Rabu, 31 Desember 2014

LIBURAN SERU BERSAMA ANAK

Siapa sih yang ga suka liburan? Apalagi liburan yang diisi dengan kegiatan jalan-jalan yang seru. Setiap hari berkutat dengan aktifitas kerja di kantor dan urusan rumah tangga kadang membuat jenuh. Biasanya di akhir pekan, saya meminta ayah untuk jalan-jalan keluar rumah sekedar melepaskan kejenuhan . Tentunya tak lupa juga sambil mengajak anak-anak.

Kehadiran anak membuat saya merencanakan liburan yang juga menyenangkan buat mereka. Gak mungkin kan saya ingin merasakan serunya berarung jeram sementara anak saya masih berusia 2,5 tahun dan 2 bulan. Ada beberapa tempat yang merupakan impian liburan seru bersama anak-anak. Cukup di Indonesia saja. Banyak tempat di Indonesia yang belum saya dan anak saya kunjungi.

Pertama, saya ingin mengajak anak-anak ke Santosa Stable di desa Lendoh Gunung Pati Semarang. Santosa Stable adalah arena berkuda bagi keluarga. Saya ingin anak-anak mengenal kuda dan berlatih menaiki kuda yang bagus untuk tumbuh kembangnya.  Anak-anak juga bisa mengenal lingkungan pegunungan yang memiliki udara yang bersih.


Kedua, setelah dari pegunungan, saya ingin merealisasikan keinginan Fatih, anak pertama saya, naik kereta api di Ambarawa Kabupaten Semarang. Fatih memang memiliki ketertarikan yang sangat besar dengan kereta api. Mulai mainan, buku, tontonan dan baju semua berkaitan dengan kereta api. Di sana, selain bisa naik kereta api, dia juga diajak untuk mengenal museum sejarah kereta api.

MUSEUM KERETA API AMBARAWA

Terakhir, liburan dilanjutkan ke Yogyakarta. Saya ingin mengajak anak-anak mengenal pantai. Pantai yang ingin saya kunjungi adalah pantai di Gunung Kidul. Ada sederetan pantai di sana. Selain pantai masih banyak lagi sederet lokasi obyek wisata di Yogyakarta. Semoga saya bisa merealisasikan impian liburan seru bersama anak-anak, paling tidak tahun depan, menunggu Fattah, si kecil sudah agak besar. Amin.

Selasa, 30 Desember 2014

MENGAJARKAN BERBAGI TUGAS RUMAH TANGGA

“Maaf mbak Ika, baru sempat tilik bayi. Di rumah ada saja kerjaannya” ujar saudara saya sambil memangku anaknya yang berusia 2,5 tahun.

“Gak apa-apa Mbak. Emang kerjaan rumah tangga itu seabreg, apalagi kalau punya anak kecil” ujar saya sambil tersenyum.

“Iya, Sasa kan kegiatan kuliahnya banyak, paling bantu cuci piring. Adeknya yang perempuan baru kelas 4 SD. Kalau laki-laki ya gak bisa diharapkan” ceritanya lagi.

Itu adalah penggalan obrolan saya dengan istri dari saudara sepupu. Saya sering mendengar cerita, anak perempuan lah yang bisa diharapkan dan diandalkan untuk membantu pekerjaan rumah tangga. Terus gimana donk dengan saya? Anak saya 2, laki-laki semua. Apakah benar anak laki-laki tidak bisa dan tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah tangga?

“Kok tadi gak sekalian minta air minum sama mas Annas *nama suami saya, mbah” tanya saya sedikit sebal karena baru saja suami saya mendatangi kamar mbah.

“Wong lanang kuwi, rak elok ngurusi gawean omah (terjemahan : laki-laki tidak etis mengerjakan pekerjaan rumah)” jelas mbah saya.

Welah, kalau gitu gempor donk saya mengerjakan semua pekerjaan rumah, ditambah momong 2 anak. Penjelasan mbah membuat saya berpikir, budaya di sekitar masih menganggap pekerjaan rumah tangga adalah urusan perempuan. Urusan laki-laki hanya mencari nafkah.

Menurut saya pribadi, pekerjaan rumah tangga adalah tanggung jawab anggota keluarga, bukan hanya ibu atau anak perempuan. Mungkin ibu adalah koordinatornya, namun tugas dapat dibagi dengan anggota yang lain sesuai dengan kemampuan. Prinsip ini saya terapkan sejak dini kepada anak-anak saya.

Pertama, saya memperkenalkan pekerjaan rumah tangga kepada Fatih. Caranya ya dengan mengajak Fatih untuk ikut beraktifitas menyelesaikan tugas rumah tangga. Waktu dia baru bisa angkat kepala, saya letakkan dia di bouncer, menunggui saya yang sedang mencuci baju atau sibuk di dapur.

Setelah agak besar, tanpa diajak, Fatih selalu ingin untuk terlibat dengan aktifitas saya. Selama tidak berbahaya, tentu saya perbolehkan. Saat saya menggoreng kerupuk, Fatih diperbolehkan memasukkan kerupuk dalam wajan. Dia duduk di meja dapur. Wow, apa Fatih tidak kena minyak atau wajan panas. Pernah sih, tapi dia gak kapok hihihi.

Fatih juga saya beri sapu kecil dan lap, saat saya menyapu dan mengepel rumah. Kala saya mencuci baju, dia juga ingin mencuci bajunya sendiri. Begitu pula ketika anggota keluarga lain mengerjakan tugas rumah tangga. Saya meminta kesediaan mereka agar mengijinkan Fatih terlibat.

Proses keterlibatan Fatih dalam tugas rumah tangga membutuhkan kesabaran. Ya, pekerjaan yang seharusnya lebih cepat selesai, terpaksa molor karena menunggu Fatih. Tambahan lagi, harus ekstra pengawasan.

Tidak hanya itu, Fatih juga saya sejak usianya mendekati 2 tahun, sudah saya minta untuk bertanggungjawab terhadap mainannya. Berkali-kali saya ingatkan untuk membereskan mainannya. Prinsip yang saya tekankan ke Fatih, boleh mainan apa saja, asal tidak berbahaya dan setelah selesai bermain dibereskan.

Kedua, yang paling penting adalah contoh nyata. Saya pernah meminta Fatih untuk memungut daun-daun di halaman sementara saya sendiri duduk di teras. Sekali dua kali Fatih mau mengambil daun, setelah itu dia mengambil sapu dan menyerahkan kepada saya sambil menunjuk dedaunan..hihihi. Intinya Fatih menyuruh saya menyapu halaman. Eh, tapi dia juga ambil sapu kecil dan membantu saya menyapu halaman.

Contoh nyata juga sangat membutuhkan peran Ayah untuk berbagi tugas. Kalau dia melihat Ibu saja yang mengerjakan tugas rumah tangga, sementara Ayah leyeh-leyeh, dia akan berfikir bahwa tugas rumah tangga adalah tugas ibu atau perempuan.

Alhamdulillah Ayah terbiasa juga mengerjakan tugas rumah tangga. Saat ini tugas Ayah adalah mencuci baju Fattah, Fatih dan pakaian dalam Ayah dan saya. Kalau si Bude kebetulan tidak datang dan setrikaan menumpuk, tanpa diminta Ayah menyetrika *saya emoh pegang setrika. Kadang mencuci piring juga saat melihat saya lelah.

Lah terus tugas saya apa? Mengurusi kebutuhan Fatih dan Fattah, mulai memandikan, menyuapi dan menyusui dan menemani.  Wow, momong duo bocah butuh tenaga dan kesabaran yang besar lho.

Bagi saya, yang terpenting adalah budaya di keluarga. Mudah-mudahan dengan cara seperti itu, Fatih dan Fattah terbiasa mengerjakan tugas rumah tangga. Saya dan Ayah tidak kewalahan menyelesaikan tugas rumah tangga yang tiada habisnya hehehe.

Membersihkan mobilnya

Senin, 29 Desember 2014

PSIKOLOGI UNTUK ANDA


Jaman kuliah S1 dulu, saya teringat sekali dengan slogan PSIKOLOGI UNTUK ANDA. Slogan ini pernah juga saya lihat di spanduk besar pas SAPAMABA. Kurang lebih artinya sih, psikologi hadir untuk membantu permasalahan anda. Anda yang dimaksudkan bisa jadi klien, sebutan untuk pemakai jasa psikologi atau lebih luas manusia.

Para lulusan psikologi seharusnya tidak perlu kuatir kehabisan lahan selama masih ada manusia. Ya, subyek ilmu kami kan manusia, selama belum kiamat, psikologi masih bisa berperan. Memang sih, tidak semuanya mampu menangkap peluang. Alasannya, ada yang bergantung dari para pemakai tenaga kerja lulusan psikologi. Perguruan tinggi banyak yang membuka program studi psikologi, otomatis lulusan bertambah banyak sementara daya serap pasar masih sama.

Kembali lagi ke topik, gegara slogan yang sempat membahana ini, kami para lulusan psikologi menggunakan untuk berkelit. Berkelit dari apa? Berkelit dari kesalahan yang kami buat. Maksudnya sebagai manusia *Psikolog juga manusia ala Candil, sebagian dari kami juga berbuat kesalahan dalam berhubungan dengan manusia lain, terutama dengan anak. Nah, slogan itu kami buat ngeles. Kan Psikologi Untuk Anda, bukan buat kami, para psikolog..hihihi.

Praktek tidak semudah teori berlaku juga buat sebagian dari kami *halah malah buka kartu. Misal saja, saya mengetahui resiko membentak anak, tapi kadang kalau kesabaran yang seharusnya tidak pernah habis itu tiba-tiba habis, keluar deh suara bernada tinggi. Saya juga tahu bahwa mbah saya yang sudah tua *lho semua mbah kan tua, eh saya belum lulus kuliah sudah punya cucu lho*mengalami dimensia. Seharusnya saya tidak perlu jengkel menghadapinya.

Mungkin ada yang bertanya, ini blog punyanya psikolog kok ga jarang membahas masalah pengasuhan anak ya. Alasannya sederhana, kalau saya sendiri merasa masih belum mampu melakukannya, saya malu menuliskannya. Jangan-jangan tulisan saya berisi kegagalan sebagai orang tua dalam mengendalikan emosi. Memang banyak juga hal yang belum sempat saya tulis, karena keterbatasan waktu dan kemalasan *jujur lebih baik kan.

Hm, tapi tulisan saya hampir semua berkaitan dengan manusia *ngeles lagi. Iya, selama masih membahas tentang manusia kan masih psikologis..hihihi. Tulisan yang kental psikologisnya akan saya tambah jumlahnya di tahun 2015. Saya masukkan sebagai salah satu resolusi.

Nah, balik lagi ke psikologi untuk anda, boleh kok teman-teman yang membutuhkan jasa psikologi menghubungi saya via email. Nanti saya akan memberi nomor kontak *ujung-ujungnya promosi. Saya juga mungkin akan minta ijin untuk menuliskan cerita teman-teman untuk dibagi, tentu dengan kode etik yang berlaku. Semisal tidak diijinkan, tentu saya tidak berani menuliskannya. Misal kami sebagai psikolog pernah menceritakan sebuah permasalahan klien, dalam kode etik kami diperbolehkan untuk keperluan keilmuan tanpa identitas klien.

Terus kabar slogannya gimana? Tidak dipakai lagi, ya karena malah dipakai kami buat ngeles hehehe. Jadi slogannya diganti PSIKOLOGI UNTUK SEMUA, termasuk kami ini.

Minggu, 28 Desember 2014

SIOMAY AYAM-UDANG-SAYURAN

Siomay merupakan salah satu makanan favorit bagi saya. Sudah beberapa kali saya googling resep untuk membuat siomay. Eksekusi juga sudah beberapa kali, mulai dari siomay ikan tenggiri-udang, hingga akhirnya saya mencoba membuat siomay-ayam-udang-sayuran.

Resep pernah saya coba mulai blog ordinary kitchen hingga postingan salah satu member NCC. Tentu saja resepnya dimodifikasi sesuai dengan ketersediaan bahan. Selain itu, saya menambahkan jagung manis untuk menemani wortel, biar lengkap gitu. Jadi di siomay yang saya buat, ada protein, karbohidrat dan sayuran.

Satu lagi, untuk tampilan lebih cantik, seharusnya siomay dibungkus kulit pangsit, berhubung lagi susah cari kulit pangsit, jadi ya seadanya. Hasilnya, bentuknya geje tapi rasanya enak kok. Yang penting Fatih doyan..hehehe.

Sebenarnya resepnya juga agak kira-kira, ga saklek lah. Boleh kok resep dari saya ini diutak atik, nanti saya diberi tahu hasilnya. Sejujurnya saya ini, sama sekali ga pintar masak. Wong prestasi masak saya, bisa goreng telur ceplok di usia 26 tahun hehehe.

Jadi inilah resepnya. 300-400 gr daging ayam dicincang kecil-kecil, 200 gr daging udang dicincang kecil-kecil, 4 butir putih telur saja, 8-10 sdm tepung sagu, 1 buah wortel diparut, 1 buah jagung manis disisir, 2 batang bawang daun, 6 siung bawang putih ukuran agak besar dicincang halus, 1 sdt garam, 1 sdt gula pasir, 1 sdt merica, 2 sdm kecap ikan, 1 sdm minyak wijen (saya skip). Semua dicampur jadi satu. Kukus selama 20-30 menit. Jangan lupa tutup pancinya dibungkus dengan serbet/kain agar air kukusan tidak jatuh ke siomaynya.

Selain itu saya juga menyertakan tahu dan kentang sebagai pelengkap. Untuk bumbunya, pakai bumbu pecel buatan ibu. Saya ga sempat lah bikin bumbu sendiri *padahal cari yang instan alias malas.

Hasilnya..tara. Bisa dilihat dibawah ini. Mohon jangan dilihat bentuknya. Selain amatir fotografi , sekali lagi, tanpa kulit pangsit sih..hihihihi

Rabu, 24 Desember 2014

LDR (LET DOWN REFLEX) YANG DICARI


Jatah cuti melahirkan tinggal 40 hari lagi. Saya tengah mempersiapkan ASI Perah (ASIP) untuk Fattah. Alhamdulillah, stok ASIP di freezer sudah penuh, bahkan saya beberapa kali sudah membuang ASIP. Kok dibuang? Ya, karena botol kacanya buat menyimpan ASIP sudah habis. Saya hanya menyediakan 60 botol kaca ASIP. Apa cukup? Mudah-mudahan cukup, dulu pas Fatih saja saya Cuma punya 20an botol kaca.

Saya juga sedang mencari LDR supaya proses memerah payudara lebih cepat dan lancar. LDR apa tuh? LDR ini bukan Long Distance Reletionship tapi Let Down Reflex. Jadi biasanya kalau ibu sedang menyusui, tiba-tiba ada sensasi nyeri atau geli yang dirasakan itulah yang dinamakan LDR. Berdasarkan file yang saya baca di AIMI, sensasi lainnya ada yang berupa mual, pusing atau sakit kepala. Saya sendiri sih biasanya merasakan nyeri di bagian atas payudara.

LDR ini dipengaruhi oleh kinerja hormon Oksitosin yang efeknya pada kelenjar payudara adalah menyemburkan ASI. Hormon Oktsitosin menyebabkan kontraksi otot di sekeliling kantong-kantong penyimpan susu sehingga ASI mengalir ke saluran ASI dan akhirnya keluar melalui pori-pori yang ada pada putting.

Biasanya kalau saya tengah menyusui, payudara lain ikut mengeluarkan ASI sehingga baju menjadi basah. Ini juga salah satu tanda LDR. Nah, kalau saya merasakan payudara penuh dan bagian atas nyeri, daripada terbuang percuma, payudara yang lain diperah. Wah kok bisa sambil menyusui dan memerah payudara? Bisa donk, Fattah saya sangga dengan kaki, dan dua tangan saya bisa bebas memegang botol dan memerah hehehe.

LDR memudahkan saya untuk memerah, karena payudara menjadi sangat gampang diperah dan ASI yang keluar sangat lancar. Irit tenaga dan waktu kan. Biasanya LDR mudah didapatkan saat sesi menyusui, karena isapan bayi memancing LDR. Nah, yang agak sulit adalah saat memerah tanpa menyusui.

Dulu saat menyusui Fatih, teknik yang saya pakai adalah menstimuli putting, kadang LDR muncul, kadang juga harus ekstra tenaga untuk memerah. Nah, beberapa hari ini tanpa sengaja saya menemukan cara gampang mendapat LDR.

 Pas malam hari di saat Fattah sudah tertidur pulas, saya merasakan payudara belum kosong sepenuhnya. Mumpung mata melek, saya mencoba memerah. Iseng saya mencoba menstimuli payudara, beberapa saat LDR belum saya rasakan. Di tengah usaha itu, saya menengok ke belakang, memandangi wajah Fattah, loh si LDR datang. Ya saya merasakan sensasi nyeri di atas payudara, putting yang membesar dan keluar ASI dari kedua payudara. Segera saja saya memerah payudara dengan mudah dan cepat, karena keduanya meneteskan ASI.

Memang salah satu cara mendatangkan LDR memandangi atau membayangkan buah hati. Sayangnya dulu waktu menyusui Fatih kurang berhasil. Saya mencoba membayangkan wajah Fatih, mungkin karena daya imajinasi saya lemah, jadi kurang berhasil. Rencana ke depan, saya mau mengambil gambar Fattah dan disimpan di HP. Besok kalau memerah di tempat kerja, saya akan memandangi beberapa foto Fattah :).

Selasa, 23 Desember 2014

BODOH MENUJU PANDAI

“Kalau mbaknya kan pintar ngomong, jadi gampang saja jadi moderator atau trainer” ungkap salah seorang peserta pelatihan Training of Trainer.

“Lah emang saya tiba-tiba bisa ngomong seperti ini? Ya, ada prosesnya dulu dek” jawab saya sambil tersenyum lebar.

Itu tadi sepenggal percakapan saya saat menjadi master of trainer di acara Training of Trainer yang diadakan oleh organisasi mahasiswa. Saya pun kemudian berkisah bagaimana proses saya dari yang belum mampu berbicara di muka umum hingga saya percaya diri berdiri di tengah-tengah mereka.

Awal masuk kuliah, saya menetapkan tujuan yang salah satunya adalah mampu berbicara di muka umum. Untuk mewujudkannya, saya membuat beberapa langkah bertahap dimulai dari langkah kecil hingga besar. Saya mulai dari berani bertanya saat perkuliahan, mengikuti kegiatan kemahasiswaan, mengambil kesempatan sebagai moderator hingga bergabung sebagai trainer di klub training yang diasuh oleh dosen. Semua saya tuliskan di buku harian secara bertahap setiap awal semester.

Kenangan saat mencoba bertanya diperkuliahan Psikilogi Umum masih terekam jelas. Suara yang keluar dari tenggorokan terbata dan badan saya pun gemetar. Mungkin saat itu, dalam hati bapak dosen heran dengan tingkah saya. Ya saya sangat grogi saat itu. Takut kalau salah ucap atau pertanyaan saya terdengar konyol, tapi saya teringat dengan tekad dan catatan di buku harian.

Kejadian lainnya, pengalaman perdana sebagai moderator. Meski sehari sebelumnya saya sudah latihan di depan cermin, saya tetap membuat catatan terperinci yang berisi ucapan apa yang akan saya katakan sebagai moderator. Di akhir acara setelah narasumber selesai berbicara, catatan saya jatuh di bawah meja. Guguplah saya saat menutup acara, hilang semua persiapan sebagai moderator, bahkan saya sempat melihat senyum geli teman yang mendampingi saya.

Menutup kisah perjalanan ketrampilan berbicara, saya sampaikan bahwa orang pandai atau terampil pasti dimulai dari bodoh atau belum mampu. Itulah yang saya tanamkan terus untuk memulai dan menjaga api dalam perjalanan hidup saya.

Sebelum pulang pelatihan, foto dulu.

Blog Design by Handdriati