Senin, 19 Januari 2015

SIAPKAH BERTAMBAH USIA?

Apa yang tidak akan pernah kembali? Jawabnya adalah waktu. Sebesar apapun usaha kita, waktu akan terus berjalan dan sering terasa sangat cepat. Rasanya kemarin baru saja Senin kok sudah Senin lagi *keluhan pekerja kantoran.

Saya ingat saat kelas 2 SD, sekitar 10 tahun yang lalu *tiba-tiba disorientasi waktu. Waktu itu upacara bendera, saya menatap langit dan berkata dalam hati, “kapan saya bisa cepat besar ya? seperti apa besok kalau sudah besar?”. Kala itu, ingin sekali cepat besar. Pikirannya kalau sudah besar itu enak, apa saja boleh. Sekarang mikirnya, enak ya jadi anak kecil..hihihi.

Bertambah usia diikuti juga dengan pertambahan dan perubahan tugas perkembangan. Apabila seseorang mengalami keterlambatan menyelesaikan tugas perkembangan, maka akan menyulitkan tugas perkembangan berikutnya. Misalnya seseorang di masa remaja kurang berhasil di bidang pendidikan tentu ketika memasuki masa dewasa akan kesulitan dalam bidang pekerjaan.

Awal kuliah, saya takut menjadi dewasa. Benak saya tergambar menjadi dewasa itu banyak tanggung jawabnya. Ketika semester akhir, melihat kakak senior yang baru saja lulus meladeni suaminya, pikiran saya kok segitunya. Saat makan di acara tasyakuran, kakak senior segera menghampiri suaminya. Mulai dari mengambilkan air cucian tangan, mengambilkan serbet dan mengambilkan makanan di piring *untung gak sampai menyuapi suaminya..hihihi. Pikiran saya, emang suaminya gak bisa mengambil makanan sendiri, berarti menikah menambahi pekerjaan *calon istri yang kurang berbakti.

Saat mulai bekerja, perubahan juga saya rasakan di lingkungan. Biasanya dipanggil Mbak, eh ini beberapa teman kantor memanggil ibu. Padahal mereka jauh lebih tua lho. Rasanya tidak nyaman, berasa tua. Seiring waktu, saya sudah mulai terbiasa dipanggil ibu, lha emang sekarang sudah ibu beranak 2.

Ketidaknyamanan dengan panggilan juga dirasakan oleh ibu saya. Saat pergi keluar bersama Papa, seringkali orang lain memanggil mereka dengan sebutan “Mbah”. Ya memang sudah pantas sih mereka disebut Mbah, wong sudah punya cucu. Tapi ibu saya merasa gak nyaman, kesannya sudah tua banget. Akhirnya para cucu diminta memanggil Yangti dan Yangkung *sama saja kan.

Kalau cuma masalah sebutan saja sih bisa diatur. Nah, saya pernah melihat hal yang sedikit janggal. Seorang nenek meminta saya memanggil dengan sebutan ibu. Awalnya sih saya menyebutnya Oma. Maksudnya manggilkan buat cucunya yang duduk di kelas 2 SD. Eh, ternyata cucunya manggil neneknya dengan sebutan Mami. Pas saya bertandang ke rumah, iseng saya bertanya soal neneknya. Ternyata dia bilang kalau mami itu bukan nenek, kalau nenek kan sudah tua, mami kan masih muda *saya jadi agak bengong.

Saya mikirnya cucunya yang memang gagal paham atau neneknya yang tidak mau disebut tua. Tua itu kan pasti, seberapa pun kita menolaknya. Jadi siapkah kita bertambah usia?

Pernah muda bersama Bona

12 komentar:

  1. waktu memang tak bisa diulang kembali yaa mbak. tua sudah pasti tapi dewasa belum tentu :)

    BalasHapus
  2. Nice postingan nih mak..banyak hikmah tentunya

    BalasHapus
  3. antara siap ngga siap huhuhu

    BalasHapus
  4. Saya juga suka bertanya kepada diri sendiri ketika melihat masa depan.....bisa tidak saya melewatinya dengan baik...? dari pertanyaan itulah akhirnya saya selalu berusaha mempersiapkan diri untuk melewati masa depan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kekahawatiran membuat kita mempersiapkan diri ya Mas :)

      Hapus
  5. hahaha,bener banget,kadnag kita nggak sap aja di panggil bu...dulu pas pertama kal ngajaar,belum nikah, udah dipanggil bu..agak nolak juga sih hahaha.t gmn lagi,lha buguru masak dipanggil mbak guru hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau dipanggil muridnya sih gak papa, yang agak nolak dipanggil ma teman kantor yang umurnya jauh di atas kita hihihi..

      Hapus
  6. ha, iya tu. di tempat saya banyak nenek-kakek yang nggak mau dipanggil mbah, eyang, dsb. maunya dipanggil ibu-bapak. pernah saya nanya anak tetangga (7 th) tentang neneknya, "Ibu dah berangkat, Mbak?" Si bocah diam sebentar. "Mama?" tanyanya. Gantian saya yang diam. Akhirnya saya sebut aja namanya, "Bu X dah berangkat?"

    BalasHapus

Terima kasih sudah mengunjungi blog ini. Saya senang menerima komentar yang baik dan membangun. Harap tidak meninggalkan link hidup.

Blog Design by Handdriati