Kamis, 13 November 2014

PENGALAMAN OPERASI SESAR 2

Sebenarnya banyak agenda menulis saya *tsah, bak penulis professional saja. Tujuannya sih ingin berbagi pengalaman, siapa tahu ada yang membutuhkan informasi berdasarkan pengalaman saya. Saya masih hutang pada diri saya sendiri untuk melanjutkan operasi hernia Fatih, di benak saya juga sudah ingin menulis pengalaman melahirkan Fatih dengan operasi sesar sebelum melahirkan Fattah *sambil memperkenalkan nama adiknya Fatih.

Berkejaran dengan waktu hihihi sok puitis, mumpung Fatih dan Fattah masih tidur, saya putuskan untuk bercerita pengalaman melahirkan Fattah yang lagi-lagi dengan operasi sesar.

Di postingan sebelumnya, saya sudah pernah bercerita kalau untuk persalinan kedua, dokter SPOG sudah menyatakan kemungkinan normal terbuka. Tentu saja dengan syarat ketentuan berlaku *seperti iklan saja. Persalinan normal dapat dilakukan dengan senormal-normalnya, kondisi bayi memungkinkan, detak jantung tetap bagus dan persalinan tidak boleh diinduksi. Mungkin maksudnya kalau terlalu lama bukaan, maka dengan terpaksa sesar harus dilakukan.

Semua saya persiapkan, meski kurang maksimal. Saya bahkan sempat browsing gerakan senam hamil dan mengikuti senam hamil di tempat bidan. Teman-teman kantor berusaha mengurungkan niat saya untuk normal, karena yang pertama kan sesar.

“Wis rak sah macam-macam, tanteku jarak 5 tahun aja memaksakan normal, akhirnya malah jahit atas dan bawah (maksudnya jahitan perutnya terbuka, jadi perut dan vaginanya dijahit)” ujar teman saya.

“Wis, enak sesar wae, normal kie loro banget. Aku wis pengalaman, yang kedua langsung minta sesar wae” ujar teman yang satu lagi. Anak pertama awalnya mencoba normal berakhir sesar karena terbelit tali pusat, yang kedua langsung meminta sesar.

Saya waktu itu berfikir, wong dokternya saja optimis masak saya menyerah. Lagi waktu Fatih, bukaan 4 saya tidak merasakan kontraksi sama sekali. Rasanya air ketuban pecah malah plong.

Singkat cerita, Kamis pagi, sekitar pukul 03.00 WIB saya merasakan perut terasa kencang. Saya tidur dengan membolak-balikkan badan ke kanan dan kiri. Pukul 04.00 WIB selesai adzan subuh, dalam perjalanan ke kamar mandi, saya merasakan ada cairan keluar. Benar, ternyata itu flek. Akhirnya saya segera membangunkan ayah untuk persiapan ke rumah sakit.

Sampai di rumah sakit, setelah diperiksa, ternyata masih bukaan 1. Saya diberi pilihan, mau langsung mondok atau kembli lagi siang atau sore hari saat kontraksi semakin sering. Saya dan Ayah putuskan untuk langsung mondok, karena pertimbangan daripada diributin Fatih.

Yang paling menyebalkan begitu diputuskan mondok adalah langsung diinfus. Hadeh, padahal saya kan paling takut sama jarum suntik. Saya mencoba menawar, entar aja agak siangan, sayangnya prosedur rumah sakit seperti itu.

Proses mencari vena saya buat diinfus tidak mudah. Vena saya halus dan kecil, goyang sedikit pecah. Benar, saya goyang karena tegang, pecah deh. Perawat sampai geregetan, terpaksa mencari lagi di sebelah kanan. Penyiksaan tak berakhir sampai di situ, saya masih harus disuntik untuk diambil darah dan memuluskan jalan lahir. Belum lagi ada pemeriksaan pembukaan beberapa kali.

Pukul 07.30 WIB akhirnya dokter datang untuk memeriksa keadaan saya. Saat itu saya baru saja memakan roti, karena belum sarapan sama sekali. Dokter kemudian meminta saya untuk puasa saja, untuk berjaga-jaga kalau nanti terpaksa sesar. Saat itu sudah bukaan 4 dan rasa mulesnya sudah luar biasa, deuh kok beda sih ma pengalaman melahirkan Fatih yang tidak terasa sama sekali.

Dokter sudah menawarkan untuk disesar langsung atau masih kuat diobservasi selama 4-5 jam. Sebelumnya bidan sudah bertanya, perkiraan berat badan bayi berapa dan tinggi saya berapa. Mendengar berat badan bayi 3,5 dan tinggi saya cuma 148, sepertinya mereka geleng-geleng kepala.

Kepastian normal memang masih harus diobservasi, detak jantung bayi terus dipantau, termasuk kondisi saya yang sudah setengah teriak menahan mules. Saya sudah mencoba mengatur nafas, tapi praktek tak semudah teori, rasanya tetap harus berteriak menahan mules.

15 menit setelah kunjungan dokter, saya benar-benar sudah tak tahan. Ayah sudah saya remet-remet untuk menyalurkan rasa mules. Akhirnya saya mengikuti tawaran dokter.

“Gimana ya Yah, sesar sekarang apa nunggu 4-5 jam lagi?” tanya saya sambil menahan mules.

“Terserah Mama, yang merasakan kan Mama. Sesar sekarang juga gak papa. Ayah percaya Mama.” Jawab Ayah menguatkan sambil memegang tangan dan mencium kening saya.

Akhirnya saya masuk ruang operasi pukul 08.00 WIB sambil setengah teriak dan mengatur nafas. Begitu diberi bius lokal, saya sudah lemas, habis tenaga saya untuk menahan mules, apalagi dengan sarapan hanya sepotong roti.

Saya tertidur di ruang operasi, bangun-bangun, dokter tengah menjahit perut saya. Asisten dokter menyampaikan ucapan selamat kalau bayi sudah lahir dengan selamat, dengan berat 3,4 kg dan sehat wal afiat.

Usai tubuh saya dibersihkan, saya dibawa ke ruangan bersalin VIP. Saat itu kamar rumah sakit penuh, adanya kelas 3 dan sisa ruang bersalin VIP. Untuk sementara saya ditempatkan di ruang bersalin VIP sambil menunggu kamar VIP kosong.

Saya memang harus memilih kamar dengan pasien 1 kamar 1 orang, pertama untuk kenyamanan, kedua karena saya memilih rawat gabung dengan konsekuensi semua diurus oleh keluarga sendiri. Kapan-kapan saya akan cerita tentang rawat gabung.

Keesokan paginya dokter visit ke kamar saya. Saya kemudian bertanya apakah keputusan saya untuk sesar saat itu tepat atau peluang normal sebenarnya masih tinggi. Jawaban dokter, saat itu masih ada peluang normal, namun bila operasi dilakukan siang hari, kesulitan lebih besar. Ternyata dokter anastesi siang hari praktek di RSU dan kalau siang hari ditakutkan detak jantung bayi sudah tidak bagus. Selain itu ternyata air ketuban sudah keruh. Penyebabnya mungkin bayi distress.

Di lubuk hati terdalam saya merasa menyesal, tidak bisa memperjuangkan persalinan normal hingga akhir. Tapi saya bersyukur juga, karena kalau saya keukeuh, kasihan Fattah, air ketubannya malah sudah keruh, terpaksa dia diberi antibiotik selama 2 hari.

Saya salut dengan ibu-ibu yang berhasil dan sanggup menjalani persalinan normal, meski kadar kesakitan dan mules saat kontraksi tiap orang berbeda.

Apa saya akan mencoba lagi untuk persalinan normal di kemudian hari? Sampai saat ini, saya putuskan cukup dua anak saja. Sakit pasca sesar untuk kedua kalinya luar biasa, bagaimana kalau ketiga kalinya. Tak ingin saya bayangkan.

“Sakit pasca sesar kedua lebih sakit kan Bu?. Cukup dua saja ya bu. Istri saya saja dua kali sesar, saya ga ingin nambah lagi. Kasihan” pesan dokter SPOG saya.

Tuh, saya didukung ma dokternya kan? Sepertinya dia enggan berurusan dengan saya lagi. Tiap konsultasi, nanya dan ngeyelnya banyak, pas persalinan hobinya teriak-teriak hihihi.

Royyan Al Fattah

16 komentar:

  1. 4 kali melahirkan normal dan 1x sesar, sakitnya lebih sakit yg sesar, mak. Terutama setelah melahirkannya huhuhu. Kl normal, selesai lahiran kan sakitnya hilang. Tapi apapun, normal atau sesar, ada hal lain yg lebih penting dan harus disyukuri, kehadiran si buah hati ya, mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mak Sari memang hebat. 5 anak bo. Saya yang dua aja dah ribet..hihihi.

      Hapus
  2. salam kenal mba Rizka, wah jadinya mau ikut program KB 2 anak cukup ya, hehe, apa sebelumnya ikut pelatihan untuk lahiran normal pasca secar?

    senang berkenalan dengan Mba Rizka yg seorang psikolog, mudah2an bisa menambah tali silaturahim...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga mbak Meta. Eh, ada pelatihan lahiran normal pasca sesar ya> baru tau saya. Selama ini cuma cari info lewat group di fesbuk atau browsing diinternet

      Hapus
  3. bukannya kalau sesar sakitnya lebih lama ya mak? bekas operasinya itu maksud saya hehe .. kalau minus mata sudah banyak lebih aman sesar ya ?>

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau minusnya diatas 5 biasanya dianjurkan caesar dengan kekhawatiran pembluh darah di mata pecah dampak dari mengejan

      Hapus
  4. sakit sesar itu rasanya.......bikin trauma. apalagi saya pake acara bocor jahitan gara-gara nekad bawa motor pasca caesar 2 minggu dan terjatuh...wah ..beruntunglah ibu-ibu yanng melahirkan secara normal.

    BalasHapus
  5. Saya sedang ikhtiar promil nambah momongan nih. Yang pertama kali lahiran SC juga. Jadi mau nyoba VBAC. Tapi in the end ya tawakkal aja harus normal atau SC lagi. Yang penting ibu dan anak sehat selamat ya Mbak he he.

    BalasHapus
  6. Saya trauma waktu sesar.
    Sampe sekarang juga malah trauma mau hamil
    Ternyata banyak juga yang senada. Saya kira hanya saya seorang. habis teman saya yang sesar senang-senang saja...
    Salam kenal Mbak..

    BalasHapus
  7. sy lahiran pertama SC mba..
    berharap banget kalo hamil lg bs normal.. kita cuma bs berdoa dan berusaha ya,, ^^

    BalasHapus
  8. Dikira sesar enak, ternyata gak gitu ya mbakkk... semoga semuanya sehat-sehat agar bisa mendampingi tumbuh kembang anak dengan baik

    BalasHapus
  9. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  10. pengen banget normal, tp udah caesar 2x, menyesal hamil yg kedua ga usaha normal, alesan dokter jarak dekat, padahal banyak tmn yg brhasil normal stelah yg pertama caesar.. 😖

    BalasHapus
  11. pengen banget normal, tp udah caesar 2x, menyesal hamil yg kedua ga usaha normal, alesan dokter jarak dekat, padahal banyak tmn yg brhasil normal stelah yg pertama caesar.. 😖

    BalasHapus
    Balasan
    1. jaraknya berapa bulan mbak? skrg saya sedang hamil 15 minggu dan anak pertama berumur 13 bulan, jd jarak kelahiran nanti 19 bulanan, ada kemungkinan normal nggak yaa

      Hapus
  12. Hay mbk slam kenal
    Kalau aq yg pertma udah sc
    Dan ini lgi hamil ank ke dua uda jalan 5bulan
    Mungkin akan sc lg mbak
    Soalx ga mau sakit 2x hehehehe
    Mending sakit 1x menurutku normal atopun sc itu sm aja .. Sm² sakit :-) resiko bumil emnk yaa

    BalasHapus

Terima kasih sudah mengunjungi blog ini. Saya senang menerima komentar yang baik dan membangun. Harap tidak meninggalkan link hidup.

Blog Design by Handdriati