semua. Maklum, selepas TK saya pindah rumah 2x dan dilanjut pindah ke Makassar.

Beberapa teman SD di Bandung masih ingat dan masih berhubungan lewat medsos. Demikian juga dengan teman di Makassar.

Memang saya beberapa kali masih berkunjung ke Bandung, kebetulan Papa masih punya rumah di sana. Meski saya gak bermalam di rumah, lah rumahnya disewa orang. Saat di Makassar pun, saya sempat berkunjung sekali. Usai ujian skripsi, saya pulang ke Makassar. Waktu itu Papa kembali ditugaskan ke Makassar.

Mungkin karena kebiasaan keluarga kami mencari jejak masa lalu, maka saat saya berkunjung kembali saya pun mencari teman-teman masa kecil. Ajaibnya saya masih mengingat jalan menuju sekolah dan rumah teman-teman.

Dalam bersahabat atau berteman, saya tidak pernah pilih-pilih. Status sosial, agama maupun jenis kelamin. Yang terpenting bagi saya adalah kenyamanan dan ketulusan.

Makanya ketika Mbak Agustina dan Mbak Nunung menantang peserta arisan dengan tema sahabat, banyak hal berkelebat di kepala saya. Bagi saya yang nomaden dan sudah berpisah dengan orang tua sejak SMP, sahabat sangat berarti. Ya, merekalah tempat saya berbagi dan saling mendukung. Sisi mana yang akan saya ceritakan?

Sahabat Pria

“Tidak ada yang namanya persahabatan antara pria dan wanita” ujar suami saya di suatu obrolan.

Sebelumnya, saya tidak pernah terpikir dengan pernyataan itu. Pada kenyataannya, saya tipe orang yang bisa berteman dengan pria. Bahkan sebagai murid pindahan, saya termasuk cepat bergaul dengan teman pria.

Sejak SD saya punya teman pria. Ada yang tetangga di depan rumah, di samping rumah dan di ujung jalan. Dengan teman di samping rumah, beberapa kali kami bermain bersama dan bertengkar juga. Teman di depan rumah, kami bermain dan menonton film. Tetangga di ujung jalan, kami main badminton dan memasak bersama. Ada juga beberapa teman sekolah yang main ke rumah.

Saat kelas 1 SMP, saya juga punya beberapa teman pria yang sering berkumpul dan beraktifitas bersama. Nah, saat kelas 2 SMP sampai lulus SMA saya masih berteman dengan pria, hanya sedikit membatasi. Saya agak takut kalau ada teman pria yang main ke rumah. Soalnya, saya tinggal sama si Mbah..hihihi.

Ketika kuliah di Solo, barulah saya merasa bebas berteman dengan pria. Eits, bukan bebas yang pacaran ya. Bebas yang saya maksudkan, bebas saling berbagi, mendukung dan membantu. Saya punya sahabat pria yang 1 kelas. Kuliah bareng, main, makan bahkan saya kerap dijemput untuk menemaninya kuliah saat ia mengulang mata kuliah. Teman 1 organisasi juga banyak. Bahkan beberapa diantaranya, keluarganya saya kenal.

Keuntungan Bersahabat Dengan Pria

Memiliki sahabat atau teman pria menurut saya cukup menguntungkan. Ada saat sahabat wanita saya tidak bisa menemani. Entah itu ada acara atau beresiko mengajak teman wanita untuk menemani saya.

Saat skripsi, saya cukup beruntung memiliki sahabat pria yang belum lulus. Ada yang mengantarkan konsultasi ke rumah dosen. Malam-malam, mana hujan lagi. Atau saat harus keluar malam, saya minta tolong antar sahabat pria.

Terus, apa memang sahabatan pria dan wanita pasti murni atau diwarnai dengan rasa ketertarikan? Saya tak menampik kalau pernah ada rasa dengan sahabat atau teman pria. Demikian pun teman pria pernah ada yang punya rasa terhadap saya. Tapi hingga hari ini kami masih tetap berteman.

Memang untuk sekarang, persahabatan kami tak lagi seperti dulu. Luntang luntung bareng. Berbagi cerita dan kesulitan. Ada perasaan seseorang yang perlu kami jaga. Kami tetap bisa berkirim kabar. Mendukung jika memang dibutuhkan.

Ah, jadi kangen dengan mereka. Bagaimana dengan sahabat pria atau wanita kalian? Masih tetap sahabatan atau sahabat jadi istri atau suami?

Rabu, 14 Juni 2017

4 LANGKAH HEMAT LISTRIK


Rumah 'mewah'
Sejak awal tahun, time line fesbuk bersliweran status kenaikan tarif listrik. Sebenarnya sih, pencabutan subsidi daya listrik 900 watt. Sebagian besar bernada prihatin, mengeluh dan sebagian ada juga yang berstatus tetap bersyukur disertai doa untuk kelancaran rejeki. Tidak ada yang benar-benar bergembira. Ya iyalah, subsidi listrik dicabut, biaya listrik naik hingga 2x lipat.

Saya sendiri pemakai listrik bersubsidi 900 watt prabayar, jadi ya merasakan juga dampak pencabutan subsidi yang dilakukan bertahap. Sebelum kenaikan tarif listrik, setiap membeli pulsa 100 ribu, saya mendapatkan 155 kWh. Dua bulan kemudian tarif listrik naik, setiap membeli pulsa 100 ribu, saya hanya mendapat 115 kWh. Dua bulan berikutnya, hanya dapat 88 kWh. Terakhir, saya inisiatif beli pulsa 200 ribu, sebelum subsidinya dicabut lebih banyak lagi..hihihi.

Kalau bagi saya pribadi, ada hikmah dibalik pencabutan subsidi listrik. Saya yang biasanya kurang perhatian dengan pemakaian listrik bulanan, mulai cermat menggunakan listrik. Setiap berangkat kerja saya melirik meteran listrik. Saat pulang kerja saya juga sering melirik meteran. Kalau angka di meteran berkurang banyak saya jadi curiga. Jangan-jangan ada colokan yang lupa dicabut atau kran air yang lupa ditutup.

Hasil dari melirik itu, saya jadi tahu pemakaian listrik setiap bulannya, yaitu sekitar 100 kWh. Artinya tagihan listrik saya kalau subsidi dicabut masih dibawah 200 ribu. Sebenarnya ini cukup hemat dibanding beberapa teman yang peralatan elektroniknya hampir sama dengan yang ada di rumah saya, jumlah pemakaian listriknya hampir 400 ribu.

Peralatan elektronik apa saja sih yang ada di rumah saya? Sebenarnya standar dengan rumah lainnya. Lampu, televisi, kipas angin, setrika, kulkas, mesin cuci, sanyo, penghisap asap di dapur dan AC.

Hanya saja saya punya 4 langkah hemat listrik ala saya. Saya konsep dari awal membangun rumah hingga sekarang.



Pohon Talok di depan halaman rumah

LOKASI DAN DESAIN RUMAH

Langkah pertama mulai dari lokasi dan desain rumah. Lokasi dan desain rumah untuk hemat listrik? Iya lah, dengan lokasi dan desain yang tepat, kita bisa menghemat pemakaian listrik.

Dari awal membangun rumah, saya minta desain rumah yang banyak bukaan untuk ventilasi dan pencahayaan yang masuk. Teman kantor saya sampai berdecak lihat rumah saya. Bukan berdecak kagum sih, berdecak lihat jendela dan kaca di bagian belakang rumah, “kamu gak takut banyak jendela dan kaca begitu? Gak dikasih gorden? Ntar bisa melihat keluar. Kalau ada hantu di luar jendela gimana?” berondongnya.

Lokasi rumah saya juga masih banyak lahan yang kosong dan pepohonan di lingkungan sekitar. Sekitar 50 meter ada taman kota dengan pohon-pohon yang cukup besar. Jadilah rumah masih terasa adem.

Dengan lokasi dan desain seperti itu, saya bisa mengurangi pemakaian lampu dan AC. Lampu dinyalakan saat malam atau mendung yang pekat. AC saya pakai hanya saat tidur.

Abaikan barang-barang di belakang rumah

MEMILIH PERALATAN ELEKTRONIK

Pilihlah peralatan elektronik sesuai kebutuhan dan dengan daya yang kecil. Lampu saya pilih dengan watt yang kecil namun cukup terang. Untuk AC dan mesin cuci saya pilih yang wattnya kecil sehingga lebih hemat dan pas dengan daya listrik rumah. Sedangkan kulkas, saya pilih yang satu pintu dan berukuran kecil. Yah, dengan jumlah anggota yang cuma 4 orang, saya belum butuh kulkas yang besar. Apalagi saya jarang masak..hihihi.

Saya juga tidak menggunakan dispenser, karena jarang membutuhkan air panas. Air panas, biasanya digunakan pagi hari untuk campuran air mandi duo F, masak mau diambil dari dispenser. Memasak nasi juga tidak menggunakan rice cooker. Suami saya tidak suka nasi yang dipanaskan terus menerus. Jadilah saya ngetim nasi, yang akan saya panaskan setelah lewat 12 jam.

Kulkas 1 pintu lebih irit listrik

CABUT COLOKAN DAN MATIKAN PERALATAN ELEKTRONIK SAAT TIDAK DIGUNAKAN

Membiarkan lampu di teras rumah menyala padahal hari mulai terang. Tidak mematikan kran air saat tidak digunakan atau bak penampungan sudah penuh. Atau membiarkan tivi menyala padahal tidak ditonton adalah beberapa hal yang sering saya jumpai. Bagi saya itu pemborosan.

Rutinitas di rumah saya, antara jam 07.30 hingga jam 08.30 satu persatu mulai meninggalkan rumah. Pukul 16.00 satu persatu mulai memasuki rumah. Itulah salah satu hal yang menghemat penggunaan listrik. Untuk lebih menghemat pemakaian listrik, saya selalu memastikan bahwa semua lampu sudah dimatikan, colokan listrik sudah dicabut dan tak ada krain air yang masih terbuka.

Konon katanya, aliran listrik tetap akan mengalir, jika colokan peralatan elektronik tidak dicabut. Alat penghisap asap dan AC di rumah saya buat dengan colokan. Jadi sebelum menyalakan alat penghisap asap dan AC, saya terlebih dahulu harus memasukkan colokan. Usai penggunaan, colokan saya cabut. 

O, ya ada tips lagi dalam menyalakan AC. Saat menyalakan AC, jangan langsung ke temperatur rendah. Nyalakan dengan temperatur 30 atau 28. Setelah 15 menit hingga 30 menit baru turunkan suhu dengan bertahap. Pernah baca, kalau langsung dengan temperatur rendah akan menyedot listrik banyak.

Colokan AC di kamar


BATASI PENGGUNAAN LISTRIK

Mau menghemat listrik tanpa membatasi penggunaan listrik, non sense lah. Kecuali kalau menggunakan alat untuk memperlambat laju meteran listrik. Eh, sebenarnya itu alat sah apa gak sih? Diperbolehkan oleh PLN atau aturan? *serius nanya.

Saya sendiri menerapkan aturan, AC boleh dipakai saat tidur, terutama malam hari. Kalau siang hari di dalam kamar, ya cukup menyalakan kipas angin. Mesin cuci juga saya gunakan 2 hari sekali. Dengan jumlah anggota keluarga 4 orang, saya rasa tidak harus mencuci baju setiap hari.

Menyetrika baju juga hanya seminggu sekali. Sesuai dengan jadwal kedatangan ART di hari minggu hihihi. Saya juga menghindari menyetrika baju saat mau dipakai. Jadi baju yang saya gunakan, hanya yang sudah disetrika. Menyetrika baju hanya satu, membuat boros listrik.

Sebenarnya yang terpenting dari itu semua adalah mindset untuk menghemat penggunaan listrik. Kalau dari dalam sudah tertanam, maka kalau melihat listrik dihamburkan rasanya gemes. Perilaku pun otomotis akan terbiasa untuk menghemat listrik di setiap tempat. Contoh, saat di kantor atau pusat perbelanjaan melihat kran air mengalir saya langsung tergerak untuk menutup kran.

Bagi saya menghemat listrik, artinya membuka kesempatan untuk bersenang-senang dan menyenangkan orang lain. Lumayan kan, kalau setiap bulan hemat 200 ribu, dikalikan setahun sudah dapat 2,4 juta. 

Uang segitu, bisa buat belanja baju lebaran di Zalora. Ya, saya memang lagi suka belanja online. Gak perlu capek dan kepanasan. Tentunya saya cari yang pas dengan style dan ukuran tubuh. Tidak lupa yang diskonan hihihi. Sisanya kan bisa buat menyenangkan ibu saya.  Jadi hemat listrik bisa menyenangkan semua orang kan?

 

Senin, 29 Mei 2017

Buah, Menu Favorit Agar Tetap Sehat Selama Puasa

Bulan Ramadhan, seperti kaum muslim dan muslimah yang lain, saya sukacita menyambutnya. Alasanya hampir sama dengan yang lain. Bulan yang penuh berkah dan ampunan. Nilai pahala pun berkali lipat.

Bulan Ramadhan bagi saya wadah untuk membersihkan diri luar dan dalam, jiwa dan raga. Selama 11 bulan jiwa saya sudah lepas kontrol. Ibadah seadanya. Sekedar yang wajib. Sunnah pun tak seberapa.

Sholat tidak didirikan sehingga tak mampu menjaga tingkah laku sebagai isteri dan ibu yang mendidik duo bocah. Kadang saya bersikap lebih dominan terhadap suami. Dominan maksudnya sering memerintah suami untuk mengerjakan urusan rumah tangga.  Atau terlalu kritis, maksudnya ngeyel..hihihi.

Saat menghadapi tingkah laku duo F yang tidak sesuai keinginan, terkadang saya emosi. Hanya karena tidak menanggapi panggilan untuk mandi, suara meninggi, omelan pun keluar tak terkontrol. Melerai duo F yang sedang bertikai pun, tak lagi dengan suara lembut. Lebih sering mengancam pergi keluar rumah, karena kehabisan akal untuk berkompromi dengan mereka.

Banyak juga kegiatan menyia-nyiakan waktu *buka-buka medsos. Padahal waktulah yang paling berharga, tak dapat dikembalikan.

Raga juga sering tak dijaga. Olah raga sudah jelas jadi barang langka. Makanan pun sering tidak terkontrol. Semua yang diinginkan, langsung dilahap. Akibatnya, baju secara perlahan bertambah kecil, iya karena badanya bertambah lebar *sedih.

Makanya ketika ditantang Mbak Wati dan Mbak Diyanika, makanan favorit waktu puasa jelas makanan yang rendah lemak. Alami, tanpa diolah serta kaya vitamin. Apakah itu?

Buah Sebagai Makanan Favorit dan Pilihan

Pilihan dan favorit saya selama puasa adalah buah. Sebenarnya sejak lama saya ingin menjalani metode Food Combaining. Sayangnya tekad saya kurang kuat. Godaan di luar terlalu kuat buat saya. Gorengan yang tersedia di kantin belakang kantor. Jajanan kaya tepung, minyak, lemak dan serpihan debu di depan kantor. Atau menu jajanan dan makan siang teman kantor.

Makanya momen Ramadhan, saya manfaatkan untuk menangkal godaan itu. Pas bayar hutang puasa kemarin, saya rutin sahur dengan buah. Misal pisang, papaya atau salak. Berbuka pun diawali dengan air putih, buah dan dilanjut makan petis kangkung setelah maghrib. Lumayan lah ukuran perut agak mengecil.

Ramadhan ini pun, saya mencoba konsisten untuk sahur dengan buah.” Beneran Ma? Kamu sahur cuma buah saja. Gak makan nasi?” tanya suami saat melihat saya hanya makan buah.

Iyalah, saya menghindari makan nasi di waktu sahur. Ya, meskipun kadang saya masih nyomot gorengan 1 buah yang tersisa di piring. Atau nyemil sedikit keripik kentang *hihihi mulai tergoda.

Alasan Memilih Buah

Buah juga saya pilih karena kandungan yang baik untuk tubuh. Bahkan saat berbuka, kita disarankan untuk berbuka dengan yang manis. Maksudnya buah manis bukan teh manis. Biasanya saya berbuka dengan buah kurma terlebih dahulu. Kalaupun tergoda dengan teh untuk suami, biasanya saya minum selepas maghrib.

Setelah menjadi ibu, keselamatan dan kesehatan adalah yang utama bagi saya. Saya harus ada dan sehat untuk duo F. Di umur yang cantik, saya sudah harus mengontrol asupan dalam tubuh saya. Kolak, gorengan, rendang dan makanan lain sudah harus dikurangi.

Selain itu, alasan lain karena ribet mengolahnya hahaha. Kalau dulu tinggal pesan sama Ibu, sekarang ya saya yang membuatnya. Apalagi saya harus pintar mengatur waktu, bekerja dan mengurus rumah. Yang sudah-sudah karena gak punya waktu dan tenaga buat masak, akhirnya bahan makanan terbuang. Duh bulan Ramadhan buang-buang makanan.

Mudah-mudahan, Ramadhan tahun ini, jiwa dan raga saya bisa bersih. Bonus berat badan bisa berkurang dan baju kembali longgar hahaha. Jadi, menu favorit teman-teman selama bulan Ramadhan apa?

Blog Design by Handdriati