Sabtu, 17 Oktober 2015

Perjuangan Suami Mengatur Keuangan Demi Mewujudkan Pernikahan

sumber
Salah satu hal gila terindah yang saya lakukan adalah menikah dengan suami. Kenapa bisa gila? Karena kami jatuh cinta di saat suami masih kuliah dan saya sudah bekerja. Usia saya saat itu sudah tak terbilang muda. Usia di mana sebagian besar teman saya sudah menikah dan punya anak sementara saya malah jatuh cinta dengan anak kuliahan. Butuh nyali besar buat saya untuk menerima kondisi bahwa kami saling jatuh cinta. Keberanian yang lebih besar lagi adalah meneruskan perasaan kami menuju jenjang yang lebih serius yaitu pernikahan.

Apa yang membuat saya jatuh cinta dengannya? Selain wajahnya yang ganteng, kemandiriannya yang saya kagumi. Suami kuliah sambil bekerja. Dia berusaha mencukupi biaya kuliah dan hidupnya sendiri. Memang Ayah mertua, sebagai tulang punggung keluarga, sudah berpulang saat suami duduk di bangku SMA. Suami tak bisa meminta kakak-kakaknya membiayai kuliah sepenuhnya karena mereka sudah memiliki tanggungan.

Saat kami jatuh cinta, suami masih kuliah di semester akhir. Sebelum lulus kuliah, ia mencoba mengirim surat lamaran dan diterima bekerja. Saat itu suami bertanya, “Adik, punya rencana menikah kapan?”.

Terus terang, saya bingung juga menjawabnya. Rencana pernikahan ya di tahun itu. Tapi, saya tahu dia pasti belum siap. Meskipun rukun menikah itu hanya pengantin lelaki, pengantin wanita, wali, 2 orang saksi, ijab dan qobul serta sebaik-baiknya mahar adalah tidak memberatkan, realitanya dana pernikahan berikut tetek bengeknya bukanlah hal yang kecil.

Tanggung Jawab Dana Pernikahan

Teman saya dari NTT, pernah berujar,” Mbak, kalau ditempatku, maharnya Mbak Rizka itu mahal lho. Apalagi dengan status sudah bekerja dan kuliah S2. Bisa ratusan juta”

Wow, fantastis. Saya sih senang aja, kalau ada yang sanggup kasih mahar sebesar itu. Tapi harus menunggu berapa tahun lagi, bisa mengumpulkan mahar sebesar itu. Jangan-jangan, mempelai laki-lakinya sudah berumur. Eh, ternyata seluruh keluarga besar ikut iuran untuk mengumpulkan mahar.

Untunglah di Jawa urusan mahar dan dana pernikahan tidak terlalu besar. Memang tergantung budaya dan status sosial sebuah keluarga.

Melihat perjuangan suami saya mengatur keuangan demi keinginan menikah, saya jadi berpikir bahwa kedua mempelai harusnya ikut bertanggung membiayai  pernikahan. Menikah artinya kedua insan sudah siap mental dan material, termasuk juga dana pernikahan.

Sederhana dan penuh makna
Kapan Mulai Mempersiapkan Dana pernikahan?

Hampir setiap orang pasti ingin menikah.  Terutama dalam ajaran Islam, menikah adalah mengikuti sunnah Rosul. Persiapan biaya menikah tak perlu menunggu memiliki calon pengantin. Meskipun belum memiliki calon, rencana menikah merupakan salah satu tujuan hidup kan? Itu artinya mempersiapkan dana pernikahan merupakan salah satu tujuan investasi.

Beberapa literature yang saya baca, sebaiknya mempersiapkan dana pernikahan adalah saat pertama kali memiliki penghasilan atau minimal 2-3 tahun menjelang rencana pernikahan. Dulu suami mempersiapkan dana pernikahan semenjak dia menerima gaji, namun waktunya kurang dari 2 tahun. Yah, kalau menunggu 3 tahun bisa saya tinggal nikah..hehehe.

Manajemen Want dan Need

Sejak awal saya kagum dengan pengaturan keuangan suami. Kok bisa dia menyisihkan uang buat persiapan biaya menikah? Saya cukup tahu lah kalau gajinya tidaklah besar. Sejak kami berkomitmen untuk meneruskan hingga jenjang pernikahan, suami sudah berujar, “ Dek, kalau bersuamikan seorang wartawan, jangan berharap jadi orang kaya ya”.

Iya, profesi suami adalah wartawan di sebuah media cetak tingkat Jawa Tengah. Bukan berarti mengecilkan arti wartawan ya, tapi memang gajinya tak besar..hihihi. Ternyata kuncinya adalah, “kalau kamu menginginkan sesuatu ya harus mengorbankan sesuatu”. Itu adalah jawaban dari suami.

Memang kadang kita tidak bisa membedakan antara WANT dan NEED. Sering kita membeli sesuatu karena keinginan dan bukan kebutuhan. Akibatnya pengeluaran menjadi lebih besar dan menggeser pos yang lain. Padahal kalau kita menurunkan standar hidup, mengganti barang atau jasa yang kita butuhkan dengan harga dibawahnya, tidak ada masalah kan? Itulah pentingnya manajemen WANT dan NEED.

Saya masih ingat saat suami dipindah ke Grobogan. Suami memilih mencari kos yang murah. Makan pun ia jarang bermewah-mewah. Bahkan semakin mendekati hari H pernikahan, dia selalu menolak diajak makan di luar, “makan di rumah saja ya Dek, uangnya ditabung buat biaya menikah dan berumah tangga”. Duh, saya diantara sedih dan terharu.

Bentuk Investasi

Menginvestasikan dana pernikahan bisa dalam berbagai bentuk. Tabungan dan deposito merupakan bentuk investasi yang paling aman. Logam mulia atau emas bisa juga menjadi pilihan sekaligus untuk persiapan mahar seperti yang dilakukan suami. Alternatif lainnya adalah reksadana pasar uang atau reksadana pendapat tetap.

Sebaiknya untuk memilih investasi yang tepat, konsultasikan dulu dengan ahlinya atau lembaga keuangan terkemuka. Salah satu alternatif lembaga keuangan yang menyediakan jasa konsultasi keuangan serta solusi masalah finansial adalah Sunlife Financial.

Produk dan layanan yang ditawarkan Sunlife Financial meliputi Proteksi, Simpanan dan Investasi, Riders, Baccassurance dan Financial Syariah. Sunlife juga bekerja sama dengan manajer investasi terpercaya dan kelas dunia untuk mengelola dana dan investasi nasabah.

Alternatif lembaga keuangan
NO Utang = Realistis

Berbagai sumber keuangan yang saya baca, semua menyarankan untuk menghindari utang. Ya, hidup kita bukan kisah cinderella kan? Pernikahan tak sebatas akad dan resepsi, namun kehidupan setelahnya yang lebih penting. Lebih baik kita menyisihkan sebagian penghasilan untuk kehidupan selanjutnya.

Lebih baik bersikap realistis dengan dana pernikahan yang kita miliki. Sesuaikan dengan kebutuhan bukan keinginan. Beberapa sikap realistis saya dan suami adalah meniadakan foto pre wedding, memilih perias pengantin dan menyewa baju pengantin yang ramah di kantong serta menekan harga kartu undangan.  Harga kartu undangan kami hanya Rp. 1500,-. Kami berpikir buat apa mahal, toh hanya sekali pakai.

Alhamdulillah meski akad dan resepsi pernikahan kami terbilang sederhana, kehidupan setelah menikah berjalan baik. Pilihan suami dalam pengaturan uang untuk dana pernikahan akan kami turunkan kelak kepada Fatih dan Fattah. Harapannya sih, masa depan mereka berdua lebih cerah dengan ilmu perencanaan keuangan yang baik. 

Merencanakan keuangan demi mereka
Daftar Pustaka :





29 komentar:

  1. Uwoww, akhirnya tayang juga. Aku lagi cari ide niiih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kemarin inspirasinya Papa, yang sekarang mas Anna lah :)

      Hapus
  2. Prinsip suami mb Rizka mirip dengan prinsip suami saya....menurutnya tak apa kita bersusah supayah dahulu, karena hasilnya akan membuat kita senang di kemudian hari..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, itulah yang membuat saya jatuh cinta :)

      Hapus
  3. Mbaa.. suka banget sama tagline suaminya.
    "Kalau kamu menginginkan sesuatu ya harus mengorbankan sesuatu."

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga kagum dengan pemikirannya Mbak :)

      Hapus
  4. Suamiku kasih sekian, cukup ga cukup harus cukup :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau gak cukup, tambahin sendiri :D

      Hapus
  5. Hidup tanpa hutang memang bikin sejahtera :D

    BalasHapus
  6. Saya kok merinding ya baca judulnya. Iya, soalnya masih single jadi belum mengerti. But, iya juga perjuangan suami mah kerenn amat, demi anak istri mak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dirancang dari sekarang Mbak. Saya juga ikut bantu mengumpulkan dana pernikahan kok :)

      Hapus
  7. kereennn mak, salut sm perjuangan suaminya, saat kuliah hingga ke jenjang selanjutnya yaitu pernikahan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Mbak, sampai sekarang kalau makan keluar juga mikir2..hahaha..

      Hapus
  8. MasyaAllah... :)

    Berakit2 dahulu berenang2 ketepian, ya mba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, saya jadi tersipu dengan perjuangannya :D

      Hapus
  9. pemikiran jangka panjang seperti itu yang sering dilupakan orang. Maunya menikah dengan pesta yang "wah" habis itu banyak juga yang "wah totalan ng mburi" (wah membayar hutang di belakang-Jawa) hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Mbak, saya memilih yang sederhana dan realistis.

      Hapus
  10. Subhanallah so sweet kisahnya. Alhamdulillah berakhir bahagia :))

    BalasHapus
  11. Wah... baca ceritanya, jadi keingetan cerita sendiri. So sweeeeet....

    BalasHapus
  12. Miriiiip, suami juga kuliah bayar sendiri, trus waktu nikah kita berdua yang ngelola biayanya. Enggak tega minta sama orang tua, meski katanya itu kewajiban mereka.

    BalasHapus
  13. bermanfaat bgt suka penjabarannya...itulah sosok imam kita ya, mb
    siang malam berjuang demi keluarga....hihiii, inspiring

    BalasHapus
  14. keren banget dirimu dan suami maak...perjuangannya keren...

    BalasHapus
  15. NO Utang = Realistis, saya setuju. Tapi saya masih punya tanggungan hutang nih. hiks..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga Mas. Khusus untuk rumah saya berutang :)

      Hapus
  16. Kerreen Mbak. Pengen niru juga aahh meski blm tau jodoh saya yg mana hihihi! Yg penting persiapan. Sapa tau bsk tiba2 jodohnya dateng hihi (eh aamiin)

    BalasHapus

Terima kasih sudah mengunjungi blog ini. Saya senang menerima komentar yang baik dan membangun. Harap tidak meninggalkan link hidup.

Blog Design by Handdriati