Jumat, 06 Februari 2015

3 CARA UNTUK MENIKMATI HIDUP

Jaman kuliah, usai outbound
Sore hari, di ruang praktek dokter umum yang berlokasi dekat dengan sebuah perguruan tinggi.

“Maksud dokter saya psikosomatis?” tanya saya setengah menahan keinginan teriak.

“Iya, kalau dicek secara jasmani, tidak ditemukan penyakit apapun, kemungkinan besar mentalnya yang sedang sakit. Mungkin karena banyak pikiran, stress dan badannya jadi sakit”, jelas dokter umum yang masih cukup muda itu.

“Iya, saya paham maksud dokter. Tapi saya tidak sedang stress Dok. Iya kalau pernah punya masalah pun ya masalah biasa, tidak terlalu saya pikirkan” elak saya lagi.

“Coba mbak ingat-ingat. Pernah mimpi tentang aktifitas sehari-hari gak? Merasa dikejar waktu, selalu memikirkan hari esok, apa ya yang ingin besok saya lakukan. Akhirnya tidak bisa menikmati hidup. Hidup itu jangan terlalu berlebihan mengejar yang esok. Nikmati dan jalani saja yang ada hari ini” nasihat dokter sambil melihat muka saya yang tidak percaya.

Kira-kira seperti itulah sepenggal dialog saya dan dokter muda tempat biasa saya berobat bila tubuh dirasa tidak nyaman.

Saat itu saya benar-benar menolak diagnosa dokter. Bagaimana mungkin, saya seorang mahasiswa psikologi calon sarjana psikologi didiagnosa PSIKOSOMATIS.

Saya berkonsultasi ke dokter, karena tubuh sering lemas tanpa mengenal tempat dan waktu. Saat berada di kampus, saya tiba-tiba lemas dan pingsan. Saat di jalan, saya merasa oksigen mendadak hilang dan nafas menjadi pendek. Bahkan saya nyaris pingsan usai nobar dengan teman dan kakak senior.

Meski saya menolak dengan keras diagnose tersebut, malamnya saya mimpi tentang kejadian sehari-hari. Bangun tidur, badan tidak segar justru merasa sangat lelah. Saya kemudian merenung dan berpikir lebih jauh ke dalam,”ucapan dokter mungkin ada benarnya”.

Semasa kuliah S1, kegiatan saya memang banyak, mulai dari kuliah, organisasi kampus, asisten pratikum, pelatihan dan ada beberapa kegiatan lain yang saya minati terpaksa dilepas karena tak cukup waktu. Jadwal acara saya padat, bahkan liburan pun saya tak bisa pulang. Saya seperti merasa kelaparan, banyak hal yang ingin dicicipi.

Sayangnya saya tak menyadari bahwa kegiatan itu menekan saya cukup dalam. Jika kegiatan tak berjalan lancar, saya menjadi kecewa. Kekecewaan bertambah dalam kalau penampilan saya kurang maksimal atau gagal, rasanya ingin tenggelam ke dasar laut. Badan pun terzalimi. Meski lelah, saya tetap memaksakan mengikuti kegiatan. Makan pun kadang terlewat, entah karena kurang nafsu, ada kegiatan atau tertidur karena kelelahan.

Jika kekecewaan menghampiri, saya merasa menjadi orang yang serba kurang. Mulai kurang pandai, kurang berbakat, kurang berusaha, kurang cermat dan kurang beruntung sehingga hasil mengecewakan. Rasa kurang inilah yang sering membuat saya membenci diri diri sendiri bahkan menyalahkan Tuhan karena memberikan dan membiarkan kekurangan saya.

Ucapan dokter muda tersebut, menampar sekaligus menyadarkan saya. Ternyata selama ini saya kurang mencintai diri sendiri. Saya kemudian merenung lebih dalam dan melakukan self healing. Ada beberapa hal/cara yang saya dapatkan :

  •  Tidak ada yang instan, semua butuh proses. Ya, saya sering baru melakukan 1 atau 2 pekerjaan maunya langsung sukses. Misal baru sekali jadi moderator maunya langsung lancar berbicara di hadapan peserta. Sekarang aja, baru beberapa kali mengirimkan tulisan ke media, ingin langsung dimuat hahaha.
  • Tidak perlu menyalahkan siapa pun bila hasil mengecewakan. Saya sering nih, menyalahkan diri sendiri bahkan kadang orang lain terseret juga, hadeuh. Penting dilakukan adalah tidak berhenti belajar dari pengalaman.
  • Tak lupa bersyukur. Seringnya kekecewaan datang karena selalu melihat ke atas. Sesekali perlu juga melihat ke bawah untuk mengetahui bahwa kita masih lebih beruntung. Bentuk syukur lainnya adalah dengan mendekatkan diri kepada TUHAN dan selalu berbagi kepada sesama di saat memperoleh kenikmatan.
Tiga cara itulah yang saya lakukan ketika rasa kecewa datang. Seiring waktu, saya lebih mampu menerima kekecewaan, lebih mencintai diri sendiri dan berdamai dengan diri sendiri sehingga hidup pun dapat saya nikmati.

27 komentar:

  1. Nyimak..sapat istilah baru psikosomatis:)

    BalasHapus
  2. kadang kalo kelamaan ndangak,jadi malu sendiri,artinya saya kurang bersyukur..makasih mbak sharingnya^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau kelamaan dangak, ntar kesandung Mbak..hihihi..

      Hapus
  3. Aku kok kesindir juga sm omongan dkter muda itu, aku gt soale srg mimpi kjadian sehari2, bgn tdr lgsg mikir hrs ini hrs itu ky dikejar2

    BalasHapus
    Balasan
    1. Katanya tidur berkualitas itu justru yang tanpa mimpi. Biasanya bisa tanpa mimpi kalau pas tidur, sudah bebersih pikiran dulu.

      Hapus
  4. Nikmati dan jalani yang ada hari ini, sambil mempersiapkan diri untuk hari esok dengan sewajarnya..

    Terima kasih sharingnya mak

    Salam Kenal^^

    BalasHapus
  5. psikosomatis jangan2 aku termasuk kategori ini ?btw makasih ilmu barunya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tiap orang bisa mengalaminya Mbak :)

      Hapus
  6. masyaAllah imut-imutnya diphoto ituh hehehe..*salah fokus

    BalasHapus
  7. Omongan dokternya nggampar banget ya mak. heheehehe merasa dikejar waktu, selalu mikirin besok. Aku banget :|

    BalasHapus
  8. Kalo saya psikosomatis plus agoraphobia.

    BalasHapus
  9. Baca postingan ini berasa ngaca :D
    Langsung googling cari tau tentang psikosomatis.

    BalasHapus
  10. Dapet istilah baru nih... Kayaknya aku juga tergolong psikosomatus???

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ga mesti muncul Mak. Biasanya muncul kalau banyak pikiran :)

      Hapus
  11. wah gitu ya...
    aku juga sering nih lebih pusing mikirin besok daripada hari ini hehehehe

    BalasHapus
  12. kalau sering mimpiin masa lalu, missal masa kuliah atau sekolah. apakah itu pertanda kita kurang bersyukur pada masa sekarang mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Macam2 mbak. Bisa jadi hanya kangen masa sekolah atau ya kurang bersyukur. Saya sih biasanya kalau mimpi ngecek ke diri sendiri. Pasti ada yang belum saya selesaikan.

      Hapus
  13. Kok aku jarang mimpi. Kalo pun mimpi, bangun tidyr lupa isi mimpiku hihiii...
    Btw.. TFS ya mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enak banget itu Mak. Saya termasuk sering mimpi, bahkan aneh2 lagi mimpinya :)

      Hapus
  14. memang paling enak itu tidur nyenyak tanpa mimpi bangun2 rasanya segaaar, tapi kok jarang banget ya bisa begitu :(

    BalasHapus

Terima kasih sudah mengunjungi blog ini. Saya senang menerima komentar yang baik dan membangun. Harap tidak meninggalkan link hidup.

Blog Design by Handdriati