Rabu, 13 Januari 2016

Maaf, Hanya Semangkuk Soto Cil

Kiddos
 “Gubrak” terdengar suara dentuman yang tak terlalu keras yang disusul suara tangisan Fatih yang membahana.

Ya, Kamis sore Fatih kembali terpeleset di halam depan. Saat itu, ia tengah sibuk membawa bekas kaleng cat plastic 5 kg yang diisi sedikit air. Fatih tengah membantu eyangnya menyiram tanaman. Sementara saya memperhatikan Fattah yang ikut memutar kran untuk bermain air.

Fatih, kemudian dibantu Yangti untuk bangun. Terlihat mulutnya berdarah dan air matanya mengalir, “huhuhu, Fatih gak mau gigi dicabut” isaknya.

Karena jatuh, gigi depan Fatih mungkin goyang, sehingga ia ketakutan kalau giginya akan dicabut. Saya hanya bisa meminta Fatih untuk berkumur membersihkan darah di mulutnya. Fatih baru mau mandi setelah Ayah pulang, itu pun disertai tangisan kesakitan.

Malam hari, saat ia tertidur gelisah menahan sakit, saya memandangi sambil mengusap punggungnya. Tak terasa air mata mengalir, menatap mulutnya yang bengkak dan masih mengeluarkan darah. Ya, terkadang saya cengeng. Terlebih sejak menjadi ibu, mata saya sering berkaca kalau mendengar cerita kesedihan anak-anak.

Muka Fatih Pasca Jatuh
Pagi hari, saya berhasil membujuk Fatih untuk berobat ke dokter. Pikiran saya kemudian melantur. Bagaimana nasib anak-anak yang terluka namun tak bisa ke dokter? Yang tidak ada fasilitas atau bahkan tidak ada tempat bergantung?.

Tiba-tiba saya teringat Ucil. Kenangan belasan tahun silam saat masih kuliah S1. Ucil, bukan nama sebenarnya. Bukan saya menyamarkan namanya. Tapi memang saya tak tahu namanya. Kami semua memanggilnya Ucil, entah dari mana nama itu. Seperti kesepakatan saja, Kesepakatan dari yang dipanggil nama dan si pemanggil. Usianya sekitar 9 tahun.  Kepalanya plontos dan badannya pun agak kurus.

Saya pun tak tahu asalnya dan datangnya. Tiba-tiba saja, dia sudah beberapa waktu berada di kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta Fakultas Psikologi tempat saya menuntut ilmu. Ucil pun dengan suka hati menemani mahasiswa atau mahasiswi yang lembur di kampus. Matanya tampak menyimak percakapan kami, bahkan ia ikut menimpali.

“Gak apa-apa Mbak, tidur di sini. Nanti kan kursi mejanya bisa dijadikan pembatas atau ditiduri. Jangan takut, nanti saya yang jagain” ujarnya menjawab kecemasan saya.

Saya memang sudah berkomitmen, gak mau tidur di kampus. Meski ada kegiatan sampai tengah malam. Pasti usai kegiatan saya langsung pulang kos. Bukan apa-apa, gak nyaman aja. Banyak nyamuk.

“Mbak, makan yuk” suara kecilnya memecah kesibukan kami. Beberapa orang menggelengkan kepala. Memang hanya ada beberapa mahasiswi adik kelas saya. Tak tega melihat wajahnya yang kelaparan, saya pun mengangguk dan menghentikan aktifitas.

Kami berdua menuju warung soto di depan kampus. Kulihat senyum di wajah Ucil menyapa beberapa mahasiswa yang berpapasan. Tangannya membawa uang receh yang sudah dibungkus plastik. Tak banyak kata yang kami ucapkan. Saya pun bingung memulai percakapan.

Sambil menunggu pesanan soto, saya ingin menuntaskan rasa penasaran, “Rumahmu di mana Cil?”.

“Di sekitar sini aja Mbak. Paling kalau tak bilangin, mbake yo gak ngerti” jawabnya.

“Gak kangen rumah to Cil” tanya saya lagi.

“Gak” jawabnya lagi memainkan uang dalam genggaman.

“Sama bapak ibu? Atau saudara” gali saya.

“Gak Mbak” jawabnya lagi.

“Kamu gak dicariin?” saya masih penasaran.

“Gak. Paling mereka punya kesibukan sendiri” jawabnya sambil memandang sekeliling.

“Kamu pernah sekolah Cil” tanya saya memindahkan topik pembicaraan.

“Pernah, sampai kelas 2” jawabnya.

“Gak pengen lanjut?” sambil berharap semoga Ucil masih punya semangat sekolah.

“Gak ah. Enak begini Mbak” jawabnya lagi.

“Enak begini bagaimana?” tanya saya.

“Iya, enak begini. Ngamen di bis, dapat uang buat makan. Kalau pengen tidur tinggal di kampus. Kalau sudah gak enak, ya pindah” jawabnya menutup pembicaraan.

Saya pun terdiam. Tak berani lagi melanjutkan percakapan. Wajahnya terlihat enggan melanjutkan perbincangan. Kala itu, saya tak tahu harus berbuat apa. Hanya terasa kekosongan menghampiri. Mungkin keadaan akan berbeda, jika saat ini saya bertemu dengannya. Mata saya mungkin akan berkaca-kaca. Ia tak seperti anak kecil lainnya. Tak membicarakan mainan atau film yang digandrungi. Ia justru menyimak percakapan kami.

Terbayang Ucil yang berusia 8 tahun menghadapi kerasnya kehidupan. Tak lagi dirasakan bonding dengan orang tua.Tidak, saya tak ingin menyalahkan orang tua Ucil atau siapa pun juga. Saya tidak tahu kondisi orang tuanya. Saya hanya membayangkan Ucil yang seorang diri. Bagaimana jika ia dilukai orang lain? Bagaimana saat sakit menghampiri?.

Tak lama kemudian, pesanan soto kami pun diantarkan ke meja. Kami pun menikmati soto yang tak lagi menarik buat saya.

“Mbak, aku nitip uangku ya. Soto semangkuk” ujarnya sambil mengulurkan uang recehnya.

“Gak usah Cil. Simpan saja uangnya buat makan malam” jawab saya

“Ah, ojo ngono Mbak. Aku rak penak” tolaknya.

“Udah, uangku masih cukup kok” tolak saya lagi.

Ya, Cil. Hanya itu yang bisa kuberikan padamu. Semangkuk soto dan seuntai doa, semoga engkau mampu tumbuh dan besar dengan baik. Semoga engkau dipertemukan dengan orang-orang yang baik. Semoga engkau saat ini tersenyum dan bahagia.

Rabu, 06 Januari 2016

Resolusi Abadi : Mengusir Rasa Malas


Sejak akhir tahun 2015 dan di awal 2016 bersliweran di timeline facebook dan twitter postingan teman-teman blogger. Temanya sebagian besar tentang review aktifitas di tahun 2015 dan resolusi tahun 2016. Saya sendiri, seperti biasa masih berkutat dengan rasa MALAS..hahaha. 

Usai lebaran kemarin, saya memang agak lengah membuat postingan di blog. Awalnya sih karena ada beberapa pekerjaan di kantor yang agak besar. Jadi menyita perhatian dan waktu. Sebenarnya ide tulisan banyak, tapi ya itu cuma jadi di angan-angan.

Tahun 2015 kemarin ada beberapa resolusi yang sudah saya capai. Di awal tahun, saya mendapatkan Paid Review perdana lewat postingan Bawang Bawaan Wajib Saat Liburan. Di tahun ini 2 tulisan saya pun di muat di media. Salah satunya di majalah favorit saya, Femina. Tapi sebenarnya itu adalah hasil tulisan di akhir tahun 2014 dan baru di muat di tahun 2015. Jadi bukan pencapaian 2015 sih.


Di tahun 2015, saya hanya mengirim 1 tulisan ke Femina dan sukses di tolak..hahaha. Niat mau buat cerpen cuma bertahan beberapa paragraph. Akhirnya hanya tersimpan di laptop, tak jua dilanjutkan. Mau ikut lomba cerpen pun belum menemukan ide yang menarik. Rasanya saya belum menemukan format tulisan atau data yang bisa mengaduk-aduk emosi. Tulisan terasa datar, flat begitu saja.

Soal kontes blog, di tahun ini cuma nyabet 1 GA dengan mencoba merangkum beberapa perjalanan piknik kereta api. Padahal sejak tulisan Papa Contoh Bijak Mengelola Keuangan berhasil membuat juri khilaf, saya jadi bersemangat mengikuti berbagai lomba blog. Tapi ya namanya lomba, pesaingnya kan banyak. Saya pun masih perlu banyak belajar membuat tulisan yang memikat juri dari berbagai kalangan.

Lengah posting di blog, membuat frekuensi blogwalking saya agak berkurang. Selain itu, saya seringnya jadi silent reader, lupa berkomentar di blog yang sudah dikunjungi. Berlanjut juga malas membalas komentar di blog..huahaha..lengkap sudah kemalasan saya.

Rencana di tahun 2015 pindah rumah pun urung. Ya, masih ada beberapa pembangunan yang harus dibenahi atau dilanjutkan. Mudah-mudahan tahun ini bisa ditempai. Jujur, saya lelah. Lelah dengan tekanan lingkungan. Ya, mungkin karena perhatian ya, jadi banyak yang menanyakan,”kapan rumahnya ditempati. Gak usah nunggu sempurna. Sambil jalan saja. Ntar kalau lama gak ditempati malah rusak lho dan bla..bla..”

Peran sebagai Mama pun masih jauh dari kurang. Emosi masih belum bisa dikelola. Frekuensi di dapur menjadi berkurang. Kasian Fattah, gak seperti Fatih, perhatian saya gak full buat dia. Tapi efeknya, saya lebih santai, kesantaian malah. Saya gak beban dan badan gak kurus-kurus..hihihi.

Terus resolusi 2016 apa?

Setelah memikirkan secara mendalam. Bertapa selama seminggu. Mereview perjalanan tahun 2015. Saya punya sebuah resolusi yang abadi yaitu Mengusir Rasa Malas. Keren kan? Malas itulah biang dari ketertundaan semoga bukan kegagalan resolusi saya.

Gara-gara malas, saat suntuk saya memilih nonton drama korea berulang-ulang. Semacam sulit move on dari tokohnya. Gara-gara malas, saya memilih gegoleran di kasur sambil momong Fattah. Gara-gara malas, saya cuma berimajinasi, tidak mengeksekusi. Gara-gara malas saya cuma buka medsos, dan gak menghasilkan satu tulisan pun, bahkan menulis status pun malas. Hadeh..Malas ini membunuhku.

Jadi resolusi di tahun ini dan tahun-tahun berikutnya, saya harus bisa mengusir dan mengelola rasa malas. Oke sejenak, untuk melonggarkan pikiran, kita bisa melakukan yang ingin dilakukan, tapi selanjutnya ya fokus ke pekerjaan dan kewajiban.

Hush..hush...enyah kau MALAS *sambil bersih-bersih blog

Jumat, 25 Desember 2015

Tak Ada Lagi Alasan Postingan Tanpa Foto, Kalau Pakai Oppo R7s


Sebagai blogger, smartphone adalah peralatan perang yang wajib dipunyai. Smartphone membantu dalam mengupdate informasi, baik yang datang lewat sms, email, medsos ataupun what app dan bbm. Saat menunggu antrian atau jongkok di kamar mandi, saya butuh smartphone untuk blogwalking dan share tulisan blog. Tak kalah penting, smartphone juga berfungsi sebagai kamera.

Foto, hampir dikatakan sebagai barang wajib dalam sebuah postingan. Seperti sayur tanpa garam atau kopi tanpa gula. Tanpa garam, sayur terasa hambar. Tanpa gula, kopi terlalu pahit. Tanpa foto, postingan terasa kurang lengkap dan tak mengigit.

Seperti postingan blog saya yang berjudul ‘Sop Balungan Mak Nyus di Cipto Roso Demak’. Saya hanya melengkapi tulisan dengan 1 buah foto. Parahnya, saya tidak berhasil mengambil gambar sop balungan. Akhirnya beberapa komentar bernada protes, “Wah, poto mana potonya?”. Iya sih, dengan foto pembaca postingan saya kan mendapat gambaran yang lebih jelas. No pic = hoax. Siapa tahu, ada yang berpikir saya cuma lewat di depan rumah makan, dan mengaku kalau sudah mencicipi..hihihi.

Komentar bernada protes

Saya sih sudah berusaha mengambil gambar sop balungan. Sayang, smartphone saya lama loadingnya. Sebentar kemudian, tampilan layar berwarna hitam. Arrggh, ini smartphone gak bisa diajak kerjasama. “Mama pasti gak logout fesbuk atau twitter ya. Hapenya juga jarang dibersihkan. Pesan-pesan yang masuk kalau sudah dibaca langsung dihapus lah Ma. Gak usah nambah aplikasi. Ini fotonya dipindahin aja, memori sudah penuh, bikin kerja hape jadi lelet” omel suami saya seperti biasanya.

Cuma foto depan rumah makan

Sementara, saat itu adalah jam makan siang. Duo F, Fatih dan Fattah sudah kelaparan. Duh, bikin saya tambah bingung. Akhirnya smartphone saya tinggalkan, dan fokus pada tugas sebagai ibu. Yah, daripada Fattah ngamuk, terus smartphone saya dibanting. Jangan sampai layar smartphone saya pecah untuk kedua kali.

Situasi tadi membuat saya berangan, “duh, pengennya punya smartphone anti lelet. Gak perlu logout medsos. Bisa nambah aplikasi yang diinginkan. Hasil foto bagus. Tahan dari bantingan Fattah. Baterai tahan lama dan cepat ngisinya. Gak perlu dibersihkan. Terus gratis pula” *mulai melantur.

Eh, pas banget dapat berita dari adik Rahmi Aziza, kalau tanggal 15 Desember 2015 kemarin menghadiri launching Oppo R7s.

Hasil foto menggunakan Oppo R7s


Isi tweet saat launching
“Mbak, aku kemarin datang ke launcingnya Oppo R7s. Duh, itu hape keren banget sih. Hasilnya fotonya bagus. Kapan ya punya hape kayak gitu?”, curhatnya usai acara launching.

Saya jadi penasaran, terus buka-buka deh websitenya Oppo. Dan…saya jadi ikutan pengen. Ih, cocok banget sih jadi gadget idaman di tahun baru hihihi. Gak percaya? Coba lihat sekilas spesifikasinya.

Spesifikasi andalan Oppo R7s

Masih ingin gambaran yang jelas? Lihat saja video di bawah ini.



Setelah mengunjungi web dan menonton video, saya punya 7 alasan menginginkan Oppo R7s menjadi gadget tahun baru.

Prosesor Qualcomm MSM8939 Octa Core dan RAM 4 GB



Ini adalah alasan paling mendasar. Spesifikasi ini merupakan jaminan kemampuan smartphone yang multitasking. Ga ada ceritanya smartphone tiba-tiba hang. Layar menjadi hitam. Gak perlu deh logout dari medsos. Kerja berbarengan juga bisa. Buka email, lanjut buka medsos, mau ambil foto, edit, trus diupload. Ih, gampang banget.

Memori Internal 32 GB

Saya suka malas beli memori external. Kalau kepepet sih beli juga. Tapi kalau memori internal aja udah 32 GB, kayaknya dalam waktu dekat saya gak perlu beli microSD. Saya bebas download aplikasi penunjang sebagai blogger buat edit foto.

Kamera Depan 8 MP dan Kamera Belakang 13 MP




Itu belum seberapa, dengan dukungan Beauty 3.0 bisa menghasilkan selfie yang mengagumkan. Jadi saya gak malas selfie lagi. Muka berasa cantik..hihihi. Dukungan lain berupa beragam filter, Double Exposure, Ultra HD, kemampuan pengambilan gambar pada kondisi cahaya remang dan lensa definisi tinggi untuk bidikan spontan. Aih, jadi gampang bikin foto cakep.

Gorilla Glass 4, Sentuhan Layar Basah dan Ukuran yang Pas


Punya anak masih berusia 1 tahun itu amazing. Antara panik dan membuat tersenyum. Iya, Fattah itu sangat aktif dan cerdas. Kadang-kadang keaktifannya membahayakan smartphone mamanya. Usai dijatuhkan atau dibanting, senyum deh dia. Mamanya yang panik dan terpaksa senyum. Makanya melihat spesifikasi layar sentuh Oppo R7s, sepertinya cocok dengan kondisi mama dengan anak batita. Tak mudah pecah, kuat dan mendukung sentuhan layar basah. Desain yang menarik dan ukurannya pun pas di gengaman.

VOOC Flash Charge dan Kapasitas Baterai 3070 mAh



Wow, dengan mengisi 5 menit, cukup untuk melakukan pembicaraan selama 2 jam. Standar keselamatan pun terjamin. Cocok banget buat saya yang kadang lupa mengisi baterai smartphone dan punya anak kecil yang suka otak atik charger. Kapasitas baterainya pun besar, bisa tahan seharian. Jadi pas bocah sudah tidur malam, baru deh dicharge.

Color OS 2.1 dengan Pembersihan Otomatis



Color OS 2.1 akan mengoptimalkan penggunaan RAM dengan pembersihan otomatis. Ini nih yang paling saya suka buat Mama pemalas sibuk. Kadang, saat anak memanggil, saya langsung meninggalkan smartphone begitu saja, lupa deh menutup aplikasi. Selain itu, Color OS 2.1 membuat proses booting lebih cepat 30% sehingga aktivasi aplikasi pun menjadi lebih singkat.

SIM Ganda 4G



Duh sekarang kan memang eranya 4G. Dengan pilihan SIM Ganda 4G, internetan semakin lebih cepat. Semakin banyak waktu yang dihemat, jadi ada waktu lebih dengan anak dan keluarga.

Itu tadi 7 alasan penting, mengapa saya menginginkan Oppo R7s. Yah, dengan Oppo R7s, saya tidak lagi kehilangan momen mengabadikan setiap cerita dalam postingan blog. Tidak ada lagi alasan postingan tanpa foto kalau menggunakan Oppo R7s. Mudah-mudahan tahun baru ini, keinginan memiliki Oppo R7s terwujud. Amin.

Minggu, 20 Desember 2015

Mengapresiasi Diri Dengan Yoga dan Menulis

Seorang teman pernah berkata, “saking sibuknya seorang ibu, ia bahkan tak sempat meletakkan pantatnya”. Setelah menjadi ibu dari 2 orang anak, saya paham maksud dari kalimat tersebut. Merawat keluarga dan membesarkan buah hati, bukanlah pekerjaan yang ringan. Butuh tenaga yang besar, waktu yang seakan tak ada habisnya dan pikiran yang luas.

Lelah seharian bekerja di kantor dilanjut mengurus duo bocah yang berusia 3,5 tahun dan 1 tahun, tentu saya butuh waktu untuk diri sendiri. Waktu yang merupakan apresiasi untuk diri sendiri atas apa yang telah saya kerjakan selama ini.

Modal buat yoga
Yoga dan Menulis, Hadiah Sederhana

Kesibukan sebagai pekerja, isteri dan ibu, mengharuskan saya menjaga kesehatan dan stamina. Karenanya, seminggu 2 kali, saya dan teman-teman kantor memanggil pelatih yoga. Lelah seharian bekerja, saya membutuhkan olahraga yang menenangkan. Yoga selain membakar kalori juga membuat tubuh sehat, lebih segar dan emosi menjadi tenang. Usai yoga, saya seolah mendapatkan energi baru.

Me time yang lainnya saya nikmati melalui menulis. Menulis menjadi ladang bagi saya. Ladang untuk menyalurkan hobi bercerita. Ladang untuk belajar menyampaikan cerita dengan alur yang menarik.  Ladang buat berbagi hal yang saya tahu. Menulis mendatangkan kebahagiaan tersendiri. Kebahagiaan terasa saat tulisan dibaca dan memberi manfaat bagi orang lain. Kebahagiaan juga membuncah, saat tulisan saya memenangkan lomba atau dimuat di media cetak.

Bahagia dengan menulis
Bagi saya menghadiahi diri sendiri itu sangat penting. Hadiah mendatangkan kebahagiaan. Ibu yang bahagia tentu menularkan kebahagiaan ke dalam keluarganya. Happy Mom, Happy Family.

#MengapresiasiDiriSendiri

Kamis, 10 Desember 2015

Berburu Barang di Online Revolution Lazada

Online Revolution Telah Tiba
 Dulu, saya pernah curhat sama teman, “Enak kali ya, kalau belanja, gak perlu masuk satu toko ke toko lainnya buat cari barang berkualitas dan murah. Tinggal duduk cantik, lihat di layar, sentuh barang yang diinginkan dan barang sampai di tangan kita”.

Eh, sekarang curhatan saya itu jadi kenyataan. Teknologi yang semakin canggih, memudahkan kita melakukan apapun. Termasuk berbelanja via online. Sekarang belanja bisa dilakukan dari rumah dengan waktu yang tak terbatas. Saya gak perlu dandan, modal bensin dan kaki pegel keluar masuk toko. Tambahan lagi, sekarang saya sudah punya dua buntut. Rencana mau belanja satu barang, bisa membengkak menjadi banyak barang. Mainan, baju terutama makanan. Deuh, mau cari barang murah hasilnya malah keluar banyak.

Ternyata, maraknya situs belanja online, menjadikan tanggal 12 Desember sebagai Hari Belanja Online Nasional. Biasanya nih, di hari itu banyak diskon yang ditawarkan. Mungkin hampir seperti kebanyakan mall, beberapa e-commerce memberi diskon akhir tahun. Dalam rangka menyambut Harbolnas, Lazada menggelar Online Revolution.

Program Online Revolution dari Lazada sebenarnya sudah dimulai sejak 11-11 atau 11 November hingga puncaknya pada Hari Belanja Nasional yaitu 12 Desember. Event ini merupakan Promo Akhir Tahun yang diadakan setiap tahun.

Penawaran Smartphone
Diskon Akhir Tahun yang ditawarkan tidak main-main, hingga 90%. Mulai dari barang kebutuhan sehari-hari yang kerap dikonsumsi yaitu makanan dan minuman, perlengkapan rumah tangga dan elektronik, smartphone, kebutuhan dan perlengkapan anak, fashion, kesehatan & kecantikan hingga otomotif.

Kalau saya bayangkan, Online Revolution dari Lazada ini seperti berburu diskon akhir tahun di Mall. Untunglah kita gak perlu rebutan membeli barang diskonan. Kebayang kan, tarik-tarikan barang dengan pembeli lain. Barangnya malah ancur, kaki tangan pun pegal.

Saya sih lebih memilih nguber diskonan di Lazada. Tinggal mantengin layar, dengan pakaian rumah yang nyaman, rambut dijepit, sambil duduk atau gelosoran di atas kasur atau karpet, nikmat banget..hehehe.
Masih ada waktu hingga tanggal 12 Desember
O,ya tawaran menariknya sudah dimulai lho, ada diskon hingga 90%, flashsale, black friday, cyber monday, crazy deals dan berbagai games menarik.  Catat juga tanggalnya. Karena disetiap minggunya ada promo barang yang berbeda. Misal di minggu 3, adalah tech week, dimana ada penewaran diskon hingga 90% untuk smartphone, laptop, tivi, kamera dan teman-temannya. Minggu keempat adalah lifestyle week. Puncaknya ya tanggal 12 bulan Desember.

Belanja mudah dan pembayaran pun bisa dipilih sesuka kita. Bisa melalui kartu kredit, debet ataupun COD. Saya sih pernah berbelanja dengan pembayaran melalui ATM. Pemberitahuan tentang pengiriman barang pun selalu disampaikan lewat email dan sms. Alhamdulillah barang pun sampai sesuai waktunya.

So, buat yang mencari barang murah namun tetap berkualitas, catat tanggalnya. Jangan sampai menyesal melewatkan even setahun sekali ini.

Online Revolution di Harbolnas

Rabu, 09 Desember 2015

Reuni : Karena Saya Orang Biasa Saja

Reuni kecil
Rasanya baru saja merasakan tahun 2015, eh tiba-tiba sudah dipenghujung tahun. Akhir tahun, seperti biasa, saya gak punya rencana apa-apa. Liburan sudah saya nikmati di bulan November. Sengaja sih, biar gak mainstraim. Liburan di akhir tahun atau pas lebaran..hahaha.

Acara kecil ada. Acara yang diadakan teman-teman alumni SMA. Apalagi kalau bukan reuni. Sebenarnya rencana reuni sudah sejak 3 tahun lalu digulirkan. Tapi, ya gitu deh. Cuma jadi obrolan gak jelas di group kami. Hingga akhirnya mau diwujudkan di akhir tahun ini, usai libur Natal.

Saya sih, jadi peserta biasa saja. Gak terlalu aktif, tapi siap kalau dibutuhkan. Maklum lah, udah punya 2 buntut. Agak susah meluangkan waktu buat rapat panitia. Jadi, ketika melihat teman sibuk woro-woro, saya cuma usul, “di japri aja, kirim ke semua inbox alumni. Jangan sekali dua kali. Mendekati hari H tambah genjar”.

Aksi itu memang jurus pamungkas saya ketika 6 tahun lalu jadi bendahara. Jurus nyampah di fesbuk, sampai beberapa teman terteror. Akhirnya, banyak juga sih yang transfer uang reuni tapi gak jadi datang. Mengikhlaskan uang demi kebersamaan atau lelah diteror hahaha.

Mendekati acara reuni, kami panitia kemudian bersepakat untuk membebaskan teman-teman yang sekiranya berat membayar iuran. Ya kan tidak semua orang memiliki kelonggaran untuk iuran. Istilahnya subsidi silang.

Sungguh, tidak mudah mengajak teman untuk sekedar datang ke acara reuni. Mulai dari, ada acara keluarga, dompet lagi minimalis, teman yang dulu dekat gak ada yang ikut acara, hingga yang merasa malu belum jadi apa-apa.

Kalau ada acara keluarga, agak dimaklumi lah. Dompet lagi tipis, ada opsi gak perlu iuran. Teman yang dulu dekat gak ada yang ikut acara, ini yang agak susah. Apalagi yang merasa malu belum jadi apa-apa, tambah susah lagi.

Saya sendiri, sejujurnya gak banyak kenal dengan panitia lain. Kenalnya ya pas ikut membantu acara reuni. Dulu pas SMA, paling kenal  sekilas beberapa dari mereka. Bahkan ada yang sama sekali saya gak ingat pernah satu SMA..hahaha. Kebangetan ya, bukan lupanya, tapi kupernya. Iya, saya dulu SMA siswa yang biasa-biasa aja. Bukan golongan populer. Otak mepet.  Cantik jauh banget. Anak orang kaya juga bukan. Jadi pantaslah kalau saya gak kenal dengan mereka. Lebih pantas lagi mereka juga gak kenal saya *sedihnya.

Setelah 14 tahun berlalu, saya masih jadi orang biasa-biasa saja. Wajah tetap sama, status orang tua juga, perkembangan otak meningkat dikit dan bukan golongan orang kuaya, wong rumah aja belum jadi. Tapi saya tetap berusaha berpartisipasi di kegiatan alumni, minimal datang ke acara reuni.

Kenapa? Karena saya mencoba untuk menanamkan pemikiran, bahwa karena saya orang biasa-biasa saja, saya bisa dapat manfaat dari reuni. Katanya silaturrahmi kan memanjangkan rejeki. Siapa tahu rejeki saya ada di sana. Saya bisa dapat ilmu dari teman-teman lain. Siapa tahu juga, ada teman pengusaha yang menawarkan job review *ngarep.

Makanya, ketika ada teman yang berkilah belum jadi apa-apa, agak merasa sedih. Reuni kan bukan ajang pamer. Sebisa mungkin saya pribadi tidak menanyakan hal yang berkaitan tentang harta, anak dan indikator kesuksesan secara materi. Reuni justru harusnya dijadikan ajang untuk saling membantu teman yang kesusahan. Yang mungkin belum punya pekerjaan yang dianggap layak, mungkin ada teman yang menawarkan atau memiliki informasi lowongan pekerjaan. Bagi yang belum punya pasangan, siapa tahu menemukan jodoh melalui reuni. Masih menunggu momongan, mungkin ada teman yang senasib atau teman dokter yang mau kasih masukan.

Jadi, karena saya orang biasa-biasa saja, maka saya mau ikut reuni. Yuk, yang mau ada acara reuni, segera ikutan.


Blog Design by Handdriati