Selasa, 30 Desember 2014

MENGAJARKAN BERBAGI TUGAS RUMAH TANGGA

“Maaf mbak Ika, baru sempat tilik bayi. Di rumah ada saja kerjaannya” ujar saudara saya sambil memangku anaknya yang berusia 2,5 tahun.

“Gak apa-apa Mbak. Emang kerjaan rumah tangga itu seabreg, apalagi kalau punya anak kecil” ujar saya sambil tersenyum.

“Iya, Sasa kan kegiatan kuliahnya banyak, paling bantu cuci piring. Adeknya yang perempuan baru kelas 4 SD. Kalau laki-laki ya gak bisa diharapkan” ceritanya lagi.

Itu adalah penggalan obrolan saya dengan istri dari saudara sepupu. Saya sering mendengar cerita, anak perempuan lah yang bisa diharapkan dan diandalkan untuk membantu pekerjaan rumah tangga. Terus gimana donk dengan saya? Anak saya 2, laki-laki semua. Apakah benar anak laki-laki tidak bisa dan tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah tangga?

“Kok tadi gak sekalian minta air minum sama mas Annas *nama suami saya, mbah” tanya saya sedikit sebal karena baru saja suami saya mendatangi kamar mbah.

“Wong lanang kuwi, rak elok ngurusi gawean omah (terjemahan : laki-laki tidak etis mengerjakan pekerjaan rumah)” jelas mbah saya.

Welah, kalau gitu gempor donk saya mengerjakan semua pekerjaan rumah, ditambah momong 2 anak. Penjelasan mbah membuat saya berpikir, budaya di sekitar masih menganggap pekerjaan rumah tangga adalah urusan perempuan. Urusan laki-laki hanya mencari nafkah.

Menurut saya pribadi, pekerjaan rumah tangga adalah tanggung jawab anggota keluarga, bukan hanya ibu atau anak perempuan. Mungkin ibu adalah koordinatornya, namun tugas dapat dibagi dengan anggota yang lain sesuai dengan kemampuan. Prinsip ini saya terapkan sejak dini kepada anak-anak saya.

Pertama, saya memperkenalkan pekerjaan rumah tangga kepada Fatih. Caranya ya dengan mengajak Fatih untuk ikut beraktifitas menyelesaikan tugas rumah tangga. Waktu dia baru bisa angkat kepala, saya letakkan dia di bouncer, menunggui saya yang sedang mencuci baju atau sibuk di dapur.

Setelah agak besar, tanpa diajak, Fatih selalu ingin untuk terlibat dengan aktifitas saya. Selama tidak berbahaya, tentu saya perbolehkan. Saat saya menggoreng kerupuk, Fatih diperbolehkan memasukkan kerupuk dalam wajan. Dia duduk di meja dapur. Wow, apa Fatih tidak kena minyak atau wajan panas. Pernah sih, tapi dia gak kapok hihihi.

Fatih juga saya beri sapu kecil dan lap, saat saya menyapu dan mengepel rumah. Kala saya mencuci baju, dia juga ingin mencuci bajunya sendiri. Begitu pula ketika anggota keluarga lain mengerjakan tugas rumah tangga. Saya meminta kesediaan mereka agar mengijinkan Fatih terlibat.

Proses keterlibatan Fatih dalam tugas rumah tangga membutuhkan kesabaran. Ya, pekerjaan yang seharusnya lebih cepat selesai, terpaksa molor karena menunggu Fatih. Tambahan lagi, harus ekstra pengawasan.

Tidak hanya itu, Fatih juga saya sejak usianya mendekati 2 tahun, sudah saya minta untuk bertanggungjawab terhadap mainannya. Berkali-kali saya ingatkan untuk membereskan mainannya. Prinsip yang saya tekankan ke Fatih, boleh mainan apa saja, asal tidak berbahaya dan setelah selesai bermain dibereskan.

Kedua, yang paling penting adalah contoh nyata. Saya pernah meminta Fatih untuk memungut daun-daun di halaman sementara saya sendiri duduk di teras. Sekali dua kali Fatih mau mengambil daun, setelah itu dia mengambil sapu dan menyerahkan kepada saya sambil menunjuk dedaunan..hihihi. Intinya Fatih menyuruh saya menyapu halaman. Eh, tapi dia juga ambil sapu kecil dan membantu saya menyapu halaman.

Contoh nyata juga sangat membutuhkan peran Ayah untuk berbagi tugas. Kalau dia melihat Ibu saja yang mengerjakan tugas rumah tangga, sementara Ayah leyeh-leyeh, dia akan berfikir bahwa tugas rumah tangga adalah tugas ibu atau perempuan.

Alhamdulillah Ayah terbiasa juga mengerjakan tugas rumah tangga. Saat ini tugas Ayah adalah mencuci baju Fattah, Fatih dan pakaian dalam Ayah dan saya. Kalau si Bude kebetulan tidak datang dan setrikaan menumpuk, tanpa diminta Ayah menyetrika *saya emoh pegang setrika. Kadang mencuci piring juga saat melihat saya lelah.

Lah terus tugas saya apa? Mengurusi kebutuhan Fatih dan Fattah, mulai memandikan, menyuapi dan menyusui dan menemani.  Wow, momong duo bocah butuh tenaga dan kesabaran yang besar lho.

Bagi saya, yang terpenting adalah budaya di keluarga. Mudah-mudahan dengan cara seperti itu, Fatih dan Fattah terbiasa mengerjakan tugas rumah tangga. Saya dan Ayah tidak kewalahan menyelesaikan tugas rumah tangga yang tiada habisnya hehehe.

Membersihkan mobilnya

12 komentar:

  1. Wah bangga membacanya. Semoga Fatih dan Fattah menjadi terbiasa dengan tugas tugas yang sudah diberikan oleh ayah bundanya , menjadi kebiasaan yang baik kelak jika mereka sudah dewasa

    BalasHapus
  2. Mumpung belum terlambat, kami mengucapan Selamat Tahun Baru 2015 ya.. Semoga di tahun 2015 mendatang kita semua akan diberikan kemudahan dan kesuksesan yang lebih besar lagi dari tahaun sebelumnya. (Salam kami sekeluarga di Pontianak. Kalimanan Barat)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Makasih Pak Asep. Salam balik dari Kudus. Btw biasanya Asep nama orang Bandung :)

      Hapus
  3. Setuju mak, contoh langsung itu amat perlu. Salut buat ayah fatih n fattah. Tfs y mak

    BalasHapus
  4. Iya, harusnya dari kecil sudah dikenalkan dan dibiasakan dengan pekerjaan rumah. Mau anak laki-laki atau perempuan, saya rasanya disamakan saja. Biar anak-anak tahu tanggung jawabnya, tahu kewajibannya, dan punya kepedulian terutama dengan lingkungan hidupnya.

    Sama kenal Mbak Rizka :)

    BalasHapus
  5. aduh maaak.... saya jadi pengen curhat nih.

    Keluarga saya juga berpendapat begitu, laki-laki gak etis ngurus rumah. Saya satu-satunya anak perempuan di keluarga, dan saya selalu protes kenapa adik2 saya gak pernah diberi pekerjaan rumah. Saya malah dianggap pembangkang jadinya...

    Sampai suatu ketika saya bilang ke orang tua, kenapa cuma anak perempuan yang disuruh beres2 rumah? Karena memang tugasnya begitu, kata Ibu. Terus tugas laki-laki apa? Ibu jawab "cari uang". Okey, saya minta adik-adik belajar cari uang. Suruh mereka jualan koran atau apapun.

    Habis saya bilang begitu, orang tua diam. Besoknya adik saya mulai dibagi tugas beresin rumah hehehe....

    BalasHapus
  6. Iya bener...apalagi keluarga sumatra seperti aku mbak yg menganut patrilineal...

    BalasHapus
  7. Salam kenal. Toss mak...anak kita sama laki semua :)
    Di rumah, anakku 3 boyz suka bantu2 masak n beresin mainannya sndiri. Ikut nyuci mobil, nyuci sepedanya sndiri. Belajar nyapu. Kalo ngepel belum bs krn trlalu basah n malah kepeleset sndiri :D

    BalasHapus
  8. Bertanggung jawab atas tugasnya ya mak :)

    BalasHapus
  9. waah... keren ini bisa kayak gitu ^^

    BalasHapus

Terima kasih sudah mengunjungi blog ini. Saya senang menerima komentar yang baik dan membangun. Harap tidak meninggalkan link hidup.

Blog Design by Handdriati