Kamis, 29 Januari 2015

CARA MUDAH MERAWAT RAMBUT AGAR SUAMI MAKIN SAYANG

dokumen pribadi
“Kok gak boleh potong sih Mas? Rambutnya sudah terlalu panjang nih” protes saya saat suami tidak memperbolehkan potong rambut.

“Iya kan kalau Mas mau elus sambil bilang sayang sama adek bisa agak lamaan, lebih mesra” alasan suami.

Hadeuh, alasan yang umum dikemukakan pria. Rambut panjang memang indah, tapi sering membuat gerah dan ribet merawatnya. Apalagi bagi pemakai jilbab seperti saya, lebih ekstra perawatan kalau rambutnya panjang.

Rambut saya tidak terlalu lebat, bisa dikatakan tipis, helaian rambutnya halus, beda dengan rambut adik-adik perempuan saya. Makanya sejak SMP, perawatan yang paling intens saya lakukan adalah perawatan rambut. Mulai dari mengoleskan lidah buaya, memberi perasan santan sampai membuat ramuan pakai minyak sayur, saya lakukan untuk menebalkan dan merawat rambut.

Sekarang dengan status ibu 2 anak yang masih batita, mau merawat rambut seperti jaman masih gadis jelas tidak mungkin. Pulang kerja harus memandikan anak, menyuapi dan menemani bermain. Waktu istirahat saya hanya saat anak-anak tidur di malam hari. Mau perawatan rambut di malam hari? Wah, tinggal capeknya.

meski tertutup jilbab rambut wajib dirawat
Lho rambutnya kan tertutup, tidak kelihatan? Eh, pakai jilbab tetap wajib memelihara ‘mahkota ‘ wanita. Salah satu alasanya karena kita tidak boleh zalim terhadap diri sendiri. Bentuk kepedulian dan keadilan kepada diri sendiri salah satunya adalah menjaga dan merawat rambut, bonusnya rambut menjadi indah. Keindahan juga sangat disukai ALLAH.

Selain itu tampil cantik di depan suami hukumnya wajib. Akhirnya saya cari-cari cara deh. Alhamdulillah sekarang saya menemukan solusi perawatan rambut sehat yang ciamik. Tidak pakai ribet, hemat waktu, hemat tenaga dan ringan di ongkos. Apa itu? Setiap habis keramas, saya oleskan vitamin rambut ellips.

Kenapa vitamin rambut Ellips? Karena vitamin rambut Ellips sekarang diperkaya oleh Pro Keratin Complex. Keratin adalah protein zat dasar penyusun lapisan rambut yang sangat berperan dalam keindahan rambut. Seiring bertambahnya usia, keratin rambut akan berkurang. Keratin pada rambut bisa rusak akibat proses styling atau penggunaan bahan kimia secara terus menerus. Keratin juga bisa rusak karena menyisir dan mengikat rambut terlalu kencang. Wih, padahal saya sering mengikat rambut karena gerah atau pas mau memakai jilbab.

Dampak rusaknya keratin, rambut menjadi tidak sehat, kering, tidak megar dan sulit diatur. Makanya keratin itu penting untuk mengganti protein rambut yang semakin menipis. Keratin juga bisa mengganti sel-sel rambut yang rusak. Dengan vitamin rambut dari ellips yang mengandung keratin, rambut lebih mudah ditata dan diatur.

Ada 3 pilihan Vitamin Perawatan Rambut dari Ellips, lho.

http://blogcontest.ellipshaircare.com/

  • Ellips Vitamin Rambut Silky Black yang diperkaya Pro Keratin Complex, Kemiri dan Aloe Vera Oil untuk merawat kemilau sehat rambut hitam, menutrisi dan melindungi rambut dari sinar matahari. Pemakaian Ellips Silky Black membuat rambut hitam lebih sehat, lembut, bercahaya dan mudah diatur. Cocok buat yang rambutnya sering terpapar sinar matahari seperti suami saya. 
  • Ellips Vitamin Rambut Hair Repair yang diperkaya Pro Keratin Complex dan Jojoba Oil untuk merawat, menutrisi dan melindungi rambut yang rusak akibat proses kimiawi contohnya pengeritingan atau pelurusan rambut. Pemakaian Ellips Hair Repair membuat rambut lebih sehat, lembut, bercahaya dan mudah diatur. Ini cocok untuk teman kantor saya yang kerap rebonding rambut.
  • Ellips Vitamin Rambut Smooth and Silky yang diperkaya Pro Keratin Complex dan Aloe Vera Oil untuk merawat rambut hingga terasa lembut, menutrisi dan menjaga kelembaban rambut. Pemakaian Ellips Smooth and Silky membuat rambut lebih sehat, lembut, bercahaya dan mudah diatur. Cocok buat yang rambutnya berjenis kering dan kaku.

Pilihan vitamin rambut saya, jatuh pada Ellips Vitamin Rambut Silky Black. Satu pack Ellips berisi 6 kapsul vitamin rambut. Packagingnya simpel dan higienis, 1 kapsul untuk sekali pemakaian. Buat yang punya anak kecil, vitamin rambut yang disimpan dalam botol rawan diambil si kecil dan beresiko tumpah bahkan pecah.

Biasanya, saya menggunakan ellips sore hari sepulang dari kantor. Selesai keramas, rambut dibiarkan setengah kering, saat itulah 1 kapsul ellips saya ambil. Gunting ujungnya dan tuangkan ke telapak tangan, kemudian usapkan dari batang rambut hingga ke ujung rambut. Setelah itu rambut dibiarkan kering sambil tetap beraktivitas.

dokumen pribadi
Seringnya 1 kapsul saya pakai berdua sama suami. Pria juga perlu merawat rambut kan?. Apalagi pekerjaan suami di lapangan ‘mengejar’ berita, rambutnya sering terpapar matahari.

Ellips vitamin rambut juga cocok mengatasi rambut yang bercabang. Saya penyuka olahraga renang, biasanya seminggu sekali saya renang. Meskipun memakai baju renang khusus muslimah yang tertutup dari ujung kaki hingga ujung rambut, tapi rambut saya kering akibat kaporit yang ditambahkan pada air kolam. Parahnya lagi ujung rambut menjadi bercabang. Setelah beberapa kali pemakaian ellips, kondisi rambut saya membaik, rambut bagai terlahir kembali.

setelah berenang jangan lupa usapkan ellips ke rambut
Senangnya lagi, ellips mudah didapat di toko dekat rumah dan harganya cukup terjangkau. Mudah dan murah kan punya rambut indah bagai terlahir kembali? Suami pun semakin sayang dan senang mengelus rambut sembari berujar “sayaaaang”.


Sumber : www.ellipshaircare.com

Senin, 26 Januari 2015

LELAKI DARI MASA LALU


Samar-samar masih kuingat dia. Seorang lelaki dari masa lalu. Secara fisik, dia tidak terlalu istimewa. Kulitnya sawo matang dengan rambut hitam lurus dan tebal. Namun dialah lelaki pertama yang menawan hatiku. Dia yang membuat hariku menjadi penuh warna karena menanti kedatangannya.

Kami berkenalan pertama melalui sekolah. Ya, kami teman satu sekolah bahkan satu kelas. Mungkin kebersamaan lah yang menumbuhkan benih-benih rasa suka dihatiku.

Sikapnya santun. Tidak seperti teman lelaki yang lain, yang suka mengganggu anak perempuan di kala itu. Dia selalu berbicara dengan ramah disertai senyuman. Sesekali dia ikut bermain juga bersama anak perempuan.
“Ih, bobogohan na?” ujar salah seorang teman perempuanku saat melihat aku dan dia tengah bercanda.

“Ih, henteu atuh, temanan aja” balasku mengelak perkataan teman.

Ucapanku memang tak sesuai dengan isi dalam hatiku. Entahlah, kenapa teman perempuanku berkata demikian. Apa mungkin tergambar jelas di raut wajahku? Memerahkah mukaku saat dia menggodaku atau mataku berbinar saat mataku menatapnya? Yang jelas ada terselip rasa senang saat aku mencuri dengar gosip bahwa kami pacaran.

Aku pun tak tahu isi hatinya. Sebenarnya setengah berharap dia memiliki perasaan yang sama denganku. Tak berani berharap bahwa sikapnya yang baik padaku karena ia juga menyukaiku. Rasanya sikap dia memang baik terhadap teman perempuan.

Aku juga tak berani bertanya tentang isi hatinya. Aku perempuan. Di masa itu, tabulah perempuan menyatakan perasaannya terlebih dahulu. Apalagi kurasa kedua orang tuaku bahkan kedua orang tua kami tidak akan setuju kalau kami menjalin cinta. Pasti menurut mereka terlalu belia.

Hingga akhir perpisahan sekolah perasaan itu masih tertutup rapat di hatiku. Tak berani aku menyatakannya. Hanya mampu menatapnya saat aku akan bersiap pentas menari  di acara perpisahan.

Hingga kini aku tak pernah mendengar tentangnya lagi. Usai perpisahan sekolah, aku pun pindah rumah, sehingga kemungkinan bertemu sangat kecil. Aku pun tak tahu rumahnya, siapa nama orangtuanya. 

Semakin lama raut wajahnya semakin memudar, tinggal kenangan samar. Kenangan usai pulang sekolah, bermain dan bercanda sambil menunggu orang yang menjemput kami. Kisah inipun tak pernah sampai di telinga suamiku. Apa yang hendak kuceritakan? Kisah ini sudah terlalu lama, bahkan nama lelaki itupun sudah kulupakan.

Catatan : Kisah ini terjadi puluhan tahun lalu. Kala kami masih belajar dan bermain di TK Tawekal Sapta Marga Cibereum Bandung.


Kamis, 22 Januari 2015

AWAS, SI PENIRU ULUNG

Suatu pagi, usai sarapan Fatih menghampiri saya yang tengah mengetik di kamar.

“Capek Mah? ujar Fatih sambil merebahkan diri di atas kasur.

“Capek? Memang Mas Fatih habis ngapain?” balas saya sambil mengetik.

“Habis nyapu Mah” ujar Fatih lagi.

“Nyapu? Nyapu apa?” tanya saya sambil memandang Fatih.

“Nyapu bubun (baca : bubur) Mah” jawab Fatih yang disusul derai tawanya setelah melihat ekspresi muka saya.

Ya, saya kemudian mengernyit sambil mata sedikit membelalak, antara tak percaya dan geli. Akhirnya saya tertawa juga sambil berujar, “kamu kok lucu sih Mas, kayak srimulat”.

Saya yakin, sebagian yang melihat kejadian itu pasti tertawa, wong anak umur 2,5 tahun kok sudah bisa bercanda seperti itu. Eits, tunggu dulu, kalau waktu diputar ulang, beberapa hari yang lalu ada percakapan yang hampir serupa. Saat itu Fatih juga mengatakan kalau capek habis nyapu ruang tengah, padahal dia habis makan. Terus saya bilang saja, “habis nyapu nasi ya mas, capek ngunyah”. Hihihi..

Usia Fatih memang masa meniru. Dia meniru apapun yang dia lihat dan dengar di lingkungan sekitar. Tentunya Fatih belum mampu menyaring mana yang baik dan mana yang jelek. Dia juga belum mampu mengendalikan seberapa jauh tindakan itu dilakukan.

Salah satu perilaku meniru Fatih adalah perlakuan terhadap kucing. Kami terutama Yangkung memang senang memelihara kucing, dimanapun kami bertempat tinggal. Suatu hari, saya melempar sandal kepada kucing kampung yang sering mengganggu kucing yang kami pelihara. “Plak, rasain” ujar saya dengan emosi. Saya geram sekali dengan kucing itu. Kucing yang kami pelihara ketakutan dibuat ketakutan setengah mati.

Rupanya adegan itu terekam oleh Fatih. Keesokan harinya, ketika saya tengah duduk di belakang rumah sambil menyuapi Fatih, saya mengusir kucing yang berputar-putar di kaki.
“Hush, pergi sana ah. Mengganggu saja, kan sudah diberi makan” ujar saya sambil mendorong tubuh kucing dengan kaki.

Fatih lalu mengambil sandal dan melemparkan sandal ke kucing yang saya usir, “Pergi sana” teriaknya.

“Lho Mas, kok dilempar sandal?” namun saya kemudian teringat dengan kejadian kemarin saat saya melempar sandal. Waduh ternyata Fatih meniru perilaku saya melempar sandal tanpa tahu siapa yang saya lempar dan kenapa.

Saya langsung sadar, ya seharusnya saya tidak perlu begitu emosional dan menunjukkannya di depan Fatih. Sebagai orang tua, saya seharusnya menjaga sikap, tentunya tidak hanya di depan anak saja, di mana pun juga. Kalau hanya di depan anak, suatu saat akan terlupa.

Siapa yang ingat dengan kasus anak usia 2 tahun pecandu rokok? Kok bisa? Tentunya tak lepas dari lingkungan keseharian yang dia lihat. Entah itu tetangga, televisi, keluarga bahkan lingkungan terdekat yaitu orang tuanya.

Sebagai orang tua kita lah memang yang bertanggungjawab terhadap perilaku anak. Contoh yang sering dilihat anak adalah keseharian kita. Kalaupun perilaku yang dilihat anak bukan dari orang tua, seharusnya kan kita tetap bertanggungjawab memilihkan lingkungan yang kondusif buat anak.

Hal lain, anak-anak sering kita anggap lucu ketika meniru perilaku orang dewasa, akhirnya kita tertawa, sayangnya itu dianggap sebagai penguatan oleh anak. Akibatnya anak akan mengulang perbuatan itu di kemudian hari. Kadang kita juga membedakan sikap mana yang boleh dilakukan anak dan yang boleh dilakukan orang dewasa. Misalnya merokok, kita tetap merokok di depan anak, tetapi melarang anak merokok. Kita memerintahkan anak untuk belajar, sementara orang tua menonton tivi.

Tentu semua orang tua berharap anak tumbuh dan berkembang menjadi anak yang baik, sholeh atau sholihah. Bagaimana dengan kita sebagai orang tua? Kita juga harus tumbuh dan berkembang menjadi orang tua sholeh dan sholihah agar anak meniru perilaku baik kita #teguran buat diri sendiri.

Fatih meniru Mama dan Yangti Masak

Senin, 19 Januari 2015

SIAPKAH BERTAMBAH USIA?

Apa yang tidak akan pernah kembali? Jawabnya adalah waktu. Sebesar apapun usaha kita, waktu akan terus berjalan dan sering terasa sangat cepat. Rasanya kemarin baru saja Senin kok sudah Senin lagi *keluhan pekerja kantoran.

Saya ingat saat kelas 2 SD, sekitar 10 tahun yang lalu *tiba-tiba disorientasi waktu. Waktu itu upacara bendera, saya menatap langit dan berkata dalam hati, “kapan saya bisa cepat besar ya? seperti apa besok kalau sudah besar?”. Kala itu, ingin sekali cepat besar. Pikirannya kalau sudah besar itu enak, apa saja boleh. Sekarang mikirnya, enak ya jadi anak kecil..hihihi.

Bertambah usia diikuti juga dengan pertambahan dan perubahan tugas perkembangan. Apabila seseorang mengalami keterlambatan menyelesaikan tugas perkembangan, maka akan menyulitkan tugas perkembangan berikutnya. Misalnya seseorang di masa remaja kurang berhasil di bidang pendidikan tentu ketika memasuki masa dewasa akan kesulitan dalam bidang pekerjaan.

Awal kuliah, saya takut menjadi dewasa. Benak saya tergambar menjadi dewasa itu banyak tanggung jawabnya. Ketika semester akhir, melihat kakak senior yang baru saja lulus meladeni suaminya, pikiran saya kok segitunya. Saat makan di acara tasyakuran, kakak senior segera menghampiri suaminya. Mulai dari mengambilkan air cucian tangan, mengambilkan serbet dan mengambilkan makanan di piring *untung gak sampai menyuapi suaminya..hihihi. Pikiran saya, emang suaminya gak bisa mengambil makanan sendiri, berarti menikah menambahi pekerjaan *calon istri yang kurang berbakti.

Saat mulai bekerja, perubahan juga saya rasakan di lingkungan. Biasanya dipanggil Mbak, eh ini beberapa teman kantor memanggil ibu. Padahal mereka jauh lebih tua lho. Rasanya tidak nyaman, berasa tua. Seiring waktu, saya sudah mulai terbiasa dipanggil ibu, lha emang sekarang sudah ibu beranak 2.

Ketidaknyamanan dengan panggilan juga dirasakan oleh ibu saya. Saat pergi keluar bersama Papa, seringkali orang lain memanggil mereka dengan sebutan “Mbah”. Ya memang sudah pantas sih mereka disebut Mbah, wong sudah punya cucu. Tapi ibu saya merasa gak nyaman, kesannya sudah tua banget. Akhirnya para cucu diminta memanggil Yangti dan Yangkung *sama saja kan.

Kalau cuma masalah sebutan saja sih bisa diatur. Nah, saya pernah melihat hal yang sedikit janggal. Seorang nenek meminta saya memanggil dengan sebutan ibu. Awalnya sih saya menyebutnya Oma. Maksudnya manggilkan buat cucunya yang duduk di kelas 2 SD. Eh, ternyata cucunya manggil neneknya dengan sebutan Mami. Pas saya bertandang ke rumah, iseng saya bertanya soal neneknya. Ternyata dia bilang kalau mami itu bukan nenek, kalau nenek kan sudah tua, mami kan masih muda *saya jadi agak bengong.

Saya mikirnya cucunya yang memang gagal paham atau neneknya yang tidak mau disebut tua. Tua itu kan pasti, seberapa pun kita menolaknya. Jadi siapkah kita bertambah usia?

Pernah muda bersama Bona

Jumat, 16 Januari 2015

EFEKTIFKAH KATA “JANGAN” PADA ANAK?


“Mas, jangan ganggu Boni, nanti digigit lho” larang saya saat melihat Fatih tengah mengusir dan memukul kucing yang bernama Boni.

“Ganggu Ma” balas Fatih tetap menganggu Boni.

Lain waktu di kamar saat saya tengah menyusui adiknya, Fattah, “Mas, jangan cubit pipi adik, kasihan, ntar adik kesakitan”saya berusaha menghadang usaha Fatih mencubit pipi adiknya.

“Cubit Ma” Fatih malah berusaha lebih keras mencubit pipi adiknya.

Saat itu saya sampai terpaksa memanggil yangti dan yangkungnya karena Fatih tidak mau menjauhkan tangan dari pipi adiknya.

Kejadian yang saya alami, sering juga dialami oleh ibu-ibu yang lain kan?. Sering sekali anak justru melakukan apa yang dilarang. Usia Fatih 2,5 tahun adalah masa melawan otoritas orang dewasa, dalam hal ini orang tua atau eyangnya. Semakin dilarang, seringnya anak semakin bersikeras untuk melakukannya. Sikap ini juga sering dibarengi oleh sikap agresif dan mementingkan diri sendiri sehingga terlihat anak justru menjadi emosional ketika dilarang.

Penjelasan lainnya, jangankan anak-anak, kita sebagai orang dewasa ketika mendengarkan kalimat “jangan pikirkan sepeda” apa yang terjadi? Justru bayangan sepeda menari-nari di benak kita, iya kan? Itu karena otak ketika mendengar kata sepeda yang tercipta bukan tulisan sepeda namun gambar sepeda. Kata jangan atau kata negative lainnya akan diabaikan otak, fokus pada obyek dalam perintah atau larangan.

Itulah sebabnya justru larangan saya kepada Fatih untuk tidak mencubit adiknya memotivasi Fatih untuk mencubit adiknya. Namun memang situasinya kadang tidaklah mudah. Saat itu saya tersulut emosi dan tidak mampu mengarahkan perilaku yang saya harapkan dari Fatih *padahal sering. Akhirnya saya berteriak memanggil eyang sambil bersuara keras dan menghalau tangan Fatih dengan cukup agak kasar. Fatih kemudian diambil eyangnya dalam keadaan emosi karena keinginannya tidak tercapai.

Sesaat kemudian, Fatih kembali mendatangi saya dan Fattah. Saat itu saya sudah mampu menguasai emosi, “Mas, sama adik yang baik ya. Kalau mau sayang adik, pegang pipi adik dengan halus dan lembut”.

“Iya Ma. Pegang pipi adik aja, gak cubit pipi adik” janji Fatih sambil memegang pipi adiknya.

Ya, saya berhasil membentuk perilaku yang diinginkan tanpa mengijinkan perilaku yang tidak diinginkan tergambar di otak Fatih. Jadi tekniknya adalah langsung menyampaikan kepada anak perilaku apa yang kita harapkan dari dia.

Apakah lantas kita tidak boleh sama sekali menggunakan kata tidak atau jangan? Beberapa situasi menghadapkan saya menggunakan kata tidak, entah mungkin saya yang kurang kreatif dalam mencari kata yang lain. Misalnya saat Fatih ingin menggunakan pisau saat membantu saya memasak. Saya katakan padanya, “Mas belum bisa memegang pisau, nanti tangannya bisa terluka. Nanti kalau mas Fatih sudah pintar pegang pisau, Mama ijinkan. Ada yang sudah boleh dan ada yang belum boleh mas lakukan”. *kadang-kadang saya sulit mencari bahasa anak-anak, jadi menggunakan bahasa yang muncul dalam pikiran saya.

Saya sih berupaya untuk jarang memberikan larangan kepada Fatih. Kalau dirasa tidak berbahaya, saya biarkan saja. Resiko barang berantakan atau rusak, ya begitulah anak-anak. Kita juga tidak bisa berharap perilaku positif terbentuk dan perilaku negative berkurang atau menghilang hanya dengan sekali penguatan. Butuh ketelatenan, kesabaran dan satu lagi kemampuan kita mengatur emosi *mengingatkan diri sendiri.

Sayang adik

Kamis, 15 Januari 2015

BERTAMBAH DI KEB

“Mbak, belajar tentang blog, belajar SEO biar blognya gak cuma dibaca sama saudara-saudaranya”

Itu adalah komentar teman kantor pada status saya sebulan yang lalu. Rasanya MAK JLEB, sakitnya tuh , di sini *tunjuk dada.

Ucapan teman saya sih tidak sepenuhnya benar, wong waktu itu saya sudah mulai melek soal blog. Paling tidak, saya sudah mulai berani ikut lomba dan alhamdulillah dua kali menang lomba blog sebagai pemenang hiburan dan 1 GA *halah gitu aja kok bangga.  Bagi saya itu sudah kemajuan, karena tujuan awalnya ngeblog buat belajar menulis dan mendokumentasikan perjalanan hidup.

Memang awalnya ngeblog, tulisan saya cuma dibaca oleh adik-adik saya, itupun setelah saya colek di fesbuk *mesakke yo. Colek mencolek akhirnya saya hentikan setelah diprotes oleh adik terakhir, bikin rusuh dindingnya. Lah salah sendiri kenapa gak diatur kronologinya. Jadi setiap ada colekan dari orang lain kan bisa gak harus muncul di dinding fesbuknya.

Adik saya, Rahmi kemudian mendorong saya untuk bergabung di KEB. Tanpa babibu, paham saya seorang procrastinator, dia langsung daftarkan ke Mak RT Sary Melati, “Mak Sary, sudah kirim via inbox persyaratannya”.

Waktu itu, saya cari di inbox fesbuk kok pesannya Mak Sary gak ada. Sebulan kemudian baru ketemu, ternyata nyasar dipesan lainnya. Setelah memberikan biodata dan diinformasikan aturan dan tata tertib, 3 hari kemudian saya baru menyetujui untuk mematuhi aturan dan tatib KEB. Waktu 3 hari saya butuhkan untuk bersemedi dulu. Gaya banget ya. Sejujurnya, saya gak pede. Takutnya malah malu-maluin, wong tulisanya geje.

Sejak gabung di KEB, alhamdulillah tulisan saya mulai dibaca oleh orang lain, bahkan yang komentar bukan Rahmi aja. Orang pertama yang kasih komentar adalah Mak Hana. Hore, selamat ya Mak, hadiahnya ucapan terima kasih…hihihi. Selanjutnya Rahmi mulai mendorong saya untuk ikutan GA dan lomba blog. Padahal saya gaptek banget, baca persyaratannya domblong *baca melongo gak paham. Berkat panduan Rahmi, saya mulai sedikit paham dengan dunia blogging.

Rahmi juga mendorong saya untuk BW *lah ini kok ceritanya tentang Rahmi. Saya juga sering BW, sayangnya jarang ninggalin jejak. Ternyata ada aturan tidak tertulis, kalau kita dibewein orang lain, sebaiknya kita bewe balik, sebaliknya kita juga selain dapat ilmu dari bewe dengan meninggalkan jejak alias komentar yang punya rumah juga akan bewein kita. Wuih, kayak silaturahmi antar tetangga ya.

Pokoknya, sejak gabung di KEB saya jadi tambah teman, blog saya tambah kunjungan, tambah ilmu dan informasi gratis. Saya banyak belajar dari teman-teman di KEB. Suasana di KEB hangat, saling mendukung dan tidak pelit berbagi informasi dan ilmu. Layaknya sebuah rumah, KEB bukan hanya house atau bangunan tetapi juga home yang memberi kenyamanan dan mendukung anggota yang lain.

Selamat ulang tahun ke 3 KEB, semoga saya kelak bisa kopdar sama anggota yang lain, gak cuma sama Mak Rahmi hihihi. Sayangnya KEB belum pernah buat acara di Kudus. Atau ada Mak yang dari Kudus? Mari kopdar, buat acara ulang tahun KEB di Kudus hehehe..

Selasa, 13 Januari 2015

RUMAH TANPA TIVI

Akhir tahun 2010 saya menyandang status sebagai nyonya. Usai menikah, terlintas di pikiran saya untuk memiliki rumah. Ya, memang saya dan Ayah belum punya rumah tinggal. Hampir setiap minggu, kami mencari rumah yang dijual. Hasil pencarian nihil. Ada saja halangan sehingga kami urung mendapatkan rumah. Harga yang terlalu mahal, masjid jauh dari rumah, lokasi yang tidak cocok, bangunan yang jelek dan sebagainya.

Seorang teman pada pertengahan tahun 2011 menawarkan kapling tanah seluas 150 meter dengan harga yang cukup murah. Memang lokasi tidak dipinggir jalan besar, agak masuk ke dalam, paling 5 menit dari jalan yang dilalui angkutan. Tetangga di sekitar rumah juga baru 2, yang lainnya ada di depan tanah kami.

Nekat, pinjam uang ke orang tua, akhirnya kami beli tanah tersebut. Pikiran yang ada saat itu, mumpung murah dan yang penting punya dulu hehehe.

“Sudah, uangnya kamu tabung saja buat bangun rumah. Tanah sudah Papa ikhlaskan untuk kamu” ujar Papa membuat hati bersorak *anak tak tahu diri.

Bulan Mei tahun 2013, kami memulai pembangunan rumah. Masih dengan modal nekat, uang masih terkumpul sedikit, kembali saya meminjam uang ke ortu. Setelah hampir 1 tahun rumah dibangun dan sempat berhenti beberapa bulan karena beberapa alasan, kami membangun kembali rumah pasca lebaran. Alhamdulillah pembangunan rumah sudah 75 % selesai. Sisa yang belum terbangun, pagar, pintu belakang lantai atas, pintu kamar, pegangan tangga, pagar pengaman lantai atas, kanopi teras depan dan belakang serta cat dinding. Ternyata buanyak ya..hihihi.

Perjuangan kami membangun rumah, cukup menakjubkan. Kenapa saya sebut menakjubkan? Karena saya sendiri tidak menyangka, kami mampu membangun rumah seperti sekarang. Biaya membangun rumah tidak sedikit, bahkan membengkak dari perkiraan. Biaya yang sudah kami keluarkan membuat saya tidak habis pikir dan bersyukur bahwa ALLAH membuka pintu rejeki hingga rumah terbangun seperti sekarang.

Saya menjadi bersemangat untuk segera dapat menempati rumah. Inilah kado terindah di tahun ini yang saya inginkan. Rumah yang segera bisa ditempati dan tanpa TIVI. Kok tanpa TIVI? Iya, karena saya melihat Fatih terlalu lama menonton tivi. Tontonan Fatih sih awalnya Upin Ipin dan Masha and The Bear di pagi hari. Selanjutnya bertambah nonton Dongeng si Kancil dan film kartun lainnya. Apalagi film kesukaannya tidak hanya tayang di pagi hari tetapi siang dan sore hari. Mengkhawatirkan sekali.

Fatih asik nonton Tivi

Saya tidak bisa melarang Fatih sepenuhnya menonton tivi karena tivi di rumah sering dinyalakan. Kami memang menumpang di rumah orang tua dan tivi merupakan hiburan bagi mereka. Makanya saya menginginkan besok menempati rumah tanpa tivi. Jadi tidak ada pilihan buat Fatih untuk menonton. Kalau sesekali mau nonton, bisa melalui laptop kan?

Saya sudah berencana menyediakan banyak sarana untuk Fatih dan Fattah beraktifitas. Ada perpustakaan, lahan bercocok tanam, lahan bermain air dan terpikir juga untuk bermain pasir. Prinsip saya yang selalu disampaikan ke Fatih, "boleh bermain apa saja yang penting tidak berbahaya dan setelah selesai bermain dikembalikan".

Lantai atas tempat beraktifitas anak-anak

Memang masih butuh perjuangan lagi untuk menyelesaikan pembangunan rumah. Makanya saya minta Ayah berjuang.

“Eh Mah, kok gak terpikir ya ruang tamu lantainya granit aja. Lantai dua juga gak usah dikasih genteng, bagusnya didak jadi bisa buat taman di lantai 3” ujar Ayah, saat ngobras alias ngobrol santai di sore hari.

“Duitnya? Mamah sih senang-senang aja. Nah, Ayah kan kepala rumah tangga, tugas utama mencari nafkah. Mama serahkan seutuhnya agar Ayah menyelesaikan tugas Ayah” ujar saya sambil tersenyum dan dibalas ayah dengan meringis..hihihi.

Semoga kado rumah tanpa tivi ini segera terwujud. Teman-teman boleh kok kalau mau kasih kado juga. Perabotan rumah masih banyak yang belum saya punyai. Saya baru punya kompor dan lemari, masih banyak daftar barang lain hihihi.

“Maaf, kan beda kota, kami gak bisa mengunjungi rumah baru kamu” mungkin itu beberapa alasan buat mengelak memberikan kado.

Eits, jaman gini gak perlu datang langsung, kan ada jasa pengiriman. Tinggal kirim saja, beberapa hari barang sampai dengan selamat. Tidak ada alasan kan?

Sabtu, 10 Januari 2015

BARANG BAWAAN WAJIB SAAT LIBURAN

Sudah lewat kok masih ngomongin liburan? Saya kan anti mainstream..hihihi.. Menurut saya, liburan malah lebih enak pas gak musim liburan. Biar gak terlalu ramai dan harga penginapan lebih murah. Saya sudah ngomong sama Ayah “Nabung yuk Yah, entar pas umur Fattah setahun, kita liburan ke luar kota”. Kok nunggu setahun? Nunggu Fattah sudah bisa makan makanan keluarga.

Liburan itu perlu dan direncanakan jauh-jauh hari. Perencanaan ya mulai dari lokasi, anggaran, transportasi, penginapan, konsumsi hingga barang bawaan. Adanya internet sih memudahkan kita dalam melakukan perencanaan. Minimal tanpa harus survey langsung, kita memperoleh informasi mulai dari tujuan wisata, akomodasi, sekaligus biaya yang dikeluarkan.

Bahkan informasi mengenai kondisi tujuan wisata membantu kita mempersiapkan barang bawaan. Contohnya pas saya mendampingi KKL mahasiswa ke Bromo. Saya bela-belain bawa sleeping bag, karena tahu bahwa penginapannya minim fasilitas dan udara sangat dingin. Hasilnya saya merasa hangat dan nyaman saat tidur.

Ngomong-ngomong mengenai barang bawaan, saya punya barang bawaan wajib saat liburan. Barang ini tidak bergantung pada tujuan wisata, kemana pun wajib saya bawa. Seperti sudah sepaket lah hihihi.

Sebagai emak beranak 2, pastilah keperluan anak saya utamakan. Pakaian, peralatan mandi, cemilan serta bantal merupakan barang standart yang dibawa. Tapi, saya punya satu barang bawaan wajib buat Fatih, yaitu PISPOT. Sejak usia 1,5 tahun Fatih sudah gak pakai popok sekali pakai. BAK dan BAB ya di kamar mandi. Nah, kalau BAK dia sudah bisa di kloset jongkok, cuma untuk BAB masih pakai pispot. Repot kalau gak bawa pispot, BABnya jadi di lantai, kan harus bersihin..iiihh



Liburan ke Yogya

Urusan anak beres, baru menyiapkan barang bawaan saya. Kosmetik wajib saya adalah body lotion. Saya bawa meskipun bepergian dalam kota, bahkan di kantor pun tersedia. Berasa ada yang kurang tanpa body lotion. Pakaian dalam ganti, meski hanya bepergian setengah hari tetap saya bawa.  Nah, kalau menginap, saya pasti membawa celana tidur panjang dan kaos lengan pendek.

Must have item saya sebagai pemakai jilbab adalah celana hitam, jilbab hitam dan jilbab putih. Paling gampang nih, dipadu padankan dengan pasangan warna lain.

“Mah, jilbab putihmu kok warnanya dah mulai bulukan. Beli lagi deh, daripada malu-maluin” ujar Ayah sambil melirik jilbab putih di lemari.

Eh, benar juga. Warna putihnya sudah terlihat kusam dan modelnya sudah ketinggalan. Maklum, belinya sudah 5 tahun yang lalu hihihi.

“Belinya di onlineshop saja. Kemarin kita belanja di mall aja, akhirnya gak dapat apa-apa. Ni Ayah punya voucher diskon Zalora. Ada koleksi jilbab putih juga di Zalora” ujar Ayah lagi sebelum saya mengajak pergi berbelanja.

voucher diskon

Memang bulan lalu saya sempat belanja di Mall. Tapi gak dapat apa-apa, rempong bawa anak-anak. Fatih yang minta es krim, minta mainan dan Fattah yang minta disusui, hasilnya saya gak jadi belanja.

Ya sudah, saya meluncur dulu ke tekapeh ya, mumpung si Ayah mau bayarin hihihi.

Rabu, 07 Januari 2015

KADO TANPA NAMA

Siang hari itu suasana kantor sedang santai dan sepi. Dua orang pekerja kantor, Lyn dan Cak sedang leyeh-leyeh sambil ngobrol ngalor ngidul. Obrolan mengarah ke soal pasangan hidup yang hingga saat ini di usia Lyn 26 tahun, dia masih berstatus jomblo.

“Kalau dosen dapat mahasiswi itu sudah biasa Lyn. Yang luar biasa dan belum ada kalau dosen dapat mahasiswa. Kowe wae Lyn, tak dongakke sesok entuk mahasiswa, bwahahaha” ujar Cak, diakhiri dengan derai tawanya.

Wajah Lyn langsung agak pucat mendengar ucapan Cak, rasanya semacam doa atau bahkan kutukan.

“Jangan gitu ah Cak, aku wes kapok diomongi orang. Entar kejadian bener” tolak Lyn.

“Yo rak popo to ya, bwahahaha” ujar Cak lagi sambil tertawa berderai.

Saat itu memang tidak ada petir yang menyahut mengiringi ucapan Cak, tapi Lyn sudah punya pengalaman, ucapan teman yang jadi kenyataan. Lyn tidak suka dengan asap rokok, setiap teman merokok di dekatnya, dia pasti protes. Saking tidak sukanya, dia pernah buat tugas kuliah terkait dengan rokok. Beberapa orang diwawancarai. Usai wawancara, seorang seniornya bertanya “Entar kalau kamu punya pacar atau pasangan hidup yang merokok gimana?”

“Ya, cari yang gak merokok. Atau suruh pilih, pilih aku atau rokok” jawabnya diplomatis.

“Wah, susah dek jaman sekarang cari yang gak merokok. Besok lihat saja, mesti cowokmu merokok” ujar senior.

Dan benar, semasa kuliah, dia punya cowok perokok berat. Ini akibat ucapan dan doa senior atau Lyn yang gak konsisten ya? Hihihi.

Kembali lagi ke soal mahasiswa, wajah Lyn memang imut-imut, masih pantaslah mengenakan seragam SMP, mengutip ucapan seorang teman SMAnya. Penampilannya juga bermuda, hingga orang tidak menyangka kalau ia sudah bekerja dan berusia 26 tahun di kala itu. Memang ada mahasiswa yang menunjukkan gejala melakukan pendekatan bahkan berani main ke rumah. Usia mahasiswa di kala itu tak terpaut jauh bahkan seusia. Namun Lyn, tak tertarik dan berhasil berkelit dengan manisnya dari usaha pendekatan tersebut.

Hingga suatu hari, Lyn merasa ada denting di hatinya. Setiap kali melihat sosoknya, entah itu secara langsung atau lewat foto, mendengar suaranya bahkan membaca isi smsnya, ada yang berdenting di sudut hatinya. Hari-hari menjadi lebih terasa berwarna. Entah sejak kapan, mungkin frekuensi pertemuan membuat pepatah “witing tresno jalaran seko kulino” terbukti. Saat itu Lyn dan seseorang yang mampu membuat denting di hatinya, aktif di kegiatan yang sama.

Gayung pun bersambut, seseorang itu pun jatuh cinta padanya. Namun Lyn menjadi galau, memilih denting di hati atau kelaziman yang berlaku. Ya, seseorang itu berstatus MAHASISWA dan kuliah di tempat Lyn bekerja. Usia sih tak terpaut jauh, hanya lebih muda dua tahun dan banyak kok kasus pasangan yang lebih muda cowoknya. Masalahnya ya itu, status dia yang MAHASISWA.

“Apa yang salah? Kamu lajang, aku lajang. Kenapa kita tidak boleh menjalin cinta?” tanya Iful, seseorang yang mampu mendetingkan hatinya.

Akhirnya Lyn memilih mengikuti kata hatinya. Lyn tak berhasil mengenyahkan Iful dari hati dan pikirannya. Tapi Lyn meminta syarat, hubungan harus disembunyikan dari semua orang termasuk keluarga sampai waktu yang tepat, entah kapan waktu itu.

Suatu hari Lyn teringat, tiga hari lagi Iful ulang tahun. Lyn ingat, dulu dia suka lihat barang-barang cowok pas di Mall. Sambil memandangi dan sesekali menyentuh, Lyn membatin, kapan ya aku bisa beli barang-barang ini?. Lho, kok Lyn suka barang-barang cowok? Maksud Lyn, dia ingin membeli untuk diberikan kepada seseorang yang special. Akhirnya impian itu tercapai *kasian Lyn ini, kelamaan jomblo kali ya.

Lyn memutuskan untuk membeli jam tangan dengan merek Alexandra Christie dengan model sporty. Setelah terbeli, Lyn bingung, “bagaimana cara memberikan kado ini. Mau ke rumah Iful malu. Kalau ngajak ketemuan alasannya apa? Lagi ini bulan puasa, kan udah janjian ga ketemuan dulu”.

Beberapa saat setelah berpikir keras, TING, Lyn punya ide. Ya, mendingan lewat jasa pengiriman saja. Keesokan harinya, meluncurlah Lyn ke JNE, jasa pengiriman terpercaya. Lyn sudah biasa mengirimkan barang lewat JNE.

“Mas, terima pengiriman dalam kota gak?” tanya Lyn sebelum menyerahkan kadonya.

“Iya mbak terima, tapi ini kan gak terlalu jauh. Kok gak diantarkan langsung” tanya petugas saat melihat alamat yang tertera.

“Gak ah mas. Malas, panas, puasa-puasa lagi” ujar Lyn berkilah.

“Lho kok gak ada nama dan alamat pengirimnya Mbak” tanya petugas.

“Hehehe, untuk kali ini gak usah pakai nama dan alamat pengirim ya Mas. Cukup ditulis di arsip saja ya” jawab Lyn malu-malu.

“Ini apa sih isinya Mbak?” tanya petugas dengan tatapan selidik campur menggoda.

Lyn hanya tersenyum dan segera berlalu. Sepanjang perjalanan, dia berfikir, akankah Iful tahu siapa pengirimnya. Lyn sudah menyiapkan ciri dalam ucapan selamat ulang tahun yang tidak dibubuhi nama pengirim juga. Ia ingin tahu, apakah Iful memiliki kepekaan dan perhatian.

Keesokan harinya, sesudah maghrib, HP Lyn berdering. Nama samaran Iful muncul di sana.

“Terima kasih ya, atas kadonya. Aku suka jam tangannya. Kok gak langsung diberikan?” ujar Iful.

“Kok kamu tahu aku yang kirim? Kan tidak ada namaku di sana?” Lyn sedikit terkejut sekaligus senang.

“Aku tahu dari bentuk huruf G-mu, hanya kamu yang menulis huruf G seperti itu” jawab Iful dengan tepat.

Jam Tangan Saksi Bisu

Catatan : Cerita ini bukan fiktif belaka, Lyn dan Iful akhirnya menikah dan telah dikaruniai dua orang anak yang ganteng. Gambar di atas sebagai bukti kebenaran cerita tersebut.

Giveaway Kado Terindah

Selasa, 06 Januari 2015

KADO TERINDAH YANG TAK DISANGKA

Akhir-akhir ini saya senang ikut lomba blog. Setiap ada informasi lomba blog, langsung URL dan DLnya saya simpan di catatan FB, biar gampang mencari linknya dan lombanya tidak terlewat *niat banget yak. Eh, tapi ikut lomba blog atau GA itu bermanfaat banget lho,bisa buat ide postingan blog, menambah silaturahmi dan tentu saja bonus mendapat hadiah hihihi.

GA yang satu ini, dari Mak Pungky, disuruh mengingat kado terindah yang pernah diterima. Waduh, saya sempat bingung juga, cerita kado yang mana ya, yang mau saya ceritakan. Setelah bertapa 24 jam, cie..akhirnya saya memutuskan untuk menceritakan kado terindah yang tak disangka dari seorang teman. Inilah ceritanya..

Bagi saya fesbuk membawa banyak manfaat. Salah satunya adalah menjalin pertemanan, dari yang belum kenal menjadi kenal dan yang jauh menjadi dekat. Mbak Sekar, adalah salah satu teman yang saya kenal lewat fesbuk. Seingat saya, gegara sebuah group saya mengenalnya. Kalau bukan group menyusui ya group popok kain yang dikenal dengan sebutan clodi.

Mbak Sekar berdomisili di Jakarta. Ia membuka lapak clodi dan peralatan menyusui. Belakangan ini, dia malah menambah ragam lapak dagangannya. Waktu kehamilan Fatih, anak pertama, saya beberapa kali memesan barang di lapaknya. Setelah melahirkan saya juga dapat dukungan menyusui. Waktu itu, Fatih kan sempat bingung putting, menolak saya susui. Nah, mbak Sekar inilah yang ngayem-ngayemi serta memberikan tips agar sukses menyusui. Alhamdulillah Fatih mau menyusu langsung hingga berhasil disapih di usia 25 bulan 12 hari.

Saat hamil Fattah, anak yang kedua, mbak Sekar juga terlihat senang. Wah, kok saya tahu? Iya, lewat komentarnya di fesbuk yang memberikan ucapan selamat. Pertemanan saya dan dia memang hanya terjalin lewat fesbuk. Entah itu lewat komentar terhadap status fesbuk atau ngobrol via inbox.

Hingga 2 minggu setelah melahirkan mbak Sekar berkirim pesan lewat inbox di fesbuk.

“Mbak mau aku kadoin apa?hehehe” isi pesannya.

Coolerbag biru

Kebetulan, saya memang butuh dan mau pesan coolerbag buat membawa ASIP dari kantor ke rumah. Coolerbag yang dulu sudah rusak. Saya pikir, besok-besok aja lah pesannya, wong cuti saya masih lama.

Eh, Mbak Sekar langsung bilang mau dikadoin coolerbag dan meminta alamat rumah saya. Iya, seperti biasa, coolerbagnya mau dikirim lewat jasa pengiriman.

Beberapa hari kemudian datanglah kurir ke rumah saya, membawakan coolerbag biru dari Mbak Sekar. Wah, saya senang banget, ga nyangka, meski belum pernah bertemu, mbak Sekar perhatian banget. Bagi saya, inilah kado terindah dari seorang teman yang tak terhalang jarak.

Terima kasih Mbak Sekar atas kado dan jalinan pertemanan yang indah.

Senin, 05 Januari 2015

BAGAIMANA EVALUASI 2014 DAN APA RESOLUSI 2015?

Judulnya kok kata tanya semua? Ini lagi mempraktekkan ilmu dari Blogger Senior..hihihi. Terlepas dari kata tanya tersebut, saya sadar kalau tulisan ini telat banget. Orang-orang sudah melakukan evaluasi dan membuat resolusi bahkan sudah menjalankannya, eh saya malah baru buat. Bukannya saya tidak terpikir membuatnya, semua sudah menari-nari dalam pikiran, hanya belum sempat eksekusi. *halah ngeles meneh.

Sama seperti tulisan ini, di tahun 2014, resolusi ngeblog saya baru hadir memasuki minggu kedua. Yah lebih baik telat daripada tidak sama sekali. Itu adalah slogan yang saya pakai kalau lagi telat hehehe. Alhamdulillah, hingga saat ini saya masih komitmen untuk ngeblog. Berbagi cerita, pengalaman dan pikiran sambil belajar merangkai kata. Ya, menulis sebenarnya merupakan resolusi semenjak akhir kuliah S1. Sayang jaman dulu, blog masih jarang, masih sipit internet dan keberanian masih tipis.

Adanya blog memudahkan kita untuk menulis tanpa takut ditolak. Kalau dulu buat tulisan dan ingin dibaca banyak orang kan harus kirim ke media, iya kalau diterima, kalau ditolak? Sakitnya tuh di sini dan bikin kita mutung gak mau menulis lagi *pengalaman pribadi. Asiknya lagi, kalau ikut komunitas, kita bisa berbagi. Caranya ya dengan blogwalking ke tulisan teman-teman. Wuih, banyak ilmu bertebaran. Apalagi teman blog senior *serap-serap ilmu.

Ikut blog tanpa saya duga bisa menghasilkan uang. Saya sudah tahu sebenarnya kalau ngeblog bisa mendatangkan uang, tapi niat di awal bukan untuk mencari duit. Di dorong oleh adik saya Rahmi yang Irits ini, saya akhirnya ikut lomba blog. Awalnya bingung banget dengan persyaratan lomba. Gak tahu caranya bikin hyperlink, pasang banner, sampai masalah buat hastag di twitter. Istilah-istilahnya unfamiliar buat saya. Alhamdulillah, hadiah hiburan bisa saya sabet di lomba #IdekuUntukPLN dan Sun Anugerah Caraka 2014. Sayangnya banyak lomba juga yang ‘lewat’. Saya akui, saya tidak maksimal dalam persiapan dan seadanya membuat tulisan.

Salah satu kesipitan saya akan teknologi

Di tahun ini, saya juga diberi kepercayaan ALLAH SWT untuk hamil dan melahirkan anak yang cakep dan semoga menjadi anak yang sholeh..aaamiin. Biaya persiapan melahirkan sebenarnya bertabrakan dengan biaya pembangunan rumah. Ya di tahun 2014 ini, saya lagi banyak pengeluaran untuk pembangunan rumah tinggal. Akhirnya pembangunan saya hentikan sementara, menunggu uang terkumpul. Biaya persalinan pun mepet bahkan nyaris tak cukup untuk membayar rumah sakit. Alhamdulillah rejeki datang, hingga biaya melahirkan terbayar, aqiqoh pun terlaksana.

Rumah yang kami bangun sejak 2013 pun sudah 80 % jadi. Saya tidak menyangka kalau biaya pembangunan rumah membengkak. Ya ada sedikit masalah dengan mandor sehingga pembangunan mundur dan akhirnya harga bahan bangunan pun naik. Yang membuat saya takjub lagi, ternyata kami mampu membangun rumah dengan biaya tersebut. Kalau dihitung gaji saya dan suami, rasanya sulit, namun rejeki memang rahasia ALLAH, yang penting adalah usaha untuk menjemputnya.

Lantas apa resolusi di tahun 2015 ini?

Ada beberapa resolusi di tahun ini yang tidak muluk-muluk. Mimpi pun kan tetap harus realistis, kalau terlalu muluk bisa jadi hanya menjadi bunga tidur. Jadi ini resolusi 2015.

  •  Meningkatkan kualitas blog. Caranya ya dengan belajar ilmu blog, tidak sipit lagi, melek blog lah. Saya harus mulai belajar tentang Personal Branding, SEO dan istilah-istilah lain. Kuantitas BW juga harus ditingkatkan, demi bertambah ilmu dan teman. Kualitas tulisan saya juga harus terus diasah, tidak asal membuat tulisan, tidak seadanya ikut lomba blog *banci lomba. Satu lagi, di tahun ini saya berharap dapat JR alias Job Review. Menurut saya, kalau bisa dapat JR berarti blog saya diakui, tulisan diapresiasi…aaamiin.
  • Niatan awal saya ngeblog adalah untuk belajar menulis. Sudah satu tahun saya belajar, saya berharap ilmu saya meningkat dan HARUS terus ditingkatkan. Nah, salah satu resolusi di tahun ini adalah tulisan tembus media.
  • Untuk membantu dua resolusi di atas, saya harus sering membaca. Selain sowan ke blognya teman, saya juga harus banyak membaca media yang ingin saya bidik.
  • Mudah-mudahan saya bisa menempati rumah tinggal, paling tidak di akhir tahun, sambil menunggu Fattah agak besar. Saya miris kalau meninggalkan Fattah hanya dengan pembantu.
  • Saya ingin menjadi istri dan mama yang baik. Kekurangan saya yang paling mendasar adalah mengatur emosi. Seringkali ketika marah sudah timbul, saya sulit menempatkan marah pada posisinya. Di tahun ini saya akan belajar mengatur emosi. Saya gak mau anak-anak belajar mengeluarkan emosi dengan cara negatif dari saya.
Itulah beberapa resolusi 2015. Bukan tidak mungkin dipertengahan jalan, saya menemukan resolusi baru. Mudah-mudahan resolusi ini bisa terwujud dengan lancar. Aaamiin.

Sabtu, 03 Januari 2015

(REVIEW) WHITE MUSK SET THE BODY SHOP

Siapa yang suka wangi? SAYA *angkat tangan yang tinggi. Sejak SMP saya suka wewangian.  Dulu masih beli wewangian jenis eu de cologne, spray atau mist. Baru pakai yang murah-murah saja, disesuaikan dengan ukuran ‘kantong’. Setelah bekerja, baru berani beli yang agak mahal dikit, jenis eu de toilette atau eu de parfume. Kan sudah punya penghasilan sendiri hehehe.

Nah, saya punya satu wewangian yang ingin saya miliki dan baru kesampaian kemarin. Apa itu? Wewangian dari The Body Shop. Iya, sejak kuliah saya sudah pengen punya wewangian dari TBS, cuma dari harga memang agak besar buat kantong. Pas bekerja, ada saja kebutuhannya, apalagi setelah berumah tangga dan memiliki anak.

Alhamdulillah kesempatan datang dari Ayah yang menawari oleh-oleh dari Batam. Saya yang memang penyuka wewangian langsung minta White Musk dari TBS. Saya pikir harga di Batam lebih murah, ternyata sama saja dengan di Semarang. Akhirnya diputuskan beli di Semarang saja, biar saya bisa pilih sendiri *asik.

White Musk Set

Sabtu, 27 Desember pas Ayah libur, kami langsung ke Java Mall Semarang. Begitu sampai Java Mall, kami berpencar, Ibu mencari tas ditemani Papa, Ayah bareng Fatih mengelilingi Mall dan membeli kaos kereta api, saya sendiri ke counter TBS sambil mendorong kereta bayi *dibela-belain bawa Fattah.

Sesampai di TBS saya langsung menuju rak rangkaian produk seri white musk. Ternyata varian white musk tambah banyak. Bikin bingung, rasanya pengen dicoba semua. Sayang, waktu dan kondisinya tidak memungkinkan, Fattah sudah gelisah minta disusui. Akhirnya saya hanya menyemprotkan Edt White Musk dan Edt White Musk Libertine.

White Musk merupakan parfum klasik yang menjadi favorit penggemar TBS.  Wanginya didominasi musk, kayu, white floral, powdery, floral dan earthy. Sedangkan varian Libertine didominasi musk, wangi yang manis, madu, mawar dan milky. Saking bingungnya, akhirnya saya memanggil Ayah untuk membantu memilih.

Saat pertama menyemprotkan white musk, Ayah berkomentar, “kok tidak ada baunya”. Memang saat itu baunya tidak tercium, setelah sekitar 10 detik barulah aromanya mulai muncul. Menurut saya sih, aroma white musk ini lama kelamaan malah terasa enak. Awal setelah aromanya keluar terasa menyengat, lama kelamaan baru terasa manis berbau bedak. Kalau Libertine wanginya hampir sama hanya lebih feminin.

Akhirnya saya memilih White Musk Set yang terdiri dari Edt 30 ml, Shower Gel 60 ml dan Body Lation 60ml. Awal kenal wewangian dari TBS, ya White Musk ini. Dua orang teman saya memakai Edt White Musk, baunya perpaduan bedak dan sabun. Itulah salah satu alasan saya memilih White Musk. Shower Gelnya pas saya gunakan cukup kesat di badan, tidak terasa licin. Sedang Body Lotionnya juga langsung meresap di kulit dan tidak membuat berminyak. Hanya baunya yang tercium agak menyengat.

Harganya sih, lumayan merogoh kocek,  IDR 255.200. Itupun setelah dipotong diskon, harga aslinya IDR 319.000. Saya juga ditawari kartu member TBS. Syarat menjadi anggotanya, selama 2 bulan belanja minimal IDR 500.000. Diambil sajalah, siapa tahu dapat rejeki bisa belanja lagi produk yang lain..aamiin.

member card

Blog Design by Handdriati