Senin, 05 Oktober 2015

Yuk, Piknik Mengejar Kereta Api


Ma, aku mau naik kereta api
Bagi ibu bekerja seperti saya, weekend atau tanggal merah itu sangat penting. Iya setelah 6 hari bekerja dari pagi hingga sore, praktis waktu saya untuk keluarga terutama anak-anak menjadi lebih singkat. Pagi hari setelah bangun tidur, saya dibantu Ayah sibuk menyiapkan makanan dan memandikan, menyuapi Fattah dan menemani Fatih sarapan. Sore hari sepulang kerja, saya pun kembali dengan rutinitas memandikan, menyuapi Fattah dan menemani Fatih makan. Waktu untuk bercengkrama dan bermain dengan duo F sangat singkat.

Padahal mengutip pendapat Ibu Septi Peni Wulandani anak usia 0-7 tahun harusnya sering diajak bermain bersama alam. Jadi bagi saya weekend atau tanggal merah menjadi sangat penting untuk mengajak anak bereksplorasi dengan alam. Waktu libur adalah saatnya mengajak mereka piknik.

Wajah cerah di kereta api
Duo F, Fatih dan Fattah juga sangat senang dengan kegiatan piknik. Mendengar kata jalan-jalan atau piknik, wajah mereka berbinar, senyumnya pun mengembang. Fatih bahkan sebelum berangkat selalu bertanya tentang rencana piknik.

Piknik Itu Sesuai Passion

Saat usia 1, 5 tahun, Fatih mulai tergila-gila dengan kereta api. Hampir seluruh kehidupannya berwarna kereta api. Mulai dari baju, tas, mainan hingga piknik pun berhubungan dengan kereta api.

Akhirnya, kami sering piknik menyesuaikan passion Fatih. Awalnya, kami mengajak Fatih melihat dan menaiki kereta api di salah satu Mall di Kudus. Niatnya sih memupuk keberanian Fatih untuk mencoba menaiki kereta api. Meski semangat Fatih berkobar-kobar ingin menaiki kereta api, tapi keberanianya masih maju mundur cakep, secakep anaknya..hihihi.
Kepala kereta api
Piknik kereta api sesungguhnya kemudian dimulai saat usianya menjelang 2 tahun. Kami mengajak Fatih ke Pabrik Gula Rendeng di Kudus. Kok ke Pabrik Gula? Di sana ada beberapa kepala kereta yang disimpan di gudang. Ternyata beberapa keluarga juga membawa anaknya ke sana.

Piknik Yang Disempatkan

Setiap pergi keluar kota, selalu kami sempatkan jadwal mengejar kereta api. Saat menjemput adik di Bandara, kami ajak Fatih ke Lawang Sewu Semarang. Lho? Sebenarnya kami sudah ke Stasiun Tawang Semarang, niatnya mau mengajak Fatih melihat kereta api di sana. Sayang, hanya yang punya tiket kereta api yang bisa masuk peron. Jadilah sebagai penggantinya, kami ajak Fatih ke Lawang Sewu untuk melihat kepala dan miniature kereta api.

Saat ke Grobogan menghadiri pernikahan teman, kami pun menyempatkan mengajak Fatih ke stasiun kereta api. Bolak-balik ke stasiun Ngundih dan Ngrombo, mencari kereta yang ngetem atau sedang lewat. Intinya, kami tak selalu menyediakan waktu khusus untuk piknik kereta api.

Piknik Itu Bukan Soal Keberhasilan

Sebenarnya semenjak usia Fattah 3 bulan, kami sudah berencana mengajak duo F naik kereta api. Sayang rencana kurang matang dan informasi yang kami kumpulkan minim. Di Solo, kami berencana mengajak mereka naik Pramex, hanya dari stasiun Purwosari ke Balapan atau sebaliknya. Saya pikir, rute kereta api masih seperti dulu. Ternyata, rutenya dari Yogyakarta langsung ke Balapan, baru ke Purwosari. Tiwas, saya ke Purwosari dulu mau beli tiket. Mengejar ke Balapan, ternyata tiket untuk jam itu sudah habis, harus menunggu jadwal berikutnya sekitar 2 jam. Hadeh.

Foto dulu meski gagal naik kereta
Rencana selanjutnya mengajak duo F naik kereta wisata di Museum Kereta Api Ambarawa. Lagi-lagi rencana gagal. Kami tiba di Ambarawa pukul 12.30 dan semu tiket sudah habis terjual. Saya merayu mbak penjaga keretanya gak mempan. Cuma minta 2 tiket kereta wisata demi Fatih..hiks.

Bagi saya, piknik itu tak harus selalu berhasil. Saya dan si Ayah banyak belajar dari kegagaln kami. Kami mendapatkan banyak informasi dan pengalaman, bahwa piknik itu juga harus direncanakan.

Akhirnya Naik Kereta Api

Tidak mau kegagalan terulang lagi, akhirnya di bulan Mei, kami mantapkan mengajak duo F menaiki kereta Kalijaga Semarang-Solo. Usia Fattah yang baru 6,5 bulan tak menghalangi niat kami. Tiket sudah dipesan melalui minimarket. Bahkan, saya meminta Ayah untuk menginap di hotel Grand Sae Solo, dekat dengan stasiun Purwosari. Memang bejonya Fatih, kami dapat kamar dengan balkon menghadap stasiun Purwosari. Puas deh Fatih, mendengar dan melihat kereta api hilir mudik.

Stasiun kereta dari balkon
Piknik Itu Penting

Bagi kami piknik itu penting. Banyak cerita dari piknik kereta api. Fatih dan Fattah belajar dan bereksplorasi dari tempat yang dikunjungi. Tak melulu soal kereta api. Saya dan suami pun  mendapat pengetahuan dan pengalaman, bahkan dari kegagalan yang kami alami. Senyum dan binaran mata dari duo F merupakan hiburan dan kebahagiaan bagi kami.

Meski sudah berhasil naik kereta api, masih banyak tempat menarik dan pengalaman piknik atau liburan lain yang kami inginkan. Salah satunya adalah liburan di Bogor. Kenapa Bogor? Karena tempatnya adem..hihihi.

Rencananya sih saya ingin mengunjungi Kebun Raya dan Istana Bogor. Liburan yang menyejukkan mata. Kemudian dilanjutkan ke Warso Warm menikmati buah durian, buah kesukaan Fatih. Bermain air di Marcopolo Water Adventure, menyaksikan kehidupan Satwa di Taman Safari Bogor dan tak lupa mengunjungi Stasiun Kereta Api Bogor hehehe.


banner lomba blog piknik


Kamis, 01 Oktober 2015

Liburan dan Bereksplorasi di Dunia Peternakan Semarang


Memberi makan kelinci
 Sudah 3x saya melewatkan weekend bersama anak-anak. Rasanya bersalah banget. Biasanya Sabtu dan Minggu adalah waktu untuk keluarga. Sayangnya pas suami dan saya lagi banyak kerjaan. Saya malah 10 hari berangkat jam 7 pagi pulang jam 6 sore..ckckck.

Eh, pucuk dicinta ulam tiba, pas kerjaan mau selesai ada tawaran menghadiri undangan dari event Dancow Ranch Adventure Semarang. Setelah dapat ijin dari Pak Dekan, capcus langsung diiyain demi Fatih tercinta. Eventnya hari Sabtu dan Minggu, 26-27 September 2015. Saya ambil Sabtu, sesuai dengan hari libur si Ayah.

Usai memandikan duo bocil dan menyuapi Fattah, berangkat kami dari Kudus jam 8.30. Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya Fatih berkata,”Ma, aku mau ke Semarang. Mau memberi makan kuda dan kelinci. Mau mancing ikan”. Deuh, emang Semarang letaknya di Simpang Tujuh.

Registrasi

Akhirnya kami sampai di ADA Setiabudi pukul 11.30 WIB. Memasuki ADA suasana seperti di dunia peternakan. Kami langsung disambut oleh mbak-mbak berpakaian ala cowboy. Saya kemudian celingak-celinguk gak ada yang kenal. Begitu beberapa rekan blogger nongol, saya langsung ikut ke booth regristasi.

Saat regristasi, kami dijelaskan bahwa acara media briefing dimulai pukul 13.00 WIB, sebelumnya para blogger dipersilakan untuk makan siang dulu. Lah terus anak dan suaminya gimana? Untuk suami dan anak sudah diberikan voucher makan siang di Mc. Donald dan 2 paspor untuk masuk ke DANCOW RanchAdventure. Duh, langsung tenang deh hati saya.

Eksplorasi Di Wahana

Usai registrasi, saya langsung mengajak Fatih yang sudah ribut sejak tadi masuk ke wahana. Usai menunjukkan paspor, Fatih langsung menuju booth memancing ikan. Setelah paspor distempel, Fatih diberi jaring kecil untuk menangkap ikan. Hasilnya, Fatih berkali-kali menjaring ikan.

Tangkap terus
”Udah mas, ntar ikan di kolam habis lho” ujar saya melirik tidak enak sama si Mbak yang sibuk memasukkan ikan di plastik.

Eh, ternyata usai memancing Fatih dikasih ikan. Cuma 2 ekor sih, tapi Fatih cukup puas dan gak protes meski tak sebanding dengan tangkapannya..hihihi.

Fatih kemudian lanjut mengunjungi booth kelinci dan kuda. Sempat memberi makan kelinci dan kuda dilanjut mengelus kepala kuda. Sayangnya Fatih gak terbiasa membersihkan tangan pakai lotion disifektan, dia menolak masnya dengan tegas..hadeuh.

Media Briefing

Sejujurnya, ini pengalaman saya mengikuti event undangan blogger. Pas diinformasikan kalau nanti ada media briefing untuk blogger, saya agak dag dig dug. Duh, Fatih mau gak ya berpisah dari saya. Kalau Fattah sih lebih gampang, gak ada mamah masih mau sama ayah.

Benar saja, begitu saya bilang Fatih ikut Ayah, dia langsung protes dan tetap mengikuti saya. Untunglah ada Mbak Dedew yang bawa masuk anaknya. Akhirnya saya pede membawa masuk Fatih di ruang media briefing. Sebelum mulai acaranya, saya bahkan sempat makan dan menyuapi Fatih.

Pukul 13.00 WIB acara dimulai. Ada 4 narasumber dan 1 orang MC, yang saya lihat mirip Shahnaz Haque. Eh, ternyata asli Shahnaz Haque..hihihi. Setelah acara dibuka, Bapak Dr.dr. Soedjatmiko, Sp. A(K), M.Si menyampaikan bahwa 1000 hari pertama kehidupan si kecil dimulai sejak dalam kandungan hingga usia 2 tahun. Selain nutrisi yang lengkap dan seimbang, memberi simulasi dengan contoh yang baik serta membiarkannya bebas berekplorasi merupakan syarat membentuk anak sehat dan cerdas.

Cara menyimpan susu
Narasumber kedua, Ahli gizi Ibu Sari Sunda Bulan mengungkapkan bahwa asupan nutrisi yang seimbang dan sesuai tahapan usia akan bekerja efektif dalam tubuh anak. Nutrisi yang seimbang diperoleh dari jenis makanan yang beragam. Mulai dari karbohidrat, vitamin yang diperoleh dari sayur dan buah, protein hingga gula dan garam yang harus dibatasi. Jumlahnya juga disesuaikan dengan usia anak. Biasanya kepalan dan telapak tangan anak dipakai sebagai panduan yang disebut My Plate Planner.

Selanjutnya Mbak Vera Itabiliana Hadiwidjojo, Psi menambahkan bahwa cinta sejati ibu sebaiknya diberikan secara bijaksana. Berikanlah apa yang terbaik dan menjadi kebutuhan, bukan hanya yang disukai si kecil. Tugas utama si kecil adalah bereksplorasi untuk memenuhi tugas perkembangan. Tugas ibu adalah mendukung eksplorasinya dengan memastikan lingkunfgan aman, mengawasi, mengajarkan dengan memberi contoh, mendorong anak dan pancing eksplorasi dengan pertanyaan.

Terakhir, Mbak Nur Shilla Christanto selaku Head of Corporate Communication PT. Nestle Indonesia menyampaikan melalui perlindungan dari dalam yang terdapat dalam DANCOW Excelnutri+ dan penyelenggaraan Ranch Adventure, diharapkan si kecil dapat bereksplorasi sehingga anak sehat, cerdas, ceria, percaya diri, kreatif dan komunikatif.

Usai media briefing, para blogger diajak kembali menuju wahana Ranch Adventure. Kami disuguhi hiburan operet. Sayang, waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB. Saya dan si Ayah memutuskan untuk pulang lebih dahulu karena harus menempuh perjalanan sekitar 2 jam menuju Kudus.

Meski capek, saya senang mengajak Fatih dan Fattah liburan dan bereksplorasi di dunia peternakan. Fatih senang bereksplorasi dan membawa pulang ikan, saya dapat ilmu dan goodie bag..hihihi.

Operet lucu

Selasa, 01 September 2015

Es Teler Cinderella Menghapus Keraguan

Patungnya hampir seperti orang beneran

Sekali Mendayung Dua Tiga Pulau Terlampaui

Peribahasa ini sering saya gunakan di waktu yang sempit. Seperti minggu lalu, sekitar jam 9, pak Dekan mengajak,”Riz, melu neng Sendang Sani yo. Ketemu pak Warek I”.

Mungkin kalau kerja di dunia industri, senang ya diajak pimpinan. Kalau di dunia pendidikan ya senang juga..hihihi..Tapi saya tahu kok, ajakan pak Dekan ini mengandung modus. Iya, setelah diajak pak Dekan, saya langsung ngecek uang yang tersimpan di lemari kerja saya. Cukup gak ya, bawa uang 300 ribu buat nemani pak Dekan? Lho, kok saya yang bayari?Ya, karena saya yang pegang kasnya Biro Fakultas Psikologi.

Singkat kata pergilah saya dan pak Dekan yang juga ditemani para bidadari yang ada di kantor. Teman-teman setipe lah dengan saya. Memandang ajakan pak Dekan sebagai kesempatan jalan-jalan keluar dan bisa icip-icip di resto baru.

Sendang Sani memang resto baru di Pati. Tepatnya kalau berangkat dari Kudus, Sendang Sani berada di sebelah kiri jalan, tepat setelah gerbang masuk Pati. Dulunya sih tempat makan yang banyak disinggahi truk yang melintas di jalan pantura.

Rombongan kami sampai sekitar jam 10 di Sendang Sani. Begitu memasuki resto, saya melihat tempat parkir yang cukup luas. Tempat duduk yang disediakan pun cukup banyak. Saat itu sih resto tidak begitu ramai, bisa dikatakan sepi. Tapi masih ada ruangan khusus yang disediakan untuk pertemuan. Nah, pak Warek I memang lagi menghadiri pertemuan membahas kurikulum di Sendang Sani. Ruangannya tertutup, jadi saya gak bisa inguk-inguk.

Begitu masuk ruangan resto, kami disambut mbak-mbak,”Ibu datang dengan keperluan apa?”. Pasti bingung kan kalau ditanya seperti itu, wong datang ke resto kok ditanya keperluannya. Tapi kami maklum sih, soalnya baju kami sama dengan teman-teman yang menghadiri pertemuan dengan pak Warek I. Jawab saya sih datang atas keperluan sendiri, tidak ada sangkut pautnya dengan pertemuan di dalam.

Begitu pak Warek I keluar, pak Dekan langsung menyambut dan menyalami. Kami sih sudah duduk manis dan tersenyum. Ya, biarlah pak Dekan yang menghadapi sendiri. Kami cukup mensupport sambil icip-icip *bawahan durhaka hahaha.

Melihat pak Dekan asik dengan pak Warek I, teman-teman langsung berkeliling melihat menu makanan, Saya sih asik ambil foto, takut kelupaan. Model pelayanan di Sendang Sani adalah Pokwe alias Jipok Dewe. Jadi kita ambil makanan yang tersaji kemudian membayar baru boleh dimakan. Khusus minuman sih memesan dan membayar dulu, kemudian diantar ke meja.

Pokwe : Jipok Dewe
Sayangnya setelah melihat menu, teman-teman kurang tertarik. Menunya beragam sih, ada Nasi Hainan hingga Ikan Bakar, tapi penyajiannya kurang menggugah selera. Mereka memilih menunggu pak Dekan dan merancang makan siangnya bakso atau mie ayam *balik ke selera asal.

10 menit menunggu pak Dekan, perut saya sudah kukuruyuk. Hampir jam 11 dan sejak sarapan belum ngemil sesuatu, rasanya berat *beuh. Akhirnya saya dan seorang teman berinisiatif cari menu snack dan memilih mendoan. Sayang mendoannya sudah dingin, padahal paling enak dinikmati saat masih hangat. Tapi lumayan lah dicocol sambel kecap, buat ganjel perut ibu menyusui.

Eh, tapi setelah menikmati mendoan kok haus ya, apalagi udara lagi panas. Karena gak mau rugi sudah digeret ke Sendang Sani, saya berinisiatif lagi dengan seorang teman memesan minum. Lihat menu minuman kok isinya sebagian besar minuman sehat. Sehat karena ada campuran brokolinya. Kemudian pilihan jatuh ke Es Teler Cinderella, gak mungkin kan dicampur brokoli.

Pas Es Teler datang, penampilannya langsung menggoda. Udara panas gini melihat Es Teler di dalam gelas berkaki dengan dihiasi daun pandan, beuh kok menggoda. Saat dicicipi dugaan saya tidak salah. Esnya terasa segar dan manis. Manisnya pun manis gula asli bercampur aroma pandan. Isinya pun menyegarkan, nangka, alpukat, kolang-kaling dan kelapa. Tak banyak ragam, tapi bahasanya Fatih sedap..sedap.
Sedap..sedap..sedap..
Dugaan teman saya, langsung mulai sirna. Ternyata rasanya tak sejelek penampilan makanan tadi. Kalau boleh kasih masukan sih, mendingan makanan disajikan pas hangat. Jadi aroma dan tampilannya menggoda.

O, ya harga di resto ini standart kok. Mendoan per biji 2 ribu rupiah, sedang untuk menikmati es teller cukup 15 ribu. Pas kan pengalaman saya dengan peribahasa di atas? Sekalian nemani pak Dekan, sekalian icip-icip dan buat postingan di blog. Teman-teman saya sampai hapal dengan kelakuan saya hehehe.

Sabtu, 22 Agustus 2015

Tertampar di Seminar Nasional Psikologi : Bagian 1

Seminar Nasional Psikologi UMK

Hampir 2 minggu gak buat postingan di blog. Rasanya sudah kangen, tapi apalah daya banyak kerjaan kantor yang harus diselesaikan #cari alasan.

Kantor tempat saya bekerja punya gawe Seminar Nasional yang tiap tahun rutin diadakan. Tahun ini temanya Psikologi Pendidikan. Pengennya sih mengundang pembicara dari Jakarte, tapi kok honornya guide-guede belum ditambah transport dan akomodasi. Jadilah saya mengusulkan, “gimana kalau yang dekat-dekat saja dan tak kalah hebatnya dengan yang ada di pusat?”.

Saya mengusulkan Ibu Septi Peni Wulandani, pelaku homeschooling, pendiri Institut Ibu Profesional, penemu Jaritmatika dan masih banyak seabreg prestasi lainnya. Mungkin untuk kalangan Kudus dan sekitarnya, Ibu Peni belum setenar selebritis. Tapi bagi saya, dia adalah bintang, bintang di kehidupan rumah tangga saya #halah. Dia memberi secercah sinar yang menjadi penerangan untuk peran saya sebagai isteri dan ibu.

Singkat cerita, akhirnya teman-teman sepakat mengundang Ibu Septi sebagai salah satu pembicara dan saya senang akhirnya keinginan saya mendengarkan kisah dan menyerap ilmu beliau secara langsung tercapai. Kamis, 20 Agustus 2015 kemarin, event ini berjalan lancar, meski peserta kebanyakan dari mahasiswa Psikologi. Sebenarnya sih saya target saya, ibu-ibu rumah tangga, entah itu yang murni ibu rumah tangga atau nyambi bekerja di luar. Rugilah kalau gak datang ke seminar ini :P

Berhubung saya blogger baik hati #memuji diri sendiri, saya bagi deh ilmu dari Ibu Septi. Tema Seminar Nasional Ibu Septi adalah Membangun Peradaban dari Rumah. Ibu Septi bercerita tentang pengalaman hidupnya. Mulai semenjak sebelum bertemu suami hingga memiliki amanah 2 orang putri dan 1 orang putra.

"Orang yang Tidak Punya Mimpi, Maka Ia akan Menyukseskan Mimpi Orang Lain"
Septi Peni Wulandani

Dulunya Ibu Septi, adalah seorang perempuan kebanyakan. Setelah lulus SMA, beliau ingin melanjutkan kuliah di psikologi, hanya ibunya kurang setuju. Maklumlah dulu psikologi populernya mengurus orang gila. Keinginan sang Ibu, ibu Septi kuliah kemudian bekerja sebagai PNS.

Saat impian sang Ibu terwujud, suaminya Ibu Septi malah menyatakan, “Aku ingin anak-anakku dididik oleh Ibunya, bukan orang lain”. Ibu Septi kemudian memutuskan untuk menjadi Ibu Rumah Tangga, meski ibunya sempat menangis dengan keputusannya.

Perjalanan waktu, Ibu Septi memutuskan untuk menjadi IBU PROFESIONAL. Rumah adalah kantor dan laboratoriumnya. Beliau pun menetapkan jam kerjanya 07.00 WIB hingga 14.00 WIB dan membuat kartu nama dengan jabatannya sebagai Ibu Profesional. Penampilan di dalam rumah pun tak lagi daster atau pakaian seadanya. Pola berpikir kemudian dirubah, di RUMAH harus tampil CANTIK demikian pun di luar. Ucapan itu adalah tamparan pertama buat saya.

Tak cukup itu, Ibu Peni pun berburu ilmu. Beliau mendatangi kampus UI tepatnya Fakultas Psikologi, mencari jadwal kuliah umum yang terbuka dan gratis. Di akhir kuliah umum, saat semua mahasiswa keluar ruangan beliau mendatangi dosen dan berkata,” Saya Septi Peni Wulandani seorang Ibu Profesional, tertarik mendalami psikologi”. Itulah langkah awal Ibu Septi yang memiliki tujuan hidup mencapai gelar tertinggi Almarhumah. Tujuan yang sering kita lupakan #toyor diri sendiri.

Lantas bagaimanakah pola pendidikan dan pengasuhan Ibu Peni Septi Wulandani yang mensejahterakan anak-anaknya?. Cerita selanjutnya, saya posting di lain waktu ya..:D

Senin, 10 Agustus 2015

ASUS ZenPower : Setia Menemani Emak Rempong

ASUS ZenPower
“Riz, sejak pagi dihubungi kok gak masuk?” tanya seorang rekan kantor.

“Masak sih?” jawab saya sambil mencari HP di dalam tas.

Daan..HPnya mati, baterainya habis.

Saya lupa melihat status baterai ditambah lagi saya gak bawa charger. Lengkap sudah.

Bukan sekali dua kali sih, HP saya cuekin. Maklum di rumah sudah jarang pegang HP. Begitu sampai rumah, langsung ngurusin duo bocah. Kadang belum sempat ganti baju, si Adek sudah rebut minta dipegang. Memandikan, menyuapi makan dan menemani ketika bermain. Pas pegang HP, eh duo bocah merecoki. Yang sulung mau main game, si Adek mau ikut-ikutan pegang.

Waktu tenang saya, saat mereka berdua sedang tidur. Seperti saat ini, saatnya curhat di blog hihihi. Tapi itu pun kalau saya gak kecapekan atau ketiduran saat ngeloni mereka.

Baterai habis sering saya alami saat HP saya ganti android. Android memang boros baterai, dibanding HP jadul yang gak cari sinyal. Pagi dicas eh, sore sudah habis. Sore dicas, malam saya pakai. Besok pagi berangkat kantor ga sempat cek HP, sampai kantor sudah mati.

HP mati juga sering menghalangi rejeki saya. Beberapa kali klien Biro Konsultasi tempat saya bernaung gagal menghubungi. Alhamdulillah mereka ada yang berinisiatif menghubungi rekan saya yang lain
.
Tapi, 2 bulan ini ada yang beda.

“Riz, tumben BBM masuk?” ujar teman kantor.

“hihihi..”tawa kecil saya.

“Eh, apaan tuh?. Wah punya Power Bank Anyar ik *baca baru. Asus ZenPower dengan kapasitas 10050mAh. Gede banget. Tumben beli ginian?”tanya teman saya curiga.

“Pasti dibelikan suami nih, gak mungkin lah kamu beli” timpal teman saya yang lain.

Ih, teman saya tahu aja kalau saya demen gratisan. Tapi memang saya ini sedang beruntung banget, dapat Power Bank Asus ZenPower yang lagi ngehits itu. Awalnya sih sudah gak ngarep, tapi alhamdulillah rejeki isteri sholehah, dapat juga kiriman ZenPower.

Terus Apa Sih Kelebihan Asus ZenPower?

Kapasitas Tinggi
Saya sih gak ngerti banget soal teknologi, maklum user. Tapi sejauh pengalaman saya, ASUS ZenPower bisa digunakan untuk mengisi baterai hingga 3x pengisian. Buat saya yang rempong dan pelupa, jelas menguntungkan, gak perlu setiap hari ngecas power bank kan?

Pengisian Daya Cepat
Saya sering nih kehabisan baterai terus ngecas lewat netbook. Sejak pagi sampai siang eh baterai HP saya setengah saja tidak terisi. Lama bener ya? Pas ngisi pakai ASUS ZenPower, siang pas mau makan sudah terisi full.
Lampu indikator

Seukuran Kartu Kredit
Meski dayanya besar, tapi ukurannya Cuma sekartu kredit. Gak makan tempat di tas kan?

Tampil Cantik
ASUS ZenPower gak cuma warna silver seperti punya saya lho. Ada yang berwarna emas dan juga beragam warna cantik lainnya. Power bank kan juga harus cantik.

Keamanan
Ini salah satu keistimewaannya, dilengkapi ASUS PowerSafe untuk memastikan keamanan pribadi saat pengisian daya.  Jadi power bank dan HP terhindar dari kerusakan.

Tahan Lama dan Daya Tahan Tinggi
Masa pakai power bank cukup lama karena menyesuaikan arus pengisian daya secara otomatis sesuai suhu ruang. Pantas saat pengisian daya, tetap adem aja. ASUS ZenPower juga sudah lulus uji ketahanan sebanyak 5000 kali.

Gimana? Cucok banget buat emak rempong seperti saya kan? Harganya juga gak mahal kok, gak sampai 300 ribu.
Warna cantik

Kamis, 30 Juli 2015

Brownies, Oleh-oleh Selain Jenang dari Mubarok Food

Mubarok Food

Bila sedang pulang kampung atau berkunjung ke suatu daerah, sering kan kita di tagih oleh-oleh? Dulu, waktu saya masih kuliah, dosen saya pernah nitip oleh-oleh khas Kudus. Dosen pembimbing skripsi saya pernah ingin mencoba sate kerbau. What?? Sampai Solo apa masih enak? Paling aman ya oleh-oleh panganan yang tahan lama.

Terus yang terkenal dari Kudus apa? Kudus sih terkenal dengan kota Kretek, tapi saya sori..sori aja ya kalau disuruh bawa rokok. Panganan khas Kudus yang dikenal dan sering dijadikan oleh-oleh ya jenang kudus. Banyak sekali brand jenang dari Kudus. Brand yang paling terkenal adalah berbagai merek jenang dari Mubarok Food. Jenang adalah panganan yang terbuat dari tepung beras ketan, gula pasir, gula kelapa dan santan kelapa. Jenang lebih lembek daripada dodol.

Rumah Brownie
Saya sih bukan penyuka jenang ataupun dodol, jadi jarang banget beli jenang kecuali buat oleh-oleh. Eh, tapi sekarang Mubarok Food punya panganan lain pengganti jenang dan saya cukup suka. Apa itu? Brownies. Brownies merupakan produk baru dari Mubarok Food. Rasanya tak kalah lezat dari brand brownies yang sudah terkenal. Variannya pun bermacam-macam. Ada brownies original, kismis, wijen, cocktail, tiramisu, lava keju dan yang saya suka lava coklat. Ada juga brownies yang tak meninggalkan cita rasa jenang atau dodol yaitu brownies jenang. Untuk yang suka kue kering bisa mencoba brownies kering.
Display
Original
Paling suka
Berbau Jenang
Harga yang ditawarkan cukup murah mulai 12.500/pack hingga 29.000/pack. Selain itu, masih di tempat yang sama ada Rumah Coklat, Claszeto yaitu Coklat Dodol. Kalau suka yang berbau timur tengah bisa juga mencoba Al Madina. Coklat Kurma. Bagi yang ingin ngobrol dengan rekan-rekannya bisa juga memesan minuman coklat atau jus buah. Mubarok Food menyediakan sebuah ruangan lengkap beserta kursi dan meja. Awalnya ruangan itu saya pikir gallery furniture atau barang seni, ternyata café minuman hihihi. Sayang pas saya ambil foto, ruangannya sedang direnovasi.

Claszeto

Isi Kurma
Minuman yang bisa dipesan
Kalau ada yang ingin membeli oleh-oleh selain Jenang dan duduk menikmati minuman coklat atau jus bisa mampir ke Jl. Sunan Kudus No 33. Di sebelahnya ada juga toko yang menjual oleh-oleh berupa merchandise berupa kaos, tas dan sebagainya.

Kalau oleh-oleh khas ditempatmu apa?

Brownies siap disantap

Blog Design by Handdriati