Jumat, 17 Oktober 2014

CURHAT MAMA UNTUK PLN

Tak terasa Nak, usia kandungan mama menginjak bulan ke 9, InsyaALLAH perkiraan hari lahirmu bulan depan. Rasanya perut mama sudah sering kencang dan nyeri di bagian bawah perut. Dokter bilang sih, kepalamu sudah berada di jalan lahir. Mudah-mudahan kali ini mama bisa melahirkanmu dengan normal.



Masih teringat kenangan melahirkan pertama kali masmu, Fatih. Tidak disangka, maju 3 minggu lebih dari HPL, padahal sore hari mama masih naik motor pulang dari kantor dan keesokan harinya ada permintaan pelatihan dari sebuah perusahaan. Memang bukan mama yang menjadi narasumber, tapi mama panitianya. Secepat kilat saat akan berangkat ke rumah sakit, mama mendelegasikan tugas kepanitiaan kepada asisten.

Akhirnya mas Fatih lahir melalui operasi sesar, karena kondisi sungsang sementara air ketuban juga sudah pecah. Alhamdulillah semua berjalan lancar, meski Mama sempat meracau di kala operasi..hihihi. Maklum mama kan sensitive terhadap obat bius dan saat memasuki ruang operasi kecemasan memuncak, dokternya tidak menjalin rapport dulu dengan mama sih *sok psikologis banget ya Nak.

Ingat operasi, mama jadi ingat ucapan salah satu guru besar Fakultas Psikologi UGM Prof. Djamaludin Ancok, Ph. D di Seminar Nasional tahun 2013. Waktu itu Prof. Ancok mempresentasikan makalah dengan judul “Membangun Budaya Organisasi Yang Hidup”. Isi dari presentasinya bercerita tentang beberapa pegawai PLN yang ditanyakan tentang nilainya sebagai pegawai PLN. Jawaban dari beberapa pegawai sebagai tukang hidup matikan sakelar listrik.

Wow, Prof. Ancok langsung berkomentar. Kok kesannya nilai sebagai pegawai PLN terlalu rendah. Padahal tanpa listrik, kehidupan sulit berjalan. Misalnya, saat sedang naik lift dan ternyata listrik mati, maka orang yang berada di lift kan bisa terjebak. Lebih parah lagi, saat sedang operasi kemudian listrik mati, otomatis operasi terhambat dan taruhannya nyawa. Kesimpulannya menjadi pegawai PLN itu merupakan pekerjaan mulia, karena menyangkut hajat hidup banyak orang.

Mama kemudian manggut-manggut sambil tertawa, habis Prof. Ancok menceritakannya dengan gaya yang lucu. Jadi ngakak habis mendengarkan presentasinya. Ucapannya benar-benar mengena bahwa listrik itu merupakan kebutuhan yang hampir seperti udara. Tanpa listrik bisa mati gaya dan bikin jantung berhenti berdetak. Beneran kan kalau orang yang sudah bergantung dengan alat jantung, begitu listrik tidak ada bikin detak jantung juga tidak ada *omongan serius.

Mama teringat Nak, bagaimana dag dig dug hati mama kalau mendengar listrik di rumah padam. Kalau listrik di kantor padam mama kan bisa cari kegiatan lain dengan teman kantor, misalnya gosip #eh. Meski mama bekerja, namun merupakan kewajiban untuk tetap memberikan asi untuk masmu dan untukmu nantinya selama 6 bulan ekslusif dan dilanjutkan hingga 2 tahun.  Nah, lagi-lagi mama sangat membutuhkan listrik untuk menjaga asi perah yang sudah mama simpan di kulkas. Lah, kalau listriknya mati, kulkasnya ikut mati, bagaimana nasib makananmu kelak? Menangis darah mama membuang asi perah yang tidak layak karena kulkas mati. Terbayang harus memerah lagi dan kebut-kebutan dengan kebutuhan asimu.


Setelah 6 bulan asi ekslusif, mama masih membutuhkan kulkas untuk melanjutkan asi hingga 2 tahun ditambah untuk mpasi rumahanmu. Ingat dulu, masak sebelum subuh menyiapkan mpasi mas Fatih, disimpan di dalam kulkas, kemudian dihangatkan sebelum diberikan.

Intinya mama dan kamu benar-benar membutuhkan listrik untuk menyala terus. Padahal kenyataannya sering ada pemadaman bergilir. Mama jadi galau Nak, harus ke mana mengadu hiks. Eh, pas lagi mikir soal pemadaman bergilir, mama lihat ada lomba blog yang diselenggarakan PT PLN (Persero) dan BLOGdetik dengan tema ideku untuk PLN dalam rangka Hari Listrik Nasional ke – 69. Kebetulan Nak, mama bisa curhat sekaligus kasih ide untuk PLN agar pemberian ASI perah dan MPASImu berjalan lancar.

Sebelumnya mama sempat browsing dulu, mencari tahu kenapa harus ada pemadaman bergilir. Mama lakukan itu agar bisa memberikan ide buat PLN. Hasil browsing, cukup mencengangkan dan membuat mama manggut-manggut memahami mengapa ada pemadaman bergilir. Tapi tentu saja, listrik sangat vital dan harapannya tetap terus menyala. Jadi inilah ide mama buat PLN :

1.       PLN perlu melakukan sosialisasi yang lebih intensif dan jelas tentang penghematan pemakaian listrik

Mama dulu berfikir, kalau perusahaan yang memproduksi suatu barang tentu lebih suka kalau produknya laku keras di pasaran dan banyak pembelinya, kok ini PLN harus melakukan sosialisasi penghematan pemakaian listrik?.

Ternyata oh ternyata selama ini listrik kita disubsidi Nak, apa yang kita bayarkan, harganya masih di bawah harga produksi, kekurangannya disubsidi pemerintah. Selain itu kebutuhan akan listrik meningkat dibanding ketersediaannya. Nah kalau kita bisa menghemat pemakaian listrik maka akan lebih murah daripada membangkitkannya.

Oleh karena itu, PLN perlu menjelaskan mengapa perlu dilakukan pengehematan listrik Nak. Perlu juga dijelaskan cara-cara pengehematan listrik, mulai dari bentuk bangunan dan penggunaan alat elektronik hemat listrik.

Dapur kantor sudah cukup terang, matikan lampu ah.

2.       Memberlakukan harga listrik yang berbeda di waktu yang berbeda.

Ini hampir seperti biaya telepon Nak. Kalau kita menggunakan telepon di pagi hari sebelum jam 6 biayanya lebih murah dibandingkan siang hari. Hal ini diberlakukan karena biasanya ada beban puncak dimana setiap orang menggunakan listrik di waktu yang sama dan di waktu lainnya pembangkit dan transmisi lainnya menganggur. Pemberlakuan harga yang berbeda akan mendorong pelanggan menggunakan listrik di waktu yang lain dimana harga yang dikenakan lebih murah, sehingga beban bisa merata.

3.       Memberikan reward kepada pelanggan yang melakukan penghematan

Siapa sih Nak yang tidak senang dengan hadiah. Mama yang sudah berumur aja senang kalau dapat hadiah dan gratis pula hihihi. Biasanya kalau pelanggan telat kan kena denda, ini untuk memaksa pelanggan membayar tepat waktu. Demikian juga sebaliknya, kalau bisa menggunakan listrik dengan hemat pelanggan akan mendapatkan hadiah. Tentunya ini akan mendorong pelanggan untuk berhemat. Hadiah bisa bermacam-macam, mulai dari yang kecil hingga besar, misal mobil atau rumah hihihi.

4.       Mandiri energi listrik dengan mencari sumber energi yang lain

Selama ini kebanyakan pembangkit listrik menggunakan batu bara Nak. Padahal tidak semua daerah memiliki batu bara. Kebutuhan batu bara ini kemudian didatangkan dari daerah lain. Tentu ongkosnya menjadi lebih besar. Apalagi batu bara kan sumber energi yang bisa habis di suatu waktu. Bila setiap daerah memiliki pembangkit listrik yang disesuaikan dengan kondisi daerah, maka penghematan biaya produksi bisa dilakukan.


Semoga curhatan mama ini, memberi masukan buat PLN agar dapat meningkatkan pelayanan kepada pelanggan dan akhirnya listrik terus menyala dan mama tidak galau lagi memikirkan nasib asi perah dan MPASImu ya Nak.

Daftar Pustaka :
http://konversi.wordpress.com/2009/11/18/kelistrikan-nasional-masalah-dan-solusinya/

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog #ideKUUntukPLN


11 komentar:

  1. moga2 lahirannya lancar ya mbak.... :)

    BalasHapus
  2. waktu masih kerja, sering banget listrik mati mendadak... lgsg kabur sama yg lain ke gramedia terdekat hihihi... tp pas udah jd irt, duh listrik mati tuh nyebelin banget :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kadang juga suka kabur Mbak, cuma ga ditulis..hihihi

      Hapus
  3. emang enak kalo mati lampu dikantor bisa kabur dulu wkwkwkwk

    BalasHapus
  4. pln memang ok
    semoga memang teman

    http://Ahmad12345.sharethisstory.net/id-408410-1490

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas kunjungannya mas :)

      Hapus
  5. Selamat ya mak Rizka menang lomba blog PLN tu lumayan hihi

    BalasHapus
  6. Selamat juga mak Susan, sama2 pemenang bontot..hihihi. Tp sepertinya hadiahnya bakal lama yak

    BalasHapus

Terima kasih sudah mengunjungi blog ini. Saya senang menerima komentar yang baik dan membangun. Harap tidak meninggalkan link hidup.

Blog Design by Handdriati