Selasa, 13 Januari 2015

RUMAH TANPA TIVI

Akhir tahun 2010 saya menyandang status sebagai nyonya. Usai menikah, terlintas di pikiran saya untuk memiliki rumah. Ya, memang saya dan Ayah belum punya rumah tinggal. Hampir setiap minggu, kami mencari rumah yang dijual. Hasil pencarian nihil. Ada saja halangan sehingga kami urung mendapatkan rumah. Harga yang terlalu mahal, masjid jauh dari rumah, lokasi yang tidak cocok, bangunan yang jelek dan sebagainya.

Seorang teman pada pertengahan tahun 2011 menawarkan kapling tanah seluas 150 meter dengan harga yang cukup murah. Memang lokasi tidak dipinggir jalan besar, agak masuk ke dalam, paling 5 menit dari jalan yang dilalui angkutan. Tetangga di sekitar rumah juga baru 2, yang lainnya ada di depan tanah kami.

Nekat, pinjam uang ke orang tua, akhirnya kami beli tanah tersebut. Pikiran yang ada saat itu, mumpung murah dan yang penting punya dulu hehehe.

“Sudah, uangnya kamu tabung saja buat bangun rumah. Tanah sudah Papa ikhlaskan untuk kamu” ujar Papa membuat hati bersorak *anak tak tahu diri.

Bulan Mei tahun 2013, kami memulai pembangunan rumah. Masih dengan modal nekat, uang masih terkumpul sedikit, kembali saya meminjam uang ke ortu. Setelah hampir 1 tahun rumah dibangun dan sempat berhenti beberapa bulan karena beberapa alasan, kami membangun kembali rumah pasca lebaran. Alhamdulillah pembangunan rumah sudah 75 % selesai. Sisa yang belum terbangun, pagar, pintu belakang lantai atas, pintu kamar, pegangan tangga, pagar pengaman lantai atas, kanopi teras depan dan belakang serta cat dinding. Ternyata buanyak ya..hihihi.

Perjuangan kami membangun rumah, cukup menakjubkan. Kenapa saya sebut menakjubkan? Karena saya sendiri tidak menyangka, kami mampu membangun rumah seperti sekarang. Biaya membangun rumah tidak sedikit, bahkan membengkak dari perkiraan. Biaya yang sudah kami keluarkan membuat saya tidak habis pikir dan bersyukur bahwa ALLAH membuka pintu rejeki hingga rumah terbangun seperti sekarang.

Saya menjadi bersemangat untuk segera dapat menempati rumah. Inilah kado terindah di tahun ini yang saya inginkan. Rumah yang segera bisa ditempati dan tanpa TIVI. Kok tanpa TIVI? Iya, karena saya melihat Fatih terlalu lama menonton tivi. Tontonan Fatih sih awalnya Upin Ipin dan Masha and The Bear di pagi hari. Selanjutnya bertambah nonton Dongeng si Kancil dan film kartun lainnya. Apalagi film kesukaannya tidak hanya tayang di pagi hari tetapi siang dan sore hari. Mengkhawatirkan sekali.

Fatih asik nonton Tivi

Saya tidak bisa melarang Fatih sepenuhnya menonton tivi karena tivi di rumah sering dinyalakan. Kami memang menumpang di rumah orang tua dan tivi merupakan hiburan bagi mereka. Makanya saya menginginkan besok menempati rumah tanpa tivi. Jadi tidak ada pilihan buat Fatih untuk menonton. Kalau sesekali mau nonton, bisa melalui laptop kan?

Saya sudah berencana menyediakan banyak sarana untuk Fatih dan Fattah beraktifitas. Ada perpustakaan, lahan bercocok tanam, lahan bermain air dan terpikir juga untuk bermain pasir. Prinsip saya yang selalu disampaikan ke Fatih, "boleh bermain apa saja yang penting tidak berbahaya dan setelah selesai bermain dikembalikan".

Lantai atas tempat beraktifitas anak-anak

Memang masih butuh perjuangan lagi untuk menyelesaikan pembangunan rumah. Makanya saya minta Ayah berjuang.

“Eh Mah, kok gak terpikir ya ruang tamu lantainya granit aja. Lantai dua juga gak usah dikasih genteng, bagusnya didak jadi bisa buat taman di lantai 3” ujar Ayah, saat ngobras alias ngobrol santai di sore hari.

“Duitnya? Mamah sih senang-senang aja. Nah, Ayah kan kepala rumah tangga, tugas utama mencari nafkah. Mama serahkan seutuhnya agar Ayah menyelesaikan tugas Ayah” ujar saya sambil tersenyum dan dibalas ayah dengan meringis..hihihi.

Semoga kado rumah tanpa tivi ini segera terwujud. Teman-teman boleh kok kalau mau kasih kado juga. Perabotan rumah masih banyak yang belum saya punyai. Saya baru punya kompor dan lemari, masih banyak daftar barang lain hihihi.

“Maaf, kan beda kota, kami gak bisa mengunjungi rumah baru kamu” mungkin itu beberapa alasan buat mengelak memberikan kado.

Eits, jaman gini gak perlu datang langsung, kan ada jasa pengiriman. Tinggal kirim saja, beberapa hari barang sampai dengan selamat. Tidak ada alasan kan?

Sabtu, 10 Januari 2015

BARANG BAWAAN WAJIB SAAT LIBURAN

Sudah lewat kok masih ngomongin liburan? Saya kan anti mainstream..hihihi.. Menurut saya, liburan malah lebih enak pas gak musim liburan. Biar gak terlalu ramai dan harga penginapan lebih murah. Saya sudah ngomong sama Ayah “Nabung yuk Yah, entar pas umur Fattah setahun, kita liburan ke luar kota”. Kok nunggu setahun? Nunggu Fattah sudah bisa makan makanan keluarga.

Liburan itu perlu dan direncanakan jauh-jauh hari. Perencanaan ya mulai dari lokasi, anggaran, transportasi, penginapan, konsumsi hingga barang bawaan. Adanya internet sih memudahkan kita dalam melakukan perencanaan. Minimal tanpa harus survey langsung, kita memperoleh informasi mulai dari tujuan wisata, akomodasi, sekaligus biaya yang dikeluarkan.

Bahkan informasi mengenai kondisi tujuan wisata membantu kita mempersiapkan barang bawaan. Contohnya pas saya mendampingi KKL mahasiswa ke Bromo. Saya bela-belain bawa sleeping bag, karena tahu bahwa penginapannya minim fasilitas dan udara sangat dingin. Hasilnya saya merasa hangat dan nyaman saat tidur.

Ngomong-ngomong mengenai barang bawaan, saya punya barang bawaan wajib saat liburan. Barang ini tidak bergantung pada tujuan wisata, kemana pun wajib saya bawa. Seperti sudah sepaket lah hihihi.

Sebagai emak beranak 2, pastilah keperluan anak saya utamakan. Pakaian, peralatan mandi, cemilan serta bantal merupakan barang standart yang dibawa. Tapi, saya punya satu barang bawaan wajib buat Fatih, yaitu PISPOT. Sejak usia 1,5 tahun Fatih sudah gak pakai popok sekali pakai. BAK dan BAB ya di kamar mandi. Nah, kalau BAK dia sudah bisa di kloset jongkok, cuma untuk BAB masih pakai pispot. Repot kalau gak bawa pispot, BABnya jadi di lantai, kan harus bersihin..iiihh



Liburan ke Yogya

Urusan anak beres, baru menyiapkan barang bawaan saya. Kosmetik wajib saya adalah body lotion. Saya bawa meskipun bepergian dalam kota, bahkan di kantor pun tersedia. Berasa ada yang kurang tanpa body lotion. Pakaian dalam ganti, meski hanya bepergian setengah hari tetap saya bawa.  Nah, kalau menginap, saya pasti membawa celana tidur panjang dan kaos lengan pendek.

Must have item saya sebagai pemakai jilbab adalah celana hitam, jilbab hitam dan jilbab putih. Paling gampang nih, dipadu padankan dengan pasangan warna lain.

“Mah, jilbab putihmu kok warnanya dah mulai bulukan. Beli lagi deh, daripada malu-maluin” ujar Ayah sambil melirik jilbab putih di lemari.

Eh, benar juga. Warna putihnya sudah terlihat kusam dan modelnya sudah ketinggalan. Maklum, belinya sudah 5 tahun yang lalu hihihi.

“Belinya di onlineshop saja. Kemarin kita belanja di mall aja, akhirnya gak dapat apa-apa. Ni Ayah punya voucher diskon Zalora. Ada koleksi jilbab putih juga di Zalora” ujar Ayah lagi sebelum saya mengajak pergi berbelanja.

voucher diskon

Memang bulan lalu saya sempat belanja di Mall. Tapi gak dapat apa-apa, rempong bawa anak-anak. Fatih yang minta es krim, minta mainan dan Fattah yang minta disusui, hasilnya saya gak jadi belanja.

Ya sudah, saya meluncur dulu ke tekapeh ya, mumpung si Ayah mau bayarin hihihi.

Rabu, 07 Januari 2015

KADO TANPA NAMA

Siang hari itu suasana kantor sedang santai dan sepi. Dua orang pekerja kantor, Lyn dan Cak sedang leyeh-leyeh sambil ngobrol ngalor ngidul. Obrolan mengarah ke soal pasangan hidup yang hingga saat ini di usia Lyn 26 tahun, dia masih berstatus jomblo.

“Kalau dosen dapat mahasiswi itu sudah biasa Lyn. Yang luar biasa dan belum ada kalau dosen dapat mahasiswa. Kowe wae Lyn, tak dongakke sesok entuk mahasiswa, bwahahaha” ujar Cak, diakhiri dengan derai tawanya.

Wajah Lyn langsung agak pucat mendengar ucapan Cak, rasanya semacam doa atau bahkan kutukan.

“Jangan gitu ah Cak, aku wes kapok diomongi orang. Entar kejadian bener” tolak Lyn.

“Yo rak popo to ya, bwahahaha” ujar Cak lagi sambil tertawa berderai.

Saat itu memang tidak ada petir yang menyahut mengiringi ucapan Cak, tapi Lyn sudah punya pengalaman, ucapan teman yang jadi kenyataan. Lyn tidak suka dengan asap rokok, setiap teman merokok di dekatnya, dia pasti protes. Saking tidak sukanya, dia pernah buat tugas kuliah terkait dengan rokok. Beberapa orang diwawancarai. Usai wawancara, seorang seniornya bertanya “Entar kalau kamu punya pacar atau pasangan hidup yang merokok gimana?”

“Ya, cari yang gak merokok. Atau suruh pilih, pilih aku atau rokok” jawabnya diplomatis.

“Wah, susah dek jaman sekarang cari yang gak merokok. Besok lihat saja, mesti cowokmu merokok” ujar senior.

Dan benar, semasa kuliah, dia punya cowok perokok berat. Ini akibat ucapan dan doa senior atau Lyn yang gak konsisten ya? Hihihi.

Kembali lagi ke soal mahasiswa, wajah Lyn memang imut-imut, masih pantaslah mengenakan seragam SMP, mengutip ucapan seorang teman SMAnya. Penampilannya juga bermuda, hingga orang tidak menyangka kalau ia sudah bekerja dan berusia 26 tahun di kala itu. Memang ada mahasiswa yang menunjukkan gejala melakukan pendekatan bahkan berani main ke rumah. Usia mahasiswa di kala itu tak terpaut jauh bahkan seusia. Namun Lyn, tak tertarik dan berhasil berkelit dengan manisnya dari usaha pendekatan tersebut.

Hingga suatu hari, Lyn merasa ada denting di hatinya. Setiap kali melihat sosoknya, entah itu secara langsung atau lewat foto, mendengar suaranya bahkan membaca isi smsnya, ada yang berdenting di sudut hatinya. Hari-hari menjadi lebih terasa berwarna. Entah sejak kapan, mungkin frekuensi pertemuan membuat pepatah “witing tresno jalaran seko kulino” terbukti. Saat itu Lyn dan seseorang yang mampu membuat denting di hatinya, aktif di kegiatan yang sama.

Gayung pun bersambut, seseorang itu pun jatuh cinta padanya. Namun Lyn menjadi galau, memilih denting di hati atau kelaziman yang berlaku. Ya, seseorang itu berstatus MAHASISWA dan kuliah di tempat Lyn bekerja. Usia sih tak terpaut jauh, hanya lebih muda dua tahun dan banyak kok kasus pasangan yang lebih muda cowoknya. Masalahnya ya itu, status dia yang MAHASISWA.

“Apa yang salah? Kamu lajang, aku lajang. Kenapa kita tidak boleh menjalin cinta?” tanya Iful, seseorang yang mampu mendetingkan hatinya.

Akhirnya Lyn memilih mengikuti kata hatinya. Lyn tak berhasil mengenyahkan Iful dari hati dan pikirannya. Tapi Lyn meminta syarat, hubungan harus disembunyikan dari semua orang termasuk keluarga sampai waktu yang tepat, entah kapan waktu itu.

Suatu hari Lyn teringat, tiga hari lagi Iful ulang tahun. Lyn ingat, dulu dia suka lihat barang-barang cowok pas di Mall. Sambil memandangi dan sesekali menyentuh, Lyn membatin, kapan ya aku bisa beli barang-barang ini?. Lho, kok Lyn suka barang-barang cowok? Maksud Lyn, dia ingin membeli untuk diberikan kepada seseorang yang special. Akhirnya impian itu tercapai *kasian Lyn ini, kelamaan jomblo kali ya.

Lyn memutuskan untuk membeli jam tangan dengan merek Alexandra Christie dengan model sporty. Setelah terbeli, Lyn bingung, “bagaimana cara memberikan kado ini. Mau ke rumah Iful malu. Kalau ngajak ketemuan alasannya apa? Lagi ini bulan puasa, kan udah janjian ga ketemuan dulu”.

Beberapa saat setelah berpikir keras, TING, Lyn punya ide. Ya, mendingan lewat jasa pengiriman saja. Keesokan harinya, meluncurlah Lyn ke JNE, jasa pengiriman terpercaya. Lyn sudah biasa mengirimkan barang lewat JNE.

“Mas, terima pengiriman dalam kota gak?” tanya Lyn sebelum menyerahkan kadonya.

“Iya mbak terima, tapi ini kan gak terlalu jauh. Kok gak diantarkan langsung” tanya petugas saat melihat alamat yang tertera.

“Gak ah mas. Malas, panas, puasa-puasa lagi” ujar Lyn berkilah.

“Lho kok gak ada nama dan alamat pengirimnya Mbak” tanya petugas.

“Hehehe, untuk kali ini gak usah pakai nama dan alamat pengirim ya Mas. Cukup ditulis di arsip saja ya” jawab Lyn malu-malu.

“Ini apa sih isinya Mbak?” tanya petugas dengan tatapan selidik campur menggoda.

Lyn hanya tersenyum dan segera berlalu. Sepanjang perjalanan, dia berfikir, akankah Iful tahu siapa pengirimnya. Lyn sudah menyiapkan ciri dalam ucapan selamat ulang tahun yang tidak dibubuhi nama pengirim juga. Ia ingin tahu, apakah Iful memiliki kepekaan dan perhatian.

Keesokan harinya, sesudah maghrib, HP Lyn berdering. Nama samaran Iful muncul di sana.

“Terima kasih ya, atas kadonya. Aku suka jam tangannya. Kok gak langsung diberikan?” ujar Iful.

“Kok kamu tahu aku yang kirim? Kan tidak ada namaku di sana?” Lyn sedikit terkejut sekaligus senang.

“Aku tahu dari bentuk huruf G-mu, hanya kamu yang menulis huruf G seperti itu” jawab Iful dengan tepat.

Jam Tangan Saksi Bisu

Catatan : Cerita ini bukan fiktif belaka, Lyn dan Iful akhirnya menikah dan telah dikaruniai dua orang anak yang ganteng. Gambar di atas sebagai bukti kebenaran cerita tersebut.

Giveaway Kado Terindah

Selasa, 06 Januari 2015

KADO TERINDAH YANG TAK DISANGKA

Akhir-akhir ini saya senang ikut lomba blog. Setiap ada informasi lomba blog, langsung URL dan DLnya saya simpan di catatan FB, biar gampang mencari linknya dan lombanya tidak terlewat *niat banget yak. Eh, tapi ikut lomba blog atau GA itu bermanfaat banget lho,bisa buat ide postingan blog, menambah silaturahmi dan tentu saja bonus mendapat hadiah hihihi.

GA yang satu ini, dari Mak Pungky, disuruh mengingat kado terindah yang pernah diterima. Waduh, saya sempat bingung juga, cerita kado yang mana ya, yang mau saya ceritakan. Setelah bertapa 24 jam, cie..akhirnya saya memutuskan untuk menceritakan kado terindah yang tak disangka dari seorang teman. Inilah ceritanya..

Bagi saya fesbuk membawa banyak manfaat. Salah satunya adalah menjalin pertemanan, dari yang belum kenal menjadi kenal dan yang jauh menjadi dekat. Mbak Sekar, adalah salah satu teman yang saya kenal lewat fesbuk. Seingat saya, gegara sebuah group saya mengenalnya. Kalau bukan group menyusui ya group popok kain yang dikenal dengan sebutan clodi.

Mbak Sekar berdomisili di Jakarta. Ia membuka lapak clodi dan peralatan menyusui. Belakangan ini, dia malah menambah ragam lapak dagangannya. Waktu kehamilan Fatih, anak pertama, saya beberapa kali memesan barang di lapaknya. Setelah melahirkan saya juga dapat dukungan menyusui. Waktu itu, Fatih kan sempat bingung putting, menolak saya susui. Nah, mbak Sekar inilah yang ngayem-ngayemi serta memberikan tips agar sukses menyusui. Alhamdulillah Fatih mau menyusu langsung hingga berhasil disapih di usia 25 bulan 12 hari.

Saat hamil Fattah, anak yang kedua, mbak Sekar juga terlihat senang. Wah, kok saya tahu? Iya, lewat komentarnya di fesbuk yang memberikan ucapan selamat. Pertemanan saya dan dia memang hanya terjalin lewat fesbuk. Entah itu lewat komentar terhadap status fesbuk atau ngobrol via inbox.

Hingga 2 minggu setelah melahirkan mbak Sekar berkirim pesan lewat inbox di fesbuk.

“Mbak mau aku kadoin apa?hehehe” isi pesannya.

Coolerbag biru

Kebetulan, saya memang butuh dan mau pesan coolerbag buat membawa ASIP dari kantor ke rumah. Coolerbag yang dulu sudah rusak. Saya pikir, besok-besok aja lah pesannya, wong cuti saya masih lama.

Eh, Mbak Sekar langsung bilang mau dikadoin coolerbag dan meminta alamat rumah saya. Iya, seperti biasa, coolerbagnya mau dikirim lewat jasa pengiriman.

Beberapa hari kemudian datanglah kurir ke rumah saya, membawakan coolerbag biru dari Mbak Sekar. Wah, saya senang banget, ga nyangka, meski belum pernah bertemu, mbak Sekar perhatian banget. Bagi saya, inilah kado terindah dari seorang teman yang tak terhalang jarak.

Terima kasih Mbak Sekar atas kado dan jalinan pertemanan yang indah.

Senin, 05 Januari 2015

BAGAIMANA EVALUASI 2014 DAN APA RESOLUSI 2015?

Judulnya kok kata tanya semua? Ini lagi mempraktekkan ilmu dari Blogger Senior..hihihi. Terlepas dari kata tanya tersebut, saya sadar kalau tulisan ini telat banget. Orang-orang sudah melakukan evaluasi dan membuat resolusi bahkan sudah menjalankannya, eh saya malah baru buat. Bukannya saya tidak terpikir membuatnya, semua sudah menari-nari dalam pikiran, hanya belum sempat eksekusi. *halah ngeles meneh.

Sama seperti tulisan ini, di tahun 2014, resolusi ngeblog saya baru hadir memasuki minggu kedua. Yah lebih baik telat daripada tidak sama sekali. Itu adalah slogan yang saya pakai kalau lagi telat hehehe. Alhamdulillah, hingga saat ini saya masih komitmen untuk ngeblog. Berbagi cerita, pengalaman dan pikiran sambil belajar merangkai kata. Ya, menulis sebenarnya merupakan resolusi semenjak akhir kuliah S1. Sayang jaman dulu, blog masih jarang, masih sipit internet dan keberanian masih tipis.

Adanya blog memudahkan kita untuk menulis tanpa takut ditolak. Kalau dulu buat tulisan dan ingin dibaca banyak orang kan harus kirim ke media, iya kalau diterima, kalau ditolak? Sakitnya tuh di sini dan bikin kita mutung gak mau menulis lagi *pengalaman pribadi. Asiknya lagi, kalau ikut komunitas, kita bisa berbagi. Caranya ya dengan blogwalking ke tulisan teman-teman. Wuih, banyak ilmu bertebaran. Apalagi teman blog senior *serap-serap ilmu.

Ikut blog tanpa saya duga bisa menghasilkan uang. Saya sudah tahu sebenarnya kalau ngeblog bisa mendatangkan uang, tapi niat di awal bukan untuk mencari duit. Di dorong oleh adik saya Rahmi yang Irits ini, saya akhirnya ikut lomba blog. Awalnya bingung banget dengan persyaratan lomba. Gak tahu caranya bikin hyperlink, pasang banner, sampai masalah buat hastag di twitter. Istilah-istilahnya unfamiliar buat saya. Alhamdulillah, hadiah hiburan bisa saya sabet di lomba #IdekuUntukPLN dan Sun Anugerah Caraka 2014. Sayangnya banyak lomba juga yang ‘lewat’. Saya akui, saya tidak maksimal dalam persiapan dan seadanya membuat tulisan.

Salah satu kesipitan saya akan teknologi

Di tahun ini, saya juga diberi kepercayaan ALLAH SWT untuk hamil dan melahirkan anak yang cakep dan semoga menjadi anak yang sholeh..aaamiin. Biaya persiapan melahirkan sebenarnya bertabrakan dengan biaya pembangunan rumah. Ya di tahun 2014 ini, saya lagi banyak pengeluaran untuk pembangunan rumah tinggal. Akhirnya pembangunan saya hentikan sementara, menunggu uang terkumpul. Biaya persalinan pun mepet bahkan nyaris tak cukup untuk membayar rumah sakit. Alhamdulillah rejeki datang, hingga biaya melahirkan terbayar, aqiqoh pun terlaksana.

Rumah yang kami bangun sejak 2013 pun sudah 80 % jadi. Saya tidak menyangka kalau biaya pembangunan rumah membengkak. Ya ada sedikit masalah dengan mandor sehingga pembangunan mundur dan akhirnya harga bahan bangunan pun naik. Yang membuat saya takjub lagi, ternyata kami mampu membangun rumah dengan biaya tersebut. Kalau dihitung gaji saya dan suami, rasanya sulit, namun rejeki memang rahasia ALLAH, yang penting adalah usaha untuk menjemputnya.

Lantas apa resolusi di tahun 2015 ini?

Ada beberapa resolusi di tahun ini yang tidak muluk-muluk. Mimpi pun kan tetap harus realistis, kalau terlalu muluk bisa jadi hanya menjadi bunga tidur. Jadi ini resolusi 2015.

  •  Meningkatkan kualitas blog. Caranya ya dengan belajar ilmu blog, tidak sipit lagi, melek blog lah. Saya harus mulai belajar tentang Personal Branding, SEO dan istilah-istilah lain. Kuantitas BW juga harus ditingkatkan, demi bertambah ilmu dan teman. Kualitas tulisan saya juga harus terus diasah, tidak asal membuat tulisan, tidak seadanya ikut lomba blog *banci lomba. Satu lagi, di tahun ini saya berharap dapat JR alias Job Review. Menurut saya, kalau bisa dapat JR berarti blog saya diakui, tulisan diapresiasi…aaamiin.
  • Niatan awal saya ngeblog adalah untuk belajar menulis. Sudah satu tahun saya belajar, saya berharap ilmu saya meningkat dan HARUS terus ditingkatkan. Nah, salah satu resolusi di tahun ini adalah tulisan tembus media.
  • Untuk membantu dua resolusi di atas, saya harus sering membaca. Selain sowan ke blognya teman, saya juga harus banyak membaca media yang ingin saya bidik.
  • Mudah-mudahan saya bisa menempati rumah tinggal, paling tidak di akhir tahun, sambil menunggu Fattah agak besar. Saya miris kalau meninggalkan Fattah hanya dengan pembantu.
  • Saya ingin menjadi istri dan mama yang baik. Kekurangan saya yang paling mendasar adalah mengatur emosi. Seringkali ketika marah sudah timbul, saya sulit menempatkan marah pada posisinya. Di tahun ini saya akan belajar mengatur emosi. Saya gak mau anak-anak belajar mengeluarkan emosi dengan cara negatif dari saya.
Itulah beberapa resolusi 2015. Bukan tidak mungkin dipertengahan jalan, saya menemukan resolusi baru. Mudah-mudahan resolusi ini bisa terwujud dengan lancar. Aaamiin.

Sabtu, 03 Januari 2015

(REVIEW) WHITE MUSK SET THE BODY SHOP

Siapa yang suka wangi? SAYA *angkat tangan yang tinggi. Sejak SMP saya suka wewangian.  Dulu masih beli wewangian jenis eu de cologne, spray atau mist. Baru pakai yang murah-murah saja, disesuaikan dengan ukuran ‘kantong’. Setelah bekerja, baru berani beli yang agak mahal dikit, jenis eu de toilette atau eu de parfume. Kan sudah punya penghasilan sendiri hehehe.

Nah, saya punya satu wewangian yang ingin saya miliki dan baru kesampaian kemarin. Apa itu? Wewangian dari The Body Shop. Iya, sejak kuliah saya sudah pengen punya wewangian dari TBS, cuma dari harga memang agak besar buat kantong. Pas bekerja, ada saja kebutuhannya, apalagi setelah berumah tangga dan memiliki anak.

Alhamdulillah kesempatan datang dari Ayah yang menawari oleh-oleh dari Batam. Saya yang memang penyuka wewangian langsung minta White Musk dari TBS. Saya pikir harga di Batam lebih murah, ternyata sama saja dengan di Semarang. Akhirnya diputuskan beli di Semarang saja, biar saya bisa pilih sendiri *asik.

White Musk Set

Sabtu, 27 Desember pas Ayah libur, kami langsung ke Java Mall Semarang. Begitu sampai Java Mall, kami berpencar, Ibu mencari tas ditemani Papa, Ayah bareng Fatih mengelilingi Mall dan membeli kaos kereta api, saya sendiri ke counter TBS sambil mendorong kereta bayi *dibela-belain bawa Fattah.

Sesampai di TBS saya langsung menuju rak rangkaian produk seri white musk. Ternyata varian white musk tambah banyak. Bikin bingung, rasanya pengen dicoba semua. Sayang, waktu dan kondisinya tidak memungkinkan, Fattah sudah gelisah minta disusui. Akhirnya saya hanya menyemprotkan Edt White Musk dan Edt White Musk Libertine.

White Musk merupakan parfum klasik yang menjadi favorit penggemar TBS.  Wanginya didominasi musk, kayu, white floral, powdery, floral dan earthy. Sedangkan varian Libertine didominasi musk, wangi yang manis, madu, mawar dan milky. Saking bingungnya, akhirnya saya memanggil Ayah untuk membantu memilih.

Saat pertama menyemprotkan white musk, Ayah berkomentar, “kok tidak ada baunya”. Memang saat itu baunya tidak tercium, setelah sekitar 10 detik barulah aromanya mulai muncul. Menurut saya sih, aroma white musk ini lama kelamaan malah terasa enak. Awal setelah aromanya keluar terasa menyengat, lama kelamaan baru terasa manis berbau bedak. Kalau Libertine wanginya hampir sama hanya lebih feminin.

Akhirnya saya memilih White Musk Set yang terdiri dari Edt 30 ml, Shower Gel 60 ml dan Body Lation 60ml. Awal kenal wewangian dari TBS, ya White Musk ini. Dua orang teman saya memakai Edt White Musk, baunya perpaduan bedak dan sabun. Itulah salah satu alasan saya memilih White Musk. Shower Gelnya pas saya gunakan cukup kesat di badan, tidak terasa licin. Sedang Body Lotionnya juga langsung meresap di kulit dan tidak membuat berminyak. Hanya baunya yang tercium agak menyengat.

Harganya sih, lumayan merogoh kocek,  IDR 255.200. Itupun setelah dipotong diskon, harga aslinya IDR 319.000. Saya juga ditawari kartu member TBS. Syarat menjadi anggotanya, selama 2 bulan belanja minimal IDR 500.000. Diambil sajalah, siapa tahu dapat rejeki bisa belanja lagi produk yang lain..aamiin.

member card

Blog Design by Handdriati