Senin, 09 April 2018

LOMBOK, ROMANSA REMAJA


Asri mengangkat mukanya. Tepat pada saat Segara menoleh ke arahnya. Dua pasang mata bertemu dalam bentrokan diam-diam yang menyakitkan.

Tidak ada kemarahan di dalam mata Segara. Tidak ada kebencian. Tapi di mata itu, Asri melihat ada rasa sakit yang amat sangat. Dan dia ikut merasa nyeri sampai mengeluarkan air mata.

Itulah 2 alenia dari novel Segurat Bianglala di Pantai Sengigi. Novel Mira W yang yang saya pinjam dari perpustakaan SMA. Seperti remaja lain, saya pun mau tak mau jatuh cinta. Jatuh cinta dengan sosok Segara. Lelaki Sasak yang gagah dan menjadi pemandu di gunung Rinjani.

Cerita ini terus melekat dalam ingatan. Lombok dan Rinjani menjadi tempat yang ingin saya kunjungi. Yah, siapa tahu bertemu Segara nyata di sana..hihihi.

Hingga sekarang saya belum berhasil menginjakkan kaki di Lombok. Paling banter sampai Bali. Agak menyesal juga, dulu tidak bersikeras atau nekat mengunjungi Lombok. Mungkin dengan kenekatan, hati Papa akan luluh mengabulkan keinginan saya menyebrang pulau Bali menuju Lombok.

Makanya saat arisan blog Gandjel Rel periode 21 dimenangkan Mbak Mara Solehah dan Mbak Erina Julia, saya kemudian teringat dengan romansa remaja. Destinasi impian di Indonesia mengunjungi Rinjani dan Lombok, sambil membayangkan Segara, eh sambil membayangkan keindahan alam yang dituliskan Mira W.

Rinjani Yang Elok

Salah satu gunung impian saya adalah Rinjani *belagu. Padahal, saya belum pernah mendaki gungung lain. Paling banter ke Puncak 29 di Rahtawu Kudus atau jalan di pagi buta ke kawah Bromo, itupun dengan pakaian tebal dan badan yang kaku kedinginan.

Tapi gegara Mira W, saya jadi mimpi mengunjungi Rinjani. Entah membutuhkan waktu beberapa hari untuk sampai ke sana. Yang pasti karena kebanyakan istirahat, maklum sudah turun mesin 2x *alasan.

Berdasarkan googling, gunung Rinjani memiliki panorama yang paling bagus diantara gunung-gunung lainnya di Indonesia. Gunung ini termasuk gunung berapi yang merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Rinjani.

Pesona dari Rinjani, salah satunya adalah Danau Segara Anak. Tempatnya yang datar memungkinkan kita untuk berkemah. Danau juga merupakan habitat beberapa jenis ikan, sehingga kita dapat memancing. Tak jauh dari danau ada pemadian air panas.

Saat perjalanan mendaki, kita juga akan melewati padang savana, duh kayak di film-film net geo. Hamparan savana yang luas tanpa pohon, tempat berteduh dan pastinya haus banget ya *dasar onta.

Selain savana, masih ada goa-goa dan air terjun yang bisa dinikmati. Berasa paket komplit kan. Mungkin untuk menikmati Rinjani saja butuh waktu seminggu, apalagi buat orang yang amatiran dan sudah mulai uzur macam saya.

Pantai-Pantai di Lombok

Meski terinspirasi novel Mira W yang mengangkat pantai Senggigi, tapi saya tahu, kalau masih banyak pantai indah di Lombok. Sebutlah Gili Trawangan, Pantai Kuta Lombok, Pantai Tangsih, Pantai Gili Meno, Pantai Selong Belanak, Pantai Tanjung Bloam dan masih banyak lainnya. Berdasarkan cerita teman, pantai-pantai di Lombok jauh lebih indah dibanding pantai di Jawa atau Bali.

Airnya jernih dengan hamparan pasir dan menjadi tempat kumpulan biota laut. Kegiatan snorkeling pun bisa dilakukan. Yah, saya kan gak bisa menyelam.

Satu lagi, tidak ketinggalan cinderamata khas Lombok. Bukan buat oleh-oleh sih, karena sesungguhnya meminta oleh-oleh memberatkan para wisatawan..hahaha. Cinderamata khas Lombok ini, menarik banget. Perhiasan mutiara dan tenun khas Lombok kan kesukaan para wanita. Madu dan dodol rumput laut jelas kesukaan duo F. Nah untuk para lelaki yang cocok ya susu kuda liar dan obat gosok..hahaha..

Semoga terwujud destinasi romansa remaja ini di usia matang. Sedikit telat, tapi tak apa-apalah, bisa jadi perjalanan bulan madu untuk kesekian kali. Padahal yang pertama cuma bulan madu di Rembang..duh.

Sabtu, 24 Februari 2018

Wisata Edukasi Terbaik di Pangandaran


Meski tergolong kawasan pesisir, nyatanya pesona wisata Pangandaran tidak hanya sebatas wisata pantai. Lebih dari itu, kabupaten ini juga menawarkan jenis wisata lain, salah satunya adalah wisata edukasi. Wisata edukasi ini sendiri merupakan spot wisata yang penting untuk dikunjungi, karena tidak hanya mampu menyegarkan pikiran tetapi juga bisa menambah wawasan dan pengetahuan.



(sumber : gazaxxx.blogspot.com)
Nah, berikut beberapa tempat wisata edukasi di Pangandaran yang tak boleh Anda lewatkan.

Taman Nasional Cagar Alam Pangandaran

Salah satu destinasi wisata yang mampu menyajikan nilai edukatif adalah Taman Nasional Cagar Alam Pangandaran. Di tempat ini, Anda tidak hanya bisa menikmati pemandangan alam Pangandaran yang asri, tetapi juga sekaligus bisa belajar tentang seluk beluk dunia hewan dan tumbuhan.

Anda akan dikenalkan dengan beberapa jenis fauna, seperti trenggiling, lutung, landak, kancil, dan lain sebagainya. Bahkan, Anda pun diperbolehkan untuk mengabadikan momen bersama hewan-hewan menarik nan lucu tersebut. Namun, perlu diperhatikan adanya imbauan untuk menghindari perlakuan yang bisa membuat hewan-hewan tersebut agresif, terganggu, atau bahkan marah.

Tak hanya itu, Anda juga bisa mengunjungi pusat konservasi biota laut dengan hamparan terumbu karang dan binatang-binatang laut lainnya. Tentunya, di sini Anda akan diajak untuk mengetahui lebih jauh tentang cara pelestarian terumbu karang, serta cara menjaga lingkungan laut yang benar.

Tak berhenti di situ, Anda pun bisa menikmati mahakarya Tuhan berupa gua-gua dan cekungan yang terbentuk secara alami. Terdapat pula gua peninggalan Jepang sejak terjadinya perang dunia ke-II yang sangat bersejarah. Karena masyarakat setempat sering kali menjadikannya sebagai tempat ritual, alhasil gua ini kemudian terkenal sebagai gua keramat.

Jadi, dengan mengunjungi tempat wisata ini, dijamin akan banyak pengetahuan yang bisa Anda dapatkan.

Museum Nyamuk

Objek wisata ilmiah yang juga tak boleh dilewatkan adalah Museum Nyamuk. Terlebih, museum yang berada di Desa Babakan-Pangandaran ini merupakan museum nyamuk pertama sekaligus satu-satunya di Indonesia.

Di museum unik ini, Anda akan dikenalkan dengan berbagai jenis nyamuk, dampak yang bisa diakibatkan oleh nyamuk, serta obat penangkal nyamuk alami. Terdapat kurang lebih 74 spesies nyamuk yang bisa Anda pelajari di museum ini. Anda bahkan bisa mempelajarinya secara audio visual melalui 'teater nyamuk' yang telah disiapkan. Teater ini layaknya bioskop dengan layar berukuran 9 x 18 meter, dan berkapasitas 120 tempat duduk. Ruang Cinema ini akan menyajikan tontonan edukatif berupa film animasi dan film dokumenter yang berkenaan dengan dunia nyamuk.

Tak hanya itu, Anda pun bisa menyaksikan koleksi beberapa serangga (insecta), seperti kumbang, capung, kupu-kupu, dan lainnya. Beragam tanaman obat pengusir nyamuk seperti sambiloto, juga bisa Anda pelajari mulai dari wujud asli hingga cara pengolahan. Terakhir, Anda juga bisa membeli suvenir atau oleh-oleh khas Museum Nyamuk.

Bagaimana? Tertarik untuk berekreasi sambil belajar di Pangandaran? Jika ya, yuk segera urus akomodasi perjalanan dan penginapan.

Agar bujet lebih hemat, Anda bisa menyiasatinya dengan mencari hotel murah di Pangandaran. Salah satu yang direkomendasikan adalah jaringan hotel Airy Rooms. Sebuah jaringan hotel murah yang telah tersebar di kota-kota besar se-Indonesia.

Meski murah, hotel ini tetap menjamin ketersediaan fasilitas dan layanan terbaik di kelasnya. Dijamin, Anda akan mendapatkan kamar tidur yang bersih serta kamar mandi yang lengkap dengan pancuran air hangat dan perlengkapan mandi. Fasilitas pendukung kenyamanan seperti AC, TV LCD, dan Wi-fi gratis juga dipastikan ada di setiap kamar.

Kelebihan lain, Airy Rooms juga sangat fleksibel dalam hal pemesanan dan pembayaran. Untuk pemesanan, bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja melalui situs resmi atau aplikasi Airy Rooms. Untuk pembayaran, bisa dilakukan dengan cara transfer antarbank atau dengan menggunakan kartu kredit.

Bagaimana? Yuk, segera booking dan berlibur di Pangandaran!




Selasa, 13 Februari 2018

LEBIH SEHAT DI TAHUN 2018, MESKI TAK MUDAH



Mens Sana In Corpero Sano

Siapa sih yang gak ingat dengan kalimat itu?. Anak kelahiran 80an pasti hafal. Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Kalimat yang sering didengungkan dalam pelajaran Penjaskes, Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Meskipun seingat saya, dalam materi pelajaran jarang sekali menyoal kesehatan jiwa.

Sepanjang pelajaran, isinya ya olahraga di lapangan. Mulai lari keliling lapangan, pemanasan hingga bermain voli, basket, lempar jauh, lompat jauh dan sebagainya. Kalau hujan, berarti isinya teori mengenai Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Gak pernah diajak piknik, jalan-jalan nonton bioskop yang bertujuan agar jiwanya sehat setelah lelah menerima pelajaran selama 5 hari*ngarep.

Padahal ya antara raga dan jiwa itu kaitannya erat sekali. Kalau tubuh sakit, tentunya mood juga jadi turun, dan membuat kita malas untuk bergerak. Sebaliknya kalau jiwanya sakit, tentunya raganya ikut sakit juga. Habis dimarahin bos, berantem dengan pasangan atau emosi karena menghadapi anak yang tantrum. Semuanya menguras tenaga dan sering membuat tenaga menghilang tanpa jejak.

Mungkin sih, memang penekanannya adalah tubuh yang sehat untuk jiwa yang sehat. Bukan sebaliknya. Mungkin juga maksudnya dengan sering beraktivitas di luar ruangan, hati pun menjadi riang. Sayangnya buat anak dengan tubuh mungil seperti saya, ini bagai berada di persimpangan.

Pelajaran Penjaskes sebagai sebuah kesempatan bermain di luar ruangan, tapi kalau aktifitasnya bermain bola voli atau basket, saya nyesek. Main voli, tangan saya gak kuat sakit terkena bola voli. Bisa nampol sekali dua kali saja sudah prestasi dan diberi applaus. Mau servis? Wis ngalamat gak bisa nembus net. Bola basket bisa drible, tapi masukkan bola ke gawang beneran sepertinya hanya bisa sekali atau dua kali. Itu pun karena gak ada musuh..Lah badan gak sampai 1,5 m begini.

Namun seiring bertambahnya umur, saya jadi sadar pentingnya olah raga. Saat kuliah, seminggu sekali saya usahakan olah raga. Kalau tidak berenang ya senam dan fitnes. Sesekali olah raga di rumah, sekedar angkat barbel atau push up dan sit up.

Sayangnya sejak hamil hingga saat ini, frekuensi olah raga bisa dihitung jari. Renang? Paling bisa dilakukan hanya 1-2 putaran saat menemani anak-anak bermain air. Maklumlah, anak balita masih butuh pendampingan. Yoga sempat dilakukan insentif selama 2 bulan, sayangnya instrukturnya hamil, jadi bubar. Mau ‘ngebun’ dilalah hujan atau anak malah ngajak ke car free day. Naik sepeda, malah tugasnya dorong sepeda Fattah. Kalau bahasa jawanya, “wes, ono wae”.

Saat menyusui, berat badan gak jadi masalah. Makan sebanyak apa pun gak jadi daging. Setelah sukses menyapih Fattah, perlahan berat badan merangkak naik dan gak mau turun. Padahal makan tak sebanyak dulu *Ih gemes.

Menyusul kemudian kondisi badan mulai sering nge drop. Seluruh badan terasa pegal. Mulai sering flu dan cepat lelah. Lalu bertambah dengan beberapa berita tentang teman-teman yang jatuh sakit. Ah, mungkin itu sudah takdir. Ya, tapi kita kan tidak pernah takdir itu.

Makanya, di tahun 2018 resolusi saya lebih sehat. Dan itu gak mudah. Beneran gak mudah.

1. Sepeda Statis

Akhir tahun 2017, mantan menawari hadiah. Hadiah akhir tahun? Gak juga sih, kebetulan suami lagi ada rejeki di akhir tahun. Hadiah yang ditawarkan sepeda, biar sepasang dengan sepedanya yang lebih sering nongkrong di belakang rumah..hahaha.

Karena saya merasa, naik sepeda hal mustahil di saat ini. Saat saya masih lebih banyak mendorong sepeda Fattah dan berakhir menggendong. Saat musim yang tidak bisa diprediksi. Hujan pun masih bisa datang di musim kemarau.

Makanya saya menampik tawarannya dan minta diganti sepeda statis. Jadi tidak hanya berguna buat saya, bisa dipakai orang serumah bahkan saudara yang datang..hahaha.

Meski sekali lagi, sehat itu gak mudah. Hingga sekarang sepeda lebih banyak nganggurnya..hahaha. Iya lah, melihat lantai belum disapu, barang bertebaran di berbagai ruangan dan dapur perlu didatangi. Tentunya sepeda statis merupakan tempat persinggahan terakhir.

2. Group Yoga

Akhir tahun kemarin, status teman menawarkan kelas yoga untuk hamil dan umum. Wah pucuk dicinta ulam tiba. Setelah dihubungi ternyata harganya cucok. Gak sampai separuh harga dari group sebelah. Tak memakan waktu lama, banyak yang tertarik dan membuat 1 group.

Usai dapat no WA pelatihnya, yang ternyata isteri teman saya sendiri. Kami janjian awal tahun baru untuk mulai kelasnya. Sekali lagi, sehat itu gak mudah. Mundurlah jadwal kelas yang sudah disepakati. Adalah yang rapat kerja fakultas, monitoring AMI hingga alasan yang sangat absurd. Lupa sama sekali kalau hari itu jadwal yoga.

Alhasil, bubarlah kelas yoga yang belum kami mulai. Yah daripada gak komit, mending kami minta maaf dengan pelatihnya dan membubarkan kelas sebagai bentuk tanggungjawab yang tak bertanggungjawab.

3. Sarapan buah

Sejak awal, saat Fatih sudah mulai makan, saya selalu sedia cemilan buah. Sejak punya rumah sendiri. Pagi sudah ada buah yang tersaji. Niatnya sih sarapan cukup buah. Tapi saya belum istiqomah dengan sarapan buah. Lihat nasi yang gak habis, merasa mubazir.

Paling gak sih, pagi sudah melahap buah meski nasinya tetap masuk juga..hahaha. Atau pagi sudah minum air jeruk nipis.

Sungguh upaya saya untuk lebih sehat di tahun 2018 gak mudah Mbak Lestari. Sama dengan tidak mudahnya melunasi Arisan Blog Gandjel Rel 20 dengan tema Resolusi 2018. Meski alasannya jelas absurd..hahaha.

Senin, 08 Januari 2018

KALEIDOSKOP 2017 : ALHAMDULILLAH HIDUP BIASA-BIASA SAJA

Menurut ilmu psikologi, kepribadian itu dapat dirubah, namun watak susah berubah. Nah, kalau quote better to late than never yang sepertinya sudah mendarah daging ini termasuk kepribadian atau watak ya? Hahaha..Sepertinya termasuk kebiasaan.

Akhir tahun kemarin, tema arisan blog Gandjel Rel periode 19 sudah digulirkan. Lagi-lagi baru sekarang saya menuliskan. Mikirnya sih sudah lama. Tiap kali ada ting..ting notif dari WA kepikiran..huahaha.

Mbak Tanti dan Mbak Nuzha memilih tema Kaleidoskop 2017 atau Peristiwa Paling Berkesan di tahun 2017. Pas banget waktunya. Sayang hingga hari ini saya belum menemukan peristiwa yang berkesan, apalagi paling.

HIDUP KOK FLAT?

Dulu, jaman masih lajang. Saya sering merasa bosan. “Duh, jenuh ya. Gak ada hal luar biasa yang terjadi. Kok gini-gini saja. Hidup kok flat?”. Kurang lebih seperti itulah kalimat yang bernada keluhan.

“Hush, gak boleh bilang seperti itu. Kalau tiba-tiba diberi sakit atau ujian yang luar biasa gimana? Harusnya bersyukur karena semua berjalan biasa saja” nasihat seorang rekan kerja yang sudah lebih banyak makan asam garam.

Rekan kerja saya memang sudah berkeluarga dan memiliki 2 anak. Anak no 2 tubuhnya pernah tersiram air panas dan rawat inap di rumah sakit. Si sulung juga pernah rawat inap di rumah sakit. Semua itu kejadian luar biasa kan. Hidupnya gak flat, tapi jungkir balik.

KURANG BERSYUKUR ATAU IRI?

Nah kalau disuruh memilih hidup biasa saja atau mengalami peristiwa yang berkesan tapi berupa cobaan, situ pilih mana? Sudut pandang saya langsung berubah. Iya yah, jangan-jangan malah kurang bersyukur dengan perjalanan hidup yang nyaris lancar. Iya kalau anak rewel, sakit flu, berantem kan sudah keseharian yang dialami semua keluarga. Sesekali tidak sepaham dengan suami atau mendelik gegara godain anak, juga semua pernah mengalami.

Atau mungkin gegara lihat timeline medsos teman yang bertabur kebahagiaan dan kesenangan. Jalan-jalan hingga luar negeri, menang lomba blog atau pencapaian tertentu yang membuat iri terkadang terpecik. Yah, tapi kita kan tidak tahu perjuangan dibalik itu. Menyisihkan uang atau menabung bertahun-tahun. Bekerja hingga lembur demi mempelajari hal baru dan menyelesaikan pekerjaan.

ALHAMDULILLAH HIDUP BERJALAN BIASA SAJA
Yah, meskipun di tahun ini tidak ada pencapaian yang luar biasa, alhamdulillah hidup berjalan dengan biasa dan lancar saja. Hal-hal yang terkesan biasa namun patut saya syukuri ternyata banyak. Hanya terkadang gajah di pelupuk mata tak nampak, sedang semut di seberang lautan terlihat. Atau mungkin rumput tetangga terlihat lebih hijau *pribahasa yang mainstraim.

Apa saja hal yang terkesan biasa namun merupakan rahmat yang luar biasa? *sudah semacam mama atau istri sholehah

1. Duo F yang Cukup Sehat

Setengah nyawa seorang Ibu ada bersama anaknya. Ketika anak sakit, tubuh Ibu pun akan terasa sakit. Sepanjang tahun 2017, alhamdulillah duo F tidak mengalami gangguan kesehatan yang berarti. Flu, demam merupakan hal biasa yang dialami anak. Begitu juga duo F. Beberapa kali mereka mengalaminya di tahun ini. Bahkan menjelang Idul Adha, Fatih terkena campak, disusul oleh Fattah setelah Idul Adha. Fattah masih berkutat dengan gatal-gatal di kulit, sementara Fatih beberapa kali mengeluh sakit perut dan kakinya sakit.

Di akhir tahun, alhamdulillah Fatih sudah melalui satu proses kehidupan yaitu khitan. Proses dan pemulihan khitan tidak ada kendala yang berarti. Kami memang tidak mengadakan acara khitan. Selesai khitan, hanya membagikan roti kepada tetangga dan teman kantor. Itu pun tidak disertai informasi khitan kepada tetangga.

2. Suami yang Mendukung

Suami saya bukan tipe romantis yang kerap menunjukkan kemesraan terutama di depan publik, lah wong saya juga jarang. Sesekali sih pernah upload di medsos. Alasannya karena profesinya sebagai wartawan. Loh?

Di tengah maraknya berita pernikahan yang kurang sedap, hubungan yang terkesan biasa ini, patut saya syukuri dengan luar biasa.

Apalagi di tahun 2017, saya merasakan dukungan dan kepercayaan suami yang semakin besar. Suami sangat mendukung aktifitas saya sebagai ibu, pekerja kantor, blogger dan buzzer. Dukungan itu diberikan dengan memberi saya kesempatan untuk beraktifitas.

Di rumah, suami mau berbagi tugas rumah tangga. Tidak mengeluh saat saya tidak sempat memasak. Mau membelikan makan buat orang rumah. Saat ada undangan blogger di luar kota bersedia mengantarkan. Atau menjaga dan mendampingi anak-anak saat saya harus bertugas di luar kota.

3. Dapat Menabung

Meski gaji pas-pasan dan tidak pernah menang hadiah, alhamdulillah di tahun 2017 hingga sekarang saya masih dapat menabung. Akhir tahun 2016 saya membuka tabungan haji. Berharap akhir tahun 2017 sudah bisa daftar haji. Sayangnya harapan belum kesampaian, masih harus menabung lagi.

Alhamdulillah, yang penting hingga sekarang masih mampu menyisihkan dana untuk tabungan haji. Kata suami, “berhaji kan bagi yang mampu. Kalau mampunya masih menanbung ya gak apa-apa. Udah dapat pahala” huahahaha. Semoga hajatnya dapat segera terlaksana. Aamiin.

4. Job Menulis Berkah Komunitas

Zuzur, semangat menulis saya sedang kembang kempis. Itulah salah satu alasan ikut arisan blog, biar ada yang memaksa. Alhamdulillah, saya masih dapat job menulis. Gabung di komunitas blog, membawa berkah yang luar biasa. Meski kebanyakan sebagai silent reader. Sesekali komen, kalau ada butuhnya hahaha.

Mudah-mudahan di tahun 2018, semuanya berjalan lancar. Kalau pun ada yang luar biasa, semoga itu prestasi atau pencapaian hasil kerja keras. Aamiin.









Blog Design by Handdriati