Jumat, 04 Mei 2018

KETIKA JATUH CINTA DENGAN PRIA YANG LEBIH MUDA DAN BELUM MAPAN


“Nyuk, ada drama korea bagus nih. Pretty sister who buys me food” WA saya buat adik no 3.

Begitu saya bertandang ke rumah adik no 3 di Sendangmulyo, cerita tentang drama korea ini tak luput dari curcol kami berdua. Kok disebut curcol? Iya nyolong waktu di saat anak-nak lagi asik main, lupa dengan mamahnya.

Kisahnya tentang Son Ye Jin sebagai Yon Jin A dan Jung Hae In sebagai Seo Jon Hee. Jon Hee berusia lebih muda dan merupakan adik dari sahabat Jin A. Kyung Sun. Hubungan keluarga mereka sudah sangat dekat. Bahkan orang tua Jin A sudah menganggap Kyung Sun dan Jon Hee selayaknya anak sendiri. Usai kepulangan Jon Hee dari luar negeri. Hubungan Jin A dan Jon Hee, yang awalnya noona dan dongsaeng, perlahan mulai berubah menjadi rasa cinta.

“Kita seperti ini benar tidak apa-apa? Kau tidak takut?” tanya Jin A merasa ragu dengan hubungan yang mereka jalani.
 
Saat masih muda dan kurus LOL
Dengan berapi-api saya menceritakan kisah drama korea. Akting Son Ye Jin dan Jung Hae In terasa alami dengan jalinan cerita yang sebagian besar adalah kenyataan.

Bagaimana rasanya jatuh cinta dengan pria lebih muda? Yang status awalnya mungkin adalah adik temanmu atau adik kelas? Atau mungkin ternyata dia pria yang belum mapan, sementara umurmu sudah tak terbilang muda?.

Berani melanjutkan? Atau memilih mundur, mencari pria yang sudah siap untuk menikah? Sanggup menghadapi pertanyaan atau mungkin keberatan orang tuamu, keluarga dan teman sekitar?.

Lebih Muda dan Belum Mapan

Itulah gambaran hubungan saya dan suami saat belum menikah. Suami lebih muda dan merupakan adik kelas saya saat SMA. Kami gabung di kegiatan yang sama. Saat itu status saya bekerja di perguruan tinggi tempat suami menempuh pendidikan. Saya pegawai dan dia mahasiswa. Bukan hanya lebih muda, tapi dia belum punya pekerjaan yang mapan.

“Ada yang salah dengan perasaan kita? Kamu single, aku juga single. Terus kenapa?” tanya suami kala itu.

Memang tidak salah sih. Siapa yang bisa menebak cinta? Tapi untuk kebiasaan di masyarakat, perasaan saya dan hubungan kami tidak lah lazim.

Lazimnya saya memilih lelaki yang lebih tua, sudah mapan dan siap menikah, terutama umur saya menjelang usia 30.
Lebih kuat dan berani melangkah

Hubungan Yang Lebih Kuat

Menyembunyikan kisah cinta kami menjadi pilihan saya saat itu. Saya belum sanggup membayangkan komentar orang tua, keluarga, teman terutama teman satu kegiatan. Saya ingin memastikan hubungan kami kuat dulu.

Memastikan visi kami sama. Karena seiman belum tentu sama. Tidak juga semua harus sama. Perbedaan tetap ada, asal tidak prinsip hidup.

Memastikan, dia mau berbagi tugas rumah tangga. Dia mau terlibat mengasuh anak. Dia tak selalu menghindar saat membersihkan kotoran anak.

Memastikan bahwa niat dia menjalani hubungan untuk serius, ke jenjang pernikahan. Bukan sekedar melampiaskan rasa cinta, yang mungkin bisa menipis atau menghilang.

Pribadi Yang Kuat

Awalnya saya yang ragu untuk meneruskan perasaan kami. Sama seperti Jin A, saya merasa ini tidak benar. Seharusnya saya sebagai kakak, bukan malah menjalin hubungan cinta. Seiring waktu, suami malah minder. Dia merasa tidak sekufu. Status sosial kami terlihat berbeda.

Saya bukan dari keluarga kaya raya, tapi belum pernah kelaparan atau hanya makan dengan lauk garam di sepanjang kehidupan saya. Saya dapat sekolah dengan mudah dan meneruskan hingga jenjang perguruan tinggi tanpa perlu bekerja.

Sementara suami, kuliah sambil bekerja dan dibantu oleh kakak-kakaknya. Ayahnya sudah meninggal saat SMA, praktis hidupnya tak semudah jalan hidup saya.

Maka yang saya lakukan adalah menguatkannya. Bahwa perjalanan hidupnya akan membuat ia lebih kuat dan berusaha lebih dari kebanyakan orang lain. Orang seperti itulah yang saya cari. Bukan orang yang hidup dengan segala kemudahan.

Sebelum dia lulus, saya dukung suami untuk mencari pekerjaan. Alhamdulillah suami diterima bekerja sebagai wartawan daerah. Tak sampai setahun bekerja dia pun lulus kuliah. Setelah kami merasa kuat, barulah kami berani menyampaikan hubungan kami kepada keluarga. Setelah lamaran, kami pun menyampaikan berita bahagia kepada teman terdekat.

Saya ingat pernah membaca buku tentang jodoh. Memilih jodoh itu, bukanlah yang terbaik. Bukan dia yang tampan, pintar, kaya dengan iman yang tinggi. Bukanlah yang sempurna. Tapi dia yang sesuai denganmu. Bisa jadi dia pendiam atau cerewet, bisa jadi dia biasa saja atau tampan, bisa jadi dia pintar atau orang yang biasa, bisa jadi dia sudah kaya atau belum mapan.

Perjalanan kami hingga telah memiliki 2 buah hati, tidaklah selalu mulus, sama dengan pasangan lain. Tapi saya yakin meski dia lebih muda, meski saat itu dia belum mapan, dia mampu membuktikan diri. So, cinta tidak mengenal usia, yang penting sama-sama mau belajar.

Tengah hamil muda

2 komentar:

  1. Cinta tanpa tak mengenal usia,,,terima kasih sudah berbagi pengalaman mba.

    BalasHapus

Terima kasih sudah mengunjungi blog ini. Saya senang menerima komentar yang baik dan membangun. Harap tidak meninggalkan link hidup.

Blog Design by Handdriati