Kamis, 29 Januari 2015

CARA MUDAH MERAWAT RAMBUT AGAR SUAMI MAKIN SAYANG

dokumen pribadi
“Kok gak boleh potong sih Mas? Rambutnya sudah terlalu panjang nih” protes saya saat suami tidak memperbolehkan potong rambut.

“Iya kan kalau Mas mau elus sambil bilang sayang sama adek bisa agak lamaan, lebih mesra” alasan suami.

Hadeuh, alasan yang umum dikemukakan pria. Rambut panjang memang indah, tapi sering membuat gerah dan ribet merawatnya. Apalagi bagi pemakai jilbab seperti saya, lebih ekstra perawatan kalau rambutnya panjang.

Rambut saya tidak terlalu lebat, bisa dikatakan tipis, helaian rambutnya halus, beda dengan rambut adik-adik perempuan saya. Makanya sejak SMP, perawatan yang paling intens saya lakukan adalah perawatan rambut. Mulai dari mengoleskan lidah buaya, memberi perasan santan sampai membuat ramuan pakai minyak sayur, saya lakukan untuk menebalkan dan merawat rambut.

Sekarang dengan status ibu 2 anak yang masih batita, mau merawat rambut seperti jaman masih gadis jelas tidak mungkin. Pulang kerja harus memandikan anak, menyuapi dan menemani bermain. Waktu istirahat saya hanya saat anak-anak tidur di malam hari. Mau perawatan rambut di malam hari? Wah, tinggal capeknya.

meski tertutup jilbab rambut wajib dirawat
Lho rambutnya kan tertutup, tidak kelihatan? Eh, pakai jilbab tetap wajib memelihara ‘mahkota ‘ wanita. Salah satu alasanya karena kita tidak boleh zalim terhadap diri sendiri. Bentuk kepedulian dan keadilan kepada diri sendiri salah satunya adalah menjaga dan merawat rambut, bonusnya rambut menjadi indah. Keindahan juga sangat disukai ALLAH.

Selain itu tampil cantik di depan suami hukumnya wajib. Akhirnya saya cari-cari cara deh. Alhamdulillah sekarang saya menemukan solusi perawatan rambut sehat yang ciamik. Tidak pakai ribet, hemat waktu, hemat tenaga dan ringan di ongkos. Apa itu? Setiap habis keramas, saya oleskan vitamin rambut ellips.

Kenapa vitamin rambut Ellips? Karena vitamin rambut Ellips sekarang diperkaya oleh Pro Keratin Complex. Keratin adalah protein zat dasar penyusun lapisan rambut yang sangat berperan dalam keindahan rambut. Seiring bertambahnya usia, keratin rambut akan berkurang. Keratin pada rambut bisa rusak akibat proses styling atau penggunaan bahan kimia secara terus menerus. Keratin juga bisa rusak karena menyisir dan mengikat rambut terlalu kencang. Wih, padahal saya sering mengikat rambut karena gerah atau pas mau memakai jilbab.

Dampak rusaknya keratin, rambut menjadi tidak sehat, kering, tidak megar dan sulit diatur. Makanya keratin itu penting untuk mengganti protein rambut yang semakin menipis. Keratin juga bisa mengganti sel-sel rambut yang rusak. Dengan vitamin rambut dari ellips yang mengandung keratin, rambut lebih mudah ditata dan diatur.

Ada 3 pilihan Vitamin Perawatan Rambut dari Ellips, lho.

http://blogcontest.ellipshaircare.com/

  • Ellips Vitamin Rambut Silky Black yang diperkaya Pro Keratin Complex, Kemiri dan Aloe Vera Oil untuk merawat kemilau sehat rambut hitam, menutrisi dan melindungi rambut dari sinar matahari. Pemakaian Ellips Silky Black membuat rambut hitam lebih sehat, lembut, bercahaya dan mudah diatur. Cocok buat yang rambutnya sering terpapar sinar matahari seperti suami saya. 
  • Ellips Vitamin Rambut Hair Repair yang diperkaya Pro Keratin Complex dan Jojoba Oil untuk merawat, menutrisi dan melindungi rambut yang rusak akibat proses kimiawi contohnya pengeritingan atau pelurusan rambut. Pemakaian Ellips Hair Repair membuat rambut lebih sehat, lembut, bercahaya dan mudah diatur. Ini cocok untuk teman kantor saya yang kerap rebonding rambut.
  • Ellips Vitamin Rambut Smooth and Silky yang diperkaya Pro Keratin Complex dan Aloe Vera Oil untuk merawat rambut hingga terasa lembut, menutrisi dan menjaga kelembaban rambut. Pemakaian Ellips Smooth and Silky membuat rambut lebih sehat, lembut, bercahaya dan mudah diatur. Cocok buat yang rambutnya berjenis kering dan kaku.

Pilihan vitamin rambut saya, jatuh pada Ellips Vitamin Rambut Silky Black. Satu pack Ellips berisi 6 kapsul vitamin rambut. Packagingnya simpel dan higienis, 1 kapsul untuk sekali pemakaian. Buat yang punya anak kecil, vitamin rambut yang disimpan dalam botol rawan diambil si kecil dan beresiko tumpah bahkan pecah.

Biasanya, saya menggunakan ellips sore hari sepulang dari kantor. Selesai keramas, rambut dibiarkan setengah kering, saat itulah 1 kapsul ellips saya ambil. Gunting ujungnya dan tuangkan ke telapak tangan, kemudian usapkan dari batang rambut hingga ke ujung rambut. Setelah itu rambut dibiarkan kering sambil tetap beraktivitas.

dokumen pribadi
Seringnya 1 kapsul saya pakai berdua sama suami. Pria juga perlu merawat rambut kan?. Apalagi pekerjaan suami di lapangan ‘mengejar’ berita, rambutnya sering terpapar matahari.

Ellips vitamin rambut juga cocok mengatasi rambut yang bercabang. Saya penyuka olahraga renang, biasanya seminggu sekali saya renang. Meskipun memakai baju renang khusus muslimah yang tertutup dari ujung kaki hingga ujung rambut, tapi rambut saya kering akibat kaporit yang ditambahkan pada air kolam. Parahnya lagi ujung rambut menjadi bercabang. Setelah beberapa kali pemakaian ellips, kondisi rambut saya membaik, rambut bagai terlahir kembali.

setelah berenang jangan lupa usapkan ellips ke rambut
Senangnya lagi, ellips mudah didapat di toko dekat rumah dan harganya cukup terjangkau. Mudah dan murah kan punya rambut indah bagai terlahir kembali? Suami pun semakin sayang dan senang mengelus rambut sembari berujar “sayaaaang”.


Sumber : www.ellipshaircare.com

Senin, 26 Januari 2015

LELAKI DARI MASA LALU


Samar-samar masih kuingat dia. Seorang lelaki dari masa lalu. Secara fisik, dia tidak terlalu istimewa. Kulitnya sawo matang dengan rambut hitam lurus dan tebal. Namun dialah lelaki pertama yang menawan hatiku. Dia yang membuat hariku menjadi penuh warna karena menanti kedatangannya.

Kami berkenalan pertama melalui sekolah. Ya, kami teman satu sekolah bahkan satu kelas. Mungkin kebersamaan lah yang menumbuhkan benih-benih rasa suka dihatiku.

Sikapnya santun. Tidak seperti teman lelaki yang lain, yang suka mengganggu anak perempuan di kala itu. Dia selalu berbicara dengan ramah disertai senyuman. Sesekali dia ikut bermain juga bersama anak perempuan.
“Ih, bobogohan na?” ujar salah seorang teman perempuanku saat melihat aku dan dia tengah bercanda.

“Ih, henteu atuh, temanan aja” balasku mengelak perkataan teman.

Ucapanku memang tak sesuai dengan isi dalam hatiku. Entahlah, kenapa teman perempuanku berkata demikian. Apa mungkin tergambar jelas di raut wajahku? Memerahkah mukaku saat dia menggodaku atau mataku berbinar saat mataku menatapnya? Yang jelas ada terselip rasa senang saat aku mencuri dengar gosip bahwa kami pacaran.

Aku pun tak tahu isi hatinya. Sebenarnya setengah berharap dia memiliki perasaan yang sama denganku. Tak berani berharap bahwa sikapnya yang baik padaku karena ia juga menyukaiku. Rasanya sikap dia memang baik terhadap teman perempuan.

Aku juga tak berani bertanya tentang isi hatinya. Aku perempuan. Di masa itu, tabulah perempuan menyatakan perasaannya terlebih dahulu. Apalagi kurasa kedua orang tuaku bahkan kedua orang tua kami tidak akan setuju kalau kami menjalin cinta. Pasti menurut mereka terlalu belia.

Hingga akhir perpisahan sekolah perasaan itu masih tertutup rapat di hatiku. Tak berani aku menyatakannya. Hanya mampu menatapnya saat aku akan bersiap pentas menari  di acara perpisahan.

Hingga kini aku tak pernah mendengar tentangnya lagi. Usai perpisahan sekolah, aku pun pindah rumah, sehingga kemungkinan bertemu sangat kecil. Aku pun tak tahu rumahnya, siapa nama orangtuanya. 

Semakin lama raut wajahnya semakin memudar, tinggal kenangan samar. Kenangan usai pulang sekolah, bermain dan bercanda sambil menunggu orang yang menjemput kami. Kisah inipun tak pernah sampai di telinga suamiku. Apa yang hendak kuceritakan? Kisah ini sudah terlalu lama, bahkan nama lelaki itupun sudah kulupakan.

Catatan : Kisah ini terjadi puluhan tahun lalu. Kala kami masih belajar dan bermain di TK Tawekal Sapta Marga Cibereum Bandung.


Kamis, 22 Januari 2015

AWAS, SI PENIRU ULUNG

Suatu pagi, usai sarapan Fatih menghampiri saya yang tengah mengetik di kamar.

“Capek Mah? ujar Fatih sambil merebahkan diri di atas kasur.

“Capek? Memang Mas Fatih habis ngapain?” balas saya sambil mengetik.

“Habis nyapu Mah” ujar Fatih lagi.

“Nyapu? Nyapu apa?” tanya saya sambil memandang Fatih.

“Nyapu bubun (baca : bubur) Mah” jawab Fatih yang disusul derai tawanya setelah melihat ekspresi muka saya.

Ya, saya kemudian mengernyit sambil mata sedikit membelalak, antara tak percaya dan geli. Akhirnya saya tertawa juga sambil berujar, “kamu kok lucu sih Mas, kayak srimulat”.

Saya yakin, sebagian yang melihat kejadian itu pasti tertawa, wong anak umur 2,5 tahun kok sudah bisa bercanda seperti itu. Eits, tunggu dulu, kalau waktu diputar ulang, beberapa hari yang lalu ada percakapan yang hampir serupa. Saat itu Fatih juga mengatakan kalau capek habis nyapu ruang tengah, padahal dia habis makan. Terus saya bilang saja, “habis nyapu nasi ya mas, capek ngunyah”. Hihihi..

Usia Fatih memang masa meniru. Dia meniru apapun yang dia lihat dan dengar di lingkungan sekitar. Tentunya Fatih belum mampu menyaring mana yang baik dan mana yang jelek. Dia juga belum mampu mengendalikan seberapa jauh tindakan itu dilakukan.

Salah satu perilaku meniru Fatih adalah perlakuan terhadap kucing. Kami terutama Yangkung memang senang memelihara kucing, dimanapun kami bertempat tinggal. Suatu hari, saya melempar sandal kepada kucing kampung yang sering mengganggu kucing yang kami pelihara. “Plak, rasain” ujar saya dengan emosi. Saya geram sekali dengan kucing itu. Kucing yang kami pelihara ketakutan dibuat ketakutan setengah mati.

Rupanya adegan itu terekam oleh Fatih. Keesokan harinya, ketika saya tengah duduk di belakang rumah sambil menyuapi Fatih, saya mengusir kucing yang berputar-putar di kaki.
“Hush, pergi sana ah. Mengganggu saja, kan sudah diberi makan” ujar saya sambil mendorong tubuh kucing dengan kaki.

Fatih lalu mengambil sandal dan melemparkan sandal ke kucing yang saya usir, “Pergi sana” teriaknya.

“Lho Mas, kok dilempar sandal?” namun saya kemudian teringat dengan kejadian kemarin saat saya melempar sandal. Waduh ternyata Fatih meniru perilaku saya melempar sandal tanpa tahu siapa yang saya lempar dan kenapa.

Saya langsung sadar, ya seharusnya saya tidak perlu begitu emosional dan menunjukkannya di depan Fatih. Sebagai orang tua, saya seharusnya menjaga sikap, tentunya tidak hanya di depan anak saja, di mana pun juga. Kalau hanya di depan anak, suatu saat akan terlupa.

Siapa yang ingat dengan kasus anak usia 2 tahun pecandu rokok? Kok bisa? Tentunya tak lepas dari lingkungan keseharian yang dia lihat. Entah itu tetangga, televisi, keluarga bahkan lingkungan terdekat yaitu orang tuanya.

Sebagai orang tua kita lah memang yang bertanggungjawab terhadap perilaku anak. Contoh yang sering dilihat anak adalah keseharian kita. Kalaupun perilaku yang dilihat anak bukan dari orang tua, seharusnya kan kita tetap bertanggungjawab memilihkan lingkungan yang kondusif buat anak.

Hal lain, anak-anak sering kita anggap lucu ketika meniru perilaku orang dewasa, akhirnya kita tertawa, sayangnya itu dianggap sebagai penguatan oleh anak. Akibatnya anak akan mengulang perbuatan itu di kemudian hari. Kadang kita juga membedakan sikap mana yang boleh dilakukan anak dan yang boleh dilakukan orang dewasa. Misalnya merokok, kita tetap merokok di depan anak, tetapi melarang anak merokok. Kita memerintahkan anak untuk belajar, sementara orang tua menonton tivi.

Tentu semua orang tua berharap anak tumbuh dan berkembang menjadi anak yang baik, sholeh atau sholihah. Bagaimana dengan kita sebagai orang tua? Kita juga harus tumbuh dan berkembang menjadi orang tua sholeh dan sholihah agar anak meniru perilaku baik kita #teguran buat diri sendiri.

Fatih meniru Mama dan Yangti Masak

Senin, 19 Januari 2015

SIAPKAH BERTAMBAH USIA?

Apa yang tidak akan pernah kembali? Jawabnya adalah waktu. Sebesar apapun usaha kita, waktu akan terus berjalan dan sering terasa sangat cepat. Rasanya kemarin baru saja Senin kok sudah Senin lagi *keluhan pekerja kantoran.

Saya ingat saat kelas 2 SD, sekitar 10 tahun yang lalu *tiba-tiba disorientasi waktu. Waktu itu upacara bendera, saya menatap langit dan berkata dalam hati, “kapan saya bisa cepat besar ya? seperti apa besok kalau sudah besar?”. Kala itu, ingin sekali cepat besar. Pikirannya kalau sudah besar itu enak, apa saja boleh. Sekarang mikirnya, enak ya jadi anak kecil..hihihi.

Bertambah usia diikuti juga dengan pertambahan dan perubahan tugas perkembangan. Apabila seseorang mengalami keterlambatan menyelesaikan tugas perkembangan, maka akan menyulitkan tugas perkembangan berikutnya. Misalnya seseorang di masa remaja kurang berhasil di bidang pendidikan tentu ketika memasuki masa dewasa akan kesulitan dalam bidang pekerjaan.

Awal kuliah, saya takut menjadi dewasa. Benak saya tergambar menjadi dewasa itu banyak tanggung jawabnya. Ketika semester akhir, melihat kakak senior yang baru saja lulus meladeni suaminya, pikiran saya kok segitunya. Saat makan di acara tasyakuran, kakak senior segera menghampiri suaminya. Mulai dari mengambilkan air cucian tangan, mengambilkan serbet dan mengambilkan makanan di piring *untung gak sampai menyuapi suaminya..hihihi. Pikiran saya, emang suaminya gak bisa mengambil makanan sendiri, berarti menikah menambahi pekerjaan *calon istri yang kurang berbakti.

Saat mulai bekerja, perubahan juga saya rasakan di lingkungan. Biasanya dipanggil Mbak, eh ini beberapa teman kantor memanggil ibu. Padahal mereka jauh lebih tua lho. Rasanya tidak nyaman, berasa tua. Seiring waktu, saya sudah mulai terbiasa dipanggil ibu, lha emang sekarang sudah ibu beranak 2.

Ketidaknyamanan dengan panggilan juga dirasakan oleh ibu saya. Saat pergi keluar bersama Papa, seringkali orang lain memanggil mereka dengan sebutan “Mbah”. Ya memang sudah pantas sih mereka disebut Mbah, wong sudah punya cucu. Tapi ibu saya merasa gak nyaman, kesannya sudah tua banget. Akhirnya para cucu diminta memanggil Yangti dan Yangkung *sama saja kan.

Kalau cuma masalah sebutan saja sih bisa diatur. Nah, saya pernah melihat hal yang sedikit janggal. Seorang nenek meminta saya memanggil dengan sebutan ibu. Awalnya sih saya menyebutnya Oma. Maksudnya manggilkan buat cucunya yang duduk di kelas 2 SD. Eh, ternyata cucunya manggil neneknya dengan sebutan Mami. Pas saya bertandang ke rumah, iseng saya bertanya soal neneknya. Ternyata dia bilang kalau mami itu bukan nenek, kalau nenek kan sudah tua, mami kan masih muda *saya jadi agak bengong.

Saya mikirnya cucunya yang memang gagal paham atau neneknya yang tidak mau disebut tua. Tua itu kan pasti, seberapa pun kita menolaknya. Jadi siapkah kita bertambah usia?

Pernah muda bersama Bona

Jumat, 16 Januari 2015

EFEKTIFKAH KATA “JANGAN” PADA ANAK?


“Mas, jangan ganggu Boni, nanti digigit lho” larang saya saat melihat Fatih tengah mengusir dan memukul kucing yang bernama Boni.

“Ganggu Ma” balas Fatih tetap menganggu Boni.

Lain waktu di kamar saat saya tengah menyusui adiknya, Fattah, “Mas, jangan cubit pipi adik, kasihan, ntar adik kesakitan”saya berusaha menghadang usaha Fatih mencubit pipi adiknya.

“Cubit Ma” Fatih malah berusaha lebih keras mencubit pipi adiknya.

Saat itu saya sampai terpaksa memanggil yangti dan yangkungnya karena Fatih tidak mau menjauhkan tangan dari pipi adiknya.

Kejadian yang saya alami, sering juga dialami oleh ibu-ibu yang lain kan?. Sering sekali anak justru melakukan apa yang dilarang. Usia Fatih 2,5 tahun adalah masa melawan otoritas orang dewasa, dalam hal ini orang tua atau eyangnya. Semakin dilarang, seringnya anak semakin bersikeras untuk melakukannya. Sikap ini juga sering dibarengi oleh sikap agresif dan mementingkan diri sendiri sehingga terlihat anak justru menjadi emosional ketika dilarang.

Penjelasan lainnya, jangankan anak-anak, kita sebagai orang dewasa ketika mendengarkan kalimat “jangan pikirkan sepeda” apa yang terjadi? Justru bayangan sepeda menari-nari di benak kita, iya kan? Itu karena otak ketika mendengar kata sepeda yang tercipta bukan tulisan sepeda namun gambar sepeda. Kata jangan atau kata negative lainnya akan diabaikan otak, fokus pada obyek dalam perintah atau larangan.

Itulah sebabnya justru larangan saya kepada Fatih untuk tidak mencubit adiknya memotivasi Fatih untuk mencubit adiknya. Namun memang situasinya kadang tidaklah mudah. Saat itu saya tersulut emosi dan tidak mampu mengarahkan perilaku yang saya harapkan dari Fatih *padahal sering. Akhirnya saya berteriak memanggil eyang sambil bersuara keras dan menghalau tangan Fatih dengan cukup agak kasar. Fatih kemudian diambil eyangnya dalam keadaan emosi karena keinginannya tidak tercapai.

Sesaat kemudian, Fatih kembali mendatangi saya dan Fattah. Saat itu saya sudah mampu menguasai emosi, “Mas, sama adik yang baik ya. Kalau mau sayang adik, pegang pipi adik dengan halus dan lembut”.

“Iya Ma. Pegang pipi adik aja, gak cubit pipi adik” janji Fatih sambil memegang pipi adiknya.

Ya, saya berhasil membentuk perilaku yang diinginkan tanpa mengijinkan perilaku yang tidak diinginkan tergambar di otak Fatih. Jadi tekniknya adalah langsung menyampaikan kepada anak perilaku apa yang kita harapkan dari dia.

Apakah lantas kita tidak boleh sama sekali menggunakan kata tidak atau jangan? Beberapa situasi menghadapkan saya menggunakan kata tidak, entah mungkin saya yang kurang kreatif dalam mencari kata yang lain. Misalnya saat Fatih ingin menggunakan pisau saat membantu saya memasak. Saya katakan padanya, “Mas belum bisa memegang pisau, nanti tangannya bisa terluka. Nanti kalau mas Fatih sudah pintar pegang pisau, Mama ijinkan. Ada yang sudah boleh dan ada yang belum boleh mas lakukan”. *kadang-kadang saya sulit mencari bahasa anak-anak, jadi menggunakan bahasa yang muncul dalam pikiran saya.

Saya sih berupaya untuk jarang memberikan larangan kepada Fatih. Kalau dirasa tidak berbahaya, saya biarkan saja. Resiko barang berantakan atau rusak, ya begitulah anak-anak. Kita juga tidak bisa berharap perilaku positif terbentuk dan perilaku negative berkurang atau menghilang hanya dengan sekali penguatan. Butuh ketelatenan, kesabaran dan satu lagi kemampuan kita mengatur emosi *mengingatkan diri sendiri.

Sayang adik

Kamis, 15 Januari 2015

BERTAMBAH DI KEB

“Mbak, belajar tentang blog, belajar SEO biar blognya gak cuma dibaca sama saudara-saudaranya”

Itu adalah komentar teman kantor pada status saya sebulan yang lalu. Rasanya MAK JLEB, sakitnya tuh , di sini *tunjuk dada.

Ucapan teman saya sih tidak sepenuhnya benar, wong waktu itu saya sudah mulai melek soal blog. Paling tidak, saya sudah mulai berani ikut lomba dan alhamdulillah dua kali menang lomba blog sebagai pemenang hiburan dan 1 GA *halah gitu aja kok bangga.  Bagi saya itu sudah kemajuan, karena tujuan awalnya ngeblog buat belajar menulis dan mendokumentasikan perjalanan hidup.

Memang awalnya ngeblog, tulisan saya cuma dibaca oleh adik-adik saya, itupun setelah saya colek di fesbuk *mesakke yo. Colek mencolek akhirnya saya hentikan setelah diprotes oleh adik terakhir, bikin rusuh dindingnya. Lah salah sendiri kenapa gak diatur kronologinya. Jadi setiap ada colekan dari orang lain kan bisa gak harus muncul di dinding fesbuknya.

Adik saya, Rahmi kemudian mendorong saya untuk bergabung di KEB. Tanpa babibu, paham saya seorang procrastinator, dia langsung daftarkan ke Mak RT Sary Melati, “Mak Sary, sudah kirim via inbox persyaratannya”.

Waktu itu, saya cari di inbox fesbuk kok pesannya Mak Sary gak ada. Sebulan kemudian baru ketemu, ternyata nyasar dipesan lainnya. Setelah memberikan biodata dan diinformasikan aturan dan tata tertib, 3 hari kemudian saya baru menyetujui untuk mematuhi aturan dan tatib KEB. Waktu 3 hari saya butuhkan untuk bersemedi dulu. Gaya banget ya. Sejujurnya, saya gak pede. Takutnya malah malu-maluin, wong tulisanya geje.

Sejak gabung di KEB, alhamdulillah tulisan saya mulai dibaca oleh orang lain, bahkan yang komentar bukan Rahmi aja. Orang pertama yang kasih komentar adalah Mak Hana. Hore, selamat ya Mak, hadiahnya ucapan terima kasih…hihihi. Selanjutnya Rahmi mulai mendorong saya untuk ikutan GA dan lomba blog. Padahal saya gaptek banget, baca persyaratannya domblong *baca melongo gak paham. Berkat panduan Rahmi, saya mulai sedikit paham dengan dunia blogging.

Rahmi juga mendorong saya untuk BW *lah ini kok ceritanya tentang Rahmi. Saya juga sering BW, sayangnya jarang ninggalin jejak. Ternyata ada aturan tidak tertulis, kalau kita dibewein orang lain, sebaiknya kita bewe balik, sebaliknya kita juga selain dapat ilmu dari bewe dengan meninggalkan jejak alias komentar yang punya rumah juga akan bewein kita. Wuih, kayak silaturahmi antar tetangga ya.

Pokoknya, sejak gabung di KEB saya jadi tambah teman, blog saya tambah kunjungan, tambah ilmu dan informasi gratis. Saya banyak belajar dari teman-teman di KEB. Suasana di KEB hangat, saling mendukung dan tidak pelit berbagi informasi dan ilmu. Layaknya sebuah rumah, KEB bukan hanya house atau bangunan tetapi juga home yang memberi kenyamanan dan mendukung anggota yang lain.

Selamat ulang tahun ke 3 KEB, semoga saya kelak bisa kopdar sama anggota yang lain, gak cuma sama Mak Rahmi hihihi. Sayangnya KEB belum pernah buat acara di Kudus. Atau ada Mak yang dari Kudus? Mari kopdar, buat acara ulang tahun KEB di Kudus hehehe..

Blog Design by Handdriati