Selasa, 21 Oktober 2014

TRAVELING MUDIK

Dari sekian banyak tulisan yang sudah saya posting di blog, sepertinya tidak ada yang bercerita tentang traveling. Kesannya saya ga suka jalan-jalan. Eh, bukan, saya suka jalan-jalan kok, meskipun saya sering mabuk, mulai mabuk darat, udara dan laut, asal bukan mabuk daratan #eh.

Kisah traveling saya, sudah dimulai semenjak saya berusia sekitar 1-2 tahun. Waktu itu Papa dan Ibu saya melakukan perjalanan pulang kampung dari Rantau Prapat ke Kudus dengan pesawat. Wah, keren kan, jaman tahun 82-83an saya sudah naik pesawat *ketahuan sudah berumur.

Saya sendiri sih ga pernah ingat, tapi sering diceritakan oleh ibu saya. Ceritanya dl waktu di bandara, saya jalan-jalan keliling bandara, maklum saya baru bisa berjalan, mungkin lagi norak-noraknya menunjukkan kebisaan. Yang paling sering diceritakan dan akhirnya tidak terlupakan adalah, saya buang air besar di pesawat. Jaman dulu gitu loh, mana ada popok sekali pakai. Alhasil, ibu saya merelakan tanggannya untuk menggenggam kotoran dan dibuang di wc pesawat.. yaiks. Ya begitulah bentuk cinta seorang ibu yang demikian besar.

Selanjutnya, saya hampir setiap tahun minimal 1 kali setahun, melakukan perjalanan ke luar kota dengan lama perjalanan 10 jam. Ya, hampir tiap tahun saya dan keluarga pulang kampung dari Bandung ke Kudus..hihihi.

Seringnya perjalanan pulang kampung kami dengan bus malam. Bus yang menjadi kenangan kami Bandung Express. Sampai sekarang bus ini masih ada, cuma sekarang banyak saingan bus lain. Rumah di bandung juga masih ada, tepatnya di perumahan Antapani, sampai saat ini, rumah dikelola ketua RT untuk disewakan.


Setelah Papa pindah kerja di Makassar, saya sempat tinggal di Makassar 1 tahun. Setahun kemudian saat liburan sekolah, kami pulang mudik, sekaligus mengantarkan saya yang akan bersekolah di Kudus. Kami mudik dengan menggunakan kapal laut. Selama  liburan di Kudus, Papa, Ibu, Adik, Sepupu dan saya sempat mudik ke Rantau Prapat dengan bus yang lamanya perjalanan 3 hari.
Ketika saya duduk di kelas 3 SMA, Papa dipindahkan ke Denpasar. Jadilah saya sering melakukan traveling ke Denpasar, terutama masa-masa kuliah yang membuat iri teman-teman. Jaman dulu kan jalan-jalan ke Bali rasanya WAH, padahal saya mah pulang kampung.

Saat saya mau selesai kuliah S1, Papa saya dipindah lagi ke Makassar. Selama di Makassar, saya sempat mudik 2 kali. Terakhir mudik, saat pesawat ADAM AIR hilang dan ditemukan tinggal serpihan. Saat itu pula banyak kapal yang tenggelam. Saya mau balik Kudus jadi ketar-ketir, padahal saat itu saya sudah bekerja.

Selepas dari Makassar, Papa malah ditempatkan di Semarang, berakhirlah traveling mudik saya. Malah sekarang, pasangan hidup 1 kota, Cuma butuh 30 menit untuk sampai ke rumah mertua. Mo mudik ke mana ya?hiks.

Saya merencanakan, setelah adiknya Fatih berusia 1 tahun ke atas, kami akan traveling mudik ke tanah kelahiran saya atau berkunjung ke rumah Kakak ipar di Sulawesi, semoga ada rejeki. Amin.

Jumat, 17 Oktober 2014

CURHAT MAMA UNTUK PLN

Tak terasa Nak, usia kandungan mama menginjak bulan ke 9, InsyaALLAH perkiraan hari lahirmu bulan depan. Rasanya perut mama sudah sering kencang dan nyeri di bagian bawah perut. Dokter bilang sih, kepalamu sudah berada di jalan lahir. Mudah-mudahan kali ini mama bisa melahirkanmu dengan normal.



Masih teringat kenangan melahirkan pertama kali masmu, Fatih. Tidak disangka, maju 3 minggu lebih dari HPL, padahal sore hari mama masih naik motor pulang dari kantor dan keesokan harinya ada permintaan pelatihan dari sebuah perusahaan. Memang bukan mama yang menjadi narasumber, tapi mama panitianya. Secepat kilat saat akan berangkat ke rumah sakit, mama mendelegasikan tugas kepanitiaan kepada asisten.

Akhirnya mas Fatih lahir melalui operasi sesar, karena kondisi sungsang sementara air ketuban juga sudah pecah. Alhamdulillah semua berjalan lancar, meski Mama sempat meracau di kala operasi..hihihi. Maklum mama kan sensitive terhadap obat bius dan saat memasuki ruang operasi kecemasan memuncak, dokternya tidak menjalin rapport dulu dengan mama sih *sok psikologis banget ya Nak.

Ingat operasi, mama jadi ingat ucapan salah satu guru besar Fakultas Psikologi UGM Prof. Djamaludin Ancok, Ph. D di Seminar Nasional tahun 2013. Waktu itu Prof. Ancok mempresentasikan makalah dengan judul “Membangun Budaya Organisasi Yang Hidup”. Isi dari presentasinya bercerita tentang beberapa pegawai PLN yang ditanyakan tentang nilainya sebagai pegawai PLN. Jawaban dari beberapa pegawai sebagai tukang hidup matikan sakelar listrik.

Wow, Prof. Ancok langsung berkomentar. Kok kesannya nilai sebagai pegawai PLN terlalu rendah. Padahal tanpa listrik, kehidupan sulit berjalan. Misalnya, saat sedang naik lift dan ternyata listrik mati, maka orang yang berada di lift kan bisa terjebak. Lebih parah lagi, saat sedang operasi kemudian listrik mati, otomatis operasi terhambat dan taruhannya nyawa. Kesimpulannya menjadi pegawai PLN itu merupakan pekerjaan mulia, karena menyangkut hajat hidup banyak orang.

Mama kemudian manggut-manggut sambil tertawa, habis Prof. Ancok menceritakannya dengan gaya yang lucu. Jadi ngakak habis mendengarkan presentasinya. Ucapannya benar-benar mengena bahwa listrik itu merupakan kebutuhan yang hampir seperti udara. Tanpa listrik bisa mati gaya dan bikin jantung berhenti berdetak. Beneran kan kalau orang yang sudah bergantung dengan alat jantung, begitu listrik tidak ada bikin detak jantung juga tidak ada *omongan serius.

Mama teringat Nak, bagaimana dag dig dug hati mama kalau mendengar listrik di rumah padam. Kalau listrik di kantor padam mama kan bisa cari kegiatan lain dengan teman kantor, misalnya gosip #eh. Meski mama bekerja, namun merupakan kewajiban untuk tetap memberikan asi untuk masmu dan untukmu nantinya selama 6 bulan ekslusif dan dilanjutkan hingga 2 tahun.  Nah, lagi-lagi mama sangat membutuhkan listrik untuk menjaga asi perah yang sudah mama simpan di kulkas. Lah, kalau listriknya mati, kulkasnya ikut mati, bagaimana nasib makananmu kelak? Menangis darah mama membuang asi perah yang tidak layak karena kulkas mati. Terbayang harus memerah lagi dan kebut-kebutan dengan kebutuhan asimu.


Setelah 6 bulan asi ekslusif, mama masih membutuhkan kulkas untuk melanjutkan asi hingga 2 tahun ditambah untuk mpasi rumahanmu. Ingat dulu, masak sebelum subuh menyiapkan mpasi mas Fatih, disimpan di dalam kulkas, kemudian dihangatkan sebelum diberikan.

Intinya mama dan kamu benar-benar membutuhkan listrik untuk menyala terus. Padahal kenyataannya sering ada pemadaman bergilir. Mama jadi galau Nak, harus ke mana mengadu hiks. Eh, pas lagi mikir soal pemadaman bergilir, mama lihat ada lomba blog yang diselenggarakan PT PLN (Persero) dan BLOGdetik dengan tema ideku untuk PLN dalam rangka Hari Listrik Nasional ke – 69. Kebetulan Nak, mama bisa curhat sekaligus kasih ide untuk PLN agar pemberian ASI perah dan MPASImu berjalan lancar.

Sebelumnya mama sempat browsing dulu, mencari tahu kenapa harus ada pemadaman bergilir. Mama lakukan itu agar bisa memberikan ide buat PLN. Hasil browsing, cukup mencengangkan dan membuat mama manggut-manggut memahami mengapa ada pemadaman bergilir. Tapi tentu saja, listrik sangat vital dan harapannya tetap terus menyala. Jadi inilah ide mama buat PLN :

1.       PLN perlu melakukan sosialisasi yang lebih intensif dan jelas tentang penghematan pemakaian listrik

Mama dulu berfikir, kalau perusahaan yang memproduksi suatu barang tentu lebih suka kalau produknya laku keras di pasaran dan banyak pembelinya, kok ini PLN harus melakukan sosialisasi penghematan pemakaian listrik?.

Ternyata oh ternyata selama ini listrik kita disubsidi Nak, apa yang kita bayarkan, harganya masih di bawah harga produksi, kekurangannya disubsidi pemerintah. Selain itu kebutuhan akan listrik meningkat dibanding ketersediaannya. Nah kalau kita bisa menghemat pemakaian listrik maka akan lebih murah daripada membangkitkannya.

Oleh karena itu, PLN perlu menjelaskan mengapa perlu dilakukan pengehematan listrik Nak. Perlu juga dijelaskan cara-cara pengehematan listrik, mulai dari bentuk bangunan dan penggunaan alat elektronik hemat listrik.

Dapur kantor sudah cukup terang, matikan lampu ah.

2.       Memberlakukan harga listrik yang berbeda di waktu yang berbeda.

Ini hampir seperti biaya telepon Nak. Kalau kita menggunakan telepon di pagi hari sebelum jam 6 biayanya lebih murah dibandingkan siang hari. Hal ini diberlakukan karena biasanya ada beban puncak dimana setiap orang menggunakan listrik di waktu yang sama dan di waktu lainnya pembangkit dan transmisi lainnya menganggur. Pemberlakuan harga yang berbeda akan mendorong pelanggan menggunakan listrik di waktu yang lain dimana harga yang dikenakan lebih murah, sehingga beban bisa merata.

3.       Memberikan reward kepada pelanggan yang melakukan penghematan

Siapa sih Nak yang tidak senang dengan hadiah. Mama yang sudah berumur aja senang kalau dapat hadiah dan gratis pula hihihi. Biasanya kalau pelanggan telat kan kena denda, ini untuk memaksa pelanggan membayar tepat waktu. Demikian juga sebaliknya, kalau bisa menggunakan listrik dengan hemat pelanggan akan mendapatkan hadiah. Tentunya ini akan mendorong pelanggan untuk berhemat. Hadiah bisa bermacam-macam, mulai dari yang kecil hingga besar, misal mobil atau rumah hihihi.

4.       Mandiri energi listrik dengan mencari sumber energi yang lain

Selama ini kebanyakan pembangkit listrik menggunakan batu bara Nak. Padahal tidak semua daerah memiliki batu bara. Kebutuhan batu bara ini kemudian didatangkan dari daerah lain. Tentu ongkosnya menjadi lebih besar. Apalagi batu bara kan sumber energi yang bisa habis di suatu waktu. Bila setiap daerah memiliki pembangkit listrik yang disesuaikan dengan kondisi daerah, maka penghematan biaya produksi bisa dilakukan.


Semoga curhatan mama ini, memberi masukan buat PLN agar dapat meningkatkan pelayanan kepada pelanggan dan akhirnya listrik terus menyala dan mama tidak galau lagi memikirkan nasib asi perah dan MPASImu ya Nak.

Daftar Pustaka :
http://konversi.wordpress.com/2009/11/18/kelistrikan-nasional-masalah-dan-solusinya/

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog #ideKUUntukPLN


Sabtu, 11 Oktober 2014

PENIPUAN KARTU KREDIT TERSELAMATKAN FATIH


Yipie, akhirnya saya punya kartu kredit sejak bulan Juli lalu. Sebenarnya sih sejak awal tahun sudah ada yang nawari kartu kredit yang sama dari bank BNI, tempat gaji saya ditransfer. Cuma karena mas yang nawari tersenyum sinis saat saya bilang mau diskusi dengan suami dulu, saya jadi malas untuk aplikasi kartu kredit.

Beberapa bulan kemudian, ada ibu yang nawari kartu kredit BNI, tawarannya sama dengan mas yang nawari kemarin. Bebas annual fee selama setahun, dapat beberapa potongan harga di pom bensin dan promo lainnya. Seperti biasa saya bilang mau diskusi dengan suami, tanggapan si ibu terlihat memahami. Si Ibu bilang, “ nanti kalau suami tidak mengijinkan, saat dikonfirmasi pusat, bilang saja tidak jadi karena tidak diijinkan suami mbak”.

Jadilah saya setengah membujuk suami untuk menyetujui keinginan saya memiliki kartu kredit. Ketakutan suami kalau nanti tiba-tiba ada tagihan atau justru menjadi boros saya tepis. Wong saya ini keturunan keluarga irit kok, dan saya bukan tipe belanja belinji, kecuali tergiur parfume hihihi.

Singkat cerita, saya yang kurang gaul ini akhirnya memiliki kartu kredit yang sampai sekarang belum saya gunakan. Soalnya belum ada promosi yang menggiurkan dan pada dasarnya saya gak suka ngutang, kecuali kepepet dan minjam orang tua hehehe.

Hingga suatu saat, dua bulan yang lalu saya mendapat telpon dari seorang laki-laki yang mengaku dari visa master card. Mas, ini menyampaikan bahwa saya mendapat hadiah berupa kartu tambahan yang berfungsi sebagai kartu diskon pendamping kartu kredit BNI. Kartu ini bisa memberikan diskon 20 hingga 50 % di berbagai tempat. Selain itu, saya akan mendapatkan voucher menginap di hotel berbintang.

Wuih, hati saya cukup girang, berarti memiliki kartu kredit menguntungkan. Saat masnya masih menjelaskan bla..bla..Fatih sudah berteriak memanggil saya

“Ma, mama Ika. Sudah eeknya Ma” teriaknya berulang-ulang dari arah belakang rumah.

Mendengar teriakannya berulang-ulang, saya langsung menyudahi saja percakapan dengan si Mas tadi. Saya pikir nanti kartu bisa dikirimkan ke alamat kantor, kan sudah ada datanya.

Keesokan harinya saat di kantor, saya iseng mencari informasi mengenai kartu tambahan diskon dari kartu kredit BNI. Kok saya cari-cari tidak ada? Saya ingat lagi kalau si Masnya telpon pas hari libur dan nomor telpon yang menghubungi juga dari nomor HP bukan telpon kantor.

Buka-buka internet lebih jauh lagi, eh ternyata ada sebuah blog yang bercerita hampir saja kena tipu dengan modus seperti yang saya alami. Empunya blog bercerita kalau dia sebenarnya curiga karena masih menanyakan tentang biodata pemilik kartu kredit. Untunglah karena kecurigaannya, dia memberikan no kartu kredit yang salah satu angkanya dibuat keliru.

Ternyata tawaran voucher menginap tetap dikenakan biaya administrasi. Pihak pemberi voucher beralasan bahwa biaya administrasi sangat murah dibanding voucher yang didapatkan. Ketika akhirnya pemilik kartu kredit mengubah keputusan untuk menolak voucher, pihak pemberi voucher justru mengancam bahwa tidak bisa dibatalkan dan sudah ada rekaman kesediaan dari pemilik kartu kredit.

Wow, ternyata ini salah satu modus penipuan bagi pemilik kartu kredit. Pihak bank BNI pun tidak pernah melakukan penawaran seperti itu. Entah darimana, penipu mendapatkan data pemilik kartu kredit. Konon teman saya memberitahu kalau kita punya kartu kredit atau pernah meminjam di bank, data kita bisa tersebar ke bank atau pihak lain.

Alhamdulillah, saya masih diselamatkan oleh keinginan Fatih cebok hehehe.

Senin, 06 Oktober 2014

MENCARI RUMAH SAKIT PRO ASI

Saat hamil Fatih

Tak terasa usia kandungan saya sudah 8 bulan, sekitar 1 – 1,5 bulan lagi akan tiba waktu melahirkan. Alhamdulillah, setiap bulan cek kandungan, kondisi calon adiknya Fatih sehat. Terakhir cek, berat badannya sudah mencapai 2,6 kg.

Kehamilan kedua ini, saya lebih santai, bahkan mungkin kebablasan santai. Beberapa pantangan orang hamil yang menurut saya cuma mitos atau berlebihan, saya langgar. Misalnya makan nangka saat hamil. Dulu waktu hamilnya Fatih, saya tidak diperkenankan menyentuh nangka, durian dan nanas. Sekarang sih kalau cuma sesuap dua suap ga apa-apa lah, kan cuma mencicipi hihihi.

Soal susu hamil juga di kehamilan kedua saya tidak konsumsi. Paling yang diminum susu UHT coklat, itupun tidak tiap hari. Yang menggembirakan, posisi calon adiknya Fatih tidak sungsang, kepala sudah berada di jalan lahir. Pantas, perut bagian bawah rasanya sering nyeri, otot pantat hingga paha rasanya seperti keseleo.

Dokter kandungan dari awal sudah menjelaskan bahwa untuk melahirkan normal masih memungkinkan. Nah, sayangnya saya baru dapat info dari temannya Ayah kalau ibu dengan mata minus kemungkinan melahirkan kecil. Waduh ada saja halangannya, pas hamil Fatih karena sungsang, sekarang posisi sudah bagus, ada informasi soal gangguan mata.

Teman-teman kantor menyarankan untuk sesar saja, kuatir kalau jahitan belum kuat. Saya sih sebenarnya tidak masalah, mau sesar oke kalau bisa normal lebih bersyukur, yang penting lancar dan bayi sehat. Masalahnya rumah sakit tempat saya berkonsultasi tidak sepenuhnya pro ASI.

Berdasarkan PP no 33 tahun 2012 Tentang Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif menyatakan tenaga kesehatan dan penyelenggara fasilitas pelayanan kesehatan :

1. Wajib melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD)paling singkat 1 jam

2. Wajib menempatkan Ibu dan Bayi dalam satu ruangan, kecuali ada indikasi medis

3. Wajib memberikan informasi dan edukasi ASI Ekslusif kepada ibu, dan atau anggota keluarga

4. Jika tidak melaksanakan ketentuan dikenakan sanksi administratif oleh pejabat berwenang.

PP tersebut sebenarnya mengatur dan mendorong pemberian Air Susu Ibu Ekslusif, sayangnya belum semua rumah sakit menerapkan aturan tersebut. Saya tidak tahu, apakah peraturan tersebut suah berlaku dan bila ada laporan pelanggaran ditidaklanjuti atau tidak.

Saat usia kandungan menginjak 5 bulan, saya sudah menanyakan kepada dokter kandungan soal apakah rumah sakit tempat beliau praktek pro ASI atau tidak. Jawabannya “sudah donk”. Nah, saya yang memang dasarnya kemal alias kepo maksimal hihihi, langsung menanyakan berbagai macam pertanyaan terkait dukungan pro ASI.

Awalnya saya menanyakan terkait IMD, dokter kandungan mengatakan bisa untuk kelahiran normal tetapi sulit untuk sesar. Masalah rawat gabung memungkinkan bila memilih minimal ruang kelas 1 dimana hanya ada 1 pasien setiap kamar. Saya pun direkomendasikan untuk memilih dokter anak yang lebih santai dan fleksibel. Terkait informasi dan edukasi ASI ekslusid saya tidak menanyakan, karena informasi yang saya dapat dirasa masih cukup memadai dan dokternya pun sudah mengenal saya ketika kelahiran anak pertama. Terakhir saya menanyakan kembali beberapa hari yang lalu soal media pemberian ASIP atau susu bila ternyata air susu saya belum keluar. Hasilnya dokter meralat pernyataan sebelumnya dengan mengatakan rumah sakit ini masih setengah pro ASI, karena media pemberian ASIP atau susu masih menggunakan dot. Padahal dokter setuju dengan pernyataan saya tentang resiko bingung puting.

Waduh, ini mah setengah aja tidak, dukungan dan dorongannya apa donk? Sepertinya masih bergantung pasien mau pro ASI atau tidak. Ada dua alasan kenapa saya masih bertahan konsultasi di rumah sakit tersebut, yang pertama alasan letak rumah sakit yang dekat dengan rumah dan akses kendaraan mudah. Kedua, saya cocok dengan doktenya. Dia mendukung pemberian ASI, cuma rumah sakit, perawat dan fasilitas yang lain kurang mendukung. Anaknya dokter tersebut 4 tahun baru berhasil di sapih, memang dia pengikut WWL. Saat saya menjalani NWP, dokter pun menyepakatinya.

Saya jadi galau-segalaunya, mau pindah rumah sakit nanggung, ga pindah kok dukungan rumah sakit setengah-setengah. Semisal saya bisa normal, pemulihan pasca melahirkan lebih cepat, jadi bisa maksimal mengupayakan ASI Ekslusif. Bagaimana menurut teman-teman?

Jumat, 03 Oktober 2014

UANG SAKU BUAH SILATURAHMI


Konon katanya silaturahmi bisa membuka pintu rejeki. Saya sangat mempercayai itu. Sejak kecil, saya sangat suka diajak pulang kampung. Entah itu di kampung tempat keluarga Papa, terlebih keluarga ibu saya.

Perjalanan selama pulang kampung pun cukup berat buat saya dan adik-adik yang masih kecil. Malah mungkin lebih berat untuk orang tua saya membawa tiga anak kecil pulang kampung. Ya, semasa kecil, saya dan keluarga tinggal di Bandung, sementara keluarga besar Papa berada di Kudus dan keluarga besar ibu berada di Rantau Prapat.

Perjalanan dari Bandung ke Kudus, sebuah kota kecil di Jawa Tengah memakan waktu sekitar 10 jam melalui jalur darat yaitu bus. Biasanya kami berangkat dari terminal menjelang Isya dan sampai Kudus selepas adzan Subuh. Hal yang terlebih memberatkan adalah hampir semua anak-anak, mabuk darat hihihi, jadi orang tua saya siap berbekal kantong plastik. Belum lagi kalau di tengah jalan, tiba-tiba saya atau adik-adik saya ingin BAB. Waduh, mana mungkin lah BAB di toilet bus, kalau BAK masih boleh. Alhasil, saya pernah BAB di pinggiran jalan, terlindungi semak-semak..ih.

Bagaimana dengan perjalanan ke Rantau Prapat? Wah yang ini lebih lama lagi. Terus terang, seumur hidup saya baru sekali pulang kampung ke Rantau Prapat, yaitu liburan kenaikan kelas 2 SMP. Dulu, transportasi masih sangat mahal, sementara uang ortu juga masih terbatas, klop lah. Akhirnya kami, Papa, Ibu, saya dan adik yang paling kecil, usia 3 tahun beserta sepupu pulang ke Rantau Prapat naik bus. Lamanya perjalanan kami tempuh selama 3 hari 3 malam di BUS NON AC. Bisa dibayangkan, betapa bosen, pegal dan teposnya bokong saya. Apalagi di tengah jalan, bus mengambil penumpang yang duduk di bangku kayu, sebagai bangku tambahan.

Selama perjalanan, saya meminimalkan asupan makanan, kuatir kalau justru membuat mual dan muntah. Jalanan di daerah pulau Sumatra yang berkelok-kelok dan naik turun menambah perut saya serasa diuntir-untir. Alhamdulillah tiba di Rantau Prapat, Sumatra Utara dalam keadaan sehat. Balik lagi ke Jawa tetap naik bus, cuma agak mending lah, pilih bus DAMRI PATAS AC dengan tempat duduk yang lebih luas.

Sungguh tidak mudah perjalanan kami untuk bersilaturahmi. Tapi kami semua senang, bisa berkumpul bersama keluarga setelah bertahun-tahun tidak bertemu. Kesenangan saya akan silaturahmi bertambah lagi ketika tiba saatnya pulang, banyak yang menyisipkan uang saku di tangan saya hihihi. Siapa sih anak-anak yang tidak suka kalau dikasih bude, tante dan uwaknya uang saku atau uang jajan.

Sesampainya di rumah, uang saya masukkan ke celengan. Pernah lho, saya dapat uang 300 ribu rupiah pada tahun 1994. Selain dapat uang saku, terkadang kami bisa mendapatkan baju lebaran dan atau mainan baru. Wuih, benar-benar membawa rejeki.

Pengalaman mendapatkan rejeki sebagai akibat silaturahmi, tidak hanya di masa kecil. Waktu saya sudah bekerja, saya dan adik-adik berinisiatif untuk bersilaturahmi ke rumah salah seorang bude saat lebaran. Dan tara…kami diberi uang saku. Bayangkan, kalau adik-adik saya memang masih belum bekerja dan ada yang masih berstatus mahasiswa bahkan SMA, tapi saya kan sudah bekerja, dan tetap diberi amplop. Lumayan lah, rejeki ga boleh ditolak kan..hehehe..

Saat ini, saya sudah memiliki satu anak dan satu calon anak pun, silaturahmi tetap memberikan rejeki berupa uang saku buat anak saya. Berhubung, anak saya belum mengerti uang, jadi ya sementara dikelola emaknya. Dikelola buat belanja eh buat kepentingan anaknya. Makan sehari-sehari kan penting juga buat tumbuh kembangnya..hahaha..

Tulisan ini disertakan dalam "GiveAway Indahnya Silaturahmi, Lavender Art" by Mbak Irowati.

Selasa, 30 September 2014

PRIA SEMPURNA

Ada 3 hal yang menjadi rahasia ALLAH, salah satunya yaitu jodoh. Sebelum bertemu dengan ayah a.k.a mas bojo, saya tidak pernah menduga akan memiliki pasangan hidup yang satu daerah dan memiliki profesi sebagai jurnalis. Terlebih lagi kisah pertemuan hingga ke pelaminan kami penuh dengan rasa deg-degan seperti yang pernah saya ceritakan di sini.

Usia saya ketika bertemu dengan ayah, sudah cukup matang sekitar 27 tahun dan akhirnya kami menikah saat usia saya 29 tahun. Sebelum bertemu dengan ayah, saya sempat ‘dekat’ dengan beberapa pria. Bahkan saat sudah terungkap perasaan kami berdua, saya masih sempat ditraktir oleh teman pria saya. Tanggapan ayah saat itu, boleh katanya. Tapi ya cuma boleh sekali itu, setelah itu dia pasti akan uring-uringan kalau saya dekat dengan teman-teman pria hehehe.

Selama masa pencarian, saya belum merasakan adanya kecocokan dengan pria-pria tersebut. Apakah mereka kurang ideal atau saya yang mencari pria yang sempurna? Rata-rata dari mereka sudah bekerja dan kemungkinan memang berniat menjalin hubungan yang serius. Kok kemungkinan? Ya, karena ada juga yang tidak langsung berterus terang dengan keseriusan mereka. Misalnya nih, ada temannya yang malah bertanya tentang perasaan dan keseriusan saya dengan teman prianya. Lah kok ga bertanya langsung?. Alasannya, dia ingin membantu temannya, tapi dia menjamin kalau temannya memang menyukai dan berniat serius dengan saya.

Ada lagi yang menyatakan perasaannya di depan teman saya atau kalau gak memakai pengandaian. Misalnya kalau saya di suruh memilih temanmu atau kamu, saya pilih kamu saja. Lah?? Maksude piye?

Bagi pria semacam itu, saya tidak menganggap serius, kan memang sikap mereka terlihat belum serius.

Eits, tapi ada juga yang setelah pertemuan pertama berniat serius dengan masa perkenalan 3 bulan yang kemudian dilanjut dengan keputusan menikah atau tidak. Pria yang satu ini, dari segi bibit, bebet dan bobotnya cukup bagus. Menurut teman saya, mendekati sempurna lah. Berdasarkan informasi dari teman kuliah yang kebetulan pernah menjadi adik kelasnya di SMA, ia berasal dari keluarga yang terpandang dan paling kaya di daerahnya..wow. Saat itui, dia sudah bekerja di sebuah perusahaan, meski masih staf biasa dan memiliki sampingan berwiraswasta. Yang bikin wow lagi, menurut informasi teman, dia adalah mantan ketua OSIS yang cukup popular dan sarat dengan prestasi. Piala dan piagam berjejer di rumah.

Bak ketiban durian runtuh donk. Saya kebetulan suka durian, tapi kalau ketiban kan rasanya sakit kena durinya. Akhirnya saya malah ketakutan sendiri. Iya, dia begitu wow, sedang saya profil yang biasa-biasa saja. Pertemuan pertama dan kedua, dia banyak berbicara tentang dirinya dan pengetahuan psikologi yang merupakan bidang saya. Batin saya, ini orang terlalu wow, saya merasa tidak punya nilai apa-apa.

Sholat istikharah yang dijalani tidak menghasilkan apapun. Saya tidak bermimpi apa-apa, tidak ada kemantapan hati hingga membuat saya merasa ketakutan sendiri. Untunglah, si pria memutuskan untuk tidak melanjutkan, saya lupa alasannya apa. Mungkin dia menemukan ketidakcocokan atau melihat muka saya yang cemas ketika bertemu dengannya..hehehe..

Setelah peristiwa itu, doa saya untuk masalah jodoh berubah redaksinya menjadi “Ya ALLAH, segerakan, mudahkan dan dekatkanlah aku dan jodohku. Getarkanlah hatiku bila ia memang jodohku”.

Ya, saya meminta agar hati bergetar saat menemukan jodoh yang dimaksud. Saya tidak memberikan kriteria apapun, karena kesempurnaan itu relatif.

Sampai saya bertemu dengan ayah, dan seperti doa saya, bergetarlah hati saya setiap bertemu atau mengingatnya. Saat bertemu, dia masih berstatus mahasiswa dan dari keluarga yang biasa, tidak sekaya keluarga pria yang saya ceritakan di atas. Pembicaraan kami di awal pun santai, mengalir dan bukan hal yang berat.


Entah mengapa saya merasa cocok, padahal usianya lebih muda dari saya. Menurut saya, ayah pria yang sempurna. Segi fisik, sempurna lah untuk memperbaiki keturunan, kan ayah orangnya tinggi besar..hihihi. Passionnya pun jelas di bidang jurnalistik, bisa melengkapi wawasan saya yang kurang. Lumayan, saya ga perlu baca koran atau nonton berita dengan intensif hahaha.

Apakah ayah tidak memiliki kekurangan? Ada donk, setidaknya saya memiliki pengetahuan di bidang psikologi lebih dari ayah. Jadi saya merasa memiliki nilai yang berbeda darinya.

Satu peristiwa penting melengkapi kesempurnaan itu. Usai membaca salah satu koleksi buku saya yang bercerita tentang pengalaman penderita schizophrenia dari luar negeri, ayah berujar “Eh Mah, ternyata penderita schizophrenia di luar negeri mengalami delusi dan halusinasi ya?”

Mendengar ucapannya saya bengong “Maksudnya?”.

“Iya, kalau yang di Indonesia kan ga mengalami delusi dan halusinasi kan?” jelas ayah lagi.

“Hahaha” tawa saya sambil membatin sungguh pria yang sempurna bisa membuat saya tertawa.

Selamat Milad Ayah...

Blog Design by Handdriati